NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Amarah Merah di Kota Tengkorak dan Gerbang Penderitaan

Awan kelabu bergelayut rendah seperti langit-langit ruangan yang terlalu sempit saat Yu Fan dan Jin Yuexin memacu kuda mereka melintasi perbatasan timur Kerajaan Tianwu.

Angin yang berhembus tidak lagi membawa aroma tanah basah sehabis hujan atau wangi dedaunan hutan yang mereka tinggalkan. Sebaliknya, ada bau anyir yang sangat samar namun sangat konsisten—menempel di udara seperti cat yang belum kering, tidak cukup kuat untuk langsung tercium, namun cukup untuk membuat perut terasa tidak nyaman jika dihirup terlalu lama. Yu Fan sudah menciumnya sejak hampir satu li sebelum gerbang kota terlihat. Ia tidak mengatakan apa-apa, namun tangannya sudah pindah dari tali kekang kuda ke sisi tubuhnya yang kosong—tempat ia biasa menyelipkan senjata.

Kota Guhe berdiri di depan mereka.

Gerbangnya kokoh, dibangun dari batu granit hitam yang tebal, dengan ukiran simbol-simbol kemakmuran di setiap sisinya—ukiran tangan pedagang yang pernah percaya bahwa kota ini akan bertahan selamanya. Namun tidak ada penjaga di menara gerbang. Tidak ada suara tawar-menawar pedagang. Tidak ada aroma masakan yang menguar dari cerobong asap. Bahkan burung-burung yang biasanya menjadi penghuni setia setiap atap kota sama sekali tidak ada—seolah sesuatu sudah lama mengusir mereka jauh sebelum manusia-manusia di dalam kota itu menyadari apa yang sedang mendekat.

Mereka memasuki gerbang dengan kuda yang berjalan pelan.

Bulu kuduk Yuexin berdiri bahkan sebelum matanya sempat memproses apa yang ada di depannya. Di sepanjang jalan utama kota yang dilapisi batu datar berwarna abu, bukan keramaian yang menyambut mereka. Yang ada adalah tulang. Ribuan tulang belulang manusia yang berserakan tanpa pola—tengkorak, tulang rusuk, ruas-ruas jari, semua putih bersih dengan cara yang terlalu sempurna untuk disebut alami. Tidak ada sisa daging, tidak ada noda gelap di tanah, tidak ada bau busuk yang seharusnya menyertai kematian massal. Hanya tulang-tulang itu, putih dan bersih seperti baru saja dicuci, seolah-olah sesuatu telah mengambil semua yang bukan tulang dengan sangat efisien dan sangat sengaja.

"Tempat apa ini..." bisik Yuexin. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, terlalu keras untuk keheningan yang tidak wajar ini. Tangannya bergerak ke gagang pedang giok birunya dengan jemari yang tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan gemetar nya.

Yu Fan turun dari kudanya. Ia berlutut di samping salah satu tengkorak, mengamatinya dari jarak dekat. Tidak ada bekas pukulan, tidak ada retakan yang menunjukkan kekerasan fisik. Tulang itu sempurna dalam kondisi yang seharusnya tidak sempurna. Ia merentangkan telapak tangannya beberapa senti di atas lantai—energi Yin dalam tubuhnya yang peka terhadap segala sesuatu yang bersifat dingin dan gelap bereaksi, bergetar sangat lemah seperti tali senar yang ditarik.

"Ada energi negatif yang sangat kuat di sini," ucapnya pelan, wajahnya tidak berubah namun matanya tidak berhenti bergerak, memindai setiap sudut jalanan yang sunyi. "Ini bukan serangan binatang buas. Dan ini bukan pertempuran biasa." Ia berdiri kembali. "Ini adalah panen. Seseorang mengambil jiwa-jiwa ini secara sistematis untuk sesuatu yang membutuhkan bahan dalam jumlah sangat besar."

Keheningan berlangsung tiga detik.

Kemudian tawa melengking memecah udara dari atas—suara yang tidak menyenangkan, terlalu tinggi nadanya untuk terdengar manusiawi, seperti suara logam yang digoreskan pada kaca.

Lima sosok melompat turun dari atap-atap bangunan tua di kanan dan kiri jalan secara bersamaan. Mereka mendarat dengan posisi yang sudah terbagi—dua di depan, dua di samping, satu di belakang—formasi yang membuktikan bahwa ini bukan kepungan yang terbentuk secara spontan. Mereka sudah menunggu. Mungkin sudah sejak Yu Fan dan Yuexin memasuki gerbang.

Jubah mereka berwarna merah darah dengan tepi berwarna hitam, tanpa ornamen, tanpa lambang yang terlihat di permukaan. Namun di leher masing-masing dari mereka, tergantung sebuah liontin berbentuk jiwa manusia yang terkurung di dalam bola kristal—tidak bercahaya, melainkan redup dengan cara yang terasa mengganggu jika ditatap terlalu lama.

Pemimpin mereka berdiri paling depan. Ia adalah seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan perawakan sedang dan tubuh yang tidak mengesankan secara fisik—tidak kekar, tidak tinggi. Justru di situlah bahayanya. Orang yang terlihat biasa di tempat yang tidak biasa hampir selalu lebih berbahaya dari yang terlihat mencolok. Kulitnya pucat seperti seseorang yang sudah lama tidak melihat matahari, dan di bawah kedua matanya terdapat lingkaran hitam yang bukan berasal dari kurang tidur melainkan dari sesuatu yang jauh lebih konsisten dari itu. Rambutnya diikat ke atas asal, dan senyumnya tidak pernah menyentuh matanya.

"Ah," ucapnya, suaranya terdengar lembut dengan cara yang tidak nyaman. "Dua mangsa segar. Yang satu—" matanya bergerak ke arah Yuexin dengan cara yang membuat gadis itu refleks mengencangkan pegangan pada pedangnya "—memiliki aura Yang yang sangat lezat, khas sekte pedang tertinggi. Sayang jika hanya dibiarkan mengalir di tubuh orang muda." Kemudian matanya beralih ke Yu Fan, dan untuk sepersekian detik sesuatu melintas di dalamnya—kebingungan, mungkin, atau ketertarikan yang tidak ia harapkan. "Dan pemuda ini... energinya aneh. Sangat aneh. Tapi cukup untuk persembahan Tuan kami yang berikutnya."

"Kalian membunuh seluruh kota ini?" suara Yuexin tidak gemetar, namun tepinya sangat tajam. Matanya menatap tulang-tulang di sepanjang jalan, lalu kembali ke pria itu. "Satu kota penuh. Untuk kultivasi?"

"Panen," koreksi pria itu dengan nada yang sangat santai. "Kata 'membunuh' terlalu emosional."

Rahang Yuexin mengeras. Tangannya mencabut pedang giok birunya dalam satu tarikan bersih, dan cahaya api keemasan langsung menyala di sepanjang bilahnya—cahaya khas Sekte Pedang Ilahi yang dihasilkan dari Qi Yang murni yang bersih dan teratur. "Jahanam!"

"Yuexin, tunggu—" Yu Fan mengulurkan tangannya, namun terlambat setengah detik.

Yuexin melaju maju dengan teknik Awan Mengalir di Atas Tebing—sebuah jurus dasar Sekte Pedang Ilahi yang, jika dieksekusi dengan sempurna, menghasilkan gerakan seringan kapas namun secepat kilat di permukaan yang nyata. Tubuhnya tampak mengapung setengah inci di atas tanah saat bergerak, kakinya hampir tidak menyentuh batu jalanan, dan bilah pedang emasnya meninggalkan jejak cahaya berbentuk awan tipis di udara di belakangnya.

Ia mengarah ke salah satu kultivator di sayap kiri—pria bertubuh kurus yang bergerak paling lambat di antara lima orang itu dan yang terlihat paling tidak bersiap.

Targetnya yang tampak lengah itu tiba-tiba tersenyum.

Dari telapak tangan kirinya, ia meniupkan hembusan kabut merah gelap yang mengembang dengan cepat seperti tinta yang jatuh ke dalam air. Kabut itu tidak mematikan secara langsung—fungsinya lebih berbahaya dari itu. Ia mengaburkan persepsi, membuat sumber suara terdengar dari arah yang salah dan membuat bayangan bergerak seolah menjadi objek nyata. Teknik Kabut Darah Pembalik Indera—jenis kultivasi sesat yang bekerja bukan dengan menghancurkan tubuh lawan, melainkan dengan menghancurkan kemampuan mereka untuk mempercayai indranya sendiri.

Yuexin menerobos kabut itu tanpa berhenti, namun di dalam kabut langkahnya yang tadinya seperti air mulai kehilangan arahnya. Pedangnya menebas—mengenai bayangan. Ia berbalik, menebas lagi—mengenai udara. Suara langkah kaki datang dari kiri, tapi saat ia berpaling ke kiri, serangan nyata datang dari kanan.

BRAK!

Sebuah pukulan berbentuk telapak tangan merah gelap menghantam dada Yuexin dari samping—energi negatif yang terkompresi dalam satu titik, dilepaskan dalam jarak sangat dekat. Pemimpin sekte itu berdiri tepat di sampingnya, muncul dari balik kabut dengan senyum yang sama.

Tubuh Yuexin terpental seperti boneka kain yang dilempar, membentur pilar batu di depan bangunan ruko tua dengan benturan yang membuat pilar itu retak menjadi tiga. Ia jatuh ke tanah berbatu, terbatuk keras dengan darah segar di sudut bibirnya, dan wajahnya memucat drastis—warna yang menghilang bukan hanya dari benturan fisik, melainkan juga karena sebagian Qi Yang-nya diserap paksa oleh energi pukulan tadi.

"Yuexin!" Yu Fan bergerak.

Ia menghampiri dengan kecepatan Tingkat 2-nya, mencoba menangkis serangan dari dua kultivator yang mencoba menghalanginya. Benturan pertama membuat lengan kanannya mati rasa dari siku ke bawah—perbedaan tingkat satu tahap saja sudah sangat terasa, apalagi dua. Ia bisa membaca gerakan mereka, bisa memprediksi serangannya, namun tubuhnya tidak cukup kuat untuk menyerap hantaman dari energi mereka tanpa dibayar dengan rasa sakit.

Sebuah sabetan dari samping menggores lengan kirinya. Darah mengalir hangat di bawah jubahnya.

"Anak ini... sungguh keras kepala," ucap pemimpin sekte itu sambil melangkah perlahan ke arah Yu Fan, tidak terburu-buru. "Tapi energimu semakin menarik saat kau marah. Biarkan ku melihatnya lebih banyak."

Ia melepaskan sebuah jurus—kedua telapak tangannya membentuk lingkaran di depan dadanya, dan dari lingkaran itu muncul lima tali energi merah yang melesat ke berbagai arah sebelum membelok dan mengarah ke Yu Fan dari lima sudut sekaligus. Teknik Lima Rantai Jiwa—jurus tingkat menengah yang dirancang untuk melumpuhkan, bukan membunuh, karena jiwa yang masih utuh di dalam tubuh yang masih hidup jauh lebih berharga untuk dipanen.

Tali-tali itu menyentuh tubuh Yu Fan.

Dan sesuatu di dalam dirinya pecah.

Bukan pecah seperti kaca yang retak—lebih seperti bendungan yang sudah lama menahan tekanan yang terlalu besar akhirnya menemukan satu celah kecil, dan celah kecil itu cukup untuk mengeluarkan segalanya.

Energi Yin yang selama ini ia jaga dengan sangat ketat—yang ia tahan setiap hari, yang ia kendalikan setiap malam dalam meditasi yang menyakitkan—mulai merembes keluar bukan sebagai tetesan, melainkan sebagai banjir. Namun banjir ini tidak dingin. Sesuatu di dalam dirinya mencampur energi Yin yang gelap dengan sesuatu yang jauh lebih tua dan jauh lebih dalam—energi yang tidak memiliki nama di dunia fana ini, yang tidak ada dalam buku kultivasi mana pun, yang warnanya bukan hitam dan bukan merah melainkan keduanya sekaligus, berputar satu sama lain seperti dua galaksi yang saling menelan.

Tali-tali jiwa merah yang menyentuh tubuhnya—yang seharusnya melumpuhkan—justru langsung menjadi abu.

Udara di sekitar Yu Fan menjadi sangat dingin dalam radius tiga depa. Napas kelima kultivator sesat itu membentuk uap putih seketika. Tanah di bawah kaki Yu Fan retak dalam pola menjari seperti petir yang jatuh—bukan karena panas, melainkan karena tekanan energi yang terlalu padat memaksa struktur batu untuk menyesuaikan diri.

Matanya berubah.

Iris abu-abu gelap yang biasa itu perlahan digantikan oleh merah tua yang berkilap—bukan merah amarah biasa, melainkan merah yang lebih tua dari amarah, warna yang mengingatkan pada langit di momen ketika sebuah bintang mulai runtuh ke dalam dirinya sendiri. Pupilnya menyusut menjadi titik vertikal seperti mata predator yang belum pernah dilihat oleh makhluk fana mana pun.

Pemimpin sekte itu mundur setengah langkah untuk pertama kalinya.

"Apa... apa ini?!" Suaranya kehilangan kelembutan yang dibuat-buatnya. "Energi apa yang kau gunakan?! Ini bukan aliran mana pun yang ku kenal—"

Yu Fan tidak menjawab. Insting yang jauh lebih tua dari tubuh yang ia tinggali saat ini mengambil alih dengan cara yang sangat efisien—tidak ada emosi berlebihan, tidak ada teriakan, tidak ada drama. Hanya gerakan.

Ia melesat ke arah kultivator pertama yang ada di posisi paling kiri.

Kecepatannya bukan kecepatan Master Tingkat 2. Bukan juga Tingkat 3. Di mata para kultivator sesat yang terkejut itu, ia seolah berpindah posisi—ada di satu tempat, kemudian tanpa proses di antaranya, sudah ada di tempat lain. Tangan kanannya terentang, jemarinya sedikit membengkok.

Ia mencengkeram bahu kultivator itu.

Dari telapak tangannya, energi merah hitam mengalir masuk ke dalam tubuh kultivator itu melalui meridian yang terbuka—bukan menyerang dengan kasar, melainkan menyusup, seperti air yang menemukan celah di tembok batu. Dalam sepersekian detik, ia menemukan inti energi kultivator itu—titik paling rapuh tempat seluruh kekuatan terkumpul—dan meremas.

Bukan secara fisik. Secara energi.

Kultivator itu tidak berteriak. Tubuhnya hanya... menjadi sangat diam, lalu jatuh ke tanah seperti boneka yang benangnya dipotong. Inti energinya hancur sempurna—bukan diserap, melainkan dihancurkan, karena sesuatu di dalam diri Yu Fan menolak untuk mengambil energi dari hal seperti ini.

"Teknik apa itu?!" teriak salah satu kultivator yang tersisa, suaranya benar-benar tidak terkontrol sekarang.

Dua kultivator menyerang Yu Fan sekaligus dari kiri dan kanan—satu menggunakan senjata berupa rantai merah yang ujungnya membara, satu lagi menggunakan telapak tangan yang dipenuhi kabut darah untuk langsung menarget wajah.

Yu Fan berdiri diam.

Lalu, saat jarak antara dua serangan itu dan tubuhnya tinggal setengah depa, kedua telapak tangannya bergerak—kiri menangkap rantai yang datang dengan cara yang terlihat mustahil, jemarinya melingkari logam membara itu tanpa terluka karena lapisan energi Yin yang sangat dingin langsung mematikan panas di tempat sentuhan itu. Tangan kanannya bergerak ke bawah, membelokkan pergelangan tangan kultivator berkabut darah sehingga kabut itu meluncur ke tanah.

Kemudian Yu Fan menarik rantai dengan tangan kirinya.

Pemilik rantai itu terlontar ke depan karena momenumnya sendiri. Yu Fan membiarkannya lewat di sampingnya, dan saat tubuh kultivator itu melintas, satu hentakan energi keluar dari telapak tangan kanannya—berbentuk seperti telapak tangan raksasa yang transparan, berwarna merah gelap dengan tepi hitam, seukuran pintu bangunan di sampingnya, muncul dan menghilang dalam sepersekian detik namun meninggalkan dampak yang sangat nyata.

Dua tubuh terpental ke arah yang berlawanan. Satu menghantam tanah, satu menghantam dinding bangunan. Keduanya tidak bangun.

Tersisa pemimpin sekte dan satu kultivator.

Kultivator yang tersisa—seorang wanita bertubuh ramping dengan rambut merah yang dikepang panjang—menatap pemandangan di depannya dengan wajah yang sudah kehilangan warna, lalu membalikkan badan dan berlari.

Pemimpin sekte itu tidak berlari. Ia mundur, perlahan, matanya tidak lepas dari Yu Fan. Di dalam matanya ada campuran rasa takut dan keserakahan yang bersaing—takut pada kekuatan ini, namun serakah karena energi seperti ini, jika berhasil dipanen, nilainya melampaui jiwa ribuan penduduk biasa.

"Aku tidak tahu kau ini apa," ucapnya, suaranya akhirnya kehilangan seluruh kepura-puraan ketenangannya. "Tapi Tuan kami akan sangat tertarik—"

Yu Fan mengangkat tangan kanannya.

Dari telapak tangannya, energi merah gelap terkonsentrasi dengan cepat—lebih cepat dari sebelumnya, seolah semakin ia gunakan semakin mudah ia mengaksesnya, seperti mengingat cara berjalan setelah lama terbaring. Energi itu membentuk siluet telapak tangan raksasa yang jauh lebih besar dari yang tadi—setinggi bangunan dua lantai di samping mereka, transparan seperti kaca merah tua yang sangat tebal, dengan detail garis-garis meridian yang samar terlihat di permukaannya seperti urat-urat daun.

Teknik Tangan Asura : Genggaman Kehancuran.

Nama itu muncul di dalam benaknya bukan sebagai ingatan yang ia cari, melainkan sebagai sesuatu yang sudah selalu ada di sana, menunggu untuk dipanggil.

Telapak tangan raksasa itu melesat ke depan, mengepung tubuh pemimpin sekte itu dalam genggaman yang tidak memberinya ruang ke arah mana pun—atas, bawah, kiri, kanan, semua tertutup. Pria itu melepaskan seluruh pertahanannya, mengeluarkan semua Qi yang ia punya dalam ledakan putus asa.

Genggaman itu menutup.

Ledakan udara yang keluar dari benturan itu mengangkat debu jalanan dalam lingkaran sempurna, menyapu tulang-tulang yang berserakan ke tepi jalan. Saat debu mengendap, pemimpin sekte itu berlutut di tanah—masih hidup, namun inti energinya hancur sepenuhnya, tidak berbeda secara teknis dari orang yang tidak pernah berlatih kultivasi seumur hidupnya.

Kekuatan itu padam dari dalam tubuhnya seperti lilin yang ditiup.

Perlahan, aura merah gelap di sekitar tubuh Yu Fan memudar, menarik diri kembali ke dalam. Matanya kembali ke warna abu-abu gelap yang biasa. Dan saat itu, barulah ia merasakan harga yang harus dibayar—kakinya menjadi sangat berat, pandangannya bergoyang sebentar, dan ia jatuh terduduk di atas batu jalanan dengan napas yang memburu.

Kekuatan itu nyata. Namun tubuh Tingkat 2 ini belum dibangun untuk menanggungnya.

Dari celah-celah pintu rumah yang terkunci dan dari bawah tanah melalui lubang-lubang tersembunyi, beberapa puluh warga Kota Guhe perlahan keluar. Wajah-wajah kurus dengan mata yang sudah terlalu lama menyimpan ketakutan. Seorang kakek tua dengan janggut putih yang kusut dan jubah pedagang yang robek di beberapa tempat menjadi yang pertama mendekati mereka—langkahnya gemetar, namun ia tidak berhenti.

"Terima kasih," ucapnya, suaranya serak karena sudah terlalu lama berbisik. "Terima kasih kepada tuan dan nona muda."

Yu Fan menerima penjelasan dengan diam. Sekte Pemakan Jiwa—begitu sekte sesat itu dikenal di antara warga—telah menduduki kota ini selama hampir dua bulan, mengambil warga satu per satu setiap malamnya untuk ritual kultivasi yang membutuhkan jiwa manusia sebagai bahan bakar. Mereka memilih kota ini karena lokasinya yang terpencil di perbatasan dan ukurannya yang cukup besar untuk menyediakan "bahan" dalam jumlah yang mereka butuhkan, namun cukup kecil untuk dikontrol sepenuhnya oleh lima orang.

Yuexin yang sudah duduk bersandar di pilar yang retak—memar besar di dadanya sudah ditutup dengan kain perban sementara namun masih memancarkan nyeri setiap kali ia menarik napas—mendengarkan semua ini dengan wajah yang tidak lagi menyimpan ekspresi gadis istana yang biasanya. "Sekte seperti ini tidak seharusnya bisa beroperasi di wilayah yang berada di bawah tujuh kerajaan."

"Mereka menyembunyikan diri dengan sangat baik," ucap kakek tua itu, kepalanya menunduk. "Dan siapa yang akan percaya pada warga kota kecil di perbatasan?"

Mereka tinggal tiga hari di Kota Guhe.

Yu Fan menghabiskan sebagian besar waktu itu bermeditasi di pinggir sumur tua di halaman belakang penginapan, mencoba menelusuri kembali kekuatan yang ia gunakan tadi. Ia bisa merasakannya masih ada di dalam dirinya—bukan sebagai sesuatu yang asing lagi, melainkan seperti anggota tubuh yang sudah lama tidak digunakan dan baru saja digerakkan kembali, kaku namun jelas miliknya.

Teknik Tangan Asura.

Ia mengulang nama itu di dalam kepalanya. Bukan teknik dari dunia fana. Bukan sesuatu yang bisa dipelajari dari buku atau guru mana pun di sini. Ia tahu itu dengan keyakinan yang tidak ia pahami asal usulnya.

Dan setiap kali ia menyentuh lapisan terdalam dari kekuatan itu, sebuah bayangan melintas—bukan wajah, bukan tempat, hanya perasaan. Perasaan bahwa ia pernah berdiri sangat tinggi, jauh lebih tinggi dari tempat mana pun di dunia ini, dan seseorang menariknya jatuh dari ketinggian itu.

Hutan Kematian menyambut mereka di hari keenam perjalanan—hamparan pohon-pohon hitam yang batangnya terlalu lurus dan daunnya terlalu gelap untuk tanaman yang sehat, seolah setiap pohon di sini tumbuh dengan cara yang memutuskan bahwa matahari bukan sesuatu yang perlu mereka pedulikan.

Di dalam hutan, mereka tidak diserang manusia. Yang menyerang mereka jauh lebih sederhana dalam tujuannya—kawanan Serigala Berkepala Dua yang masing-masing setara Master Tingkat 2 Tahap Akhir. Enam ekor, bergerak dalam pola berburu yang menunjukkan koordinasi jauh di atas binatang biasa. Kepala kiri setiap serigala mengincar kaki, kepala kanan mengincar tenggorokan—strategi yang membagi perhatian target secara paksa.

Yuexin bergerak lebih hati-hati dari sebelumnya, dadanya yang masih memar membatasi amplitudo gerakannya. Namun pedangnya tetap berbicara dengan jelas—Teknik Teratai Api di Ujung Pedang, jurus menengah yang menghasilkan lidah-lidah api kecil di setiap akhir gerakan tebasan, cukup untuk membakar bulu serigala dan memaksa mereka mundur dari jarak tertentu.

Yu Fan menangani tiga serigala yang tersisa dengan cara yang jauh lebih ekonomis—ia tidak berlari, tidak melompat, tidak menghindari secara dramatis. Ia membaca ritme serangan masing-masing serigala, menemukan jeda di antara pergantian kepala, dan masuk tepat di celah itu setiap kali. Tangannya memukul titik-titik tertentu di tengkuk dan pangkal kaki depan serigala, melumpuhkan tanpa membunuh, karena membunuh membutuhkan energi yang ia simpan untuk sesuatu yang lebih penting.

Setelah kawanan serigala, datang Badak Berkulit Besi—seekor saja, namun satu sudah lebih dari cukup. Tinggi bahunya melampaui dua meter, kulitnya berwarna hitam keabu-abu dengan lapisan yang terasa seperti baja saat disentuh dan harga dari menyentuhnya adalah jari-jari yang memar. Badak itu menyerang dalam garis lurus yang tidak bisa dialihkan karena massanya terlalu besar—teknik terbaiknya adalah waktu.

Yuexin yang memancing serangan dari samping, memaksa badak itu berputar. Yu Fan yang masuk dari bawah saat putaran itu menciptakan celah di lapisan bawah leher yang tidak terlapisi besi—satu-satunya titik lemah yang ada. Ia tidak menggunakan kekuatan Asura. Hanya energi Yin yang terkonsentrasi di ujung jarinya, cukup dingin untuk membuat otot-otot di titik itu kejang dan melumpuhkan badak tersebut tanpa membunuh.

Burung Elang Petir turun dari langit di hari ketiga—paruhnya sepanjang pedang pendek, sayapnya memancarkan listrik biru yang melompat-lompat di setiap bulu ujungnya. Saat ia menukik, jalur di bawahnya dipenuhi percikan listrik yang menyambar tanah dalam lingkaran dua puluh depa.

Yuexin mengangkat pedangnya, mengalirkan Qi Yang menjadi perisai cahaya emas di atasnya—listrik dari elang itu terserap ke dalam perisai dan diubah menjadi energi yang dilepas kembali ke udara, bukan menyerang balik melainkan menciptakan ledakan cahaya yang membutakan elang itu sesaat.

Sesaat itu cukup.

Yu Fan melompat—bukan dengan teknik meringankan tubuh yang ia pelajari dari Jin Taixu yang masih kaku, melainkan dengan dorongan energi Yin dari telapak kakinya yang menciptakan semacam pijakan di udara selama sepersekian detik, cukup untuk membawanya ke ketinggian yang sama dengan elang yang terhuyung. Satu sentuhan tangan di sisi kepala elang itu—energi yang sangat terkonsentrasi, sangat tepat—membuat burung raksasa itu kehilangan orientasi sepenuhnya dan jatuh ke tanah dengan lembut.

Saat Elang Petir itu terbaring di tanah, tubuhnya perlahan mengembun dan menghilang menjadi butiran-butiran kristal berwarna biru yang terkumpul menjadi sebuah bola kecil bercahaya—pil inti yang memancarkan aroma listrik yang tipis.

"Pil Inti Sihir," ucap Yuexin, mengambilnya dengan hati-hati. "Setiap hewan sihir menyimpan intisari kekuatannya di sini. Jika dikonsumsi dengan benar saat bermeditasi, ini bisa mempercepat kultivasi secara signifikan." Ia menyerahkan pil biru itu kepada Yu Fan bersama dua pil lain yang mereka kumpulkan dari pertarungan sebelumnya.

Yu Fan menerima ketiganya. Saat malam turun di dalam Hutan Kematian, di bawah pohon-pohon hitam yang tidak mengizinkan cahaya bulan masuk dengan mudah, ia bermeditasi dengan ketiga pil itu di dalam dantian-nya—membiarkan energi murni dari masing-masing hewan sihir berbaur dengan energi Yin yang sudah ada, mengisi kanal-kanal meridiannya yang masih setengah kosong dari penggunaan berlebihan di Kota Guhe.

Mereka keluar dari Hutan Kematian di hari keenam.

Di kota perbatasan yang ramai pertama setelah hutan, di tengah alun-alun yang dipenuhi pedagang dan praktisi yang berlalu-lalang, berdiri sebuah patung.

Tingginya sepuluh meter, terbuat dari batu putih yang terlihat seperti bukan produk pahat manusia—terlalu halus, terlalu sempurna, seolah batu itu rela berbentuk seperti ini. Patung itu menggambarkan seorang wanita yang berdiri dengan satu kaki sedikit di depan yang lain, tubuhnya condong sangat sedikit ke depan seolah sedang melangkah namun dibekukan sebelum langkah itu sempurna. Tangannya menggenggam setangkai bunga teratai yang setiap kelopaknya diukir dengan detail yang tidak masuk akal untuk ukuran batu—bahkan urat-urat di kelopak itu terlihat jika didekati. Dan wajahnya—

Yu Fan berhenti.

Bukan karena ia memilih untuk berhenti. Kakinya hanya berhenti sendiri.

Dadanya berdenyut dengan cara yang berbeda dari semua denyutan sebelumnya—bukan rasa sakit, melainkan sesuatu yang lebih kompleks dari itu. Seperti seseorang yang melihat nama yang ia kenal tertulis di tempat yang tidak seharusnya ada nama itu.

Wajah di patung itu cantik dengan cara yang tidak bisa disanggah oleh selera siapa pun—proporsi yang sempurna, garis rahang yang lembut, kelopak mata yang sedikit turun di ujungnya menciptakan ekspresi yang sekaligus terlihat tenang dan—

Dingin.

Dingin seperti es di dasar jurang yang tidak pernah terjamah cahaya matahari.

"Dia adalah Dewi Kebajikan," ucap Yuexin di sampingnya, suaranya mengandung nada hormat yang tulus. "Legenda mengatakan ia naik ke langit lapisan kesembilan sekitar lima puluh ribu tahun yang lalu, setelah menyelamatkan dunia dari perang Asura besar. Sekte Teratai Putih adalah perpanjangan tangannya di bumi—dibiarkannya sebagai penjaga ajaran yang ia tinggalkan."

Lima puluh ribu tahun yang lalu.

Yu Fan memegang dadanya tanpa ia sadari. Tepat di titik di mana denyutan itu paling terasa—tepat di posisi yang sama dengan di mana Pedang Teratai Putih pernah tertancap, meski ia tidak ingat itu.

"Kenapa..." ia mulai berbicara, suaranya lebih pelan dari yang ia rencanakan, "wajah ini terasa familiar?"

Yuexin meliriknya dengan ekspresi yang ia sembunyikan dengan sangat cepat—sesuatu di antara khawatir dan sesuatu yang lain yang tidak ia izinkan untuk lebih dari sekejap. "Mungkin kau terpesona oleh kemuliaannya," ucapnya, nada suaranya dijaga tetap ringan. "Semua orang merasa kecil di hadapan patung Dewi."

Yu Fan tidak menjawab. Ia menatap patung itu satu detik lagi, dua detik, tiga—lalu memaksa dirinya berpaling dan berjalan.

Malam itu di kamar penginapan, energi dari tiga pil inti hewan sihir di dalam dantian-nya—yang selama perjalanan sudah ia biarkan larut perlahan—tiba-tiba mencapai titik jenuh.

BUM.

Aura meledak keluar dari tubuhnya tanpa peringatan, menghancurkan cangkir teh di meja samping tempat tidur, menerbangkan gulungan tikar di sudut ruangan, dan memecahkan satu panel jendela yang terbuka ke arah luar. Cahaya hitam dan merah yang sangat tipis berputar di sekitar tubuhnya selama tiga detik lalu perlahan mereda, diserap kembali ke dalam.

Pintu kamar didobrak. Yuexin masuk dengan pedangnya sudah setengah tercabut, rambutnya sedikit berantakan karena terburu-buru—namun begitu melihat situasi, ia menghentikan gerakannya. Yu Fan duduk di atas tempat tidur dengan tenang. Namun tekanan yang memancar dari tubuhnya berbeda dari sebelum tidur tadi.

"Kau naik tingkat." Bukan pertanyaan.

"Master Tingkat 2 Tahap Akhir," ucap Yu Fan. Matanya terlihat lebih tajam, lebih terfokus—seperti lensa yang baru saja disetel.

Yuexin menyandarkan punggungnya di pintu yang setengah hancur, menghela napas panjang. "Sungguh tidak masuk akal." Ia menatap langit-langit. "Kau benar-benar monster dalam kultivasi."

Kota Langit terlihat tiga hari kemudian, dan kata "terlihat" tidak cukup menggambarkannya—lebih tepat dikatakan bahwa Kota Langit dialami bahkan sebelum sampai di gerbangnya.

Dari puncak bukit terakhir, mereka bisa melihat menara-menara tertingginya yang menembus lapisan awan rendah, ujung-ujungnya menghilang ke dalam putih. Beberapa bangunan di dalam kota benar-benar melayang—blok-blok batu besar yang tersuspensi di udara oleh array formasi kuno yang terlihat seperti untaian cahaya biru tipis jika dilihat dari jauh, seperti jaring laba-laba yang terbuat dari listrik. Praktisi dari berbagai penjuru dunia berlalu-lalang di jalanan kota yang lebar, pakaian mereka dari puluhan tradisi yang berbeda, senjata di pinggang atau punggung mereka dari gaya yang tidak selalu bisa dikenali.

Di gerbang pendaftaran calon murid baru, Yu Fan dan Yuexin berpisah.

"Hati-hati," ucap Yuexin sebelum pergi. Matanya bertahan di wajah Yu Fan satu detik lebih lama dari yang diperlukan untuk sekadar perpisahan biasa. "Di dalam akademi, tidak semua orang yang tersenyum padamu adalah kawan."

"Aku tahu," jawab Yu Fan.

Yuexin mengangguk sekali, lalu berjalan pergi ke gerbang murid terdaftar—punggungnya tegak, langkahnya mantap, jubah kuning-merahnya berkibar satu kali diterpa angin Kota Langit yang berbeda rasanya dari angin di tempat mana pun yang pernah mereka lewati.

Aula pendaftaran calon murid baru terletak di kompleks bangunan batu biru di sisi timur gerbang utama. Di dalamnya, ratusan orang sudah memadati ruangan—pemuda dan pemudi dari berbagai kerajaan dan sekte kecil, pakaian mereka mulai dari yang sangat sederhana hingga yang sangat mencolok. Suaranya hiruk pikuk, mengisi seluruh ruangan dengan campuran berbagai dialek dan bahasa yang sebagian tidak dimengerti Yu Fan.

Di tengah kerumunan itu, ia berjalan ke arah meja pendaftaran dengan langkah yang tidak memperlihatkan terburu-buru.

"Lihat itu." Suara dari samping, sengaja cukup keras untuk terdengar. "Ada tikus hutan yang ingin ikut ujian."

Yu Fan tidak berhenti berjalan.

"Hei." Langkah kaki berat mengejar, lalu memotong jalurnya. Seorang pemuda berdiri di depannya—tingginya hampir sama dengan Yu Fan namun badannya jauh lebih tegap, bahu lebar dengan lengan yang memperlihatkan otot dari kultivasi intensif. Wajahnya terlalu tampan untuk terlihat jujur—tulang pipi tinggi, dagu yang kuat, rambut hitam yang disisir ke atas dengan gel mahal yang menciptakan kilap keangkuhan. Ia mengenakan jubah putih dengan sulaman emas di tepinya—simbol klan bangsawan lokal yang jelas dibanggakannya. "Apa kau tidak punya telinga? Atau kau memang tidak pernah diajarkan sopan santun di tempat asalmu yang... sederhana itu?"

Di sekitar mereka, orang-orang mulai berhenti dan memperhatikan. Lingkaran kosong terbentuk secara alami—bukan karena diminta, melainkan karena naluri manusia untuk menyaksikan konflik jauh lebih kuat dari naluri untuk menghindarinya.

"Namaku Wang He," lanjut pemuda itu, tangan kanannya bertolak pinggang. "Klan Wang dari Provinsi Tianshan. Master Tingkat 3 Tahap Awal. Dan kau, pengembara kecil berbaju hitam yang baunya seperti hutan, tidak layak mengotori lantai yang sama dengan aku."

"Aku tidak ingin mencari masalah," ucap Yu Fan.

"Masalah yang mencari mu!" Wang He menerjang.

Ia tidak mencabut pedang—ia memilih tinju, mungkin karena ingin mempermalukan, bukan hanya mengalahkan. Kepalan kanannya menghantam ke depan dengan Qi yang terkonsentrasi di buku-buku jarinya, aura Tingkat 3 yang memampatkan udara di depan kepalan itu menjadi sesuatu yang terasa seperti tembok bata tak kasat mata. Teknik Wang : Pukulan Bumi Meremuk—jurus kebanggaan klan Wang yang konon bisa membelah batu besar dengan satu hantaman.

Yu Fan bergeser.

Bukan melompat, bukan mundur—hanya bergeser ke samping tepat tiga inci, membiarkan kepalan itu lewat di samping pinggangnya dengan jarak yang membuat beberapa penonton menahan napas karena begitu tipisnya. Momentum Wang He yang tidak menemukan target membuat tubuhnya condong ke depan setengah langkah.

Setengah langkah itu adalah celah yang cukup.

Yu Fan memutar tubuhnya, menggunakan rotasi itu untuk menghasilkan tenaga—satu jari telunjuknya menyentuh titik tepat di siku dalam lengan kanan Wang He yang masih terentang. Bukan menyentuh dengan keras, melainkan dengan presisi. Di titik itu terdapat simpul meridian yang, jika ditekan dengan Qi yang tepat pada sudut yang tepat, akan menyebabkan seluruh lengan mati rasa selama beberapa detik.

Wang He menarik lengannya kembali, wajahnya berubah saat merasakan lengan kanannya tidak merespons perintah otaknya dengan kecepatan normal. Ia langsung mencabut pedangnya dengan tangan kiri—pedang tipis panjang dengan bilah yang mengkilap, ujungnya meruncing dengan sudut yang memperlihatkan bahwa senjata ini dibuat untuk menusuk, bukan menebas.

"Teknik Wang : Hujan Seribu Bintang!"

Ia melepaskan serangkaian tusukan cepat berturut-turut—belasan tusukan dalam tiga detik, masing-masing dengan variasi sudut yang berbeda, menciptakan ilusi bahwa bilah pedang itu ada di mana-mana sekaligus. Ini bukan teknik yang dipakai untuk pemula—ini teknik yang membutuhkan keahlian pergelangan tangan yang tinggi dan kontrol Qi yang stabil.

Yu Fan mundur tiga langkah, membiarkan tusukan-tusukan itu menembus udara di depannya. Ia membaca polanya—tusukan ke-tiga selalu sedikit lebih tinggi dari dua sebelumnya, dan setiap empat tusukan ada jeda setengah detik yang sangat kecil namun sangat ada.

Di jeda keempat itu, Yu Fan masuk.

Satu telapak tangan mendorong bilah pedang ke samping—bukan menangkis dengan kekuatan, melainkan mengalihkan dengan arah. Pedang itu tergelincir melewati sisinya. Bersamaan, kaki kanannya menyapu ke bawah dengan tepat—bukan menyapu kaki Wang He secara frontal, melainkan menyapu titik di antara dua kakinya yang memaksa postur tubuh Wang He kehilangan keseimbangannya ke depan.

Wang He tersungkur.

Bukan jatuh ke samping atau ke belakang—ia tersungkur ke depan, wajahnya hampir menyentuh lantai batu sebelum tangannya refleks menahan, dan saat ia mengangkat wajahnya dengan merah padam, ujung sepatu Yu Fan sudah berhenti tepat di samping pelipisnya.

Tidak ada kata-kata. Tidak ada ancaman. Hanya fakta sederhana dari jarak yang sangat dekat itu.

Sunyi menyelimuti aula pendaftaran yang tadinya hiruk pikuk.

"Master Tingkat 3 disapu oleh Tingkat 2?" seseorang berbisik di kerumunan. Bisikan itu menyebar seperti riak di atas air, berlipat ganda dalam hitungan detik.

Wang He bangkit dengan wajah yang sudah tidak bisa menyembunyikan apa pun—merah, gemetar, dan mengandung sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar kemarahan sesaat. "Kau... kau akan sangat menyesal," ucapnya, suaranya dijaga agar terdengar mengancam namun gagal total. "Kakakku adalah murid senior di dalam akademi ini. Kita lihat saja nanti saat ujian masuk dimulai. Kau tidak akan—"

"Pergilah," ucap Yu Fan. Bukan dengan nada marah, bukan dengan nada meremehkan—hanya pernyataan sederhana yang tidak meninggalkan ruang untuk negosiasi.

Wang He pergi. Dengan cepat, diikuti dua pengikutnya yang sejak tadi hanya menjadi penonton.

Yu Fan membersihkan debu dari jubah hitamnya dan berbalik menuju meja pendaftaran.

Namun dari balkon lantai atas aula yang mengelilingi ruangan di tiga sisinya, beberapa pasang mata mengamati kejadian tadi dengan kadar ketertarikan yang berbeda-beda.

Seorang pria dari Sekte Pedang Iblis—ditandai dengan jubah hitam bergaris merah gelap dan pedang yang ia sandang terbalik di punggungnya—menyeringai kecil. Di pipinya terdapat tato berbentuk segel yang berpendar samar, tanda seseorang yang telah mengikat jiwa pada pedang. "Menarik. Gerakan kecil yang sangat efisien."

Seorang biarawan muda dari Sekte Buddha dengan jubah abu-abu dan tasbih kayu merah di tangannya hanya mengatupkan tangan di depan dada, matanya terpejam sebentar. "Amitabha. Karma yang berat mengikutinya."

Dan di sudut balkon yang paling gelap, sedikit terpisah dari yang lain, berdiri seorang wanita yang mengenakan jubah putih bersih tanpa satu pun noda—putih dari leher hingga ujung kaki, dengan mahkota teratai kecil dari bahan perak di atas rambutnya yang hitam dan sangat rapi. Wajahnya terlihat dari sudut yang memperlihatkan profil yang dingin dan sangat teratur. Ia menatap Yu Fan di bawah dengan tatapan yang tidak bisa dibaca—tidak kagum, tidak meremehkan, tidak tertarik—hanya menatap, seperti seseorang yang melihat sesuatu yang ia kenali namun belum memutuskan apa yang harus dilakukannya dengan pengenalan itu.

Kemudian ia berpaling pergi. Jubah putihnya berkibar sekali di udara.

Di bawah, Yu Fan yang sedang menyerahkan formulir pendaftarannya menoleh ke atas—ke arah balkon yang kini sudah kosong di sudut gelap itu. Ia tidak tahu mengapa ia menoleh ke sana. Tidak ada yang memanggilnya. Tidak ada suara.

Hanya sebuah perasaan—seperti ketika seseorang menyebut namamu di ruangan yang bising dan kau mendengarnya di antara semua kebisingan itu tanpa tahu bagaimana.

Balkon itu kosong.

Namun di udara tempat wanita berbaju putih itu berdiri tadi, aroma yang sangat samar tertinggal—wangi bunga teratai yang bukan berasal dari tanaman nyata mana pun di kota ini.

Dan di dalam dadanya, tepat di titik yang sama dengan sebelumnya, sesuatu berdenyut satu kali. Keras. Seperti sebuah pengingat.

Ujian masuk belum dimulai.

Namun sesuatu sudah bergerak.

1
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🫰
Xiao
eumm
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 2 replies
Muo
semangat thor/Determined//Determined/
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 2 replies
F.S
hai Pembaca sekalian kalau kalian suka dengan novel ini jangan lupa kasi rating 5 ya
WER
semangat author 👍👍👍👍
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya ". zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 3 replies
F.S
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!