NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Di Istana: Ratu Penguasa

Ruang Ajaib Di Istana: Ratu Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.

Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.

Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.

Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.

Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 23.

Malam turun perlahan di istana, suasana kerajaan tetap tegang.

Sejak Alexander dinyatakan koma, para bangsawan mulai bergerak diam-diam. Beberapa keluarga mulai mendekati William, dan beberapa menteri mulai berubah sikap. Dan sebagian pasukan mulai terpecah, persis seperti yang diinginkan Alexander.

Karena sejak awal, serangan di pegunungan itu memang sudah ia duga. Alexander tahu, William mulai kehilangan kesabaran. Dan satu-satunya cara untuk memancing pemberontakan keluar sepenuhnya… adalah membuat William percaya dirinya sudah menang.

Maka Alexander memilih terluka, dan hanya sedikit orang yang mengetahui kebenarannya.

Hanya Bernard.

Lord Vincent.

Dan tabib pribadi raja.

Bahkan Evelyn tidak tahu, karena Alexander tahu... wanita itu terlalu cerdas. Kalau Evelyn tahu dirinya baik-baik saja, reaksinya tidak akan cukup nyata. Dan William pasti akan curiga. Karena itu, Alexander membiarkan Evelyn percaya dirinya benar-benar sekarat.

Evelyn baru saja kembali dari aula rapat, hari itu melelahkan. Tiga menteri wilayah mulai terang-terangan mendukung William, dan beberapa keluarga bangsawan mulai mencoba menekan keputusan ratu. Namun Evelyn menghancurkan semuanya tanpa memberi celah, ia bahkan mulai memegang stempel kerajaan secara langsung.

Sekarang, setiap perintah militer dan perdagangan harus melewati dirinya. Begitu masuk ke kamar, Evelyn menghela nafas panjang. Ruangan gelap, dan sunyi. Tak ada pelayan, sebelum diperintahkan datang olehnya. Ia berjalan perlahan sambil melepas jubah luar, pikirannya masih dipenuhi banyak hal.

William.

Pemberontakan.

Alexander.

Tatapannya sedikit berubah saat memikirkan pria itu, sudah tiga hari dan Alexander belum juga sadar. Tabib terus berkata kondisinya stabil, namun tetap tidak bangun. Evelyn merasa istana terlalu sepi tanpa pria itu.

Tapi sebelum ia sempat melangkah lebih jauh ke dalam ruangan, tiba-tiba sebuah tangan membekap mulutnya dari belakang. Mata Evelyn langsung membelalak, tubuhnya refleks bergerak.

Namun pria itu sangat kuat.

“Mm—!”

Insting bertahannya langsung aktif, Evelyn segera meraih sesuatu di balik lengan bajunya. Pistol kecil yang baru saja selesai dibuat, senjata pertama yang berhasil dibuat diam-diam menggunakan teknologi Ruang Ajaib. Meski kecil, pelurunya cukup untuk membunuh dalam jarak dekat.

Evelyn langsung mengarahkannya ke belakang tanpa ragu.

Namun tepat sebelum ia menarik pelatuk, suara rendah terdengar dekat telinganya.

“Kalau kau menembak…” Suara itu pelan, tapi sangat familiar. “Aku benar-benar bisa mati kali ini.”

Tubuh Evelyn langsung membeku, matanya membelalak. Perlahan, pria di belakangnya melepaskan tangan dari mulutnya.

Evelyn langsung berbalik cepat, seketika napasnya tertahan. Alexander, pria itu berdiri di depannya. Masih sedikit pucat dan ada perban di kepalanya tapi pria itu terlihat sadar sepenuhnya.

Tatapan Evelyn kosong beberapa detik, seolah otaknya menolak memahami kenyataan. “Kau…”

Alexander menatap pistol kecil di tangan Evelyn, ia tersenyum samar.

“Aku baru sadar ratuku ternyata benar-benar berbahaya.”

Evelyn tidak menjawab, karena emosinya langsung naik sekaligus.

Marah.

Kaget.

Lega.

Dan semua bercampur menjadi satu.

“Kau hidup?”

Alexander mengangkat alis tipis.

“Kalau tidak hidup, siapa yang berdiri di depanmu sekarang?”

Evelyn langsung mendorong dada pria itu keras. “Dasar gila!”

Alexander sedikit terkejut, tidak menyangka Evelyn benar-benar marah.

“Kau tahu semua orang mengira kau koma?!”

“Aku tahu.”

“Kau tahu aku—”

Evelyn berhenti mendadak, karena Alexander memperhatikannya sangat tenang sekarang.

Tatapan pria itu berubah sedikit lembut. “Kau apa?”

Evelyn langsung memalingkan wajah, tapi Alexander sudah melihat semuanya.

Kekhawatiran.

Ketakutan.

Dan kepanikan yang selama ini disembunyikan Evelyn.

Alexander melangkah mendekat perlahan. “Aku harus melakukannya, William terlalu hati-hati. Aku butuh dia bergerak lebih jauh...”

Evelyn menggenggam pistol kecilnya erat. “Jadi kau sengaja membuat semua orang percaya kau hampir mati dan tak ada harapan untukmu, termasuk aku?”

Alexander mengangguk.

“Dan itu berhasil.” Ia berjalan menuju meja lalu membuka beberapa surat, tatapannya menggelap. “Selama tiga hari ini… William mulai menghubungi lebih banyak komandan militer. Beberapa bangsawan juga mulai mengumpulkan pasukan diam-diam.”

Alexander tersenyum dingin. “Sekarang, aku punya cukup alasan untuk menghancurkannya.”

Evelyn memperhatikan pria itu beberapa detik, dan tiba-tiba sadar sesuatu. “Kau bahkan tidak memberitahuku.”

Alexander menoleh.

“Karena aku butuh reaksimu tetap nyata.”

Jawaban itu, justru membuat Evelyn semakin kesal. “Aku benar-benar mengira kau akan mati...”

Suara Evelyn melemah sedikit di akhir kalimat, Alexander terlihat diam cukup lama. Tatapannya perlahan berubah dalam, dan pria itu berjalan mendekat lagi.

“Kalau aku benar-benar mati…” Tangannya perlahan menyentuh wajah Evelyn. “Apa kau akan sedih?”

Evelyn langsung menatapnya tajam. “Jangan tanyakan hal bodoh.”

Alexander justru tersenyum, karena itu sudah cukup menjadi jawaban.

Hening beberapa detik.

Lalu Alexander melirik pistol kecil di tangan Evelyn lagi, tatapannya penuh rasa penasaran. “Aku belum sempat bertanya, senjata apa itu?”

Tatapan Evelyn masih tajam meski Alexander berdiri sangat dekat di depannya, tapi pria itu justru terlihat santai. Terlalu santai untuk seseorang yang baru saja berpura-pura koma dan membuat seluruh kerajaan kacau.

“Jadi?” Alexander kembali melirik pistol kecil di tangan Evelyn. “Apa itu?”

Evelyn menghela napas pelan lalu menyimpan senjata itu kembali ke balik lengan bajunya.

“Senjata kecil.”

Alexander mengangkat alis. “Penjelasan yang luar biasa detail.”

“Kalau ditembakkan dari jarak dekat, benda itu bisa membunuh seseorang sebelum dia sempat menghunus pedang.”

Untuk sesaat, Alexander benar-benar diam. Tatapannya berubah tertarik. “Kau benar-benar membawa dunia lain ke istana ini.”

Evelyn berjalan menuju meja lalu menuangkan teh untuk dirinya sendiri.

“Dan dunia lain itu... sedang membantuku tetap hidup.”

Alexander perlahan berjalan mendekat dari belakang. “Kau masih marah?”

“Menurutmu?”

Alexander tersenyum kecil. “Sedikit.”

“Sedikit?” Evelyn menoleh tajam. “Aku hampir mengambil alih kerajaan sepenuhnya karena mengira kau akan mati.”

“Dan kau melakukannya dengan sangat baik.”

Jawaban itu membuat Evelyn makin kesal. “Alexander.”

Namun alih-alih menjaga jarak, Alexander justru mendekat lagi sampai tubuh mereka hampir bersentuhan.

“Aku minta maaf.” Kalimat itu keluar pelan, dan cukup mengejutkan Evelyn. Karena Alexander jarang meminta maaf.

Pria itu mengangkat tangan perlahan lalu menyentuh ujung rambut Evelyn. “Tapi aku tidak menyesal.”

Tatapan mereka bertemu.

“Karena sekarang aku tahu sesuatu.” Alexander tersenyum samar. “Kau benar-benar mengkhawatirkanku.”

Evelyn langsung memalingkan wajah, tapi Alexander sudah melihat perubahan kecil di matanya dan itu cukup membuat pria itu puas.

Ruangan perlahan menjadi sunyi.

Tidak ada pembahasan soal William.

Tidak ada strategi perang.

Tidak ada politik.

Hanya mereka berdua.

Alexander perlahan menarik pinggang Evelyn mendekat, namun begitu tubuhnya sedikit bergerak wajahnya menegang samar.

Evelyn langsung menyadari. “Kau masih terluka.”

“Tidak separah itu.”

“Berhenti berpura-pura kuat.” Evelyn mendorongnya pelan duduk di tepi ranjang.

Alexander tertawa kecil. “Ratuku mulai suka memerintah.”

“Kau memang sulit diatur.”

Evelyn berdiri di depan pria itu, tatapan mereka saling bertahan cukup lama. Lalu perlahan, jemari Evelyn menyentuh kerah pakaian Alexander.

Alexander menatapnya tanpa berkedip. “Kau yakin masih marah?”

Evelyn membuka ikatan jubah pria itu perlahan. “Aku masih marah.”

“Namun?”

Tatapan Evelyn turun sekilas ke luka di kepala Alexander, lalu kembali ke mata pria itu.

“Untuk malam ini… aku terlalu lelah untuk terus kesal.”

Senyum Alexander langsung berubah lebih dalam. Dan saat itu, tidak ada pembahasan apapun lagi. Hanya dua orang yang membiarkan diri mereka saling mendekat.

Alexander bersandar di kepala ranjang sementara Evelyn berada dekat di hadapannya. Tatapan pria itu perlahan menggelap saat melihat Evelyn mengambil alih kendali dengan tenang.

“Sepertinya kau belajar cepat,” gumam Alexander rendah.

Evelyn menatapnya tanpa malu kali ini. “Aku hanya tidak ingin lukamu terbuka lagi.”

Alexander justru terlihat semakin menikmati keadaan, tangannya perlahan menggenggam pinggang Evelyn.

“Kalau begini…” Suaranya semakin rendah. “Aku mungkin akan sengaja terluka lebih sering.”

Evelyn langsung menatap tajam. “Jangan bercanda.”

Alexander tertawa pelan, namun tawanya segera berubah menjadi helaan napas berat saat Evelyn mulai menciumnya.

Malam itu, Evelyn tidak lagi menjaga jarak. Dan Alexander menyadari sesuatu yang berbahaya. Wanita itu begitu mulai membuka dirinya, jauh lebih memabukkan dari yang ia bayangkan. Keduanya pun... larut dalam kehangatan dan keintiman sebagai suami istri.

Waktu berlalu tanpa terasa, hingga akhirnya Evelyn bersandar lelah di dada Alexander. Napas keduanya masih belum sepenuhnya stabil.

Alexander mengusap pelan rambut wanita itu, tatapannya penuh kepuasan yang jarang terlihat. “Kau benar-benar tidak mengecewakan.”

Evelyn langsung mencubit lengannya pelan. “Diam.”

Alexander justru tertawa kecil, ia mendekat ke telinga Evelyn. “Mulai sekarang, mungkin aku harus lebih sering membiarkanmu mengambil alih. Selain mengambil alih tahtaku… kau juga bisa mengambil alih urusan di ranjang.”

Wajah Evelyn langsung memanas, Alexander terlihat sangat menikmati reaksi ratu-nya. Dan untuk beberapa jam malam itu, kerajaan boleh kacau. William boleh merencanakan pemberontakan, dan seluruh istana boleh saling menikam.

Namun di dalam kamar itu, Raja Alexander dan Ratu Evelyn akhirnya menemukan sesuatu yang lebih berbahaya daripada perang. Mereka mulai benar-benar... jatuh cinta satu sama lain.

1
Miss Typo
Raja dan Ratu bikin perasaan campur aduk, harusnya formal aja eh romantis bgt lagi 🤣
Tiara Bella
so sweet bngt ya raja Alexander sm ratu Evelyn.....😍
Rita
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
😅😅😅😅😅
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣
Rita
😅😂😂😂😂😂
Rita
wah siap2 evelyn ngambek😅😂😂
Rita
waahhhh👍👍👍👍
Nyonya Gunawan
Kirain alex beneran koma..😄😄
Tpi bgus jg sich biar di lihat kala ma wili
Rita
ceritanya bagus,seru,tegang g betele2
Rita
berani macam2 tunggu pembalasan ku😅😂pov evelyn
Rita
bangun̈in singa betina
Rita
ikut panik
Rita
waspada yg bs dilakukan plus bersiap
Rita
peka
Rita
waspada
Rita
tuh 🔥🔥🔥🔥
Rita
saling terbuka 👍👍👍👍apa yg dirasakan apa yg dipikirkan
Rita
wajar Eve
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!