Araya Lin dipaksa menjadi pengantin
pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.
Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.
Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13: Luka di Balik Sandiwara
Cengkeraman tangan Arkanza di bahu Araya terasa seolah ingin meremukkan tulang-tulangnya. Mata elang pria itu berkilat tajam, menatap lurus ke dalam bola mata Araya yang mulai bergetar karena ketakutan—sebagian karena akting, sebagian lagi karena tekanan nyata yang diberikan Arkanza.
"Jelaskan padaku, Araya! Dari mana luka ini?" bentak Arkanza lagi, suaranya menggelegar di dalam kamar yang sunyi itu. "CCTV menunjukkanmu sedang membaca di taman, tapi lenganmu tersayat pisau. Siapa kau sebenarnya?!"
Araya membiarkan air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang kotor oleh debu Sektor Tua. Ia memaksakan tubuhnya untuk menggigil lebih hebat, menciptakan gambaran seorang wanita yang benar-benar hancur dan trauma.
"A-aku... aku mencoba kabur, Tuan!" isak Araya dengan suara parau.
Arkanza sedikit melonggarkan cengkeramannya, keningnya berkerut. "Kabur? Ke mana?"
"Aku merindukan nenekku... aku takut Bibi Siska benar-benar menyakitinya karena aku belum memberikan informasi apa pun tentang Anda," bohong Araya dengan lancar. Ia sudah menyiapkan skenario ini di kepalanya sejak dalam perjalanan pulang. "Aku menyelinap lewat pagar belakang, tapi... tapi ada dua pria yang menghadangku di luar."
"Pria? Siapa mereka?" tanya Arkanza dingin, matanya sedikit menyipit.
"Aku tidak tahu... mereka bilang mereka orang suruhan Keluarga Lin! Mereka marah karena aku tidak bisa masuk ke ruang kerja Anda. Salah satu dari mereka mengeluarkan pisau dan... dan mengancam akan memotong jariku jika aku tidak patuh!" Araya menunjuk luka di lengannya sambil terisak lebih keras. "Aku melawan... aku memukul mereka dengan batu dan lari kembali ke sini. Aku tidak punya tempat lain untuk pergi, Tuan! Tolong jangan serahkan aku pada mereka!"
Araya membenamkan wajahnya di dada Arkanza, memeluk pinggang pria itu dengan erat seolah-olah Arkanza adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki. Ia bisa merasakan tubuh Arkanza yang membeku sesaat karena kontak fisik yang tiba-tiba itu. Aroma maskulin Arkanza yang tajam menyerbu indra penciumannya, sangat kontras dengan bau darah dan debu pada tubuh Araya sendiri.
Arkanza terdiam cukup lama. Matanya menatap ke arah pintu kamar yang terbuka, lalu kembali ke arah Araya yang sedang menangis di dadanya. Ada keraguan di matanya. Skenario "orang suruhan Keluarga Lin" sangat masuk akal bagi Arkanza, mengingat betapa liciknya keluarga tersebut.
"Leon!" panggil Arkanza dengan suara berat.
Leon muncul di ambang pintu dalam hitungan detik. "Iya, Presdir?"
"Periksa kembali semua area luar pagar belakang. Jika benar ada orang-orang dari Keluarga Lin yang berkeliaran di sekitar sini, habisi mereka atau bawa mereka ke hadapanku. Dan periksa sistem keamanan CCTV, pastikan tidak ada celah yang diretas," perintah Arkanza mutlak.
"Baik, Presdir." Leon segera pergi menjalankan perintah.
Arkanza kemudian menunduk, menatap Araya yang masih belum melepaskan pelukannya. Ia menarik paksa tubuh Araya agar sedikit menjauh, lalu menarik tangan Araya yang terluka. Ia membawa Araya menuju meja rias dan menyuruhnya duduk di sana.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arkanza mengambil kotak P3K dari laci meja. Ia mulai membersihkan luka di lengan Araya dengan gerakan yang... tidak terduga. Meskipun wajahnya tetap sedingin es, tangannya bergerak dengan sangat hati-hati saat mengoleskan antiseptik.
"Aw... perih..." rintih Araya pelan.
"Diamlah. Ini akibat dari kebodohanmu yang mencoba kabur," desis Arkanza. Ia melilitkan perban ke lengan Araya dengan rapi. "Kau pikir kau bisa bertahan hidup sendirian di luar sana? Kau itu lemah, Araya. Tanpa nama Aditama, kau hanya akan menjadi santapan bagi orang-orang seperti paman dan bibimu."
Araya menunduk, menyembunyikan kilatan matanya. 'Kau yang bodoh, Arkanza. Kau baru saja membalut luka yang aku dapatkan saat menghajar orang-orangmu sendiri,' batinnya menyeringai.
Setelah selesai membalut luka, Arkanza berdiri menjulang di hadapannya. "Mulai malam ini, pintu kamarmu akan dikunci dari luar. Dan jangan pernah bermimpi untuk menyentuh pagar belakang lagi jika kau masih ingin melihat nenekmu hidup."
Arkanza berbalik dan melangkah keluar, namun ia berhenti di ambang pintu tanpa menoleh. "Dan satu hal lagi... jangan pernah menangis di dadaku lagi. Pakaianku mahal, dan aku benci bau air mata wanita lemah."
Pintu pun ditutup dan dikunci dengan bunyi klik yang nyaring.
Araya langsung mengusap air matanya dengan kasar. Ia berdiri dan menghampiri cermin, menatap perban di lengannya. Ia menarik napas panjang, menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang.
"Tinggal selangkah lagi, Arkanza," bisik Araya pada bayangannya di cermin. "Begitu aku menemukan siapa pria yang dicoret di foto itu, aku akan memastikan kau dan seluruh keluargamu membayar setiap tetes darah orang tuaku."
Ia kemudian mengambil ponsel hitamnya yang tersembunyi. Ada sebuah pesan masuk dari nomor anonim.
[Z, kau hampir saja tertangkap. Pria di foto itu adalah Kuncoro—mantan kepala keamanan Aditama yang menghilang setelah tahun 1998. Dia masih hidup, dan dia sedang mencarimu.]
Mata Araya membelalak. Jadi, pria yang menyerangnya di rumah tua tadi... adalah Kuncoro?