NovelToon NovelToon
Cinta Dan Gairah

Cinta Dan Gairah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Model / Obsesi / CEO / Romantis
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Li Qiqiu

Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Berita kecelakaan yang menimpa kedua orang tua Angel viral. Saat itu cuaca di pegunungan buruk, hujan tak berhenti sejak sore. Mobil yang dikendarai orang tua Angel melaju kencang di tengah hujan dan jalanan licin. Meskipun tak ada mobil yang melintas, tapi medan yang dilewati sangatlah mengerikan, banyak kelokan dan sisi kiri jalan adalah jurang. Saat hilang kendali itulah, mobil terperosok ke jurang. Setidaknya begitulah menurut keterangan saksi yang kebetulan melintas.

Sayup-sayup Angel mendengar pembawa berita yang menjelaskan kronologi kecelakaan tunggal orang tuanya. Air matanya menetes di tengah keadaannya yang setengah sadar.

"Angel, kau bisa dengar aku?"

Suara siapa itu? Darren? Apa yang dilakukannya di sini?

Cahaya putih langsung menyerang ketika ia perlahan membuka kedua matanya. Suaranya tercekat, namun air matanya tak berhenti mengalir. Sulit menerima fakta bahwa ia sudah sendirian di dunia yang begitu besar ini.

"Jadi, sekarang aku benar-benar hidup sebatang kara?" gumamnya meratapi nasibnya yang buruk. "Bahkan Tuhan tidak menyisakan 1 saja orang tuaku untukku?" Jemari Angel yang terkepal memukul-mukul dadanya yang sesak. "Saat ini aku bahkan lupa caranya bernafas. Lalu bagaimana bisa aku menghadapi dunia?" Tangisnya pecah, raungannya terdengar begitu menyakitkan dan keputusasaan. "Katakan padaku Darren, apakah papa dan mamaku benar-benar pergi untuk selamanya? Bagaimana bisa mereka meninggalkanku, Darren? Bagaimana mungkin papa dan mama melepas begitu saja tanggung jawabnya sebagai orang tua?"

Darren berdiri kaku mendengarkan pertanyaan-pertanyaan Angel. Ia tidak tahu jawaban-jawaban dari pertanyaan Angel. "Kau tidak sendiri, Angel. Aku di sini. Paman dan bibimu juga ada di sini."

"Tapi, kalian bukan papa ataupun mama. Kalian tidak ada hubungannya denganku."

"Tidak Angel. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi semuanya sendirian. Aku akan selalu ada untukmu."

***

Orang tua pernah berkata cinta akan timbul karena terbiasa. Karenanya, tak sedikit orang zaman dahulu menikah bukan didasari oleh cinta, melainkan keuntungan. Hebatnya, hubungan tersebut hanya berakhir dengan kematian bukan perceraian. Hal ini bisa jadi karena orang dulu menganggap reputasi adalah segalanya dan perceraian itu tabu.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah benar Angel jatuh cinta dengan Wiliam karena terbiasa dengan kehadirannya sehingga ia tidak menyadari rasa yang tumbuh perlahan? Atau Angel tidak jatuh cinta tapi hanya gairah semata?

"Aku tahu sayang, dan aku memahaminya, tak apa kan jika hanya ciuman?"

William segera membenarkan posisi duduk, menghadapkan Angel padanya dan menciumnya brutal. Angel menyambut ciumannya, membalas dengan intensitas yang sama. Angel membuka bibirnya mempersilahkan William untuk mengeksplor lebih dalam.

"Call my name, Angel...," bisik William penuh gairah. Jemari yang bebas mulai masuk ke dalam pakaian dan membelai lembut punggung Angel.

"Tidak sopan memanggil yang lebih tua tanpa embel-embel pak," tolak Angel. Badannya menggeliat merasakan belaian William.

"Aku hampir saja lupa bahwa kau gadis polos yang mengerti apa itu sopan santun." Tangan William menanggalkan kaus Angel, tersisa pakaian dalam yang hanya melindungi area sensitifnya. "Apa kau sudah mengira bahwa aku akan datang, sehingga kau melupakan celanamu?" Ia menatap Angel tajam, dadanya naik turun, jantungnya berdegub lebih cepat dari biasanya.

"Kepolosanku sudah bapak rampas, jadi gelar itu sangat tidak cocok untukku." Angel berkata dengan nafas tersenggal, membuat bagian dada yang tak terlalu besar bergerak naik turun meskipun samar. "Lagipula hari ini cuaca begitu panas, pak. Aku bebas berpakaian apapun di rumahku sendiri."

"Benarkah?" Tatapan William menyipit, tangannya meraih jemari Angel. "Meski begitu, bukankah kau tetap harus bertanggung jawab?" Mengarahkannya ke sesuatu yang besar dan menonjol di bawah sana.

Angel membelalakkan matanya, reflek ia menarik tangannya namun ditahan oleh William. "Aku tidak bisa melakukannya dengan orang lain, Angel." William menggeram menahan gairah. Sementara tangannya yang lain mulai turun dan berhenti di dua gundukan milih Angel.

"Tapi, pak..."

"Hanya menyentuh dengan tanganmu, Angel." William menenggelamkan wajahnya di dada Angel, mencium rakus seolah tak ada hari esok.

Angel kalang kabut, perasaan aneh itu kembali muncul. Sesuatu yang tidak ia mengerti namun sulit menahannya. Apakah ini yang disebut dengan gairah dan rangsangan? Kepala Angel menengadah, sementara tangannya masih berada di atas milik William. Entah dorongan dari mana yang menuntunnya untuk melepas sabuk, kancing, dan melonggarkan celana William. Lalu masuk kedalam melewati celana dalam dan menemukannya. Mereka berdua membeku, matanya bertubrukan seolah mengatakan sesuatu yang tak bisa terucapkan.

Cukup lama saling terpaku, William menarik tangan Angel dari dalam dan menurunkan dari pangkuannya. "Maafkan aku...," ucap William, mencium sekilas bibir Angel lalu meninggalkannya dan pergi ke kamar mandi.

Angel tak mengerti. Dia sama sekali tak mengerti apa maksud semua ini. William meningalkannya dan mandi? Angel segera menyusul William, tanpa mengetuk pintu ia masuk begitu saja dan melihat William tengah berjuang meredakan gairahnya.

"Damn it! Apa yang kau lakukan Angel?!" bentak William begitu melihat Angel masuk dan tidak memakai pakaiannya. "Kau tidak lihat aku yang mati-matian menahan diriku untuk tidak menyentuhmu?"

Angel menatap tangan William yang tengah menggenggam sesuatu, besar dan panjang. Ia melangkahkan kakinya pelan dengan tanpa mengalihkan tatapannya. "Apakah itu sesuatu yang disukai Bu Sandra?"

"Oh Angel, keluarlah... Aku mohon."

"Tapi itu sangat besar dan panjang dan Bu Sandra...." Pikiran Angel melayang membayangkan William dan Bu Sandra yang setiap malam saling menyentuh dan menyatukan diri mereka.

"Apa yang kau pikirkan Angel?" William menghentikan aktifitasnya, memakai celananya paksa meskipun sedikit merasakan sakit. Ia merangkul Angel dan membimbingnya keluar dari ruangan.

"Apakah ketika kalian menyatukan diri sangat mudah? Apakah Bu Sandra merasakan sakit?"

William menggerang frustasi, Angel ternyata benar-benar sepolos itu. "Apa kau tidak pernah melihat film dewasa, Angel?"

"Aku tidak pernah punya waktu untuk menonton film kecuali jika sedang bersama Avy, pak."

"Dan kalian tidak pernah menonton film romantis atau sejenisnya?"

"Biasanya horror dan beberapa film romantis Indonesia."

William mendudukan Angel di atas ranjang, ia mengambil kaus, dan mengenakannya pada Angel. Gadis itu menurut, ia menatap William penuh minat. "Apakah seks harus dilakukan atas dasar cinta?"

William membeku, ia bingung bagaimana harus menjawab. Karena selama ini ia melakukannya tanpa cinta, hanya gairah dan kebutuhan yang harus dilepaskan. Namun, jika ia menjawab demikian Angel akan berpikiran buruk terhadapnya. "Emm, tergantung bagaimana orang yang melakukannya." Angel menatapnya tak mengerti, menuntut jawaban lebih lanjut. "Beberapa orang menganggap seks adalah sesuatu yang berharga dan dilakukan atas dasar cinta. Tapi beberapa orang juga berpikir sebaliknya."

"Jadi, bapak mencintai Bu Sandra?"

Oh, sesuai dugaannya. "Tentu tidak sayang, aku tidak mencintainya." William duduk di samping Angel, tangannya merangkul pundak gadis itu. "Bisakah kita tidur sekarang?" Ia merebahkan Angel dan memeluknya erat.

"Aku... benci jika mengingat kejadian itu dan membayangkan bapak tidur bersama Bu Sandra." Angel berkata lirih, lalu membelakangi William, dan tidur,

William yang mendengar itu tak percaya. "Apa kau bilang? Kau tidak menyukainya? Jadi kau sudah menyukaiku, sayang? Kau jatuh cinta padaku?" Tidak ada respon dari Angel, namun ia tahu gadis itu tengah tersenyum. Ia mengeratkan pelukannya dan mencoba tertidur ketika sesuatu miliknya tepat berada di belakang Angel.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!