NovelToon NovelToon
ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Action / Showbiz
Popularitas:790
Nilai: 5
Nama Author: Ab Je

Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.

Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.

Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.

Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Keberangkatan Menuju Negeri Ginseng

Suara deru mesin pesawat jet berbadan lebar milik maskapai penerbangan nasional terdengar menderu halus, membelah keheningan fajar di sepanjang landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Di dalam ruang tunggu keberangkatan internasional yang dikelilingi dinding kaca raksasa setinggi lima meter, Reno duduk santai selonjoran sambil memangku laptop pribadinya yang masih menyala. Di sekelilingnya, suasana benar-benar terasa kontras kalau dibandingkan dengan waktu mereka berangkat ke Singapura kemarin. Kali ini, Coach Ardi tampak sibuk kasak-kusuk koordinasi dengan dua orang perwakilan dari pihak sponsor baru yang ikut mengawal perjalanan mereka, memastikan seluruh logistik dan paspor aman di dalam tas masing-masing.

"Reno, semua perlengkapan cadangan termasuk *mouse pad* keramat milikmu sudah masuk ke bagasi utama, aman tentram," ucap Bimo yang baru saja kembali dari toilet bandara, lalu langsung mengambil posisi duduk di sebelah Reno sambil membenarkan letak jaket jersei resmi Black Viper yang kini sudah dipenuhi oleh jajaran logo sponsor berwarna perak mentereng. "Asli, Ren, aku masih merasa seperti sedang berjalan di atas awan, cuy. Kemarin kita masih pusing mikirin cara patungan bayar billing warnet, eh sekarang kita malah bersiap terbang sejauh ribuan kilometer buat mewakili negara. Berasa mimpi enggak sih, Bro?"

Reno mengalihkan pandangannya dari layar laptop sejenak, menatap bayangan dirinya di permukaan kaca jendela bandara yang memantulkan cahaya lampu fajar. "Panggung yang lebih gede berarti tanggung jawab yang lebih berat, Bim. Sponsor enggak bakal memberikan semua fasilitas mewah ini secara cuma-cuma. Begitu kita mendarat di Seoul, setiap gerakan kita di dalam maupun di luar arena pertandingan bakal dipantau sama jutaan pasang mata pembenci dan pendukung. Jadi, jangan sampai lu malu-maluin di sana."

Reno kemudian menutup layar laptopnya setelah memastikan draf pengantar bab baru untuk novel digitalnya telah tersimpan dengan aman di dalam dokumen. Sejak notifikasi kelulusan kontrak eksklusif dari NovelToon aktif dua hari lalu, Reno merasa memiliki energi tambahan yang luar biasa di dalam dadanya. Ia tidak lagi menulis di bawah bayang-bayang ketakutan finansial; kini, setiap baris kalimat yang ia susun adalah catatan harian dari perjalanan hidupnya sendiri yang sedang bertransformasi menjadi sebuah legenda nyata di dunia eSports.

"Panggilan terakhir untuk penumpang pesawat dengan nomor penerbangan GA-870 menuju Seoul, Korea Selatan," suara merdu dari pengeras suara bandara memecah lamunan Reno.

Coach Ardi langsung berdiri dari kursi tunggu, lalu mengangkat tangan kanannya untuk memberikan isyarat komando ala abang-abangan kepada seluruh anggota Black Viper. "Ayo anak-anak, pasang masker kalian dan pastikan kagak ada barang bawaan yang tertinggal di bawah kursi. Ini adalah langkah pertama kita buat membuktikan pada dunia kalau anak warnet Jakarta bisa menaklukkan kesempurnaan mekanik mereka. Gasskeun!"

Perjalanan udara selama kurang lebih tujuh jam itu dihabiskan oleh sebagian besar anggota tim dengan tidur pulas demi mengejar ketertinggalan jam tidur akibat porsi latihan taktis Inverse Echo yang sangat padat selama di markas. Namun, berbeda dengan rekan-rekan setimnya yang langsung mendengkur begitu pesawat mencapai ketinggian jelajah, Reno justru menggunakan waktu tersebut untuk membaca berkas fisik mengenai profil psikologis para pemain tim papan atas Korea Selatan yang diberikan oleh Coach Ardi sebelum mereka naik ke pesawat tadi.

Matanya kembali tertuju pada lembar profil milik 'K-God', sang kapten tim unggulan utama dunia sekaligus saingan terberatnya. Dari data statistik yang tercatat, K-God memiliki tingkat akurasi tembakan kepala atau *headshot rate* mencapai angka delapan puluh delapan persen, sebuah angka gila yang hampir tidak masuk akal untuk ukuran manusia normal tanpa bantuan program visual ilegal alias *cheat*. Seseorang dengan tingkat presisi seperti itu pasti memiliki kontrol motorik tangan yang sangat luar biasa dan fokus mental yang tidak bisa digoyahkan oleh gertakan taktis biasa.

Ketika roda pesawat akhirnya menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Incheon dengan guncangan pelan yang terasa akrab, suhu udara dingin khas musim semi Korea langsung menyengat kulit mereka begitu melewati garbarata gedung terminal. Jakarta yang panas kini telah berada jauh di belakang mereka, digantikan oleh hamparan pemandangan arsitektur modern berlapis baja dan kaca yang dikelilingi oleh pegunungan berbatu samar di kejauhan.

"Selamat datang di Seoul, Black Viper," sebuah suara dengan aksen bahasa Inggris yang sangat fasih menyapa mereka begitu tim melangkah keluar dari pintu kedatangan internasional.

Seorang wanita muda dengan setelan jas hitam formal dan papan nama bertuliskan logo resmi turnamen *Grand Final* dunia berdiri menyambut mereka bersama dua orang petugas keamanan bandara. Namun, yang membuat Reno langsung waspada adalah keberadaan belasan fotografer dan wartawan media lokal Korea yang langsung merangsek maju, mengarahkan lensa kamera besar mereka tepat ke arah wajah Reno dengan lampu kilat yang berkedip tanpa henti hingga menciptakan suasana yang bising di area koridor bandara.

"Phantom! Apakah benar tuduhan dari beberapa forum diskusi bahwa tim Anda sengaja menggunakan jalur independen satelit untuk menghindari pemeriksaan perangkat keras standar di Jakarta kemarin?" salah seorang wartawan asing berambut pirang tiba-tiba berteriak memotong jalur jalan mereka sambil menyodorkan sebuah mikrofon besar tepat di depan dada Reno.

Marco dan Bimo langsung menegang, langkah kaki mereka terhenti seketika mendengar pertanyaan menjebak yang penuh dengan nada intimidasi terselubung tersebut. "Kamvret, bener-bener nyari masalah nih orang," bisik Bimo pelan dengan wajah menahan dongkol. Narasi negatif rupanya tidak benar-benar mati di Jakarta; pihak-pihak internasional yang memiliki kepentingan bisnis dengan jaringan taruhan lama milik Victor tampaknya sudah mulai melancarkan serangan perang saraf gelombang kedua melalui jalur manipulasi opini media massa, tepat seperti yang sempat diperingatkan oleh sosok misterius [S] dalam pesan rahasianya tempo hari.

Reno menghentikan langkah kakinya tepat di depan moncong kamera wartawan tersebut. Ia tidak menunjukkan ekspresi panik sedikit pun, melainkan hanya menurunkan maskernya secara perlahan, menampilkan seulas senyuman dingin yang sarat akan kepercayaan diri mutlak seorang One Tap God sejati.

"Kami pakai jalur satelit independen karena kami ingin seluruh dunia melihat kemampuan kami secara langsung tanpa ada manipulasi dari pihak yang takut kalah," jawab Reno dengan nada suara yang sangat tenang namun terdengar begitu tegas bergaung di dalam koridor terminal bandara yang luas. "Kalau tim Anda atau media Anda meragukan kemampuan murni kami, silakan saksikan pertandingan kami di arena utama besok malam. Gak usah banyak tanya di depan kamera, tonton aja dan lihat siapa yang bakal bertahan dengan satu ketukan terakhir."

Setelah melepaskan jawaban menohok yang langsung membuat wartawan tersebut bungkam seribu bahasa, Reno kembali memasang maskernya dan melanjutkan langkah kakinya secara konstan menuju ke pintu keluar luar gedung bandara tempat bus jemputan khusus sponsor sudah menunggu mereka. Di balik kaca bus yang bergerak membelah jalanan tol Incheon menuju pusat kota Seoul, Reno menatap lurus ke depan dengan pandangan mata yang sangat tajam. Perang saraf di panggung internasional secara resmi telah dimulai bahkan sebelum mereka sempat menyentuh komputer latihan, dan Sang One Tap God sudah sangat siap untuk meruntuhkan kesombongan seluruh raksasa dunia di bawah kilatan lampu panggung Seoul.

1
Alia Chans
wow cerita nya menarik, semangat✍️ nya
Ab Je: makasih yahh sudah menyemangati. (🌹)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!