Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan di Balik Rencana Megah
Setelah hiruk-pikuk pertunangan yang hangat di rumah Ayah Gunawan, Sia mengira jalan menuju pelaminan akan semulus naskah roman yang sering ia sering baca. Namun, realita ternyata memiliki "editor" yang jauh lebih kejam. Masalahnya bukan lagi soal restu, melainkan soal skala.
Dua minggu setelah pertunangan, Sia merasa kepalanya ingin pecah. Di atas meja kerjanya, selain tumpukan laporan kerja, kini bertambah daftar vendor pernikahan yang dikirimkan oleh sekretaris pribadi Bu Ratna.
"Sia, Mama sudah pesan hotelnya. Kita pakai Grand Ballroom di pusat kota. Kapasitas tiga ribu orang," ujar Bu Ratna melalui sambungan telepon sore itu. Suaranya terdengar sangat antusias, kontras dengan Sia yang mendadak mual.
"Tiga ribu, Ma? Apa tidak terlalu banyak? Keluarga Sia kan hanya sedikit..." bisik Sia pelan, mencoba tidak terdengar tidak sopan.
"Sayang, Arkan itu anak tertua. Hardi punya banyak kolega, belum lagi relasi bisnis Mama. Ini bukan cuma soal pesta, ini soal menyambut anggota baru keluarga Dewangga. Kamu tenang saja, semua biaya dan urusan vendor, Mama yang atur. Kamu tinggal pilih gaun dan datang untuk fitting."
Setelah menutup telepon, Sia bersandar di kursinya dengan lemas. Tinggal pilih gaun? Baginya, pernikahan impian adalah sesuatu yang intim, di mana ia bisa mengenali setiap wajah yang datang. Tiga ribu orang baginya bukan pesta, tapi unjuk kekuatan korporasi.
Konflik mulai meruncing malam harinya saat Arkan menjemputnya. Arkan tampak lelah setelah rapat maraton dengan investor, sementara Sia sudah berada di puncak titik jenuhnya.
"Kan, kamu sudah dengar soal rencana Mama?" tanya Sia tanpa basa-basi begitu pintu mobil tertutup.
Arkan melonggarkan dasinya, matanya terpejam sejenak. "Soal ballroom itu? Iya, Mama tadi sempat bilang. Bagus kan? Kita nggak perlu pusing cari tempat lagi."
Sia menoleh cepat. "Bagus menurut kamu? Kan, tiga ribu orang itu luar biasa banyak. Aku bakal merasa seperti pajangan di atas panggung. Aku bahkan nggak tahu siapa saja yang bakal datang."
"Sia, ini cuma satu malam," sahut Arkan tenang, mencoba meredam suasana. "Keluarga besar memang ekspektasinya seperti itu. Aku nggak enak kalau harus mendebat Mama lagi setelah beliau begitu baik menerima kita."
"Oh, jadi sekarang kamu lebih mikirin perasaan Mama daripada perasaan aku?" nada suara Sia naik satu oktav.
Arkan menghela napas panjang, sebuah kesalahan fatal bagi pria yang sedang menghadapi wanita yang sedang overthinking. "Bukan begitu, Sia. Jangan sensitif begitu, dong. Aku juga capek hari ini. Bisa nggak kita bahas ini nanti kalau kepala kita sama-sama dingin?"
"Kepala dingin? Kamu bilang aku sensitif?" Sia tertawa getir. "Mungkin karena aku memang nggak cocok masuk ke dunia kalian yang serba megah dan penuh aturan ini. Mungkin aku memang sekretaris yang lebih cocok di balik meja daripada pengantin di atas panggung tiga ribu orang itu!"
"Sia, jangan mulai bicara yang aneh-aneh," suara Arkan mulai memberat.
"Terserah!" Sia membuang muka ke jendela. "Turunin aku di depan minimarket. Aku mau jalan kaki saja ke apartemen."
"Jangan konyol, Sia. Ini sudah malam."
"Aku bilang turun!"
Arkan akhirnya menginjak rem dengan sedikit kasar. Begitu mobil berhenti, Sia langsung keluar dan membanting pintu. Arkan tidak mengejar, ia terpaku di balik kemudi, merasa frustrasi tidak mampu meredam emosional Sia yang mendadak kacau.
Tiga hari berikutnya adalah hari-hari paling sunyi di kantor. Sia menjalankan tugasnya secara mekanis. Ia menyiapkan kopi Arkan, meletakkan jadwal di mejanya, namun tidak ada satu pun kata yang keluar selain urusan pekerjaan.
Gibran, yang biasanya paling berisik, sampai harus masuk ke ruangan Arkan dengan langkah jinjit.
"Kan, lo berdua lagi perang dingin ya? Atmosfer di luar kayak di kutub utara. Sia kalau gue ajak bercanda cuma jawab pakai anggukan," bisik Gibran.
Arkan memijat pangkal hidungnya. "Masalah klasik persiapan nikah, Gib. Nyokap mau pesta besar, Sia mau yang kecil. Gue di tengah-tengah jadi samsak."
"Wah, bahaya itu. Perempuan kalau sudah merasa suaranya nggak didengar menjelang nikah, bisa-bisa dia merasa ragu sama seluruh masa depannya," ujar Gibran dengan nada serius yang jarang ia tunjukkan. "Mending lo samperin dia."
Arkan terdiam. Ia melihat Sia dari balik kaca ruangannya. Wanita itu sedang menatap layar komputer, tapi Arkan tahu ia tidak sedang bekerja. Matanya kosong.
Sia merasa sangat lelah. Semalam ia tidak tidur karena memikirkan apakah ia akan sanggup menjadi "Istri Arkananta Dewangga" dengan segala tuntutan sosialnya. Ia merasa identitasnya sebagai Saffiya Adhisti perlahan terkikis oleh ego keluarga besar.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Bukan dari Arkan, melainkan dari nomor tidak dikenal.
“Sia, ini Om Malik. Jangan terlalu dipikirkan soal kakak saya dan istrinya. Mereka memang hobi bikin drama keluarga. Kalau mau kabur sebentar buat makan bakso di pinggir jalan, kabari Om ya. Arkan itu bodoh kalau soal perasaan, tapi dia tulus.”
Sia tersenyum kecil membaca pesan itu. Namun, senyumnya hilang saat ia melihat Arkan berjalan keluar dari ruangannya menuju mejanya.
"Sia, ikut saya sekarang. Batalkan semua janji satu jam ke depan," ujar Arkan dingin.
Sia berdiri dengan wajah menantang. "Mau ke mana? Saya masih banyak laporan yang—"
"Ini perintah atasan," potong Arkan, meski matanya menatap Sia dengan tatapan memohon yang sangat halus.
Arkan membawa Sia ke tangga darurat, satu-satunya tempat yang benar-benar sunyi di gedung itu. Arkan membalikkan tubuh Sia sehingga mereka berhadapan.
"Kamu mau aku gimana, Sia? Kalau kamu mau nikah lari pun, aku ayo," ujar Arkan tiba-tiba.
Sia tertegun. "Apa?"
"Aku nggak butuh tiga ribu orang itu. Aku cuma butuh kamu. Kalau Mama bikin kamu pusing, aku yang akan bilang ke dia untuk potong jumlah tamu jadi seratus orang. Aku salah karena kemarin aku anggap ini sepele. Aku pikir kamu cuma butuh fasilitas, padahal kamu butuh suaraku untuk membelamu," Arkan memegang kedua bahu Sia.
Sia yang tadinya mau marah lagi, mendadak merasa pertahanannya runtuh. Air mata yang sejak kemarin ditahan akhirnya tumpah. "Aku cuma takut, Kan. Aku takut aku nggak bisa jadi apa yang keluarga kamu mau. Aku takut kehilangan diriku sendiri di tengah kemewahan itu."
Arkan menarik Sia ke dalam pelukannya, membiarkan kemeja mahalnya basah oleh air mata asistennya. "Kamu nggak akan hilang. Kalau kamu merasa hilang, aku yang akan cari kamu. Kita akan buat pernikahan ini versi kita, bukan versi kolega Ayah atau Mama. Oke?"
Sia sesenggukan dalam pelukan Arkan. Konflik itu belum sepenuhnya selesai, karena menghadapi Bu Ratna adalah babak tersendiri, namun setidaknya satu beban terangkat: Arkan kembali berada di pihaknya.
"Tapi janji ya, jangan panggil aku sensitif lagi," gumam Sia di dada Arkan.
Arkan terkekeh pelan. "Janji. Kamu nggak sensitif, kamu cuma sedang revisi naskah hidup kita yang terlalu banyak typo-nya."