"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"
Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.
Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.
"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: GERBANG UAP DAN PARA PENYAMBUT KARAT
Sensasi jatuh itu berakhir dengan hantaman keras yang membuat paru-paruku seolah terpental keluar dari rongga dada. Aku terengah-engah, mencoba menghirup udara, namun yang masuk ke tenggorokanku hanyalah hawa panas yang pekat dengan aroma oli terbakar dan karat yang menyengat. Lantai yang kupijak bukan lagi aspal Arcapada yang halus, melainkan jeruji besi yang bergetar ritmis oleh deru mesin raksasa di bawahnya.
Aku mencoba membuka mata, namun rasa sakit yang luar biasa langsung menghujam saraf pusatku. Cahaya di tempat ini tidak lagi redup dan abu-abu, melainkan oranye kusam yang menyilaukan, seolah-olah matahari di dunia ini sedang sekarat dan memuntahkan polusi abadi.
"Jangan langsung memaksakan penglihatanmu, Haidar. Energimu sedang bergolak," suara Sersan terdengar di dekatku, tenang namun penuh kewaspadaan.
Aku memijat pelipisku yang berdenyut hebat. "Kita... kita sudah keluar dari Arcapada?"
"Kita di buang ke pinggiran Distrik Senyap. Selamat datang di Baron," jawab Sersan. Aku mendengar bunyi logam beradu, mungkin dia sedang memeriksa senjatanya. "Jubah Putih itu menghancurkan koordinat teleportasi kita sebelum dia lenyap. Dia ingin kita mati di zona rongsokan ini."
Aku memaksakan diri untuk duduk. Saat mataku mulai terbiasa dengan cahaya oranye yang menyakitkan itu, aku terpaku melihat pemandangan di depanku. Kami berada di atas sebuah balkon besi yang menggantung tinggi di antara hutan pipa-pipa raksasa. Cerobong asap setinggi gunung berdiri di segala arah, memuntahkan jelaga hitam yang menutupi langit. Di bawah sana, sejauh mata memandang, hanya ada mesin, roda gigi raksasa yang berputar, dan sungai cairan hitam yang kental. Tidak ada pohon, tidak ada kehidupan organik. Hanya logam dan uap.
"Tempat apa ini, Sersan? Kenapa rasanya begitu... menyesakkan?" tanyaku sambil mencoba berdiri dengan kaki yang masih gemetar.
"Baron adalah manifestasi dari memori tentang kerja keras yang sia-sia, Haidar. Di sini, jiwa-jiwa yang menyerah pada kelelahan di dunia nyata akan diserap dan dijadikan bagian dari mesin. Mereka bekerja selamanya tanpa pernah bisa berhenti," Sersan menjelaskan sambil menunjuk ke arah bawah.
Tiba-tiba, dari balik pipa uap yang bocor, aku mendengar suara derit logam yang memilukan. Krieeet... Bang... Krieeet...
Sesosok makhluk merangkak keluar dari kegelapan uap. Bentuknya menyerupai manusia, tetapi kulitnya sudah menyatu dengan pelat besi yang berkarat. Tangan kanannya telah diganti dengan gergaji mesin yang berputar pelan, sementara tangan kirinya adalah sebuah bor industri yang mengeluarkan percikan api saat bergesek dengan lantai besi. Wajahnya tidak lagi memiliki mata, hanya sebuah lensa kamera tua yang bersinar merah redup.
"The Grinders," bisik Sersan, suaranya mendingin. "Mereka adalah budak-budak mesin yang sudah kehilangan identitasnya. Baginya, kita hanyalah material mentah yang harus diproses."
Satu per satu, makhluk serupa mulai muncul dari sela-sela kontainer tua dan pipa-pipa besar. Ada sekitar dua puluh makhluk yang kini mengepung balkon tempat kami berdiri. Suara gergaji mesin yang serentak menyala menciptakan harmoni horor yang membuat bulu kudukku meremang.
"Sersan, kita harus lari! Mereka terlalu banyak!" seruku panik.
Sersan tidak bergerak mundur sedikit pun. Dia justru menarik pisau tempurnya dan memasang kuda-kuda rendah yang sangat dominan. "Di Baron, tidak ada tempat untuk lari, Haidar. Jika kamu lari, uap panas di pipa-pipa ini akan memanggangmu hidup-hidup. Pilihannya hanya satu: hancurkan mereka sebelum mereka menjadikanmu baut cadangan."
Salah satu Grinder melompat dengan kecepatan yang tak terduga, mengayunkan gergaji mesinnya ke arah kepalaku. Aku memekik, menghindar dengan berguling ke samping. Sersan dengan sigap menangkis serangan makhluk lain, menendangnya hingga terpental menabrak pipa uap.
"Haidar! Gunakan matamu!" teriak Sersan di tengah suara bising mesin. "Kamu sudah menyerap pengetahuan Sang Penjaga! Jangan hanya melihat dengan mata fisikmu, lihat dengan jiwamu! Cari kelemahan mesin-mesin sialan ini!"
Aku teringat pada ledakan buku di Arcapada tadi. Huruf-huruf perak yang merasuki mataku. Aku memejamkan mata, mencoba memanggil energi yang kini bersembunyi di balik rongga mataku. Bekerjalah... aku mohon, bekerjalah!
DEGG!
Jantungku berdegup kencang, dan seketika rasa panas yang luar biasa menyebar dari otak ke bola mataku. Saat aku membuka mata, duniaku berubah total. Segalanya menjadi monokrom, kecuali aliran energi berwarna biru neon yang mengalir di dalam pipa-pipa dan tubuh para Grinders.
Aku terkesiap. Duniaku seolah melambat. Aku bisa melihat gerakan gergaji mesin itu dengan sangat detil, bahkan aku bisa melihat setiap gerigi yang berputar. Di mataku, setiap Grinder memiliki sebuah titik bercahaya merah di bagian tengkuk mereka, tepat di mana kabel saraf menyatu dengan mesin penggerak.
"Sersan! Di tengkuk! Ada katup uap kecil di bawah pelindung leher mereka! Hantam bagian itu!" teriakku, suaraku terdengar bergema di telingaku sendiri.
Sersan tersenyum tipis—sebuah senyum yang jarang kulihat. "Bagus, Prajurit. Sekarang, tetaplah melihat dan berikan aku arah!"
Sersan melesat. Gerakannya begitu efisien dan mematikan. Dia melompat melewati kepala satu Grinder, melakukan putaran di udara, dan menghujamkan pisaunya tepat ke titik merah yang aku tunjukkan. Makhluk itu seketika mematung, uap panas menyembur dari lehernya, dan ia jatuh berdentum ke lantai besi.
"Lagi, Haidar!"
"Dua di belakangmu, Sersan! Rendahkan tubuhmu, hantam bagian engsel lutut kirinya, lalu serang tengkuknya!"
Sersan mengikuti instruksiku dengan presisi yang mengerikan. Dia seolah menjadi mesin pembunuh yang dikendalikan oleh mataku. Namun, di setiap detik aku menggunakan kekuatan ini, kepalaku terasa seperti sedang dibor dari dalam. Rasa panas di mataku meningkat, seolah-olah ada seseorang yang menempelkan besi panas langsung ke bola mataku.
"Argh...!" aku merintih, mencoba mempertahankan fokus. Pandanganku mulai berbayang. Garis-garis energi itu mulai bergoyang.
"Tahan, Haidar! Tinggal lima lagi!" teriak Sersan sambil mematahkan lengan gergaji salah satu musuh.
Aku memaksakan diri. Cairan hangat mulai mengalir dari pelupuk mataku. Aku tahu itu darah. Rasa sakitnya begitu menyiksa hingga aku ingin mencungkil mataku sendiri agar rasa panas ini hilang. Tapi aku tahu, jika aku berhenti sekarang, Sersan akan kewalahan.
"Terakhir... Sersan... yang paling besar di depanmu... Intinya ada di dadanya, di balik pelat baja yang bergetar itu!" aku berteriak dengan sisa tenaga, sebelum akhirnya pandanganku menjadi gelap total karena rasa sakit yang tak tertahankan.
Aku mematikan penglihatan itu seketika dan jatuh tersungkur. Nafasku tersengal-sengal, mataku tertutup rapat, dan aku bisa merasakan darah segar membasahi pipiku. Dunianya kembali normal—panas, bising, dan bau oli.
Aku mendengar bunyi dentuman terakhir, disusul oleh suara uap yang mendesis panjang. Hening sejenak, hanya suara mesin pabrik di kejauhan yang masih menderu.
"Kerja bagus, Haidar," suara Sersan terdengar mendekat. Aku merasakan tangannya yang kasar menyentuh pundakku.
Aku mencoba membuka mata perlahan, tapi cahaya oranye Baron terasa seperti pisau yang menusuk. Aku hanya bisa merintih. "Mataku... Sersan... aku tidak bisa melihat dengan benar..."
"Itu efek sampingnya. Tubuhmu belum sanggup menampung informasi sebanyak itu sekaligus. Pengetahuan Sang Penjaga adalah beban, bukan hanya hadiah," Sersan membantuku duduk dan memberikan secarik kain kusam untuk menyeka darah di wajahku. "Tapi berkat kamu, kita bisa melewati zona rongsokan ini tanpa luka serius."
Aku menyeka darah itu dengan tangan gemetar. "Hanya untuk menghadapi kroco-kroco ini saja aku sudah hampir buta, Sersan. Bagaimana kalau kita bertemu bos distrik ini nanti?"
Sersan menatap ke arah pusat kota Baron, di mana sebuah gedung berbentuk tungku raksasa berdiri dengan angkuh. "Itu sebabnya kita di sini. Di pusat distrik ini, ada Core Energy yang bisa menstabilkan kekuatanmu. Kamu harus kuat, Haidar. Kita baru saja menginjakkan kaki di kota kedua. Masih ada tujuh kota lagi sebelum kita sampai ke Niraksara."
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungku yang masih berpacu. Aku melihat ke bawah balkon, ke arah tumpukan rongsokan Grinders yang kini sudah tidak bernyawa. Aku menyadari satu hal: di dunia ini, aku tidak bisa lagi menjadi ayah yang lemah. Aku harus menjadi monster yang lebih mengerikan daripada mesin-mesin ini jika ingin melihat Kinaya lagi.
"Mari lanjutkan, Sersan. Sebelum mataku benar-benar tidak bisa digunakan lagi," ucapku sambil mencoba berdiri, bersandar pada pipa uap yang panas.
Sersan mengangguk tipis, memimpin jalan menembus labirin pipa dan uap yang membara. Langkah kaki kami menggema di atas lantai besi, menandai dimulainya perburuan kami di Distrik Senyap. Aku tahu, setiap langkah ke depan akan semakin berat, namun bayangan wajah Kinaya di dunia nyata adalah satu-satunya baterai yang menjagaku tetap bergerak