Monster itu menginginkan darah, aku berlari menjauh darinya. Dia selalu menemukan keberadaanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ins, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumit
"Terimakasih sudah menjemputku." Ujar Irna setelah turun dari mobil Rian, mereka bersama-sama masuk ke dalam rumah Irna.
Dia tidak melihat wajah masam suaminya sejak di perjalanan, ada sesuatu yang melangsak di dalam pikiran pria itu. Sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman dan berhubungan dengan Irna.
"Hem." Jawab Rian pendek sambil meletakkan jas hitamnya di gantungan kamarnya.
"Irna, kamu suka sekali jika aku terlihat bodoh ya?!" Cetus Rian membuat gadis yang baru tiba di rumahnya itu mengeryitkan dahinya.
Rian berkata demikian seraya membuka kancing kemeja putih miliknya dia melihat wajah bingung istrinya, dia tahu Irna tidak mengerti dengan luapan kecemburuan yang melingkupi hatinya saat ini.
Irna masih bingung dengan perkataan Rian saat itu, dan kenapa dia tiba-tiba terlihat marah setelah mereka tiba di rumah.
"Apa maksudmu?" Tanya gadis itu tidak mengerti, masih terus menatap wajah masam suaminya.
"Aku terkadang sampai bingung, sebetulnya siapa suamimu? aku atau Fredian?" Pria itu berjalan mendekat ke arah Irna. Menahan tubuh gadis itu dengan kedua tangannya bersandar ke dinding.
Dada Irna berdebar-debar, dia merasa pria di depannya sekarang ini sedang sangat tidak bisa berkompromi dengannya. Dan dia akan mempertahankan pendapatnya mengenai dirinya sampai akhir.
Dia merasa selalu saja di dahului oleh Fredian. Dia merasa jika dirinya sangat jauh dari Irna. Dia suami tapi terlihat seperti seorang teman baginya.
Irna merasa sangat gugup karena Rian mulai menanyakan status hubungan dirinya dengan Fredian.
"Ten, tentu saja kamu suamiku. Bukankah status kita sekarang sudah jelas seperti itu?" Ujar Irna sedikit gugup, gadis itu keluar dari kurungan tangan Rian melewati bawah lengannya kemudian berlari mengambil handuk. Masuk dan menghilang ke dalam kamar mandi.
Beberapa saat kemudian dia sudah selesai mandi, Irna keluar dari kamar mandi mengikat rambut basahnya dengan selembar handuk.
"Lalu, kenapa dia selalu lebih awal tahu segala hal yang terjadi padamu?" Lanjut Rian lagi dengan tatapan mata tidak senang.
"Mungkin dia sangat berlebihan, he he he, dia terlalu memperhatikanku, jadi walaupun ada seekor semut yang melintas di lenganku, dia juga tahu." Ujar Irna mencoba meredam amarah dan kecemburuan di hati suaminya itu.
Tapi amarah Rian tidak mereda bahkan terlihat semakin menjadi, dia terus mengejar pertanyaan disusul dengan pertanyaan yang lain.
Irna merasa sangat lelah karena belum beristirahat sama sekali sejak berada di rumah Reynaldi. Dia hanya memikirkan cara untuk kabur ketika berada di sana. Dan sekarang Rian terus menginterogasi hubungan antara dia dengan Fredian.
Irna duduk di depan cermin meja rias, dia membersihkan wajahnya dengan kosmetik yang berjajar rapi di atas meja riasnya.
"Bisakah kamu lebih bersikap terbuka kepadaku?" Ujar Rian sambil melihat wajah gadis itu dengan tatapan serius. Memegang kedua bahunya.
Terlihat dari sinar mata pria itu dia mengharapkan kedekatan dan keharmonisan antara suami istri. Dia ingin Irna menggantungkan hidup sepenuhnya pada dirinya.
"Aku masih menyesuaikan diri denganmu, kita baru menikah beberapa bulan yang lalu. Dan pernikahan kita terjadi juga tanpa persetujuan dariku, aku tidak punya pilihan selain harus menerima bahwa Rian Aditama adalah suamiku." Ujar Irna dengan wajah tertunduk menatap lantai di bawah kakinya.
"Dia yang memaksakan diri menerobos pernikahanku dengan Fredian, lalu kenapa aku yang harus menangisi pernikahan tragisku dengannya?! Kenapa seolah-olah segalanya adalah aku yang salah, kenapa sepertinya malah akulah yang terus membuat masalah?" Bisik Irna di dalam hati.
"Dan waktu itu hatiku masih berupa serpihan yang hancur. Bahkan sekarang masih belum terkumpul, masih terasa ada beberapa retakan."
Jelas Irna sambil menatap wajah Rian, wajah pria itu terlihat sangat berharap padanya untuk menerima dirinya dengan sepenuh hati.
"Aku tidak berharap apapun padamu, bahkan jika kamu ingin pergi, aku tidak akan pernah menahanmu untuk tetap bersamaku." Jelas Irna padanya, gadis itu menitikkan air matanya hingga jatuh membasahi kakinya.
"Maafkan aku. Kamu boleh menyalahkanku, karena aku sudah menolak Fredian tapi aku tetap tidak bisa melepaskan diri dari pelukannya." Gadis itu mulai terisak, bahunya terguncang menahan tangis.
Rian tidak menjawab, perlahan berdiri masuk ke dalam kamar mandi. Bunyi air gemericik jatuh ke lantai.
Setelah keluar dari kamar mandi, melihat Irna sudah telungkup di atas tempat tidurnya.
Rian berjalan mendekat menyelimuti tubuh istrinya. Tubuh kecil Irna terlihat semakin kurus.
Rian berjalan ke dapur membuat sup untuk Irna. Kemudian membangunkannya.
"Irna? kamu belum makan dari tadi, makanlah.."
Gadis itu perlahan membuka matanya bangkit duduk di tepi tempat tidur.
"Terima kasih, kamu selalu perhatian padaku. Bukan salahmu jika kamu merasa di dahului oleh Fredian, kamu juga tahu bagaimana dia terlalu berlebihan dengan segala hal tentangku." Jelas Irna sembari menyuap sup ke dalam mulutnya.
"Kamu cukup menjadi dirimu, Fredian juga tetap menjadi dirinya. Aku sama sekali tidak pernah membanding-bandingkan antara kalian yang satu dengan yang lainnya."
"Jangan merasa rendah di hadapanku, aku hanya wanita biasa yang tidak cukup pantas untuk merendahkan seorang Rian Aditama.." Ujar Irna lagi sembari meletakkan mangkuk kosong di atas meja.
Rian duduk di dekat Irna, menyentuh pipinya dengan lembut. Mengecup keningnya, hidungnya, mengulum bibirnya dengan lembut.
Perlahan mendorong tubuh Irna berbaring di atas tempat tidur. Menyelimuti tubuhnya.
Kemudian beranjak pergi.
"Kamu mau kemana?" Tanya Irna melihatnya hendak pergi.
"Aku akan tidur di sofa." Seutas senyum terukir di bibirnya. Pertanda amarah Rian sudah mereda.
"Kenapa tidak tidur di sini?" Dengan agak gugup Irna bergeser ke samping.
"Kamu ingin aku menemanimu?" Pura-pura bertanya.
"Pria ini! biasanya saja langsung ambil keputusan dan berkali-kali menegaskan kalau dia adalah suamiku! tanpa bertanya dan bertindak sesuka hatinya! sekarang pura-pura bertingkah lamban!" Gerutu Irna.
"Kamu bicara apa barusan?" Tanya Rian menahan tubuh Irna dengan kedua lengannya di bawah tubuhnya.
"Ah tidak ada, tidurlah sudah sangat malam!" Ucapnya tiba-tiba. Memalingkan wajahnya ke samping, menghindari tatapan Rian.
"Kenapa kamu menatap dinding?! apakah dinding itu lebih tampan dariku?" Tanyanya lagi. Rian dengan sengaja menggoda Irna.
"Astaga kamu bahkan tidak percaya diri sama sekali, bagaimana mungkin kamu membandingkan dirimu dengan din...ding" Belum selesai berkata Rian sudah mengulum habis bibirnya.
"Cepat selesaikan." Ujar Irna tiba-tiba.
"Aku bisa menahannya tiga jam lagi" Bisik pria itu di telinga Irna.
"Tidak boleh, harus cepat!" Ujar Irna dengan wajah serius.
"Baiklah, aku selesaikan sekarang." Ujar Rian melihat wajah Irna sedang tidak bergurau. Beberapa menit kemudian dia turun dari tempat tidur.
"Cepat!" Perintah Irna lagi.
"Kenapa harus turun?" Tanya Rian tidak mengerti.
Irna menunjuk seprei yang basah dengan darahnya. Menarik sprei tersebut dari tempat tidurnya. Irna melemparkan selimut ke arah Rian.
"Sampai kapan kamu akan telanjang! tutupi dengan ini!" Ujarnya menatap Rian yang masih terbengong menatap bingung ke arahnya.
Irna berlari ke dalam kamar mandi menyiram bekas-bekas darah di atas seprei, juga sekujur tubuhnya dengan air shower.
Gadis itu keluar dari dalam kamar mandi dengan selembar handuk, lalu mengambil sprei baru dari dalam lemari. Kemudian memakai bajunya.
"Trak! Trak! Trak!" Jendela rumah berbunyi berisik.
Rian segera memungut pakaian dan memakainya kembali. Di lihatnya jendela ada beberapa mahluk berkuku panjang, menggoreskan tangan di daun jendela.
Mereka mendorong daun jendela hingga timbul suara berisik. Mahluk yang datang semakin banyak dan membabi buta mencari jalan untuk masuk ke dalam rumah Irna.
"Bagaimana mungkin darahmu, apakah mungkin kamu masih gadis?!" Tanya Rian tidak mengerti, karena saat mereka melakukan sebelumnya Irna tidak mengeluarkan darah.
"Itu, aku selalu kembali seperti semula, maksudku kegadisanku setelah dua puluh empat jam. Sebelumnya, belum dua puluh empat jam aku melakukannya, jadi ketika kamu melakukannya tidak ada darah! beberapa waktu lalu aku sudah menceritakan tentang itu padamu." Jelas Irna membuat suaminya kembali terdiam.
"Jika kamu tidak bisa memaafkan diriku, aku juga tidak akan menahanmu untuk tetap bersamaku." Jelas Irna segera, dia tahu jika Rian tidak akan menerima hal itu.
"Kamu selalu memiliki celah untuk melakukan dengannya!" Ujar Rian lagi sambil tersenyum sinis.
"Lalu bagaimana kamu tidak terkejar oleh mereka?" Rian menunjuk ke arah jendela di mana mahluk itu masih berkerubung karena mencium aroma darah.
"Dia, membawaku ke dasar kolam." Ungkap Irna berterus terang.
"Sekarang aku tahu, kalian selalu menghadapinya bersama-sama. Haruskah aku mengembalikan dirimu padanya?!" Rian mulai putus asa.
"Itu terserah padamu, aku tidak akan memintamu untuk mengembalikanku padanya, seolah aku yang memegang keputusan! padahal sejak awal kalian yang membuat posisiku jadi sangat rumit!!" Jawab Irna jujur. Dia sendiri merasa jengah harus terus disalahkan.
"Jika aku memintamu untuk menolak Fredian untuk satu hal itu, apakah kamu bisa berjanji padaku?!" Tukas Rian lagi.
Irna menatap Rian, kemudian berkata.
"Jika aku berkata tidak, apakah kamu akan menyerahkan aku kembali padanya?"
Ujar gadis itu sambil menahan air matanya yang hampir merembes melalui celah-celah bulu mata lentiknya.
"Aku bertanya padamu, apakah kamu ingin kembali dengannya?! jika iya katakan sekarang, dan jika tidak katakan padanya kamu memutuskan dirinya!" Ujar Rian dengan gusar.
Rian ingin memiliki gadis itu dengan utuh, sebagai seorang pria berpendidikan dan terhormat dia merasa tidak ingin di duakan oleh gadis yang sangat diinginkan oleh dirinya itu.
Apalagi Irna memiliki daya pikat yang luar biasa, ketika pria melihatnya akan membuat pria tersebut tertarik ingin mendekatinya.
Selain aroma tubuh gadis itu yang sangat misterius, tatapan matanya yang jernih mengandung magnet tersendiri membuat pria tunduk di hadapannya.
Rian menyukai keunikan dan sisi tersendiri pada diri Irna yang tidak pernah dijumpainya pada kebanyakan gadis lainnya.
Pria itu tidak akan melepaskan gadisnya, dan tidak ingin membaginya dengan siapapun.
"Apa kamu bercanda denganku?! bahkan aku sudah menolaknya ketika kami berada di hotel saat dia bertunangan dengan Siska! dan aku tidak akan mau pulang ketika dia menghubungimu saat dia melakukan pertama kalinya denganku!" Balas Irna dengan wajah tidak percaya melihat wajah Rian yang sama marahnya dengan dirinya.
"Dan aku diam saja ketika kamu membawaku pulang ke rumah besarmu, dan meninggalkan dia dalam keputus asaan???!" Tandas Irna lagi merasa masih kesal dengan tuduhan bertubi-tubi padanya.
"Sebenarnya aku berada di sini untuk siapa?" Gerutu Irna tanpa memelankan suaranya pada Rian.
"Lalu haruskah aku diam saja ketika harga diriku kamu injak-injak? dengan sadar kamu melakukan hal itu dengannya! bahkan kamu tidak bisa berjanji padaku untuk tidak melakukannya???!" Rian berteriak di depan wajah Irna, dia tidak rela jika Fredian setiap saat akan meniduri istrinya.
Pria itu merasa tidak terima jika Irna terus berhubungan dengan Fredian, pria yang merupakan sahabat dan pasiennya itu.
Rian juga tahu jika Fredian tidak pernah mau melepaskan Irna ataupun merelakan dirinya untuk dinikahi olehnya.
"Jika kamu berfikir seperti itu, maka tinggalah dengan perasaan itu! dan kita akhiri segalanya sekarang! Aku tidak akan kembali pada siapapun! tidak padanya, atau padamu!"
"Aku sudah berusaha menolaknya, tapi aku tidak bisa membencinya, aku tidak bisa membenci Fredian atau melukai hatinya."
Ujar Irna melepaskan segala isi hatinya saat itu juga.
"Aku sangat lelah memikirkan hal yang begitu rumit! aku tunggu surat ceraimu besok di atas meja kantorku! aku bersamamu sekarang karena aku merasa bahwa kamu adalah suamiku!"
"Aku tahu hal ini pasti akan terjadi, aku tidak masalah jika kalian pergi meninggalkanku, aku tidak bisa menolakmu karena kamu suamiku sekarang. Jika kamu ingin pergi karena tidak tahan denganku pergilah, aku tidak masalah."
Gadis itu melihat wajah Rian yang sama menyedihkan dengan dirinya.
Jelas Irna lagi sambil mengusap wajahnya dengan rasa bersalah dan entah rasa kesal karena Rian menunjukkan sisi pria yang terhormat dan dia merasa sangat tidak cukup pantas untuk berada di sisinya.
Dengan geram Irna membanting pintu kamarnya, setelah berpakaian sekenanya gadis itu keluar rumah mengendarai mobilnya menuju ke kantor.
"Akhirnya dia mengeluarkan sifat protektifnya! aku juga tidak percaya jika ada pria yang terus bersabar menghadapiku yang keras kepala! tentu saja dia akan cemburu, dia pria kaya raya yang sangat tampan, tidak pernah berkencan! menikah dengan merebut pacar orang! lalu dihianati! sejak awal aku sudah bilang dia tidak akan tahan!!!" Gerutu Irna kesal sekali menghadapi suaminya.
"Bukan sepenuhnya salah dirinya, aku juga tidak bisa menghindari Fredian. Aku tidak bisa menjauh darinya."
"Sekalipun Rian sangat luar biasa dan tidak kalah dari segi fisik dan kepribadian. Tapi entah kenapa aku tidak bisa membenci Fredian." Irna masih merasa kesal dan bingung karena tidak bisa memilih di antara mereka berdua.
Rian berdiri mematung, bibirnya bergumam lirih.
"Akhirnya dia tetap tidak memilih siapapun di antara kami, jika aku melepaskannya maka tidak akan ada alasan untuk kami bersama dalam satu rumah, takkan ada alasan bagiku untuk kembali menggenggam tangan seorang Irna Damayanti... ataupun merengkuhnya ketika dia menangis"
"Aku tidak merasa menang, juga tidak merasa kalah oleh Fredian. Dari awal akulah yang memulai hubungan rumit ini!" Duduk di sofa, mengusap wajahnya dengan rasa bersalah.
bersambung.....
aku jg mau🤭🤭