NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Beberapa hari kemudian Narisa akhirnya sembuh total. Kemarin-kemarin masih ada ingus membandel, tapi hari ini napasnya sudah lega sepenuhnya. Dan kadang itu bukan pertanda baik.

Sebagai bentuk syukur karena lolos dari hidung mampet, pagi ini Narisa sengaja bikin sarapan. Nasi goreng plus chicken katsu.

Bukan berarti dia tiba-tiba jago masak tanpa arahan Nuri. Nasi gorengnya pakai bumbu instan, sementarabchicken katsunya frozen tinggal goreng. Praktis. Sesuai kemampuan.

Kara yang baru selesai menyiram rumput dan bunga titipan ibu mereka, langsung masuk ke dapur karena aroma makanan yang bikin perutnya mendadak lapar.

Di meja sudah ada dua piring nasi goreng lengkap dengan chicken katsu di atasnya.

"Tumben masak," celetuk Kara sambil mendekat. "Bu Ati bisa nangis kalau lo gak dateng hari ini."

Narisa langsung ngakak.

"Ngeri dia kaya mendadak kalau gw tiap pagi beli di sana."

"Bilang aja bosen nasi kuning."

"Itu juga sih."

Narisa melepas apron lalu duduk santai di kursinya.

'Eh, pasang Upin Ipin dong, beb."

Kara langsung diam sebentar.

Beb?

Apa Narisa lagi kerasukan arwah pasangan harmonis?

Takut cewek itu sadar lalu balik galak, Kara buru-buru menyalakan TV tanpa banyak komentar.

Beberapa detik kemudian suara Upin Ipin langsung memenuhi rumah. Rutinitas mereka memang begitu sekarang. Tiap makan di rumah, TV wajib nyala.

Kara kembali duduk lalu mulai makan. Baru suapan pertama, alisnya langsung naik.

"Ini bumbu instan,"

Narisa langsung mendelik.

"Bawel amat tinggal makan. Udah gw tambahin bawang juga."

"Gw gak bilang gak enak."

"Tapi nada lo menghina usaha maksimal gw."

"Dih, sensitif."

"Jangan mulai ya. Gw lagi adem ini."

Kara terkekeh kecil sambil menyendok nasi goreng lagi.

"Btw, tadi manggil gw beb."

Narisa langsung berhenti makan sesaat, lalu buru- buru menggeleng.

"Gak jadi ah. Takut kebiasaan."

Kara memutar mata malas.

Masuk akal sih. Tapi kalau jadi kebiasaan juga sebenarnya dia tidak keberatan. Malah agak suka.

"Yaudah, senyaman lo aja dah, bini."

Narisa. refleks ngaak sampai hampir tersedak.

"Geli amat lo manggil 'bini'."

"Terus maunya apa? Sayang?"

"Uhuk!"

Narisa langsung menutup mulut sambil melotot.

"Najis lo."

Kara malah ketawa makin senang. Narisa langsung pura-pura fokus makan lagi, padahal ujung telinganya sudah merah sendiri.

~

~

Setelah beberapa hari jadi murid baik, hari ini Narisa mulai gatal bikin ulah lagi. Saat guru sedang menjelaskan di depan, badannya langsung miring ke arah Putri.

"Cabut kita?" bisiknya.

Putri langsung senyum lebar. Belum sempat menjawab, pak guru keburu menunjuk.

"Putri, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?"

"Bapak ganteng sih. Mulut saya ngembang otomatis."

Satu kelas langsung ketawa. Pak guru cuma menghela napas panjang. Sudah terlalu lama mengajar kelas ini sampai rasanya marah juga capek sendiri.

"Pak," celetuk salah satu murid dari belakang. "Daripada belajar mulu, kita main tebak-tebakan aja gimana?"

"Boleh kalau kalian pintar," jawab pak guru refleks. Lalu cepat-cepat berdehem. "Maksud bapak, kalian ini sudah kelas dua belas. Harus mulai serius."

Lesti langsung menoleh ke teman sebelahnya.

"Itu bapak tadi ngatain kita bego gak sih?"

Narisa yang memang dari tadi cari peluang langsung berdiri.

"Pak," katanya dengan muka nyolot. "Kita emang kurang berprestasi, tapi jangan disindir juga kali."

" Saya tidak bilang kalian bodoh,"

"Tapi nadanya nyakitin," sahut Fahri dramatis.

"Iya pak," timpal Putra. " Saya sensitif."

"Kita punya hati, pak," tambah Putri sambil mengusap dada.

Satu kelas mulai ribut pura-pura tersinggung.

"Saya mau nangis."

"Saya mau pulang."

"Laporin Bk aja."

"Viralin sekalian,"

Pak guru mulai panik. "Kalian jangan melebih-lebihkan."

"Ah, kecewa saya pak," Narisa langsung nyomot tas. "Padahal saya udah kagum sama bapak,"

Dan dia keluar begitu saja.

"Narisa!"

Tapi terlambat. Putri ikut kabur. Disusul Fahri. Putra. Beberapa murid lain mulai ngakak sambil ikutan keluar satu per satu sampai kelas hampir kosong.

Pak guru cuma bisa bengong di depan kelas. Ini murid sekolah apa rombongan demo.

"Pak, santai aja. Mereka cuma males belajar," kata Lesti santai dari bangkunya.

Pak guru menoleh pelan.

"Kamu kenapa gak ikut keluar?"

"Mager, pak. Panas."

Pak guru langsung terduduk di kursi sambil mengusap wajah. Kadang dia bingung. Yang bikin capek jadi guru itu ngajar pelajaran atau ngadepin kelas ini.

Di luar kelas, anak-anak IPS 4 langsung menyebar begitu berhasil kabur. Ada yang ke kantin, ada yang nongkrong di rooftop sambil ngerokok, ada juga yang benar-benar pulang.

Narisa dan tiga temannya sudah berkumpul di dekat pagar belakang. Tempat favorit mereka buat lompat keluar sekolah.

"Kotaknya mana?" Narisa sudah tidak sabar.

Fahri langsung mengambil kotak kayu yang mereka sembunyikan di balik semak. Terakhir kali kotak itu hilang seminggu gara-gara dipakai anak kelas lain buat panjat jendela toilet.

"Gw duluan. Ntar gw tarik kalian," kata Putra sambil naik ke atas kotak.

"Buruan woy." Putri mendorong pinggangmya.

"Lama amat ancang-ancangnya."

"Lah kalau gw jatoh gimana?"

" Syukur."

"Hup!"

Putra berhasil naik pagar lalu lompat mulus ke seberang. Disusul Fahri. Lalu Putri. Begitu giliran Narisa, cewek itu baru setengah naik saat tiba-tiba ada tangan menarik pahanya dari bawah.

"Kyaaa! Siapa yang narik gw?!"

Narisa refleks hampir menendang. Fahri yang masih duduk di catas pagar langsung melongo.

"Lah?"

Narisa menunduk dan langsung mendelik. Ternyata Kara.

"Lo ngapain sih, peak?" semburnya kesal.

"Lo mau bolos?" Kara menahan Narisa supaya tidak naik lagi. "Gak boleh."

Narisa langsung melotot.

"Lo cabul amat dah,"

Posisi mereka memang agak mengkhawatirkan, Kara berdiri tepat di bawah, sementara Narisa setengah nungging di atas pagar.

Kara langsung geli sendiri.

"Bacot lo ah."

"Terus ngapa narik gw?!"

"Ya masa gw biarin lo lompat."

"Yaudah ikut aja sekalian. Kita cabut ke rumah Fahri."

Belum sempat Kara menjawab, Fahri tiba-tiba melepas tangan Narisa. Bukan sengaja. Dia cuma refleks garuk punggung karena gatal. Dan itu keputusan terbodoh hari ini.

"WOY-"

Bruk!

Narisa jatuh tepat di atas Kara sampai suara benturannya bikin Putri langsung menjerit dari balik pagar.

"ADUH!"

Kara terlentang sambil menatap langit kosong. Dia merasa seperti pernah mengalami ini. Kapan ya? Narisa buru-buru bangun.

"Santen, masih idup kan lo?"

Kara masih diam beberapa detik sebelum akhirnya bicara datar.

"Udah gw duga. Lo emang berat."

"Siapa suruh lo-"

Narisa mendadak berhenti ngomel saat melihat leher Kara tergores cukup panjang. "Leher lo berdarah. Lah, kena apaan ya itu?" dia celingukan sendiri.

Kara baru mau pegang lukanya saat Narisa buru-buru menepis tangannya.

"Jangan dipegang."

Dari balik pagar, Putri mulai teriak lagi.

"Lama amat sih?!"

"Nanar jatoh!" jawab Fahri panik.

"HAH?!"

Narisa langsung mendongak.

"Bentar!"

"Ada yang lecet gak?" Fahri masih merasa berdosa.

"Ada luka dikit,"

"Ke rumah gw aja. Ada obat."

Narisa menoleh ke Kara. " Gas ya."

"UKS aja lah," tolak Kara santai. "Gw gak bisa bolos hari ini."

Narisa langsung menyipit curiga.

"UKS lagi? Betah amat lo di sana."

Kara memutar mata malas, "Mulai deh."

"Jangan jangan kalian emang ada apa-apa."

"Curigaan mulu lo, kayak bini baru."

Kara berdiri sambil menepuk debu di celana. Narisa ikut bangun sambil manyun sendiri.

"Emang bini baru kali," gerutunya pelan. "Baru berapa bulan,"

Kara sebenarnya dengar. Tapi dia memilih pura-pura tidak dengar karena takut malah ketawa sendiri.

"Bini jutek," ledeknya.

"Najis."

~

Satu jam kemudian enam remaja itu asyik makan rujak di rumah Fahri. Mangkuk bakso bertebaran di meja. Es teh satu teko penuh tinggal setengah. Suara tawa mereka hampir memenuhi seluruh rumah.

Selain kara, Harum juga ikut-ikutan diseret. Ajaibnya, cewek itu malah langsung segar lagi setelah tadi mengeluh ngantuk.

Setelah mengobati luka Kara dan makan entah apa saja, mereka akhirnya main permainan klasik warisan nenek moyang.

"Tebak nama hewan dari huruf P" kata Putri sambil cekikikan sendiri.

"Lah, lo dong," celetuk Harum refleks.

"Anjir. Dikira gw hewan?" Putri langsung mendelik.

"Eh iya, refleks."

"Gak ada refleks kayak gitu ya. Gw tersinggung!"

"Udah-udah. Tumben amat kalian yang ribut," Putra malah cekikikan.

"Put," panggil Kara.

"Apaan?" Dua orang langsung nyaut bareng.

"Putri. Nama hewan huruf P kan? Perkutut."

"Lah, peak. Itu burung kali," Fahri tergelak.

"Pipit," Harum ikut nyamber.

"Piaraan," celetuk Narisa santai.

Semua langsung mengernyit.

"Apaan piaraan?" tanya Putra bingung.

"Yang lain nebak burung. Gw juga dong. Burung piaraan."

"Dih, gak bisa," Putri langsung protes. "Lebih masuk akal lo jawab panda."

"Oke. Patrick."

Semua langsung ketawa. Harum sampai tepuk tangan sendiri.

"Lah iya, bintang laut."

Narisa makin semangat.

"Masih ada lagi. Piranha, paus, pucing, panjing, pelinci-"

"Goblok," Kara tertawa sambil tanpa sadar menjepit kepala Narisa di lengannya. "Maksa banget,"

"Eh, tapi tadi lo pada gak liat ni anak dua pas jatoh kan?" Fahri tiba-tiba nyeletuk sambil ngakak.

"Emang gimana?" Htarum langsung kepo.

"Gara-gara dia sok narik orang," kata Narisa datar.

"Lo yang mau kabur," balas Kara santai.

"Ya tapi gak usah narik pantat gw juga kali."

Yang lain langsung ribut sendiri. Kara cuma memejamkan mata sebentar sambil mengingat kejadian tadi. Ini fakta atau fitnah sih?

Narisa langsung menunjuk.

"Nah kan, Lo diem berarti bener. Lo cabul."

Kara langsung menoleh.

"Buset itu bacot. Kayak gak ada orang di sini."

"Bodo amat. Emang lo mesum."

"Gila. Gw masih terlalu bocil buat denger urusan ranjang orang," kata Putri sambil tutup muka dramatis.

"Ranjang apaan dah?" celetuk Kara datar.

"Wajar lah, kan udah kawin," sambar Putra.

"Nikah, bego," sembur Fahri. "Lo nyebut kawin bisa sange di sini dịa "

"Anjir," Kara langsung geleng-geleng kepala sambil ketawa kecil.

~

Hari itu mereka kembali masuk kelas tepat saat jam pelajaran terakhir. Sebagian yang tadi cuma kabur di lingkungan sekolah juga sudah balik. Guru yang mengajar jelas tahu ulah mereka tadi, tapi memilih diam. Paling besok kena batunya, pikir sang guru.

Begitu bel pulang berbunyi, Narisa malah bingung sendiri. Pulang atau nunggu Kara? Tapi dia juga malas di rumah sendirian. Ganggu tetangga tiap hari juga ada malunya.

Tiga temannya lagi ada urusan masing-masing. Fahri dan Putra malah punya terlalu banyak teman di luar sekolah.

"Bonar, lo mau balik apa. nunggu?" tanya Kara setelah ganti kostum latihan.

Narisa berpikir sebentar.

"Gimana ya..."

"Lo itu kebiasaan ya. Mutusin apa-apa lama banget." omel Kara santai. " Udah, tunggu aja. Daripada di rumahbterus kesurupan sendirian."

Plak.

Tangan Narisa langsung melayang ke lengan Kara.

"Gw paling sebel kalau lo mulai ngomong gitu," gerutunya. "Gak gw panggil beb lagi mau lo?"

Kara langsung diam. Ada juga ancaman model begini.

"Kak Risa, mau nonton latihan?"

Narisa langsung berbalik. Cantika sudah berdiri di belakang sambil tersenyum tipis dengan tas olahraga di pundaknya.

Refleks tangan Narisa membentang di depan Kara seperti satpam konser. Tapi kepalanya malah menoleh ke belakang.

"Bentar deh," katanya serius. "Cara dewasa buat ngusir pelakor gimana sih?"

Kara langsung menaikkan alis.

"Lo itu masih bocah, Gak usah sok dewasa."

Narisa menurunkan tangannya sambil manyun.

"Tapi gw gak mau bocil-bocil banget. Alay tau."

"Ada yang nyapa tuh," dagu Kara mengarah ke Cantika. "Jawab dulu,"

Narisa akhirnya menoleh.

"Iya, gw nungguin bebeb gw latihan. Ada masalah?"

Cetak.

Dahinya langsung disentil pelan.

"Gak gitu ngomongnya," tegur Kara.

Cantika malah masih bisa senyum.

"Terlalu sering ketemu gak takut bosen, kak?"

"Gw yang bosen urusan sama lo," jawab Narisa datar.

"Oh." Cantika cuma mengangguk kecil. "Bisa ngomong bentar gak, kak?"

Narisa menunjuk diri sendiri. "Maksudnya gw?"

"Iya."

"Mau ngomongin apa?" Kara langsung keberatan.

Cantika masih tersenyum tipis. "Cuma ngobrol aja kok, kak. Gak bakal aku apa-apain."

Kara malah makin curiga. Dilihat dari muka Narisa, justru cewek itu yang lebih mungkin bikin keributan.

"Ayok," kata Narisa santai sambil berbalik.

"Eh, Bonar-"

"Kalem lo."

Kara akhirnya cuma bisa menghela napas pasrah.

Sampai di lorong sekolah yang sudah sepi, Narisa berhenti lalu melipat tangan. Mukanya datar, tapi tatapannya jutek setengah mati.

"Mau ngomong apaan?" tanyanya.

"Aku mau kita saingan secara adil, kak," kata Cantika serius.

Narisa sampai melongo beberapa detik.

"Saingan?" ulangnya tidak percaya. "Rebutin si santen?"

Cantika mengangguk mantap. "Iya."

Narisa langsung buang muka sambil mengusap wajah sendiri.

"Ampun dah. Hidup gw kenapa jadi sinetron."

Cantika mengernyit. "Kakak takut?"

"Iya gw takut," Narisa menghela napas dramatis. "Takut lo patah hati lagi."

"Aku gak bakal nyerah sebelum nyoba."

Narisa menatap Cantika beberapa saat. Kalau dipikir-pkir, cewek ini lumayan nekat juga. Tapi tetap saja aneh.

"Kalau gw gak mau saingan gimana?" tanyanya akhirnya.

Cantika tersenyum tipis. "Kakak bakal tau sendiri nanti"

"Buset," Narisa sampai terkekeh pendek. "Ngeri juga."

Dia lalu mendekat sedikit sampai Cantika refleks mundur setengah langkah.

" Coba aja dulu bikin gw kapok. Kalau gw sampe nangis gara gara lo, baru kita saingan."

Setelah itu Narisa langsung pergi begitu saja. Heran dia. Memangnya di sekolah ini gak ada cewek lain selain Kara?

Begitu belok di ujung lorong, Narisa langsung kaget karena Kara ternyata sudah berdiri sambil nyender di depan kelas kosong.

"Lah, ngapain lo nungguin?" tanyanya.

Kara langsung merangkul pundaknya santai. "Dia ngomong apa?"

Narisa mendecih. "Receh. Intinya dia masih pengen jadi pacar lo. Itu bocah kenapa dah?"

"Biarin caja," jawab Kara santai. "Mau dia gimana juga kan tergantung gw."

Narisa langsung berhenti jalan.

"Lo janji gak bakal deket-deket dia."

"Janji."

Narisa mengipit curiga beberapa detik. Lalu tiba-tiba menarik tangan Kara masuk ke kelas kosong di sebelah mereka.

"Dih, mau ngapain? Ini kelas sepuluh-"

Cup.

Narisa langsung mencium Kara cepat lalu mundur lagi.

"Sekali aja lo lirik dia, gak bakal ada cipokan lagi," ancamnya serius.

Kara sampai bengong sebentar.

Kenapa ancamannya ngeri banget? Rugi dia dong.

Akhirnya Kara menarik tengkuk Narisa pelan lalu balas mencium cewek îtu lebih lama. Narisa sempat mencubit lengannya pelan, tapi tidak benar-benar menolak.

Kelas kosong itu jadi saksi dua orang yang biasanya ribut mulut, sekarang malah ribut rebutan napas.

.

1
Felafel
Seru
Felafel
wkwkwk🤣 risa denial banget tinggal bilang cemburu aja loh
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!