Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Rahasia yang Menjadi Pawai Sirkus
Hari H telah tiba. Kapal pesiar mewah The Majestic Poseidon bersandar di dermaga pribadi dengan kemegahan yang sanggup membuat silau mata siapa pun yang melihatnya. Kapal ini bukan sekadar alat transportasi; ini adalah istana terapung bagi para pendosa kelas kakap. Karpet merah dibentangkan dari bibir dermaga hingga ke dek utama, menyambut para tamu yang mengenakan perhiasan yang nilainya cukup untuk menghidupkan satu negara berkembang selama setahun.
Leon Vancort keluar dari mobil limousin hitamnya. Ia tampak seperti dewa kematian yang baru saja pulang dari penjahit terbaik di Milan. Setelan tuksedo hitamnya membungkus tubuh atletisnya dengan sempurna, rambutnya disisir ke belakang tanpa satu helai pun yang berani membangkang. Namun, fokus utama para pengawal bukan pada Leon, melainkan pada pintu mobil yang masih terbuka.
"Ailen, keluar sekarang. Kita sudah terlambat sepuluh menit," perintah Leon dengan nada yang mencoba tetap tenang meski hatinya was-was.
"Sabar, Mas! Ini talinya nyangkut di bagian yang tidak seharusnya!" teriak suara dari dalam mobil.
Beberapa detik kemudian, Ailen muncul. Seluruh pengawal Vancort serentak menahan napas. Leon sendiri terpaku selama tiga detik penuh. Ailen mengenakan gaun backless berwarna merah marun yang menjuntai hingga lantai. Gaun itu memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat anggun, menonjolkan kulitnya yang bersih dan bahunya yang tegap namun feminin. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajah cantiknya.
"Gimana, Mas? Udah mirip bidadari yang baru turun dari ojek online belum?" tanya Ailen sambil mencoba berjalan mendekati Leon.
Masalahnya hanya satu: Ailen tidak pernah bisa berteman dengan high heels setinggi dua belas sentimeter. Jalannya tidak anggun seperti model Victoria's Secret, melainkan seperti bebek yang sedang mengalami kram otot di tengah jalan berlumpur.
Leon segera menangkap lengan Ailen sebelum gadis itu tersungkur ke aspal dermaga. "Berhenti bertingkah aneh. Ingat, kau adalah tunanganku, pewaris dari keluarga minyak di Timur Jauh. Namamu malam ini adalah Alexandra."
"Alexandra? Ketinggian, Mas. Panggil aja 'Alen-alen' biar lebih akrab sama lidah," sahut Ailen sambil berpegangan erat pada bisep Leon. "Mas, ini sepatunya jahat banget. Rasanya jempol saya kayak lagi dijepit pake tang pemutus rantai. Apa saya lepas aja ya, terus nyeker? Kan temanya 'Kembali ke Alam'."
"Jangan berani-berani," desis Leon sambil mulai melangkah masuk ke kapal.
Begitu mereka menginjakkan kaki di dek utama, kemewahan itu langsung menyergap. Alunan musik klasik dari orkestra kecil menyambut mereka. Pelayan dengan nampan perak berisi sampanye bertebaran di mana-mana.
Leon berbisik di telinga Ailen, "Senyum. Tatap semua orang seolah kau lebih kaya dari mereka semua."
Ailen mencoba tersenyum, tapi karena dia terlalu tegang menyeimbangkan badannya di atas sepatu hak tinggi, senyumnya justru terlihat seperti orang yang sedang menahan buang air besar.
"Mas, itu ada udang gede banget di meja sana!" mata Ailen berbinar saat melihat area prasmanan. "Misi rahasia bisa nunggu kan? Udangnya manggil-manggil nama saya, Mas. Katanya, 'Ailen, makan aku, aku kesepian di antara peterseli ini!'"
"Kita punya target, Ailen. Don Moretti dan perwakilan klan Black Cobra sedang menuju ruang VIP di dek bawah. Kita harus membaur sebelum masuk ke sana," jelas Leon sambil menyapa beberapa kolega bisnis gelapnya dengan anggukan dingin.
Namun, rencana "membaur" Leon hancur dalam waktu kurang dari lima menit.
Kekacauan pertama dimulai saat Ailen mencoba mengambil segelas minuman berwarna biru elektrik dari nampan pelayan yang lewat. Karena tidak terbiasa dengan koordinasi motorik di atas sepatu hak tinggi, tangannya meleset. Gelas itu jatuh, tapi dengan refleks bela dirinya yang luar biasa, Ailen menangkap gelas itu dengan punggung kakinya sebelum menyentuh lantai—persis gerakan pemain sepak bola profesional.
"Hup! Hampir aja!" seru Ailen.
Masalahnya, gelas itu tidak pecah, tapi isinya menyiprat ke gaun putih seorang sosialita di sampingnya. Wanita itu berteriak histeris, "Gaunku! Ini sutra asli dari ulat yang hanya makan daun emas!"
Ailen langsung mengambil serbet dari meja terdekat dan mulai menggosok gaun wanita itu dengan semangat. "Maaf, Mbak! Tenang, ini saya bersihin. Eh, kok malah makin biru ya? Wah, Mbak, kayaknya ini bukan sutra deh, ini mah kain pelapis sofa ya? Kok baunya kayak bahan kimia?"
Wanita itu hampir pingsan karena dihina secara tidak langsung, sementara Leon segera menarik Ailen menjauh sebelum keributan semakin besar. "Ailen, kubilang membaur, bukan membuat kerusuhan!"
"Saya kan mau bantu, Mas! Mbaknya aja yang sensi," gerutu Ailen.
Mereka akhirnya berhasil masuk ke area yang lebih eksklusif. Di sana, Don Moretti sedang duduk bersama seorang pria bertato ular di lehernya—perwakilan Black Cobra. Suasana di ruangan itu sangat berat, penuh dengan aroma cerutu mahal dan ancaman terselubung.
Leon mendekat dengan karisma yang tak tertandingi. "Don Moretti. Lama tidak berjumpa."
Moretti mendongak, matanya yang tua dan licik menatap Leon, lalu beralih ke Ailen. "Ah, Vancort. Dan ini... Alexandra, tunanganmu yang cantik itu?"
"Benar," jawab Leon singkat.
Ailen teringat instruksi Leon untuk menjadi "gadis tanpa otak yang cantik". Ia langsung berakting. Ia memiringkan kepalanya, memainkan rambutnya dengan jari, dan berkata dengan suara yang dibuat-buat manja, "Halo Om Moretti... Om, kumisnya lucu deh, mirip sikat wc di rumah saya. Beli di mana? Saya pengen beliin buat kucing saya si Oyen."
Hening.
Leon menutup matanya sejenak, memohon kekuatan pada semesta agar tidak mencekik tunangan palsunya saat itu juga. Para pengawal Moretti sudah memegang gagang senjata mereka.
Don Moretti justru tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Vancort, tunanganmu ini sangat jujur! Aku suka! Jarang ada orang yang berani membandingkan kumis legendarisku dengan alat pembersih toilet."
Leon sedikit bernapas lega. "Dia memang... unik."
"Mari kita bahas bisnis," ajak Moretti. "Tapi sepertinya wanitamu ini akan bosan mendengarkan angka-angka perdagangan pelabuhan."
"Alexandra, pergilah ke dek luar. Aku akan menyusulmu sebentar lagi," kata Leon, memberikan kode bahwa Ailen harus mulai menjalankan tugas keduanya: memasang alat penyadap di ruang kontrol yang letaknya di dekat dek luar.
"Oke, Mas Sayang! Jangan lama-lama ya, nanti aku kangen kayak dapet surat tagihan listrik," Ailen memberikan ciuman jauh (yang sangat tidak elegan) pada Leon dan keluar dari ruangan.
Namun, yang namanya Ailen, jalan menuju ruang kontrol tidak pernah lurus. Di koridor, ia mencium aroma gorengan yang sangat akrab di hidungnya.
"Lho? Kok ada bau bawang goreng? Ini kapal pesiar atau pasar malam?" gumam Ailen. Ia mengikuti indra penciumannya yang tajam dan berakhir di dapur belakang yang sedang sibuk mempersiapkan hidangan penutup.
Di sana, seorang koki sedang kesulitan memutar atraksi pizza. Adonan pizzanya selalu jatuh. Jiwa "semprul" Ailen meronta-ronta. Ia lupa akan misi penyadapan. Ia lupa pada gaun merahnya.
"Sini, Om! Biar saya tunjukin cara muter yang bener!" Ailen menyingsingkan sedikit gaunnya hingga memperlihatkan kaki jenjangnya yang masih memakai sepatu hak tinggi yang ia benci.
Ia menyambar adonan pizza itu, memutarnya di atas telunjuknya dengan kecepatan yang mengerikan, lalu melemparnya ke udara. Adonan itu berputar tinggi, melewati lampu gantung, dan kembali jatuh tepat di tangan Ailen. Para koki di dapur itu bersorak dan bertepuk tangan.
"Lagi! Lagi!" teriak mereka.
Ailen semakin bersemangat. Ia mulai melakukan gerakan akrobatik, menggunakan nampan perak sebagai alat musik perkusi sambil tetap memutar adonan. Dalam waktu sepuluh menit, dapur kapal pesiar itu berubah menjadi panggung sirkus dadakan.
Sementara itu, Leon yang sedang tegang bernegosiasi dengan Moretti, mendengar suara gaduh dari arah dapur melalui alat komunikasinya. "Ailen? Apa kau sudah di ruang kontrol?"
"Bentar, Mas! Lagi ada request adonan pizza ukuran jumbo nih! Ternyata muter adonan itu mirip teknik kuncian leher klan Moretti, bedanya ini lebih elastis!" jawab Ailen melalui mikrofon kecil di telinganya.
Leon hampir saja menghancurkan gelas sampanyenya. "AILEN! PASANG PENYADAPNYA SEKARANG!"
"Aduh, Mas! Jangan teriak, nanti adonannya kempes!"
Ailen akhirnya sadar ia punya tugas. Ia berpamitan pada para koki (yang sekarang memanggilnya "Ratu Pizza") dan berlari menuju ruang kontrol. Namun, di sana ia dihadang oleh dua penjaga klan Black Cobra yang sedang berpatroli.
"Mau ke mana, cantik?" tanya salah satu penjaga dengan seringai menjijikkan.
Ailen langsung kembali ke mode Alexandra-nya yang manja. "Aduh, Mas-mas yang ganteng tapi bau jengkol... saya lagi nyari toilet. Ini perut saya mules gara-gara kebanyakan makan udang tadi. Boleh lewat nggak? Kalau saya 'meledak' di sini nanti karpetnya bau lho."
Para penjaga itu tertawa dan mencoba memegang bahu Ailen. Itu adalah kesalahan terakhir mereka malam ini.
Ailen menangkap tangan salah satu penjaga, menariknya ke depan, dan melakukan sundulan kepala tepat ke hidung pria itu. Krak! Pria kedua mencoba mencabut pistol, tapi Ailen lebih cepat. Ia melakukan tendangan memutar—yang membuat gaun mewahnya berkibar indah—dan mendaratkan tumit sepatunya tepat di ulu hati penjaga tersebut.
Dua pria bertubuh besar itu tumbang dalam hitungan detik.
"Nah, gitu dong. Kan enak kalau diem," gumam Ailen. Ia segera masuk ke ruang kontrol, menempelkan alat penyadap di bawah meja utama, dan keluar seolah tidak terjadi apa-apa.
Kembali ke ruang VIP, Leon sudah mulai berkeringat dingin. Negosiasi hampir selesai, dan Moretti mulai curiga karena Ailen tak kunjung kembali.
"Mana tunanganmu, Vancort? Apa dia tersesat di kapalku yang luas ini?" tanya Moretti dengan nada mengancam.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Ailen masuk dengan napas sedikit terengah, rambutnya sedikit berantakan, dan... ia membawa sepotong pizza besar di tangannya.
"Mas Leon! Maaf lama! Tadi aku harus... anu... bantu koki nyelamatin adonan yang mau bunuh diri!" Ailen langsung duduk di samping Leon dan menggigit pizzanya dengan lahap di depan para mafia yang sedang membicarakan bisnis jutaan dolar.
Leon hanya bisa menunduk, menutupi wajahnya dengan tangan. "Moretti... mohon maaf. Dia... dia punya kondisi medis di mana dia harus makan karbohidrat setiap tiga puluh menit, atau dia akan mulai menggigit orang di sekitarnya."
Don Moretti menatap Ailen dengan heran, lalu tertawa lagi. "Vancort, kau membawa wanita yang sangat aneh. Tapi aku akui, keberaniannya sangat menghibur."
Pertemuan berakhir. Leon dan Ailen berjalan keluar menuju dek luar untuk menghirup udara segar dan menunggu jemputan. Kapal pesiar itu terus melaju di tengah kegelapan laut, namun di mata Leon, segalanya terasa jauh lebih terang dari biasanya.
"Penyadapnya sudah terpasang?" tanya Leon saat mereka sudah berdua di bawah cahaya bulan.
"Beres, Mas. Aman terkendali," sahut Ailen sambil menyandarkan kepalanya di bahu Leon. "Tapi Mas... kaki saya beneran mau putus. Boleh nggak saya lepas sepatunya sekarang?"
Leon menatap Ailen. Di bawah sinar bulan, gadis itu tampak sangat memukau. Kekonyolannya, keberaniannya, dan cara dia menghancurkan ketegangan dunia mafia benar-benar membuat Leon jatuh lebih dalam.
"Lepaskan saja," kata Leon lembut.
Ailen langsung melemparkan sepatu mahalnya ke laut. "BYE BYE SEPATU JAHAT! JANGAN BALIK LAGI YA!"
Leon hanya bisa menggelengkan kepala. "Itu sepatu seharga mobil, Ailen."
"Bodo amat, Mas. Yang penting nyaman." Ailen kemudian menatap Leon dengan tulus. "Mas... makasih ya udah ajak saya ke pawai sirkus... eh, maksudnya misi rahasia ini. Seru juga ya jadi orang kaya."
Leon menarik Ailen ke dalam pelukannya. "Ini baru permulaan, Ailen. Setelah kita dengar isi penyadap itu, perang yang sesungguhnya akan dimulai."
"Nggak takut, Mas. Selama ada Mas Leon dan persediaan pizza yang cukup, saya siap tempur!"
Di tengah laut yang tenang, di atas kapal yang penuh dengan pengkhianatan, seorang Raja Mafia dan Gadis Semprul itu berdiri bersama. Misi rahasia mereka mungkin berubah menjadi pawai sirkus, tapi bagi Leon, itu adalah pertunjukan terbaik yang pernah ia tonton seumur hidupnya.
"Ailen?"
"Ya, Mas?"
"Besok aku akan membelikanmu sandal jepit ijo sebanyak satu kontainer. Supaya kau tidak perlu lagi memakai sepatu 'jahat' itu."
Ailen bersorak kegirangan dan memeluk Leon erat-erat, membuat sang Raja Mafia itu akhirnya tahu, bahwa kebahagiaan sejati ternyata hanya seharga sepasang sandal jepit hijau.
kya martabak komplit👍👍👍
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍