NovelToon NovelToon
Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.

Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.

Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.

Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.

Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.

Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.

~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harapan Baru

Rasyid terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab jujur, “Sedikit.” Ia tersenyum kecil sambil mengusap wajah lelahnya. “Bukan takut buat diriku sendiri. Aku takut kalau nanti masyarakat malah ikut kena dampaknya.”

Ami mendengarkan tanpa memotong.

“Aku bisa saja mundur sedikit,” lanjut Rasyid lirih. “Kasih mereka sebagian yang mereka mau. Semuanya mungkin bakal lebih mudah.”

Kalimat itu menggantung di udara. Untuk pertama kalinya sejak menikah, Ami melihat Rasyid benar-benar berada di persimpangan besar antara idealisme dan tekanan kekuasaan nyata.

Namun Ami justru mendekat dan duduk di sampingnya. “Kalau Abang mulai menyerah sekarang,” katanya lembut namun tegas, “berarti mereka benar sejak awal.”

Rasyid menoleh perlahan.

“Masyarakat memilih Abang karena percaya Abang berbeda,” lanjut Ami. “Kalau akhirnya sama saja karena tekanan, lalu siapa lagi yang akan mereka percaya?”

Kata-kata sederhana itu membuat Rasyid kembali diam. Bukan karena tidak punya jawaban, tetapi karena ia sadar perempuan di sampingnya masih melihat dirinya seperti dulu, lelaki yang berani berdiri bahkan ketika semua orang pergi.

Ami kemudian menggenggam tangannya pelan. “Kita cari jalan lain,” katanya. “Kalau investor besar pergi, berarti kita harus bikin masyarakat lebih kuat supaya nggak terus bergantung sama mereka.”

Rasyid memandang istrinya cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis. Di tengah tekanan yang mulai mengelilinginya, ia sadar satu hal penting: mungkin ia memang sedang melawan kekuatan yang besar, tetapi kali ini ia tidak berjalan sendirian.

***

Beberapa hari kemudian, Rasyid memutuskan turun langsung ke wilayah sekitar goa sarang burung walet yang kini menjadi pusat konflik kepentingan itu. Ia tahu tekanan dari para pemodal mulai membuat masyarakat khawatir, ada ancaman halus, isu bahwa usaha mereka akan gagal, hingga ketakutan bahwa pemerintah tidak akan mampu melindungi mereka jika keadaan memburuk. Karena itu Rasyid memilih datang sendiri, bukan sekadar mengirim perwakilan atau surat edaran.

Masyarakat berkumpul sederhana di balai kecil dekat kawasan goa. Wajah-wajah mereka tampak tegang namun penuh harap ketika melihat Rasyid datang tanpa jarak, hanya ditemani beberapa staf dan pengamanan seperlunya. Setelah mendengar berbagai keluhan dan kekhawatiran warga, Rasyid akhirnya berdiri di depan mereka dan berbicara dengan suara tenang.

“Saya tahu sekarang banyak tekanan,” katanya. “Mungkin ada yang mulai takut, ada yang mulai ragu apakah keputusan ini akan membawa kebaikan atau justru masalah baru.” Ia berhenti sejenak, menatap satu per satu warga di hadapannya. “Tapi kalau dari awal kita sudah menyerah hanya karena diancam, maka selamanya hasil alam daerah ini tidak akan pernah benar-benar jadi milik masyarakat.”

Rasyid lalu melanjutkan, “Saya tidak janji semuanya langsung mudah. Akan ada orang-orang yang tidak suka karena keuntungan mereka berkurang. Tapi saya datang ke sini bukan untuk meninggalkan kalian menghadapi itu sendirian.”

Beberapa warga mulai mengangguk pelan. Namun yang membuat Rasyid paling terdiam justru ketika salah seorang bapak tua berdiri dari barisan belakang dan berkata dengan suara lantang, “Pak Bupati jangan takut. Selama ini kami yang selalu takut karena tidak punya siapa-siapa. Sekarang giliran kami yang berdiri buat Bapak.”

Kalimat itu langsung disambut suara setuju dari warga lain.

“Betul, Pak!” sahut seorang pemuda. “Kalau Bapak mundur sekarang, kami balik jadi penonton lagi.”

“Dulu hasil walet cuma dibawa keluar,” tambah ibu-ibu lain. “Sekarang kami baru merasa dianggap punya hak.”

Rasyid terdiam cukup lama mendengar semua itu. Untuk pertama kalinya sejak tekanan dari para pengusaha mulai datang, ia merasa bebannya sedikit terangkat. Ia datang ke tempat itu untuk menguatkan masyarakat, tetapi justru masyarakatlah yang sedang menguatkan dirinya.

Di tengah goa-goa batu dan kampung sederhana itu, Rasyid kembali diingatkan mengapa ia memilih jalan yang sulit ini sejak awal, karena bagi orang-orang kecil yang selama ini hanya menjadi penonton, keberanian seorang pemimpin untuk berdiri bersama mereka bisa berarti lebih besar daripada kekuasaan itu sendiri.

Rasyid berdiri di tengah kerumunan masyarakat dengan wajah yang jauh lebih tenang dibanding saat pertama datang tadi. Melihat semangat warga yang tetap bertahan meski diancam dari berbagai arah membuat keyakinannya perlahan kembali kuat. Ia kemudian mengangkat suaranya agar semua orang bisa mendengar dengan jelas.

“Kalian tetap kuat, sabar, dan solid ya,” katanya tegas namun hangat. “Saya akan terus memperjuangkan hak kalian.”

Masyarakat langsung menyambut ucapan itu dengan tepuk tangan dan sorakan kecil penuh semangat. Bagi mereka, keberanian Rasyid untuk datang langsung dan tetap berdiri bersama masyarakat kecil di tengah tekanan para pemodal sudah menjadi bukti bahwa mereka tidak sedang berjuang sendirian.

Di sisi lain, Ami juga tidak tinggal diam. Setelah Rasyid selesai berbicara, ia justru mendekati kelompok ibu-ibu yang sejak tadi duduk mendengarkan dengan penuh perhatian. Dengan cara yang sederhana dan akrab, Ami mulai memberi arahan tentang bagaimana hasil pengelolaan sarang burung walet itu sebaiknya digunakan.

“Ibu-ibu,” katanya lembut namun jelas, “kalau nanti hasilnya sudah mulai bagus, jangan langsung habis untuk hal-hal yang tidak penting.”

Para ibu langsung mendengarkan serius karena mereka tahu Ami berbicara sebagai orang yang memahami kehidupan mereka sehari-hari, bukan sekadar memberi nasihat dari atas jabatan.

“Mulailah menabung sedikit demi sedikit,” lanjut Ami. “Gunakan uang itu sebaik mungkin. Prioritaskan sekolah anak-anak.” Ia berhenti sejenak sebelum berkata dengan nada lebih dalam, “Karena pendidikan bisa mengubah masa depan keluarga.”

Beberapa ibu mulai mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca. Mereka sangat memahami maksud ucapan itu, sebab selama ini kemiskinan sering membuat anak-anak mereka terpaksa berhenti sekolah lebih cepat dan mengulang kehidupan yang sama seperti orang tuanya.

Ami lalu menambahkan, “Kalau anak-anak kalian punya pendidikan yang baik, suatu hari mereka tidak akan lagi mudah dipermainkan orang lain.”

Ucapan itu membuat suasana menjadi hening penuh perenungan. Bahkan Rasyid yang berdiri tidak jauh dari sana memandang istrinya dengan tatapan bangga. Ia sadar, perjuangan mereka ternyata bukan hanya soal mempertahankan hak ekonomi masyarakat, tetapi juga tentang mengubah cara berpikir dan masa depan generasi berikutnya.

Dan siang itu, di kampung sederhana dekat goa-goa walet itu, masyarakat mulai merasakan sesuatu yang selama ini jarang mereka dapatkan dari para pemimpin: bukan hanya janji pembangunan, tetapi juga arah dan harapan untuk mengubah hidup mereka sendiri.

Setelah pertemuan selesai, masyarakat masih berkumpul mengelilingi Rasyid dan Ami. Beberapa warga bergantian menyampaikan keluhan, sementara yang lain mulai membicarakan rencana membentuk kelompok pengelola walet secara lebih teratur. Suasana yang awalnya dipenuhi kekhawatiran perlahan berubah menjadi penuh semangat.

Seorang ibu muda membawa anak laki-lakinya mendekati Ami. “Bu,” katanya pelan sambil menggenggam tangan anaknya, “saya ingin anak saya sekolah tinggi nanti. Biar hidupnya nggak susah seperti kami.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!