"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.
Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Interferensi Frekuensi
Suasana Lab Komputer 3 pagi ini rasanya lebih dingin dari biasanya, padahal suhu AC-nya tetap sama di 20°C. Di meja utama, Dedik dan Clarissa sudah duduk berdampingan di depan monitor berukuran 32 inci.
Mereka berdua seperti sedang masuk ke dalam trance digital, baris-baris kode Python meluncur deras di layar, dan istilah-istilah seperti Fast Fourier Transform serta Neural Network Optimization berterbangan di udara.
Gua berdiri di pojok ruangan, nenteng sekantong roti bakar yang tadinya mau gua makan bareng Dedik. Tapi liat mereka berdua yang bahkan nggak nengok pas gua masuk, gua berasa kayak kurir makanan nyasar.
"Ded, kalau lo pake padding di bagian frekuensi rendah ini, resonansi bambunya bakal kehilangan karakteristik alaminya," kata Clarissa, jarinya nunjuk ke salah satu baris kode dengan sangat presisi.
Dedik ngerutin dahi, benerin letak kacamatanya. "Gua udah coba, Cla. Tapi tanpa padding, datanya terlalu noisy buat standar paten internasional."
"Itu karena lo pake algoritma standar. Coba pake custom kernel yang kita bikin pas lomba di Singapura dulu. Lo masih simpen file-nya kan?" Clarissa nengok ke Dedik, jarak wajah mereka cuma terpaut beberapa senti.
Dedik diem sebentar, terus tangannya mulai ngetik perintah baru. "Oh... iya. Gua lupa variabel itu bisa di re-use."
Gua makin ngerasa nggak dianggap. Gua jalan pelan nyamperin mereka. "Ehem... nih, ada roti bakar. Masih anget."
Dedik cuma ngelirik sekilas tanpa ngelepas tangannya dari keyboard. "Taruh di sana aja, Rey. Makasih ya. Gua lagi tanggung dikit, datanya lagi di compile."
Clarissa nengok ke gua dengan senyum tipis yang sangat... sopan, tapi mematikan.
"Hai Reyna. Sori ya, kita lagi fokus banget. Urusan paten ini harus beres sebelum akhir bulan, jadi setiap detik itu berharga. Logikanya, kita nggak bisa interupsi sistem pas lagi rendering begini."
Gua naruh roti itu di meja samping dengan agak keras. "Logikanya, orang pinter juga butuh makan biar otaknya nggak overheat, Cla."
Clarissa cuma ketawa kecil, suara ketawa yang sangat elegan. "Tenang aja, aku udah pesen kopi favorit Dedik dari cafe bawah tadi. Dia lebih butuh kafein daripada karbohidrat kalau lagi *beast mode* begini."
Gua ngeliat ada gelas kopi mahal di sebelah laptop Dedik. Kopi yang biasa dia minum kalau lagi lembur ngerjain novel digitalnya di Fizzo.
Gua ngerasa kayak dipukul telak. Clarissa tau kebiasaan kecil Dedik yang bahkan gua baru mulai pelajari.
"Rey," panggil Dedik tiba-tiba. "Nanti jam dua kita ada jadwal rekam ulang bagian refrain. Clarissa bilang ada distorsi frekuensi di vokal lo yang perlu dihalusin pake alat baru yang dia bawa."
"Distorsi? Perasaan kemarin Pak Dekan bilang udah sempurna," protes gua nggak terima.
"Secara estetika emang bagus, Rey," potong Clarissa tenang. "Tapi buat kebutuhan paten teknologi akustik, kita butuh kemurnian sinyal yang lebih tinggi."
"Suara kamu terlalu banyak 'perasaan', secara teknis itu disebut jitter. Kita perlu bikin itu lebih linear."
Gua natap Dedik, berharap dia belain gua. Tapi Dedik cuma diem, matanya masih terpaku ke layar. "Cla bener, Rey. Kita butuh data yang lebih bersih buat dokumentasi teknis."
Gua narik napas panjang. Gua ngerasa jaket flanel Dedik yang gua pake mendadak terasa berat. Gua mutusin buat keluar dari Lab sebelum gua makin meledak.
"Ya udah. Gua tunggu di kantin. Kabarin aja kalau 'sistem' lo udah siap buat nerima suara gua yang penuh jitter ini," sindir gua, terus jalan keluar.
***
Gua duduk di kantin sendirian, cuma ngaduk-ngaduk es teh yang udah tawar. Gua ngerasa konyol.
Gua adalah orang yang nemenin Dedik dikejar-kejar di hutan, gua yang nyanyi di bawah ancaman penjahat korporat, tapi sekarang gua malah kalah sama cewek yang bawa "alat baru" dan "algoritma lama".
"Woi, Rey! Kusut amat mukanya!"
Gua nengok. Arlan jalan nyamperin gua, mukanya udah lebih seger meski masih ada bekas luka dikit di pelipisnya. Dia duduk di depan gua.
"Kenapa? Si Partner Sialan lo itu bikin ulah lagi?" tanya Arlan sambil nyomot roti bakar gua yang tadi gua bawa balik dari Lab.
"Ada Clarissa, Lan. Mantannya. Dia pinter banget, cantik, dan dia kayak punya bahasa rahasia sama Dedik yang gua nggak paham," curhat gua lemes.
Arlan berenti ngunyah. "Clarissa? Si jenius matematika itu? Wah, berat sih. Dulu mereka itu pasangan legendaris di Fakultas Teknik. Tapi denger-denger, mereka putus karena Clarissa terlalu ambisius dan milih pindah ke Singapura."
"Sekarang dia balik, Lan. Dan dia jadi konsultan paten kita. Gua berasa kayak figuran di riset gua sendiri."
Arlan natap gua serius. "Rey, dengerin gue. Dedik itu orangnya logis banget, iya. Tapi lo jangan lupa, dia itu milih lo buat jadi vokalis bukan cuma karena suara lo."
"Tapi karena lo itu satu-satunya orang yang bisa bikin dia keluar dari zona nyamannya. Clarissa itu masa lalu yang 'sama' kayak dia. Manusia itu butuh pelengkap, bukan cermin."
Gua diem, nyerna kata-kata Arlan.
"Lagian," Arlan nyengir, "Dedik itu sayang banget sama lo. Lo liat aja tuh laptopnya, password-nya aja nama lo kan?"
Gua senyum dikit. "Iya sih.
REYNA_SAGI_69
"Nah! Clarissa punya nggak hal kayak gitu? Enggak kan?" Arlan nepuk bahu gua. "Jangan ciut duluan. Lo punya frekuensi yang nggak bakal bisa ditiru sama algoritma manapun."
***
Jam dua siang. Gua balik ke Lab. Kali ini gua nggak mau kelihatan lemah. Gua masuk dengan kepala tegak, siap buat rekaman ulang.
Tapi pas gua masuk, gua liat pemandangan yang bikin hati gua mencelos. Dedik lagi ketiduran di depan laptopnya, kepalanya nyender di meja.
Dan Clarissa... dia lagi duduk di samping Dedik, tangannya pelan-pelan ngusap rambut Dedik dengan sangat lembut.
Dia nengok ke arah gua yang baru masuk, tapi dia nggak narik tangannya. Dia malah naruh jari telunjuk di bibirnya.
"Sstt... dia baru aja tidur lima menit yang lalu. Dia capek banget abis ngeberesin kodingannya," bisik Clarissa dengan senyum kemenangan.
Gua berdiri kaku di pintu. Di satu sisi, gua pengen narik Clarissa menjauh. Tapi di sisi lain, gua liat Dedik emang kelihatan damai banget tidurnya.
Gua ngerasa kayak ada tembok kaca yang misahin gua sama Dedik, dan Clarissa ada di dalem tembok itu bareng dia.
Gua balik badan dan keluar lagi dari Lab. Gua lari ke arah taman belakang kampus, tempat di mana pohon bambu kuning kecil yang dulu kita tanam sebagai kenang-kenangan tumbuh.
Gua duduk di sana, meluk lutut gua, dan akhirnya air mata gua jatuh juga. Gua benci perasaan ini. Gua benci harus ngerasa nggak cukup pinter buat cowok yang gua sayang.
Tiba-tiba, HP gua getar. Ada pesan masuk dari Dedik.
Dedik: Rey, sori gua ketiduran tadi. Gua udah bangun. Lo di mana? Ayo rekamannya kita mulai. Gua butuh suara lo buat sinkronisasi akhir. Cuma suara lo yang pas buat data ini.
Gua hapus air mata gua. Kalimat terakhir itu... "Cuma suara lo yang pas".
Gua berdiri, benerin jaket flanel gua. Gua nggak bakal nyerah gitu aja. Clarissa emang punya algoritma masa lalu, tapi gua punya melodi masa depan bareng Dedik.
***
Sesi rekaman ulang dimulai dengan tensi tinggi. Clarissa terus-menerus mengkritik vokal Reyna secara teknis di depan Dedik.
Namun, di tengah rekaman, Dedik menyadari sesuatu dalam grafik suaranya yang tidak bisa dijelaskan secara logika teknik oleh Clarissa.
Apakah "jitter" dalam suara Reyna sebenarnya adalah kunci rahasia untuk membuka dimensi frekuensi baru dalam riset mereka?