Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI ABDA SEDAH NIRAH 3
"Aku mengajukan permohonan perjodohan dengan Ki Abda ...."
"Apa?" Prabu menatap kakaknya.
"Dimas ... Kau pasti bisa membujuknya kan?"
"Membujuknya? Apa kau sedang memaksaku?" tanya Prabu menatap kakaknya penuh tekanan.
Pangeran Dalapati terdiam, satu yang ia lupa bagaimana adiknya paling bungsu ini bisa mengalahkan tiga adiknya yang lain. Laksa tak pernah mencampurkan urusan pribadi dengan urusan istana.
"Aku sudah memberitahu Abda, jika aku memberi surat itu padamu ...," jawabnya lalu membuang muka.
Prabu Laksa membaca tulisan yang ditulis oleh kakak kandungnya. Permohonan perjodohan untuk keponakannya, Raden Ayu Windu Jeninten Ireng.
"Abda pasti menolaknya kan?" terka Prabu Laksa tepat.
Pangeran Dalapati mengangguk lemah.
"Dimas Prabu, kau harus membersihkan nama baik keponakanmu. Abda telah mencoreng marwah bangsawan ...."
"Kangmas ... Maaf!" potong Prabu Laksa tegas.
Ia melipat dan menyelipkan lembaran surat yang ia baca ke dalam amplop. Lalu perlahan ia merobeknya sampai hancur.
"Aku tak bisa melakukannya ...."
"Tapi hati putriku hancur akibat ini ... Apa kau tidak bertanggung jawab ...."
"Kangmas!" seru Prabu meninggikan suaranya.
"Dimas Prabu ... Ini demi keponakanmu ...," ujar Pangeran Dalapati memohon.
"Kau salah selama ini jika menganggap Ki Abda bisa ditekan oleh ku!" geleng Prabu Laksa.
"Bagi Punggawa terbaikku itu ...."
"Apa Punggawa?" Pangeran Dalapati tak percaya jabatan yang diambil oleh Abda.
"Iya Kangmas.Abda mengambil jabatan sebagai Punggawa dan menolak jabatan Senopati. Bahkan ia menolak seluruh kemudahan yang aku berikan!' jawab Prabu Laksa tenang.
"Bagaimana bisa ...?" Pangeran Dalapati masih belum mempercayainya.
"Bagi Ki Abda, mahkota yang aku kenakan itu sama dengan caping petani jika bersangkutan dengan prinsipnya ...."
"Berarti dia merendahkan jabatan Raja!" seru Pangeran Dalapati.
"Tidak Kangmas. Bukan ke sana arahnya. Walau jika kita memaksanya, Ki Abda pasti punya jawaban untuk membantah itu semua ...," sahut Prabu Laksa mematahkan dugaan kakaknya.
"Jawabanku sama dengan Ki Abda. Menolak permintaan ini. Bahkan aku menganggap jika tak ada permintaan itu!" tandasnya tegas.
Pangeran Dalapati menghela nafas panjang. Ia memang sudah kalah dari awal. Mengira kedudukannya sebagai pangeran kerajaan Kali Ireng bisa menekan Abda. Ternyata salah besar.
"Tadi keponakanmu melakukan kesalahan besar ...," akunya jujur.
Prabu Laksa menatap kakaknya. Ia sebenarnya tidak mencampuri bagaimana para bangsawan dibesarkan oleh didikan istana.
"Memang apa yang dilakukan oleh Rara?" tanyanya.
"Dia menentang Abda dan mempermalukan dirinya sendiri. Ki Abda dengan tegas menolaknya mentah-mentah ...," Prabu Laksa terkekeh mendengarnya.
"Dan Rara pasti menangis lalu kau menghukumnya dengan mengurungnya dalam kamar bukan?" terka Prabu Laksa.
"Iya ... Aku sangat malu. Aku sepertinya gagal mendidiknya ...," ujar Pangeran Dalapati kecewa pada diri sendiri.
"Tidak Kangmas. Kangmas sudah cukup mengajarinya. Tapi memang semua itu kembali pada Rara Windu!" ujar Prabu Laksa menenangkan kakaknya.
"Mbakyu mu terlalu memanjakannya," keluh Pangeran Dalapati lagi.
Prabu Laksa hanya tersenyum dan mengelus punggung kakak tertuanya itu.
Dari semua keturunan raja pertama. Hanya Pangeran Dalapati yang memiliki keturunan. Sementara yang lain belum.
"Ohya. Bagaimana dengan Raden Ajeng Gusti Sandika Pramesti?" tanya Pangeran Dalapati yang membuat Prabu Laksa terbatuk pelan, pipinya sedikit merona.
Pangeran tersenyum, ia yakin adiknya yang sakti, telah jatuh cinta pada gadis yang tepat.
"Kalau begitu, aku pulang! Kabari jika akan melamar Putri Keraton itu!" ujar Pangeran Dalapati.
Prabu Laksa kembali terbatuk kecil sambil menutup mulutnya dengan kepalan tangan.
Pangeran Dalapati justru tertawa pelan untuk pertama kalinya malam itu melihat wajah adiknya berubah canggung.
"Astaga ... ternyata Raja Kali Ireng bisa salah tingkah juga," godanya.
"Kangmas!" protes Prabu Laksa pelan.
"Wajahmu memerah begitu, Dimas Raja!" Dalapati makin geli.
Prabu Laksa menghela napas panjang lalu berjalan menuju jendela pendapa.
Di luar, api obor istana bergoyang diterpa angin malam.
Raden Ajeng Gusti Sandika Pramesti ... Nama itu memang membuat hati Prabu Laksa tak setenang biasanya.
Putri dari keraton timur itu terkenal bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga kecerdasannya.
Perempuan yang bahkan mampu membuat para adipati tua segan ketika berbicara soal tata negara.
"Aku belum berniat melamarnya," jawab Prabu Laksa akhirnya.
Dalapati mengangkat alis.
"Belum berniat? Atau belum berani?" tebaknya telak.
"Dimas Raja yang mampu menaklukkan tiga saudara sendiri demi tahta ternyata takut menghadapi seorang perempuan?"
"Kangmas mulai berlebihan!" Prabu Laksa menggeleng sambil tertawa kecil.
Namun diam-diam ... ucapan itu memang menusuk tepat sasaran.
Karena berbeda dengan peperangan atau perebutan kekuasaan ... Prabu Laksa justru sangat berhati-hati terhadap urusan hati.
Ia takut salah memilih pendamping.
Takut membawa perempuan masuk ke pusaran politik istana yang kejam.
Pangeran Dalapati berdiri lalu menepuk pundak adiknya pelan.
"Dimas ... dengarkan Kangmas sekali ini saja," Prabu Laksa menoleh.
"Jangan sampai kau seperti Ki Abda," lanjut Dalapati.
"Maksud Kangmas?"
"Terlalu lama memendam sesuatu sampai akhirnya dunia bergerak lebih cepat darimu."
Sorot mata Prabu Laksa sedikit berubah.
Ia tahu ... Dalapati tidak sedang bicara soal cinta biasa.
Melainkan tentang pilihan hidup.
Ki Abda memilih jalan sunyi. Menolak kekuasaan. Menolak kemewahan. Menolak bangsawan.
"Abda berbeda denganku," ujar Prabu Laksa lirih.
"Justru itu yang membuatnya menakutkan," jawab Dalapati.
Hening sesaat memenuhi pendapa.
Lalu Pangeran Dalapati berjalan keluar sebelum berhenti di ambang pintu.
"Oh ya Dimas ..."
"Hm?"
"Kalau benar kau melamar Raden Ajeng Gusti Sandika Pramesti ..." Dalapati tersenyum tipis.
"Jangan terlalu banyak memakai wibawa rajamu!"
Prabu Laksa mengernyit.
"Kenapa?"
"Karena perempuan cerdas biasanya lebih suka laki-laki yang bicara sebagai manusia ... bukan penguasa!" jawab Dalapati membuat Prabu Laksa tercenung.
Setelah berkata begitu, Dalapati benar-benar pergi meninggalkan aula istana.
Sementara Prabu Laksa berdiri sendiri.
Angin malam masuk perlahan dari jendela terbuka. Dan entah kenapa ... untuk pertama kalinya sejak menjadi Raja, dadanya terasa lebih gugup membayangkan seorang perempuan dibanding menghadapi ribuan pasukan perang.
Derap kaki kuda memecah keheningan malam. Pangeran Dalapati sampai di depan rumahnya, ia pun turun dari kuda.
Windu yang belum tidur, ia mendengar jika ayahnya telah pulang. Ia sangat yakin jika sang ayah memberinya kabar gembira. Tanpa peduli ia sedang dihukum, Windu membuka pintu kamar.
Ia hanya memakai kemben dari kain batik, rambutnya terurai bebas. Satu hal yang tabu dilakukan oleh perempuan belum bersuami, terlebih dia adalah putri bangsawan.
"Ayah ... Bagaimana? Apa Paman Raja menyetujui perjodohan itu?' Aku yakin. Paman pasti mau membelaku!' cecar gadis itu dengan suara keras.
Beberapa prajurit pria sampai membuka mulut melihat penampilannya. Para panembahan dan abdi dalem juga begitu terperangah melihat Windu yang melupakan tata krama.
Wajah Pangeran Dalapati memerah. Sementara Windu asik tersenyum sambil mengelus rambutnya. Gadis itu entah memikirkan apa di otaknya.
"Jaga mata kalian sebelum aku mencongkelnya dari sana!" teriaknya marah.
Semua prajurit dan yang ada di sana mengetahui kesalahan mereka. Mereka semua duduk bersimpuh dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
Windu juga terkejut, tapi abai dengan kesalahannya. Dasirah yang sedang tertidur langsung bangun akibat teriakan suaminya. Ia gegas keluar kamar.
Ketika sampai di ruang tamu. Matanya melebar melihat penampilan putrinya.
"Raden Ajeng Windu!" teriaknya dan Windu tersadar dari lamunannya.
Ia menatap ibunya, lalu tanpa rasa bersalah ia mendekat.
"Ibunda, dengar. Paman Raja telah menerima perjodohan itu. Aku pasti menikah dengan Ki Abda!'
Plak! Kepala Windu menoleh, pipinya memerah.
'Ibunda ...??"
Bersambung.
Ah ... Windu ... Windu ...
Next?
nyi padan serem akh
lanjut