NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 - Rahasia yang Disembunyikan

Suasana kelas perlahan kembali normal setelah anak-anak dari keluarga Moretti pergi.

Namun bisik-bisik masih terdengar di berbagai sudut ruangan. Beberapa murid diam-diam terus melirik ke arah Leon dan Rachael.

Sementara itu, Rachael masih berdiri di samping mejanya sambil mencoba mengatur napas pelan.

Terlalu ramai, terlalu banyak suara membuat kepalanya terasa penuh. Ia membenci perasaan ini.

Rachael menggenggam ujung lengan seragamnya kuat-kuat sebelum akhirnya pergi ke toilet. “Aku ke toilet dulu.” Suaranya terdengar normal tenang seperti biasa.

Tidak ada yang menyadari apa pun. Namun Leon memperhatikan perubahan kecil di wajahnya.

Rachael berjalan keluar kelas dengan langkah cepat tanpa menatap siapa pun.

Begitu pintu kelas tertutup, barulah ia menghela napas panjang. Koridor sekolah terasa jauh lebih sepi dibanding kelas tadi.

Tetapi suara obrolan murid-murid dari kejauhan masih membuat kepalanya sedikit berdenyut.

Langkah Rachael semakin cepat menuju toilet perempuan di ujung koridor. Begitu masuk, ia langsung mengunci salah satu pintu toilet dan bersandar lemah di belakangnya.

Hening... Akhirnya hening.

Rachael memejamkan mata sambil mengatur napas perlahan.

Tangannya bergerak kecil tanpa sadar, mengetuk pelan sisi pahanya berulang-ulang. Kebiasaan yang selalu muncul saat pikirannya mulai kacau.

“Tenang...” bisik nya pelan pada diri sendiri.

Ia mengambil permen di saku seragamnya. Tangannya sedikit gemetar saat membuka bungkus itu.

Rachael segera memasukkan satu permen ke mulutnya lalu memejamkan mata lagi. Rasa manis permen perlahan memenuhi mulutnya. Membantu pikirannya sedikit lebih fokus.

Ia sudah terbiasa melakukan ini sejak lama.

Permen, napas teratur, dan tempat sepi.

Hal-hal kecil yang membantunya tetap terlihat baik-baik saja di depan orang lain. Karena tidak ada yang tahu siapa Rachael sebenarnya.

Tidak ada yang tahu bahwa ia mudah kehilangan fokus saat terlalu banyak suara.

Tidak ada yang tahu bahwa ia bisa tiba-tiba marah karena hal kecil lalu menyesalinya setelah itu.

Dan tidak ada yang tahu betapa keras dirinya berusaha terlihat normal setiap hari.

Rachael menunduk sambil menggigit pelan permen di mulutnya. Kadang ia lelah. Sangat lelah.

Tetapi ia tidak ingin dianggap aneh.

Tidak ingin orang-orang mulai berbisik atau menatapnya berbeda. Jadi selama ini, ia memilih menyembunyikannya sendiri.

Beberapa menit berlalu.

Setelah napasnya mulai stabil, Rachael akhirnya keluar dari bilik toilet lalu berjalan menuju wastafel.

Ia membasuh wajahnya pelan dengan air dingin.

Pantulan wajahnya terlihat di cermin besar depan wastafel.

Rachael memaksa tersenyum kecil pada dirinya sendiri. "Oke, aku tidak apa-apa." Ia merapikan rambutnya sedikit. Lalu kembali makan permen kali ini lollipop.

Saat hendak keluar toilet, langkahnya tiba-tiba berhenti. Seseorang berdiri di depan pintu.

Leon.

Rachael sedikit terkejut. “Astaga, Kau ngapain di sini? Ini kan toilet perempuan.”

Leon berdiri tenang sambil memasukkan tangan ke saku celana. “Kamu lama.”

“Aku cuma sebentar ke toilet, tidak perlu menyusul begitu.”

Leon menatap wajahnya beberapa detik. Tatapannya tajam seperti biasa. Seolah bisa melihat sesuatu yang disembunyikan orang lain.

“Kamu baik-baik aja?” tanyanya pelan.

Rachael langsung menjawab cepat. “Aku baik-baik aja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Tatapannya perlahan turun ke arah tangan Rachael yang masih memegang bungkus permen erat-erat.

Beberapa detik hening.

Namun Leon tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya menghela napas kecil lalu berkata pelan, “Kalau mereka datang ganggu kamu lagi, langsung bilang saja padaku.” Nada suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.

"Ya, pasti."

Koridor sekolah terasa lebih sepi dibanding biasanya.

Jam pelajaran berikutnya akan segera dimulai, membuat sebagian besar murid sudah kembali ke kelas masing-masing.

Namun Leon masih berdiri di depan toilet perempuan sambil menatap Rachael diam-diam.

Rambut gadis itu sedikit berantakan. Matanya terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Dan meski Rachael berusaha terlihat biasa saja, Leon tahu ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan.

“Kamu serius baik-baik aja?” tanyanya lagi pelan.

Rachael langsung mengangguk cepat. “Iya, serius lah.”

Leon menyipit samar.

Rachael segera berjalan melewati Leon lebih dulu.

“Ayo balik ke kelas sebelum guru masuk.”

Leon mengikuti dari belakang tanpa banyak bicara.

Sepanjang koridor, suasana terasa aneh.

Biasanya Rachael akan mengatakan sesuatu, hal random, pertanyaan kecil, atau sekadar komentar tentang orang-orang di sekitar.

Tetapi sekarang gadis itu justru diam. Dan Leon tidak menyukai itu. “Kamu marah?” tanya Leon tiba-tiba.

Langkah Rachael sedikit melambat. “Marah kenapa?” jelas bingung.

“Tadi.”

Rachael terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas kecil. “Aku nggak marah, cuma nggak suka keributan.”

Leon memperhatikannya cukup lama. Bukan cuma karena keributan. Ia yakin ada alasan lain, namun Leon tidak memaksa.

Karena dirinya sendiri juga punya terlalu banyak rahasia yang tidak ingin disentuh orang lain.

Begitu mereka masuk kelas, beberapa murid langsung diam-diam memperhatikan.

Bisik-bisik kecil mulai terdengar lagi.

“Barengan lagi...”

“Tadi mereka ke mana?”

“Jangan-jangan beneran pacaran.”

Rachael langsung menghela napas panjang dalam hati. Kepalanya baru saja tenang. Dan sekarang semuanya mulai berisik lagi.

Ia buru-buru duduk di kursinya sambil mengeluarkan buku agar tidak perlu mendengar omongan orang lain.

Leon duduk di sebelahnya dengan ekspresi datar.

Tatapannya langsung menyapu seluruh kelas.

Seketika bisik-bisik itu menghilang.

Sunyi total.

Rachael melirik Leon sebentar. “Kamu sadar nggak sih kalau semua orang takut sama kamu?”

Leon menyandarkan tubuhnya santai. “Itu sudah jelas, memang lebih mudah begitu.”

“Mudah buat mu, mungkin.”

Leon sedikit menoleh. “Kalau mereka nggak takut, mereka bakal terlalu dekat.” Kalimat itu terdengar biasa saja.

Namun entah kenapa membuat Rachael terdiam.

Karena ia merasa Leon sengaja menjaga jarak dari semua orang. Bukan karena sombong, tetapi karena takut. Takut seseorang ikut terluka karena dirinya.

...----------------...

Sore harinya, latihan basket gabungan akhirnya dimulai.

Lapangan olahraga sekolah jauh lebih ramai dibanding biasanya.

Tim putra dan putri berkumpul di sisi masing-masing sambil melakukan pemanasan.

Rachael berdiri di dekat garis lapangan sambil mengikat rambutnya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia bermain serius.

Jujur saja ia gugup.

Bukan karena pertandingan. Tetapi karena terlalu banyak suara dan orang sekaligus. Pantulan bola, teriakan murid, peluit pelatih. Semua bercampur jadi satu.

Rachael diam-diam menggenggam ujung bajunya pelan untuk menenangkan diri.

Sampai suara familiar terdengar di dekatnya. “Kamu tegang?”

Rachael menoleh.

Leon berdiri di sampingnya sambil memegang bola basket.

“Aku cuma lama nggak main.”

Leon menatapnya beberapa detik. “Kamu kelihatan mau kabur.”

Rachael spontan tertawa kecil. “Enggak tuh.”

“Yakin nih?”

Pelatih mulai memanggil semua pemain ke tengah lapangan. “Oke! Hari ini latihan gabungan. Kita mulai dari game kecil dulu!”

Beberapa murid langsung bersorak antusias.

Rachael menarik napas panjang pelan.

Leon memperhatikannya diam-diam, ia melihat gerakan kecil di tangan Rachael.

Jari gadis itu bergerak berulang tanpa sadar.

Seperti sedang mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Tatapan Leon sedikit berubah. Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh—pelatih tiba-tiba menunjuk mereka. “Leon! Rachael! Satu tim.”

Rachael jelas terkejut

Suasana langsung ramai.

“Wahhh...”

“Cocok banget.”

Rachael langsung memejamkan mata sebentar.

Sementara Leon justru terlihat tenang. Ia berjalan ke tengah lapangan lalu berhenti di depan Rachael. “Ayo.”

Rachael mengangguk kecil sebelum ikut masuk ke lapangan.

Permainan dimulai.

Awalnya Rachael masih terlihat kaku. Namun begitu bola mulai berada di tangannya, sesuatu berubah.

Gerakannya cepat, fokus, dan jauh lebih lincah dari dugaan semua orang.

“Eh??”

“Dia jago juga...”

Rachael menggiring bola melewati satu pemain lalu mengoper cepat ke Leon.

Leon menangkap bola itu dengan mulus.

Tatapan mereka bertemu sepersekian detik.

Dan tanpa perlu bicara, Leon langsung tahu ke mana Rachael akan bergerak.

Operan balik cepat.

Rachael melompat.

Shoot.

Masuk sempurna.

Suasana lapangan langsung ramai.

“Gila keren!”

“Sinkron banget mereka!”

Rachael sedikit terengah tetapi tanpa sadar tersenyum kecil. Sudah lama ia tidak merasakan perasaan ini. Bermain bebas tanpa terlalu memikirkan banyak hal.

Sementara itu Leon diam-diam memperhatikan senyum kecil Rachael. Dan hari itu beban di kepalanya terasa sedikit lebih ringan.

Namun ketenangan itu kembali menghilang saat Leon tanpa sengaja melihat sesuatu di sisi luar lapangan.

Suasana lapangan masih ramai oleh suara pantulan bola dan teriakan murid-murid.

Bagi Leon semua suara itu perlahan menghilang. Tatapannya tetap terkunci pada pria asing di balik pagar sekolah.

Pria itu berdiri santai sambil memasukkan tangan ke saku jas hitamnya. Tatapannya lurus ke arah lapangan. Ke arah Leon. Dan mungkin ke arah Rachael.

Ekspresi Leon langsung berubah dingin sepenuhnya.

Aura di sekitarnya berubah begitu cepat sampai Axel yang berada di sisi lapangan langsung menyadarinya.

Axel mengikuti arah pandangan Leon lalu refleks mengumpat pelan. “Sial... itu kan...”

Rachael yang berdiri di dekat Leon sedikit mengernyit bingung. “Kalian lihat apa?”

Leon langsung mengalihkan pandangan. “Nggak ada.”

Bohong dan Rachael bisa merasakannya.

Peluit pelatih kembali terdengar. “Lanjut! Jangan berhenti!”

Permainan dimulai lagi.

Namun kali ini fokus Leon tidak sepenuhnya berada di lapangan. Tatapannya beberapa kali mengarah ke pagar sekolah. Pria itu masih di sana mengawasi.

Rachael menerima operan bola lalu berlari cepat melewati lawan sebelum kembali mengoper pada Leon.

Biasanya Leon akan langsung menyelesaikan serangan.Tetapi kali ini gerakannya sedikit terlambat.

“Leon!” Axel langsung berteriak.

Leon tersadar lalu segera bergerak dua langkah cepat.

Shoot.

Bola masuk ring dengan tepat.

Sorakan kembali terdengar di sekitar lapangan.

Namun ekspresi Leon tetap dingin.

Rachael memperhatikannya diam-diam ada sesuatu yang salah.

...----------------...

Latihan akhirnya selesai menjelang sore.

Sebagian murid mulai duduk kelelahan di pinggir lapangan sambil minum dan mengobrol.

Rachael duduk sambil mengusap peluh di lehernya pelan. “Aku hampir lupa capeknya latihan basket,” gumamnya kecil.

Selina langsung tertawa. “Tapi kamu keren banget tadi!”

“Iya, aku juga nggak nyangka masih bisa main sebagus itu.”

Selina melirik ke arah lapangan lalu menurunkan suaranya. “Leon juga dari tadi fokus ke kamu terus.”

Rachael langsung menoleh cepat. “Hah? Maksudnya? Nggak mungkin.”

“Serius.”

Rachael buru-buru membuka botol minumnya untuk menghindari pembicaraan itu.

Sementara itu di sisi lain lapangan—

Leon sedang berbicara pelan dengan Axel.

“Dia masih di sana?” tanya Axel.

Leon melirik sekilas ke arah luar pagar sekolah. “Sudah pergi.”

Axel menghela napas panjang. “Moretti mulai berani membuat masalah.”

Tatapan Leon berubah tajam. “Mereka sengaja menunjukkan diri.”

“Mungkin buat ngasih peringatan.”

Leon diam, namun pikirannya langsung tertuju pada satu orang.

Rachael.

Ia membenci kenyataan bahwa gadis itu sekarang mulai berada dekat dengan dunianya.

Karena semakin dekat seseorang dengan Leon—semakin besar kemungkinan orang itu dijadikan target.

“Tadi dia lihat Rachael?” tanya Axel hati-hati.

Leon tidak langsung menjawab.

Axel langsung mengusap wajah kasar. “Kalau Paman Arthur tahu soal ini, situasinya bakal makin ribet.”

Leon mengepalkan tangan pelan. Kalau sampai Rachael ikut terseret, Leon tidak yakin dirinya bisa tetap tenang.

Langit mulai gelap saat murid-murid akhirnya bersiap pulang.

Rachael berjalan keluar gedung olahraga sambil membawa tas di bahunya. Tubuhnya sedikit lelah, tetapi suasana hatinya jauh lebih baik dibanding siang tadi.

Sampai suara langkah kaki terdengar di belakangnya. “Rachael.”

Ia menoleh.

Leon berjalan mendekat sambil membawa tas basket hitamnya. “Kamu belum pulang?”

“Aku nunggu bus.”

Leon sedikit mengernyit. “Sendiri?”

"Iya, kenapa?"

Leon menatap sekitar halaman sekolah beberapa detik. Sudah lebih sepi sekarang. Dan itu justru membuatnya semakin tidak tenang.

“Aku antar.”

Rachael terlihat terkejut. “Nggak usah, nanti merepotkan.”

“Aku ke arah pusat kota.” Padahal sebenarnya tidak.

Tetapi Leon tidak mungkin membiarkan Rachael pulang sendiri setelah melihat orang Moretti tadi.

Rachael memperhatikan wajah Leon beberapa saat.

Ekspresinya terlihat lebih serius dari biasanya.

Rachael sadar bahwa ada sesuatu yang tidak diberitahukan Leon padanya.

“Ada masalah?” tanyanya pelan.

Leon terdiam beberapa detik. “Aku cuma nggak suka kamu pulang sendiri sore begini.” Jawaban setengah jujur.

Rachael akhirnya menghela napas kecil. “Ya sudah, Oke.”

Leon langsung mengambil tas Rachael lebih dulu tanpa bertanya.

Dan tindakan sederhana itu membuat Rachael sedikit membeku. “Aku masih bisa bawa sendiri.”

Leon berjalan santai di sampingnya. “Aku tahu.”

“Terus kenapa diambil?”

“Biar cepat.”

Rachael langsung mendengus kecil. Namun diam-diam sudut bibirnya sedikit terangkat.

Mereka berjalan berdampingan melewati halaman sekolah yang mulai sepi.

Angin sore bertiup pelan.

Langkah Leon tiba-tiba berhenti. Tatapannya langsung berubah tajam ke arah jalan seberang sekolah.

Sebuah mobil hitam terparkir di sana sejak tadi. Mesinnya masih menyala. Dan kaca jendelanya perlahan turun sedikit.

Leon langsung mengenali pria yang duduk di dalamnya. Salah satu orang kepercayaan Moretti.

Jantung Leon langsung menegang.

Tatapan pria itu perlahan bergeser. Bukan ke Leon tetapi ke Rachael.

...****************...

Bersambung...

1
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!