NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT

PELET LAKNAT

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Kutukan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Medan pertarungan

BAB 18 - Dua Medan Pertarungan

"Kamu yakin tempat dukun itu ada di balik jalan ini?" ujar paman Mira, sambil mengacungkan tangan yang sedikit gemetar ke arah jalan setapak yang gelap gulita di hadapan mereka.

"I-iya, Paman, aku yakin. Mungkin sekitar satu sampai dua jam lagi berjalan kaki, kita baru sampai," sahut Agus.

"Hah...?! Kamu gila, ya?! Kita harus jalan kaki menembus hutan sejauh itu?!" bentak paman Mira.

Rasa takut yang memuncak bercampur frustrasi membuat pria itu gelap mata. Dengan kasar, ia mendorong tubuh Agus hingga pemuda yang masih lemas itu terhuyung dan jatuh terduduk di atas tanah yang basah.

Agus hanya bisa terdiam mendapatkan perilaku seperti itu. Ia tahu kalau dia melawan sang paman, situasi malah akan jadi kacau, walaupun saat ini dadanya kembali terasa sakit.

Ahmad segera menengahi sebelum ego paman Mira makin merusak situasi.

"Sudah cukup! Ayo kita mulai berjalan sebelum malam semakin gelap," ujar Ahmad tegas, suaranya dingin namun penuh penekanan yang tak bisa dibantah.

Sementara itu, situasi di rumah Mira justru telah berubah menjadi medan pertempuran gaib yang mencekam.

Dodi bersama rombongan santri senior yang baru saja tiba dari pesantren langsung dihadapkan pada kondisi darurat. Mereka tengah berupaya keras mengendalikan tubuh Mira yang mendadak kembali mengamuk dan memberontak dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat ricuh dan menegangkan.

Lantunan demi lantunan ayat suci Al-Qur'an dari para santri yang beramai-ramai terus bergema, saling menyahut memenuhi setiap sudut ruangan. Namun, makhluk yang bersemayam di dalam tubuh Mira tampaknya enggan menyerah begitu saja.

"Arrrrrghhh!"

Suara geraman berat yang bukan menyerupai suara manusia keluar dari tenggorokan Mira. Gadis itu mencengkeram kepalanya sendiri dengan mata mendelik merah.

"Panas...! Panas...! Diam semua!" bentak makhluk di dalam tubuh Mira, suaranya melengking tinggi hingga membuat kaca jendela bergetar.

"Kami tidak akan pernah berhenti sebelum kamu keluar dari tubuh anak ini! Cepat keluar, wahai makhluk terkutuk!" bentak balik Kiai.

Suaranya menggelegar penuh wibawa, sama sekali tidak gentar oleh gertakan tersebut. Beliau terus mengacungkan jarinya ke arah dahi Mira sambil mempercepat bacaan ayat-ayat pembakar jin.

Mata Mira justru semakin melotot tajam hingga urat-urat di lehernya menegang. Badannya kaku bak kayu, namun energinya luar biasa besar saat memberontak, sampai-sampai beberapa santri senior dan sisa anggota keluarga Mira yang memegangi kedua tangan dan kakinya mulai kewalahan menahan amukan itu.

Di tengah perjuangan menahan tubuh Mira yang luar biasa kuat itu, tiba-tiba angin di dalam ruangan berputar kencang seolah ada pusaran tak kasat mata. Suara gemuruh samar terdengar dari bawah lantai, disertai bau anyir darah dan bau bunga kamboja yang menyengat hingga membuat para santri terbatuk-batuk.

"Kalian kira ayat-ayat itu bisa melumpuhkanku?! Bodoh! Aku sudah memakan jiwa satu orang, kekuatanku kini berkali-kali lipat lebih hebat!" raung makhluk itu dengan suara yang menggema memenuhi ruangan, matanya melotot penuh kebencian ke arah Kiai.

Kiai tidak mundur sedikit pun. Beliau justru melangkah semakin dekat, tangan kanannya bergerak membuat isyarat penolak sementara bibirnya terus melantunkan ayat suci dengan volume yang makin keras dan berwibawa.

"Jiwa yang kau makan itu justru menjadi laknat bagimu! Kekuatan Allah jauh lebih besar dari segalanya! Keluar! Sebelum kau binasa tersiksa oleh azab-Nya di tempat ini juga!" bentak Kiai tak kalah keras, suaranya menggelegar memutus dominasi energi hitam di ruangan itu.

Seolah terbakar hebat oleh ucapan sang Kiai, tubuh Mira mendadak melengkung ekstrem seperti busur—sebuah posisi yang mustahil dilakukan oleh anatomi tubuh manusia normal. Gadis itu menjerit memilukan, lalu tiba-tiba dari mulutnya menyembur cairan hitam kental yang berasap dan berbau busuk ke lantai.

Dan pada akhirnya, makhluk tersebut berhasil ditumbangkan oleh Kiai, walau dengan susah payah melakukannya.

Sementara itu, jauh di dalam hutan pinus yang semakin kelam, Ahmad, Agus, dan paman Mira masih terus berjalan menembus pekatnya malam. Padahal, pencahayaan mereka saat itu sangat terbatas, hanya bersumber dari senter ponsel masing-masing yang cahayanya bergoyang-goyang membelah kegelapan.

Semakin jauh mereka melangkah, hawa dingin kian menusuk hingga ke tulang sumsum. Kabut tipis pun mulai menyelimuti permukaan tanah, memangkas jarak pandang mereka hingga tersisa beberapa meter saja.

Anehnya, perjalanan mereka terasa begitu lancar tanpa gangguan sedikit pun. Hingga pada akhirnya, langkah kaki mereka mendadak terhenti di hadapan sebuah batu hitam yang sangat besar.

Lho... kok batu? Seharusnya kan rumah paranormal itu di sini, batin Agus mulai panik. Matanya mengerjap tidak percaya melihat pemandangan di depannya.

"Mana rumahnya?! Ini malah batu besar yang kita temukan! Apa masih jauh, atau jangan-jangan kita malah tersesat, hah?!" ujar paman Mira, suaranya meninggi, kembali terbawa emosi yang campur aduk dengan rasa takut.

Agus terdiam sejenak dan menarik napas panjang.

"Ini seharusnya lokasi rumah dukun itu. Tapi mengingat jarak kita berjalan baru tiga puluh menit, sementara saat saya bersama Indra dulu itu menghabiskan waktu sekitar dua jam... ini aneh." batin Agus makin berkecamuk. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.

"Woy...! Jawab! Malah bengong?!" bentak paman Mira, sukses membuyarkan lamunan Agus.

"Sudah, tidak usah ribut. Kita sudah sampai," ujar Ahmad dengan nada yang teramat tenang.

"Hah...?! Sampai? Abang jangan bercanda, ya! Jelas-jelas di depan kita ini batu besar, bukan rumah!" sahut paman Mira, matanya melotot tidak percaya dengan ucapan santri di dekatnya itu.

Sementara itu, Agus hanya bisa planga-plongo mendengar ucapan Ahmad. Batin pemuda itu makin berkecamuk hebat, mencoba mencerna maksud dari perkataan sang santri senior.

Melihat kepanikan dan kebingungan kedua orang di dekatnya, Ahmad menghela napas pendek. Ia tahu penjelasannya dengan kata-kata tidak akan pernah cukup.

Dan pada akhirnya, Ahmad terpaksa memutuskan untuk membuka mata batin mereka, supaya mereka berdua bisa melihat dengan jelas apa yang sebenarnya sedang Ahmad lihat saat ini.

Bersambung

1
HERMAWAN 505
jadi kebahagian indra itu di singkat, jatuhnya indra bahagia cuma 3 bulan bersama Mira, kalau sakitnya karena ilmu pelet yang di pakai, kini berbalik menggerogoti tubuhnya sendiri. begitu kaka.👍
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
Mega Arum
semoga karya kedepanya lbh bagus lg y Thor...
HERMAWAN 505: gimana pendapatmu tentang novel pertama saya? dan bagai mana perasaan kamu saat membaca novel pelet laknat ini?
total 2 replies
Mega Arum
msh tanda.tanya kak...knp.Indra bs tau2 sakit, blm juga ada bahagianya dg Mira.. ceritanya monoton tntg pertempuran dg dukun
Mega Arum
dr awal krg jelas..dr mana Indra tau keberadaan paranormal di tengah hutan itu, dan skt hati berlebihan sprti apa sbrnya Indra
HERMAWAN 505: makasih Mega Arum sudah mengikuti alur cerita saya sampai sejauh ini.
total 1 replies
Mega Arum
kasihaan Aguuus 😀
ÑIÇÃ
di tunggu lanjutannya💪
Wulandari Ayuningtyas
halo kak
mampir y ke novelku 😁
HERMAWAN 505: makasih sudah berkunjung ke novelku
total 1 replies
Aswad Us
kerennn👍
Raihan
di tunggu lajutan nya bang
HERMAWAN 505: makasih atas kunjungannya.
total 1 replies
Raihan
kak mampir juga la di novel ku 😄
Aswad Us
👍👍
Aswad Us
di tunggu bab berikutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!