Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.
Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.
Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.
Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.
Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Anak yang Tidak Boleh Mati
Ruangan gudang langsung membeku.
Lima juta dolar.
Jumlah itu cukup untuk membuat orang membunuh saudara sendiri.
Dan sekarang…
Harga itu dipasang untuk kepala seorang anak delapan tahun.
Arda menunduk pelan.
Ia belum benar-benar mengerti seberapa besar angka itu.
Namun dari wajah semua orang…
Ia tahu dirinya sedang diburu.
Benar-benar diburu.
“Victor bergerak cepat,” gumam Darius pelan.
Ravian mengepalkan rahangnya keras.
“Bukan cuma cepat.”
Tatapannya berubah dingin.
“Dia ingin seluruh dunia bawah ikut memburu Arda.”
Salah satu pria lain terlihat panik.
“Kalau semua pemburu bayaran mulai bergerak—”
“Mereka akan datang.”
Ravian memotong tajam.
“Cepat atau lambat.”
Suasana kembali sunyi.
Beberapa pria mulai saling menatap gelisah.
Dan Arda menyadari sesuatu lagi malam itu.
Rasa takut mulai tumbuh di antara mereka.
Bukan takut pada musuh.
Tetapi takut karena melindunginya.
Karena siapa pun yang berada di dekat Arda sekarang…
Akan ikut dibunuh.
Ravian berjalan menuju meja besar di tengah gudang lalu membuka peta kota.
“Tiga wilayah kita sudah jatuh.”
Tangannya menunjuk beberapa titik merah.
“Kasino pusat terbakar.”
“Pelabuhan utara direbut Nero.”
“Dan markas distrik barat hilang kontak.”
Salah satu pria memukul meja frustrasi.
“Kita kalah terlalu cepat!”
“Karena ada pengkhianat,” jawab Ravian dingin.
Tatapannya tajam ke seluruh ruangan.
“Dan pengkhianat itu mungkin masih ada di sini.”
Kalimat itu langsung membuat suasana menegang.
Beberapa pria refleks memegang senjata mereka.
Darius menghela napas pelan.
“Leon pernah bilang…”
“Kalau suatu hari organisasi ini hancur…”
“…maka kehancurannya datang dari dalam.”
Arda diam mendengar nama ayahnya.
Setiap mendengar tentang Leon…
Dadanya terasa semakin sakit.
“Tuan muda harus dipindahkan,” kata salah satu pria tiba-tiba.
“Tempat ini sudah tidak aman.”
Ravian mengangguk pelan.
“Aku juga berpikir begitu.”
Arda langsung mengangkat kepala.
“Kita mau ke mana?”
Ravian menatapnya beberapa detik sebelum menjawab.
“Ke rumah lama.”
Ekspresi Darius langsung berubah.
“Rumah itu?”
Ravian mengangguk.
“Itu satu-satunya tempat yang belum diketahui Nero.”
Darius terlihat ragu.
“Setelah kejadian dulu…”
“Tidak ada pilihan lain.”
Arda memperhatikan mereka bingung.
“Rumah apa?”
Namun tidak ada yang langsung menjawab.
Dan itu membuat Arda semakin yakin…
Semua orang memang menyembunyikan sesuatu darinya.
TOK.
TOK.
TOK.
Suara ketukan pelan tiba-tiba terdengar dari pintu depan gudang.
Semua orang langsung diam.
Tidak ada yang bergerak.
Ketukan itu terdengar lagi.
Pelan.
Tenang.
Tetapi justru membuat bulu kuduk merinding.
Ravian perlahan mengangkat pistol.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara hujan di luar.
Salah satu penjaga mendekati pintu perlahan sambil mengokang senapan.
Arda tanpa sadar menggenggam jaketnya erat.
Perasaannya buruk.
Sangat buruk.
Penjaga itu akhirnya membuka sedikit pintu gudang.
Dan dalam sekejap—
CRAAK!
Sebuah pisau langsung menancap di mata pria itu.
Jeritannya menggema keras.
DOR! DOR! DOR!
Tembakan langsung menghujani gudang dari luar.
“SERANGAN!”
Suasana kembali berubah kacau.
Lampu gudang pecah.
Orang-orang berhamburan mencari perlindungan.
Ravian segera menarik Arda turun ke lantai.
“Jangan bergerak!”
Peluru menghantam peti-peti kayu di sekitar mereka.
Serpihan beterbangan.
Arda menutup telinganya kuat-kuat.
Napasnya memburu.
Ia ingin semua ini berhenti.
Namun neraka terus datang mengejarnya.
DOR! DOR! DOR!
Salah satu jendela gudang pecah.
Beberapa pria bertopeng mulai masuk sambil membawa senapan otomatis.
“BUNUH PEWARISNYA!”
Jeritan itu membuat seluruh tubuh Arda membeku.
Mereka benar-benar datang untuk dirinya.
Ravian langsung membalas tembakan tanpa ragu.
Dua penyerang jatuh seketika.
“Darius! Bawa Tuan Muda pergi!”
Pria tua itu segera menarik Arda berdiri.
“Ayo cepat!”
Mereka berlari menuju lorong belakang gudang lagi.
Namun kali ini suasana lebih kacau.
Api mulai muncul di beberapa sudut bangunan.
Asap hitam memenuhi udara.
Suara tembakan terdengar memekakkan telinga.
“Tolong…”
Suara kecil Arda hampir tenggelam oleh kekacauan.
“Aku takut…”
Darius menggenggam tangan kecil itu erat.
“Jangan berhenti lari.”
Mereka terus berlari melewati lorong sempit.
Namun tiba-tiba—
DOR!
Peluru menghantam dinding tepat di samping kepala Arda.
Darius langsung menarik tubuh anak itu jatuh.
Seorang pria bertopeng muncul dari ujung lorong sambil mengarahkan pistol.
Tatapannya dingin.
Tanpa ragu.
Pembunuh bayaran.
Dan targetnya hanya satu.
Arda.
“Berakhir sudah, pewaris kecil.”
Pria itu mulai menarik pelatuk.
Namun sebelum tembakan terdengar—
SWOOSH!
Sesuatu melintas cepat dari gelap.
Pisau hitam menancap tepat di leher pria bertopeng itu.
Darah muncrat ke dinding.
Tubuhnya jatuh tanpa suara.
Arda membeku.
Karena ia mengenali cara membunuh itu.
Pelan.
Cepat.
Mengerikan.
Dari ujung lorong gelap…
Sosok bertopeng hitam itu muncul lagi.
Pria misterius dari terowongan.
Mantel panjangnya bergerak pelan tertiup angin lorong.
Tatapan dinginnya langsung tertuju pada Arda.
Darius refleks mengangkat pistol.
“Kau lagi…”
Pria bertopeng itu tidak peduli.
Ia hanya melihat Arda beberapa detik sebelum berkata pelan—
“Mereka akan terus datang.”
Suaranya tenang.
Seolah kematian bukan sesuatu yang penting.
Arda menatapnya tanpa berkedip.
“Kau siapa sebenarnya?”
Sunyi sesaat.
Lalu pria itu menjawab—
“Seseorang yang seharusnya sudah mati.”
Kalimat itu membuat Darius menegang.
Dan Arda melihat jelas…
Wajah pria tua itu berubah pucat.
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪