NovelToon NovelToon
ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Action / Showbiz
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: Ab Je

Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.

Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.

Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.

Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Ketukan di Ruang Hampa

Desing peluru digital pertama memantul di dinding beton gudang tua Tanjung Priok, beradu dengan suara deru mesin generator listrik yang bergetar di sudut ruangan. Di balik sekat tripleks, tim bayaran Victor langsung mengambil inisiatif serangan dengan agresivitas yang mengerikan. Mengandalkan keuntungan *ping* jaringan yang super mulus di angka lima milidetik, mereka bergerak tanpa beban, meluncur melewati koridor tengah peta *Neon District* dengan keyakinan penuh bahwa Black Viper sudah lumpuh total akibat sabotase koneksi.

"Mereka maju serentak dari jalur *A-Long*," bisik Marco melalui mikrofon. Matanya yang menyipit menatap layar monitor yang sengaja digelapkan hingga delapan puluh persen. Di atas layar hitam yang samar itu, pergerakan visual hampir tidak bisa diandalkan. Namun, di dalam *headset*-nya, suara gesekan sepatu bot digital di atas lantai besi terdengar sangat bising.

"Tahan posisi kalian," instruksi Reno, suaranya terdengar sedingin es yang membeku. "Ingat, hitung penundaan waktu kita. Dengan *ping* seratus lima puluh, kita harus melepaskan tembakan nol koma dua detik lebih awal dari biasanya sebelum mereka muncul di sudut visual. Jangan tunggu matamu melihat mereka. Gunakan telingamu."

Di seberang sekat, pemuda bertato ular di lehernya tersenyum sinis. Karakternya, seorang penyerang bayaran dengan senjata laras panjang, melakukan gerakan *peek* cepat di sudut koridor utama. Di layarnya, pergerakan tim Black Viper terlihat sangat lambat dan kaku—sebuah efek domino dari koneksi internet yang dicekik.

"Anak-anak warnet ini benar-benar tidak bisa bergerak," ejek si tato ular di saluran komunikasi timnya. "Habisi mereka sekarang juga. Victor ingin kita menghancurkan mental mereka di ronde pertama."

Namun, saat ia melangkah keluar dari balik pilar beton untuk melepaskan tembakan eksekusi ke arah Bimo, sebuah keajaiban taktis terjadi. Sebelum karakter si tato ular benar-benar menampakkan diri secara penuh di sudut layar, sebuah suara letupan pistol cadangan berbunyi dari arah kegelapan.

Klik.

Satu peluru kaliber kecil bersarang tepat di pelindung kepala karakternya. **[PHANTOM ELIMINATED VIPER-1]** berkedip di log permainan.

"Apa?!" si tato ular tersentak dari kursinya, matanya terbelalak menatap layar monitornya yang mendadak berubah menjadi hitam putih tanda ia telah gugur. "Bagaimana mungkin? Dia menembak sebelum aku sempat menekan tombol klik! Apakah dia bisa melihat menembus dinding?!"

Victor yang berdiri di belakang barisan kursi komputer tim bayarannya langsung memicingkan mata. Senyum meremehkannya perlahan memudar saat melihat indikator nyawa salah satu pemain terbaiknya mati dalam hitungan detik di awal ronde pertama. Ia segera menatap layar pemantau sirkuit internal, mencoba mencari tahu apakah Reno menyembunyikan sesuatu. Namun, yang ia lihat justru membuat bulu kuduknya merinding: empat pemuda Black Viper itu duduk tegak dengan wajah datar, menatap layar monitor yang hampir mati total tanpa ekspresi ketakutan sedikit pun.

Mereka tidak sedang menggunakan mata. Mereka sedang menggunakan memori spasial yang sudah ditempa selama berjam-jam di markas mereka.

"Bimo, Leo, silang tembakan di koridor bawah. Mereka akan mencoba melakukan rotasi cepat dari arah selokan," perintah Reno dengan ketukan jemari yang sangat ritmis di atas *keyboard*.

Sabotase koneksi yang dilakukan oleh Victor seharusnya menjadi hukuman mati bagi tim mana pun. Namun, latihan ekstrem *Total Blind Play* yang dirancang oleh Reno telah mengubah Black Viper menjadi monster pendengaran. Mereka tidak lagi memedulikan grafik visual yang patah-patah akibat *stuttering*. Mereka hanya mendengarkan frekuensi suara langkah kaki, gema pantulan peluru, dan arah desis granat yang dilemparkan. Bagi Reno dan timnya, peta *Neon District* bukan lagi gambar tiga dimensi di layar, melainkan sebuah ruang hampa yang sudah mereka hafal setiap inci koordinatnya.

Klik.

Klik.

Dua eliminasi bersih kembali diraih oleh Black Viper melalui kerja sama taktis Marco dan Bimo. Mereka melepaskan tembakan perlindungan secara buta ke arah dinding tipis, memanfaatkan suara langkah musuh yang mencoba melarikan diri dari serbuan asap.

"Skor ronde pertama diamankan oleh Black Viper! Langkah yang tidak masuk akal dari tim Phantom!" teriak komentator dari jalur siaran langsung satelit independen yang dikelola oleh [S]. Di media sosial, jutaan pasang mata yang menyaksikan pertandingan tanpa *delay* tersebut mulai membanjiri kolom komentar dengan decak kagum. Narasi kecurangan yang sempat dituduhkan kepada Reno runtuh seketika saat orang-orang melihat bagaimana tangan kanan Reno bergerak dengan presisi murni tanpa bantuan program apa pun di depan kamera pemantau tangan.

Pertandingan berlanjut ke ronde-ronde berikutnya dengan tensi yang semakin memuncak. Tim bayaran Victor mencoba mengubah gaya permainan menjadi lebih defensif dan taktis, namun mental mereka sudah terlanjur goyah. Mereka yang biasanya menang mudah karena mengandalkan manipulasi jaringan dan informasi orang dalam, kini dipaksa bertarung melawan empat hantu yang bergerak di dalam kegelapan monitor.

Ronde penentuan akhirnya tiba. Skor berada di angka mutlak untuk keunggulan Black Viper. Di dalam gudang yang semakin dingin oleh angin malam pelabuhan, Reno berhadapan satu lawan satu dengan kapten tim bayaran di area pusat pembangkit listrik peta *Neon District*.

"Kamu tidak akan bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup, Reno," sebuah pesan suara bernada frustrasi masuk dari kapten lawan. "Victor punya segalanya di Jakarta. Kemenanganmu di sini tidak akan mengubah statusmu sebagai anak warnet miskin yang tidak punya kuasa!"

Reno menarik napas dalam-dalam. Di dalam ruang dengarnya, ia bisa mendengar suara detak jarum jam digital di sudut layar, berpadu dengan suara langkah kaki kapten lawan yang bergerak mengendap-endap di atas genangan air digital di sebelah kiri atas balkon.

"Kuasa bisa dibeli dengan uang, tapi reputasi dan kehormatan tidak akan pernah dijual di pasar gelapmu," balas Reno pelan melalui mikrofon.

Reno sengaja melepaskan satu tembakan umpan ke arah kanan untuk memicu efek getaran palsu pada sistem jaringan yang disabotase. Kapten lawan yang terpancing langsung melompat keluar dari balik tangki gas dengan senjata otomatis yang siap memuntahkan peluru.

Namun, Reno sudah tidak ada di posisi semula. Menggunakan insting murninya yang sudah melampaui batas logika latency komputer, ia melakukan gerakan *crouch-dash* ke arah depan, menyelinap di bawah lintasan peluru lawan yang meleset tipis di atas kepalanya. Dalam jendela waktu yang hanya seperseribu detik, di tengah kegelapan layar monitornya yang pekat, Reno menarik pelatuk pistolnya untuk terakhir kali.

Klik.

Suara satu ketukan tunggal bergema di dalam ruang hampa digital tersebut.

Layar utama gudang tua Tanjung Priok seketika memancarkan cahaya keemasan yang sangat terang, menampilkan tulisan besar: *VICTORY - BLACK VIPER*.

Seluruh sistem komputer tim bayaran Victor mendadak mengalami *crash* dan mati total akibat beban paksa siaran langsung satelit independen yang secara otomatis mengirimkan seluruh data mentah pertandingan ke server pusat federasi e-sport internasional sebagai bukti otentik. Nama Black Viper bersih sebersih-bersihnya malam itu.

Victor melangkah mundur, ponsel di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai beton dengan suara retakan yang tajam. Di layar ponselnya yang retak, sebuah berita kilat menampilkan bahwa otoritas hukum Jakarta baru saja mengeluarkan surat perintah penangkapan resmi terhadap dirinya atas bukti-bukti manipulasi yang disiarkan secara langsung malam ini.

Reno melepas *headset*-nya dengan perlahan. Ia berdiri dari kursi kayu, menatap sekat tripleks yang memisahkan mereka dengan pandangan yang penuh kemenangan. Ia melihat rekan-rekan setimnya yang langsung melompat dan memeluknya dengan air mata kebahagiaan yang tidak terbendung lagi.

"Kita berhasil, Ren! Kita benar-benar menghancurkan mereka di rumah kita sendiri!" seru Marco dengan suara parau.

Reno tersenyum, menepuk pundak sahabatnya, lalu menoleh ke arah pintu keluar gudang di mana cahaya lampu mobil polisi mulai terlihat berkedip di balik gerimis Tanjung Priok. Perang saraf di Jakarta telah berakhir, dan dari balik kegelapan lantai warnet, Sang One Tap God kini telah benar-benar berdiri di puncak dunia yang bersih, siap menyambut lembaran baru di platform penulisan digitalnya dengan kepala tegak tanpa ada lagi bayangan teror yang bisa menghalanginya.

1
Alia Chans
wow cerita nya menarik, semangat✍️ nya
Ab Je: makasih yahh sudah menyemangati. (🌹)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!