Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."
Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.
Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.
Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menanam Akar di Tanah Baru
Ada satu hal tentang menjadi seorang penulis yang jarang dibahas orang: kami adalah pengamat profesional yang sering kali lupa caranya berpartisipasi dalam hidup kami sendiri. Dulu, saya terbiasa duduk di pojok kafe, memperhatikan bagaimana sepasang kekasih bertengkar, atau bagaimana seorang bapak tua menghitung uang recehnya, lalu menjadikannya bahan bakar untuk bab novel selanjutnya. Saya adalah sutradara di balik layar kaca laptop saya sendiri.
Tapi hari ini, saat saya berdiri di halaman belakang rumah panggung kayu di daerah Sentul—rumah kecil yang baru saja kami beli dari hasil penjualan royalti pertama—saya bukan lagi penonton. Saya adalah tokoh utamanya, lengkap dengan celemek yang ketumpahan kuah kaldu dan rambut yang dicepol asal-asalan karena Laksamana baru saja melewati fase growth spurt yang membuat semua jadwal tidur kami berantakan.
"Nara, ini pupuk kandangnya ditaruh di sebelah mana?" suara teriakan Bimo memecah lamunan saya.
Saya menengok dari jendela dapur. Mantan CEO Wijaya Group itu kini sedang memakai kaos oblong putih yang sudah agak pudar warna kerahnya, celana pendek jorok, dan sepatu bot karet yang ukurannya agak kelonggaran. Di tangannya ada satu karung kecil pupuk organik yang dia gotong sendiri dari bagasi mobil.
"Di dekat pohon pandan itu, Bim! Jangan terlalu dekat sama jahe, nanti akarnya kepanasan!" balas saya berteriak tak kalah kencang.
Di sudut halaman yang lebih teduh, di bawah pohon rambutan yang sedang berbuah hijau, Ayah Hendra sedang duduk di kursi roda barunya—kursi roda elektrik yang Bimo belikan supaya beliau bisa mondar-mandir tanpa perlu merepotkan orang lain. Di pangkuannya, Laksamana yang sudah berusia lima bulan sedang asyik memainkan kancing kemeja eyangnya, mengeluarkan suara tawa cadel yang membuat hari yang panas ini terasa sejuk seketika.
Kami memutuskan pindah dari apartemen lantai dua belas di pusat Jakarta satu bulan yang lalu. Bukan karena kami bangkrut, bukan pula karena kami melarikan diri lagi. Kami hanya ingin Laksamana tumbuh dengan menyentuh tanah yang asli, bukan sekadar melihat beton dan aspal dari balik kaca jendela yang tinggi. Kami ingin menanam akar yang baru di tanah yang tidak memiliki sejarah darah atau air mata.
Sebuah Kunjungan yang Mengubah Suasana
Siang harinya, saat matahari sedang terik-teriknya, sebuah mobil minibus putih berhenti di depan pagar tanaman rumah kami. Pintu gesernya terbuka, dan keluarlah Panji bersama dengan tiga orang anak panti asuhan tertua: Dito, siska, dan Roni. Mereka membawa beberapa kotak kardus besar yang diikat tali rafia.
"Mbak Nara! Pak Bimo!" Dito berlari paling depan, wajahnya yang gosong karena sering main layangan tampak sangat gembira. "Kami bawa pesanan Eyang Hendra dari panti!"
Bimo langsung menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil, menyambut anak-anak itu dengan pelukan hangat. "Wah, tepat waktu kalian. Perut Papa Bimo sudah bunyi dari tadi. Panji, itu kotak apa?"
Panji yang keluar sambil membetulkan letak kacamatanya tersenyum sopan. "Ini bibit tanaman hidroponik yang diminta Pak Hendra, Pak. Anak-anak panti yang menyemai sendiri selama dua minggu ini sebagai hadiah pindahan rumah untuk Laksamana."
Kami semua berkumpul di gazebo kayu di samping kolam ikan kecil yang baru selesai dibuat minggu lalu. Ayah Hendra terlihat sangat bangga menunjukkan proyek perkebunan kecilnya kepada anak-anak panti.
"Lihat ini, Dito. Ini namanya sawi pagoda. Nanti kalau Laksamana sudah mulai makan MPASI, kakek mau blender sawi ini pakai kaldu ayam kampung biar badannya kuat seperti kamu," kata Ayah Hendra sambil menunjuk deretan pot kecil yang tertata rapi.
Sementara para pria dan anak-anak sibuk di halaman, saya dan Panji duduk di teras sambil menikmati es kelapa muda dicampur sirup cocopandan—menu wajib kami setiap kali Panji datang berkunjung.
"Bagaimana perkembangan sisa likuidasi aset Wijaya Group, Panji?" tanya saya pelan, memastikan suara saya tidak terdengar sampai ke halaman belakang tempat Bimo berada. Saya tahu Bimo sudah tidak mau lagi mendengar nama itu, tapi sebagai istri, saya harus memastikan tidak ada ekor badai yang tertinggal.
Panji meminum esnya sedikit, lalu memajukan posisi duduknya. "Semuanya bersih, Mbak Nara. Minggu lalu, pengadilan sudah mengetok palu bahwa seluruh restrukturisasi perusahaan sudah final. Nama Pak Bimo benar-benar sudah tidak ada di dalam jajaran komisaris maupun pemegang saham. Dan soal dana royalti Adrian... pengadilan Swiss juga sudah mentransfer sisa dana kompensasi terakhir ke rekening abadi yayasan."
Panji diam sejenak, lalu menatap saya dengan pandangan yang sangat tulus. "Mbak Nara... saya mau minta maaf jika selama bertahun-tahun ini saya sempat menyembunyikan beberapa hal karena perintah Ratih dulu. Saya benar-benar lega melihat Mbak Nara dan Pak Bimo bisa sampai di titik ini."
Saya tersenyum, menyentuh lengan Panji sekilas. "Panji, kalau bukan karena kamu yang menyimpan dokumen-dokumen itu di saat-saat terakhir, kita nggak akan pernah punya senjata untuk menghentikan mereka. Kamu bukan cuma bekerja untuk kami, kamu adalah bagian dari alasan kenapa Laksamana bisa lahir di dunia yang aman ini. Jadi, lupakan masa lalu itu, oke?"
Panji mengangguk, matanya agak berkaca-kaca di balik lensa kacamatanya yang tebal.
Naskah yang Menemukan Judulnya
Sore harinya, setelah anak-anak panti pulang dan rumah kembali ke ritme sunyinya, saya masuk ke dalam ruang kerja baru saya. Ruangan ini tidak besar, letaknya di bagian depan rumah dengan jendela besar yang langsung menghadap ke arah bukit kecil di kejauhan. Di atas meja kayu jati yang sederhana, mesin tik biru milik Adrian terawat dengan baik di samping laptop saya.
Saya duduk, membiarkan jemari saya beristirahat di atas papan ketik. Di luar, suara jangkrik mulai terdengar bersahut-sahutan, berpadu dengan suara gemercik air dari kolam ikan di halaman belakang.
Saya membuka draf memoar yang sudah saya cicil selama berbulan-bulan ini. Di baris paling atas, ada satu bagian yang sengaja saya kosongkan sejak bab pertama: Judul.
Selama ini, saya bingung mau memberi judul apa untuk perjalanan gila ini. Apakah "Istri Kontrak yang Terjebak"? Terlalu seperti novel picisan di aplikasi baca online. Atau "Runtuhnya Dinasti Wijaya"? Terlalu berat dan berbau politik bisnis yang memuakkan.
Saya menoleh ketika mendengar pintu ruang kerja terbuka pelan. Bimo masuk dengan langkah tanpa suara, dia sudah mandi dan wangi sabun bayi—karena dia baru saja selesai memandikan Laksamana. Dia membawa secangkir cokelat panas dengan beberapa marshmallow kecil mengapung di atasnya.
"Untuk penulis kesayangan saya," katanya sambil meletakkan cangkir itu di meja. Dia kemudian berdiri di belakang kursi saya, melingkarkan lengannya di leher saya dan menumpukan dagunya di bahu saya. "Belum tidur? Anakmu sudah pulas setelah berjuang melawan sabun mandi tadi."
"Bim, aku akhirnya tahu mau kasih judul apa buat buku ini," kata saya sambil menunjuk layar laptop yang masih kosong di bagian atas.
"Oh ya? Apa?" Bimo ikut menatap layar.
Saya mengetik beberapa kata dengan perlahan, membiarkan setiap hurufnya berbunyi di dalam hati kami berdua.
Tinta di Atas Air: Mengalir Pulang
Bimo membaca judul itu berulang kali, lalu sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibirnya. Dia mengecup pipi saya lama. "Kenapa 'Tinta di Atas Air'?"
"Karena dulu, kisah hidup ayahku, Adrian, dan penemuan teknologi air bersihnya coba dihapus oleh keluarga Wijaya seperti tinta yang ditumpahkan ke dalam air—mereka pikir semuanya akan larut, hilang, dan tidak berbekas," jawab saya sambil menggenggam tangannya yang ada di dada saya. "Tapi mereka lupa, air yang mengalir itu selalu tahu jalan untuk pulang ke laut yang tenang. Dan kita... kita adalah aliran air yang akhirnya sampai di rumah itu, Bim."
Bimo tidak membalas dengan kata-kata. Dia hanya mempererat pelukannya. Kami berdiri di sana dalam keheningan yang paling jujur selama beberapa menit. Di dalam ruangan yang hangat ini, tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang menakutkan. Tidak ada lagi ketakutan akan panggilan telepon dari pengacara Swiss, tidak ada lagi kecemasan akan nama baik keluarga yang harus dijaga dengan kepalsuan.