NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Xiao Chen

Jalan Pedang Xiao Chen

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.

Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.

Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Pertemuan

Pagi hari ketiga di Lembah Seribu Roh menyelimuti arena dengan keheningan yang menyesakkan.

Tidak ada lagi gema benturan senjata yang biasanya mengisi udara, tidak ada deru pertempuran dari tim-tim lain. Suasananya begitu senyap hingga detak jantung terdengar seperti dentuman genderang.

​Xiao Chen menyapu pandangan ke sekeliling, alisnya mengerut dalam. "Tidak ada jejak api unggun, tidak ada aura Qi dari peserta lain... semuanya menghilang."

​Gu Tian, yang biasanya meringkuk malas di antara reruntuhan, kini membuka matanya perlahan. Pupil matanya yang jernih menatap ke arah kabut tipis di kejauhan. "Jumlah peserta yang hidup sudah berkurang secara drastis dalam semalam," ucapnya datar.

​Xiao Chen, Bao Hu, dan Qian'er tertegun. Mereka menghitung sisa tim yang seharusnya ada.

Selama dua hari terakhir, mereka menemukan banyak token berserakan tanpa pemilik, tanpa tanda perlawanan.

Sebuah kesimpulan dingin merambat di punggung Xiao Chen. "Sekarang aku semakin yakin ada seseorang sedang memburu semua peserta satu per satu."

​Mereka berempat bergerak dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Semakin jauh mereka masuk ke dalam area lembah, pemandangan yang mereka temui semakin mengerikan.

Pohon-pohon besar tumbang dengan potongan yang sangat rapi, seolah ditebas oleh bilah setajam silet. Di tanah, darah telah mengering menjadi bercak hitam yang luas.

Bahkan di satu titik, mereka menemukan bagian tubuh yang terpisah dari anggota tubuhnya, terserak di atas lumut.

​Qian'er gemetar hebat, menutup mulutnya untuk menahan jeritan. Bao Hu mencengkeram kapaknya hingga buku jarinya memutih, napasnya memburu. "Ini bukan lagi ujian kelulusan... ini adalah rumah jagal."

​Di tengah lembah batu yang diselimuti kabut, mereka akhirnya bertemu dengan satu-satunya tim lain yang masih tersisa. Tim 2 yang dipimpin oleh Lin Hao.

Namun, yang tersisa hanyalah dua orang. Salah satu dari mereka kehilangan lengan kiri yang kini hanya dibalut kain compang-camping, dan wajah mereka berdua dipenuhi goresan luka dalam.

​"Jangan mendekat!" teriak Lin Hao saat melihat kelompok Xiao Chen. Tatapan matanya liar, penuh dengan trauma mendalam. "Kalau kalian masih punya nyali untuk hidup, jangan melawan. Kita semua hanyalah mangsa yang sedang menunggu giliran."

​Xiao Chen melangkah maju dengan tangan terbuka, menunjukkan niat damai. "Siapa yang melakukan ini kepada tim kalian?"

​Lin Hao tertawa getir, suaranya parau. "Malam kemarin, saat kami sedang berkumpul... dia datang tanpa suara. Gerakannya terlalu cepat, terlalu efisien. Anggota timku tewas bahkan sebelum sempat menghunuskan pedang. Dia bukan murid sekte, dia bukan orang yang belajar bela diri sekte... dia adalah pembunuh profesional yang berdarah dingin."

​Mendengar kata-kata itu, Gu Tian yang selama ini diam, perlahan berdiri tegak. Untuk kesekian kalinya, sorot matanya tidak lagi malas. Ada kilatan ketajaman yang berbahaya di sana.

​Mereka memutuskan untuk bergerak bersama, menggunakan strategi defensif yang ketat. Xiao Chen memimpin mereka dengan gerakan sunyi, menyembunyikan jejak kaki, dan memasang perimeter jebakan racun di setiap titik singgah.

Namun, di tengah perjalanan, Gu Tian tiba-tiba berhenti. Ia berjongkok, menyentuh tanah yang tampak normal.

​Jemari Gu Tian mengambil sesuatu dari tanah. Setetes darah yang masih basah, sedikit jejak goresan di batang pohon yang sangat ringan, dan potongan benang hitam kecil yang halus.

​"Dia tidak membunuh kita dengan cepat," suara Gu Tian pelan, dingin, dan penuh kepastian. "Dia sedang bermain-main dengan kita."

​Xiao Chen mengerti. Pembunuh itu sengaja membiarkan beberapa orang tetap hidup, menabur rasa takut, dan perlahan menggiring sisa-sisa mangsanya ke satu titik lokasi yang telah ditentukan.

Di dalam kepalanya, Roh Pedang berdesis, “Orang ini terbiasa dengan aroma kematian. Setiap gerakannya memiliki efisiensi seorang algojo.”

​Malam ketiga tiba, membawa kabut yang begitu pekat hingga tangan sendiri pun hampir tak terlihat. Jarak pandang menyusut drastis. Kelompok itu berjaga dalam lingkaran rapat di sebuah ceruk batu besar.

​Tiba-tiba, sebuah desingan halus membelah udara—

SRET!

​Anggota tim Lin Hao yang berdiri di sisi luar mendadak kaku. Tubuhnya tidak jatuh, namun sebuah garis merah tipis perlahan melebar di lehernya.

Detik berikutnya, BRAK! Kepala pria itu menggelinding ke tanah, terpisah dari bahunya. Darah menyemprot panas ke dinding batu.

​Panik meledak. Namun, sebelum ada yang sempat berteriak, sebuah suara tepukan tangan yang santai terdengar dari arah pepohonan.

​Tep... tep... tep...

​Sesosok pria berjubah hitam muncul dengan anggun di atas dahan pohon tertinggi.

Wajahnya pucat pasi, matanya merah menyala seperti bara api, dan senyumnya menyeringai lebar, menampakkan kegilaan yang murni. Yan Shou telah menampakkan dirinya.

​"Bagus sekali," gumam Yan Shou, suaranya lembut namun mencekik udara. "Akhirnya semua tikus yang tersisa berkumpul di satu tempat yang nyaman."

​Aura membunuh yang pekat dan menyesakkan menyelimuti area tersebut. Lin Hao, yang sudah mencapai batas traumanya, jatuh terduduk lemas.

Yan Shou mengeluarkan belasan token berlumuran darah dari kantongnya, memainkannya di jemari seperti koin.

​"Aku bosan membunuh yang lemah," Yan Shou melompat turun, mendarat tanpa suara di tanah. Ia mengabaikan yang lain dan menatap lurus ke arah Xiao Chen. "Tapi kau... aura di dalam tubuhmu terasa sangat asing dan menarik, bocah kecil."

​Dalam sepersekian detik, kabut di sekitar Yan Shou terbelah. Pria itu menghilang.

​Xiao Chen merasakan bahaya luar biasa. Instingnya menjerit, namun tubuhnya terasa membeku. Saat belati Yan Shou hampir mengiris jantungnya.

CLANG!!!

​Sebuah pedang lusuh muncul entah dari mana, menahan laju belati itu. Gu Tian telah mencabut pedangnya sepenuhnya.

​BOOM!

​Gelombang kejut dari benturan itu menghancurkan tanah di bawah kaki mereka dan merobohkan puluhan pohon di radius sepuluh meter.

Kabut di area itu tersapu bersih oleh tekanan energi yang dahsyat.

​Xiao Chen terbelalak. Ia menatap bilah pedang tua milik Gu Tian yang kini bergetar hebat. Di sana, terdapat retakan-retakan hitam yang memancarkan aura kegelapan yang pekat.

Aura itu terasa sangat familiar terasa sangat mirip dengan energi yang tersimpan di dalam Pedang Iblis Surgawi miliknya.

​"Siapa kau sebenarnya?" Xiao Chen bertanya dalam hati, sementara di depan sana, Yan Shou dan Gu Tian terkunci dalam pertarungan kecepatan yang memusingkan.

​Yan Shou menari dalam kegelapan, belatinya menjadi bayangan hitam yang tak terlihat.

Gu Tian, yang biasanya malas, kini bergerak dengan presisi seorang ahli pedang.

Setiap tebasan mereka menciptakan percikan api dan dentuman yang membuat tanah di sekitar ceruk batu hancur berkeping-keping.

​"Menarik! Ternyata ada ikan besar di antara para tikus!" Yan Shou tertawa gila, serangannya semakin cepat dan agresif.

​Gu Tian tidak menjawab. Ia hanya menangkis dan membalas serangan dengan gerakan yang efisien, membuat tekanan udara di sekitar mereka bergetar hebat.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah sekte, dua murid luar bertarung dengan kekuatan yang jauh melampaui standar murid luar dari praktisi sekte mana pun.

​Pertarungan itu bukan lagi tentang teknik, melainkan pertumpahan darah yang akan menentukan siapa yang akan tetap berdiri saat kabut pagi kembali menyingsing.

1
Maul
👍👍
Maul
latihan keras 😢
Maul
/Panic//Panic/
Maul
/Scare//Scare/
Maul
kenapa nih🤔
Maul
Benar-benar membingungkan Patriark itu🤭
Maul
/Smile/
Maul
Sepertinya Patriark baik🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
Agen One
Bab 37 sabar guys/Sleep/
Agen One
Kakek roh/Whimper/
Agen One
jadi juga murid dalam/Frown/
Agen One
🤕🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees boos 🌽🔥
Maul
keputusan apa ituh
Maul
takut itu wajar Qianer
Maul
/Frown/
Agen One
selamat Idul Adha ya semuanya/Smile//Pray/
Agen One
Bab 35 sabar ya/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!