NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

Ketika shalat Subuh berjamaah selesai dan anggota keluarga satu per satu melangkah meninggalkan mihrab, Syifa bergeser mendekat. Ia menunduk, berniat meraih jemari Fadhlan untuk mencium punggung tangannya sebagai tanda bakti. Namun, gerakan tangan Fadhlan justru menahan pergelangan tangannya dengan lembut.

​"Kita tadarus dulu sebentar," ujar Fadhlan, suaranya terdengar begitu tenang di keheningan fajar.

​Syifa mengangguk patuh. Ia duduk bersila di samping suaminya, membuka mushaf Al-Qur'an miliknya. Fadhlan memulai lebih dulu. Ayat-ayat suci mengalir dari bibir pria itu dengan begitu fasih, merdu, dan membawa kesejukan yang luar biasa di telinga Syifa.

​Syifa terpaku. Ia menatap siluet wajah Fadhlan dari samping yang tampak teduh dari balik mukenanya. 'Ya Allah... apakah hamba sudah diperbolehkan untuk jatuh cinta sejauh ini dengan suami hamba sendiri?' bisik Syifa dalam hati, dadanya bergemuruh oleh rasa kagum yang kian membuncah.

​Terlalu larut dalam lamunannya, Syifa tidak sadar bahwa Fadhlan sudah selesai membaca bagian pembukanya. Pria itu menoleh, lalu melambaikan telapak tangannya beberapa kali tepat di depan wajah Syifa.

​"Kamu melamun, hm?"

​"Eh, Astaghfirullah... maaf, P-Pak!" Syifa terlonjak kaget. Ia refleks mundur beberapa senti karena menyadari jarak wajah Fadhlan begitu dekat dengannya, hingga deru nafas suaminya bisa ia rasakan di pipi.

​"Sekarang giliran kamu yang membaca. Saya yang menyimak," titah Fadhlan, mengabaikan kepanikan kecil istrinya.

​Syifa menelan ludah. Rasa canggung dan gerigi halus di dadanya mendadak membuat jemarinya gemetar saat membalik halaman mushaf. Ini adalah kali pertama ia mengaji di hadapan seorang pria selain Abi dan kakeknya. Akibat kurang konsentrasi dan grogi yang mendera, bacaan Syifa beberapa kali tersendat, bahkan ada beberapa hukum tajwid yang keliru.

​Namun, Fadhlan tidak menunjukkan rasa kesal sama sekali. Dengan penuh kesabaran khas seorang pelindung, ia fokus menyimak dan membetulkan setiap pelafalan Syifa yang keliru dengan nada suara yang sangat lembut.

​Sesudah tadarus ditutup dengan doa, Syifa kembali mengulurkan tangannya. Kali ini, ia berhasil mencium punggung tangan Fadhlan dengan takzim. Fadhlan membalasnya dengan meletakkan telapak tangannya di puncak kepala Syifa, lalu melafalkan do'a dengan khusyuk, memohon kepada Sang Pemilik Hati agar istrinya senantiasa diberikan kelembutan perangai, ketaatan pada suami, serta diberkahi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

​"Boleh saya meminta sesuatu?" tanya Fadhlan sebelum mereka benar-benar beranjak dari sajadah.

​Syifa mendongak, menatap mata hitam pekat suaminya dengan sedikit ragu. "Hm? Boleh.."

​Fadhlan meraih jemari Syifa, menggenggamnya hangat di atas pangkuan mereka. "Mulai sekarang, tolong jangan panggil saya 'Bapak' lagi. Apalagi ketika kita sedang di rumah atau berdua seperti ini. Di rumah, saya ini suami kamu, Asyifa Humaira"

​DEG!

​Kata-kata yang meluncur pelan namun sarat akan penekanan itu langsung menghujam dada Syifa. Kesadaran penuh bahwa mereka kini telah terikat dalam hubungan sakral yang paling intim seketika menghapus sisa-sisa bayangan "Dosen Killer atau Dosen Kulkas Dua Puluh Pintu" di benaknya.

​"Bisa?" tanya Fadhlan lagi, menuntut jawaban dengan tatapan yang mengunci netra Syifa.

​Syifa menunduk dalam, menyembunyikan semburat merah yang menjalar ke lehernya. "Hm.. i-iya, bisa Pak. Eh, Mas."

​Fadhlan tersenyum tipis, lalu mengusap puncak kepala Syifa dengan gemas.

​Melihat kelembutan Fadhlan pagi ini, Syifa merasa ini adalah momen yang paling tepat untuk menanyakan satu hal yang terus mengganjal di pikirannya sejak hari pertunangan mereka.

​"Maaf... tentang waktu itu," cicit Syifa pelan, meremas ujung mukenanya. "Saya mau tanya, alasan Mas Fadhlan menikahi saya yang katanya karena 'sesuatu'. Boleh saya tahu sekarang apa alasannya?"

​Fadhlan sedikit tertegun, lalu seulas senyum sarat makna terbit di wajah tampannya. Ia tidak menyangka kalau gadis kecil di depannya ini masih mengingat betul kalimat gantung yang sengaja ia ucapkan waktu itu.

​"Kamu benar-benar ingin tahu?"

​Syifa mengangguk dengan cepat, matanya berbinar penuh rasa penasaran yang kentara.

​Fadhlan memajukan tubuhnya, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dan lama di kening Syifa, membuat napas gadis itu tertahan. "Nanti saya akan memberitahumu, Dek... tapi tidak sekarang," bisik Fadhlan lembut penuh kasih sayang tepat di dahi istrinya.

​Panggilan 'Dek' yang meluncur begitu alami dari bibir Fadhlan, ditambah sentuhan hangat di keningnya, sukses membuat seluruh tubuh Syifa kaku seperti tersengat listrik. Jantungnya berdegup gila-gilaan.

​"Ekhem... maaf... itu, Reyhan mau ambil tasbihnya Abi yang ketinggalan di situ," sebuah suara remaja laki-laki memecah atmosfer magis di antara mereka.

​Syifa dan Fadhlan terlonjak kaget. Mereka langsung menarik diri dan menjauh satu sama lain dengan canggung. Wajah Syifa sudah merah padam karena malu ketahuan bermesraan oleh adik kandungnya sendiri.

​"Em... saya mau ke dapur dulu, mau bantu Ummi!" ujar Syifa gugup setengah mati. Ia langsung berdiri tergesa-gesa, melangkah cepat meninggalkan tempat salat tanpa menengok ke belakang lagi.

...----------------...

Suasana sarapan bersama keluarga besar pagi itu berlangsung hangat, namun bagi Syifa, itu adalah siksaan manis. Sepanjang makan, ia terus-menerus menunduk dan menghindari kontak mata dengan Fadhlan, meskipun suaminya itu duduk tepat di sebelah kanannya. Rasa malunya akibat kejadian tepergok Reyhan setelah sholat subuh tadi masih belum hilang sepenuhnya.

​"Hari ini kalian berdua masih libur kuliah dan mengajar, kan?" tanya Kakek Ali memecah keheningan, menatap Syifa dan Fadhlan bergantian.

​"Iya, Kek, masih libur," jawab Syifa pelan setelah menelan makanannya.

​"Bagus. Kakek punya rencana untuk mengajak kalian semua berlibur ke pantai hari ini," ujar Kakek Ali dengan senyum lebar.

​"Asyeeekk! Pantai! Kapan, Kek? Sekarang?" heboh Reyhan dan Tasya serentak dari seberang meja, langsung bersemangat.

​"Nanti siang bagaimana?" usul Fadhlan menimpali santai.

​"Horeee! Kalau begitu habis makan aku mau langsung siap-siap beresin baju ah!" seru Tasya menggebu-gebu. Sementara itu, Syifa hanya bisa mengerutkan dahinya, kurang setuju karena tubuhnya sebenarnya masih butuh istirahat.

​Kakek Ali terkekeh pelan melihat reaksi cucu-cucunya. "Ya, ini sih hitung-hitung acara bulan madu untuk kalian berdua, Syifa, nak Fadhlan. Supaya, bisa cepat memberikan cicit untuk Kakek."

​"Insya Allah, Kek. Doakan saja yang terbaik," jawab Fadhlan dengan intonasi yang sangat tenang dan wajah lempeng tanpa beban.

​UHUK! UHUK!

​Syifa yang baru saja menyuap nasinya seketika tersedak hebat mendengar jawaban kelewat santai dari Fadhlan. Wajahnya memerah karena batuk.

​"Pelan-pelan... ini, minum dulu," dengan cekatan Fadhlan mengulurkan segelas air putih ke depan bibir Syifa, sementara tangan kirinya menepuk-nepuk pelan pundak istrinya untuk meredakan batuknya.

​"Lah, iya bener itu, enggak usah ditunda-tunda, Syif. Biar langsung jadi. Iya kan, Mbak?" celetuk Tante Dini menyenggol lengan Ummi Salwa, ikut-ikutan menggoda.

​Ummi Salwa tersenyum bijak. "Kalau saya terserah mereka berdua saja. Dikasih cepat sama Allah alhamdulillah, tapi kalau mau ditunda dulu dengan alasan Syifa masih harus menyelesaikan kuliahnya juga tidak apa-apa."

​"Halah, jangan kelamaan, Fad! Pusing kalau digantung terus. Nanti begitu sampai di penginapan pantai, langsung tancap gas saja!" ledek Om Andi blak-blakan, membuat telinga Syifa berdenging panas.

​Kakek Ali melirik ke arah putranya, Abi Musthofa, yang sejak tadi hanya menyimak. "Lihat Abimu itu, Syif... pasti dia sudah ingin menimang cucu. Teman-teman seangkatannya sudah pada gendong cucu semua."

​"Kakeeek...!" rengek Syifa malu setengah mati, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

​"Jangan bilang enggak mau loh, Syif. Hubungan suami istri kalau diniatkan dengan baik itu termasuk ibadah yang pahalanya besar, ya kan, Fad?" imbuh Om Andi lagi, menaikkan alisnya ke arah Fadhlan.

​Tante Dini tidak mau kalah, ia berbisik dengan kerlingan mata penuh arti ke arah keponakannya. "Oh ya, hadiah gaun dari Tante di dalam tas jangan lupa dipakai nanti malam ya, Syif."

'​Ya Allah... malu banget dibahas ginian di depan keluarga!' batin Syifa menjerit, ingin rasanya ia menghilang dari kursi makan saat itu juga.

​Fadhlan hanya menanggapinya dengan senyuman misterius yang tak terbaca. Syifa yang merasa suaminya justru menikmati momen ini langsung mengulurkan tangannya di bawah meja, menyenggol keras lengan Fadhlan sembari memasang wajah cemberut paling galak yang ia punya.

​"Apa?" tanya Fadhlan dengan volume suara yang sangat pelan, menoleh ke arah Syifa.

​"Jangan mencuri kesempatan dalam kesempitan ya!" bisik Syifa tajam di dekat bahu Fadhlan.

​"Lihat saja nanti," jawab Fadhlan dengan nada meledek yang teramat tipis, hampir tak terdengar.

​Kesal karena terus-menerus digoda, Syifa yang gemas langsung melayangkan cubitan maut di perut sixpack Fadhlan yang tertutup kemeja koko hitamnya. Cubitan itu mendarat tepat sasaran.

​"Aduh... sakit," Fadhlan refleks mendesis pelan, memegangi perutnya yang dicubit.

​"Kenapa, Nak Fadhlan? Sakit perut?" tanya Ummi Salwa yang menyadari perubahan ekspresi menantunya.

​"Hehe, engga apa-apa kok, Ummi. Cuma bercanda," potong Syifa cepat dengan senyum meringis yang dipaksakan, sementara tangannya buru-buru mengusap-usap lembut bekas cubitannya di perut Fadhlan agar suaminya tidak mengadu.

​"Tuh kan, udah enggak sabar pasti mereka, Mbak... makanya main cubit-cubitan," kata Tante Dini memberi kode pada suaminya, kembali memicu tawa di meja makan.

​Abi Musthofa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah melihat kelakuan adik-adiknya yang tiada henti menggoda pengantin baru tersebut.

​"Betul tidak apa-apa, Fadhlan?" tanya Kakek Ali memastikan.

​"Iya, Kek, aman. Hanya gurauan," jawab Fadhlan tersenyum sopan. Namun, sesaat kemudian, ia melirik ke arah Syifa yang masih cemberut. 'Tunggu nanti malam, akan kubalas kejahilanmu ini, gadis kecil,' batin Fadhlan penuh rencana tersembunyi.

...****************...

1
Ulfa 168
bagus cerita nya kak ditunggu kelanjutannya
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!