NovelToon NovelToon
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

​Pagi itu, kediaman mewah Dewangga dan Siham diselimuti oleh kabut kecanggungan yang lebih dingin dari mesin pendingin ruangan mana pun. Perdebatan hebat semalam masih menyisakan gaung di setiap sudut rumah. Tidak ada suara denting sendok yang beradu dengan piring, tidak ada obrolan basa-basi tentang agenda hari ini. Hanya ada kesunyian yang tajam, seolah udara di sana terbuat dari serpihan kaca yang siap melukai siapa saja yang berani bersuara.

​Siham terbangun dengan tubuh yang terasa remuk. Sisa darah semalam masih meninggalkan rasa logam yang pahit di pangkal lidahnya. Dengan sisa tenaga yang ia kumpulkan dari rasa sakit, ia tetap melangkah ke dapur. Kebiasaan selama lima tahun tidak bisa hilang begitu saja karena dia tetap menyiapkan sarapan. Nasi goreng dengan aroma margarin yang gurih dan telur mata sapi yang sempurna tersaji di atas meja. Namun, kali ini Siham tidak duduk.

​Dewangga turun dengan setelan jas navy yang licin sempurna, wajahnya kaku, matanya lurus menatap depan tanpa sedikit pun melirik ke arah istrinya yang sedang merapikan kotak bekal.

​"Sarapan sudah siap," ucap Siham datar. Suaranya serak, namun ia berusaha menutupinya.

​Dewangga menarik kursi, duduk dengan gerakan yang sengaja dibuat kasar. "Kamu tidak makan?"

​"Pak Hendra memintaku datang lebih awal. Ada urusan mendesak di kantor. Aku akan makan di sana saja," jawab Siham sembari menyampirkan tas kerjanya.

​Tanpa menunggu balasan dari Dewangga yang memang tampaknya enggan membalas Siham melangkahkan kakinya keluar dari ruang tamu dan langsung keluar dari rumah itu. Ia tidak lagi peduli apakah Dewangga akan menghabiskan masakannya atau tidak. Di titik ini, memberi makan pria itu hanyalah kewajiban mekanis, bukan lagi bentuk pengabdian cinta yang dulu ia agung-agungkan.

​Perjalanan menuju kantor terasa lebih panjang bagi Siham. Sesak di dadanya semakin menjadi, namun ia menahannya dengan meremas botol air mineral di tangannya. Begitu ia melangkah masuk ke lobi kantor penerbitan, suasana mendadak berubah. Jika di rumah ia dianggap "sampah" dan istri yang tidak berguna, di sini ia disambut bak pahlawan yang baru kembali dari medan perang.

​"Bu Siham! Selamat!" bisik beberapa staf administrasi saat ia melewati meja mereka.

​Siham mengerutkan kening, mencoba mencerna apa yang terjadi. Ia langsung menuju ruangan Pak Hendra. Begitu pintu terbuka, ia disambut oleh senyum lebar Pak Hendra yang sedang berdiri di depan jendela besar kantornya, memegang sebuah laporan tebal.

​"Siham! Masuk, masuk! Kamu adalah wanita paling dicari di industri literasi hari ini!" seru Pak Hendra dengan nada bangga yang meluap-luap.

​Siham duduk dengan sopan, mencoba mengatur napasnya yang pendek. "Ada apa, Pak? Kenapa semua orang memberikan selamat?"

​Pak Hendra meletakkan laporan itu di depan Siham. "Lihat ini. Data penjualan buku pertama Aksara Renjana yang berjudul "Luka yang Tidak Berdarah" baru saja keluar untuk kuartal ini. Kita resmi menembus angka 500.000 eksemplar hanya dalam waktu tiga bulan! Ini rekor baru, Siham. Belum pernah ada penulis anonim yang bisa menggerakkan massa sekuat ini."

​Siham menatap angka nol yang berderet di kertas itu. Setengah juta orang telah membaca rintihan hatinya. Setengah juta orang telah memegang luka-nya di tangan mereka.

​"Dan bukan itu saja," lanjut Pak Hendra dengan mata berbinar. "Kutipan yang diposting Aksara kemarin sore benar-benar membuat server pre-order untuk buku keduanya, 'Mati Tanpa Kubur', lumpuh. Kita baru membuka sistem inden pagi ini, dan dalam satu jam, sudah ada 100.000 pesanan yang masuk. Ini gila, Siham! Kamu sebagai editor senior yang menangani dia secara eksklusif telah melakukan keajaiban."

​Pak Hendra bangkit, mengambil sebuah map biru dari laci mejanya. "Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasimu, perusahaan memberikan Executive Achievement Award untukmu tahun ini. Ada bonus besar di dalamnya, dan tentu saja, kenaikan jabatan menjadi Kepala Divisi Editor Fiksi. Kamu layak mendapatkannya, Siham. Kamu bukan hanya mengedit kata-kata, kamu membangun jiwa bagi buku-buku ini."

​Siham menerima map itu dengan tangan gemetar. Bonus besar? Kenaikan jabatan? Semua pencapaian ini terasa begitu ironis. Ia sedang berada di puncak kariernya, diakui sebagai editor jenius, sementara suaminya sendiri menyebut pekerjaannya sebagai sampah yang menjual kesedihan.

​"Terima kasih, Pak Hendra. Tapi saya hanya membantu mengarahkan tulisan Aksara saja," ucap Siham rendah hati.

​"Jangan merendah. Aksara Renjana itu mungkin akan sulit diatur kalau tidak di pegang oleh kamu Siham apakah sosok dia yang terlalu misterius. Hanya kamu yang bisa berkomunikasi dengannya secara emosional. Oh ya, satu lagi," Pak Hendra mencondongkan tubuhnya. "Banyak rumah produksi film besar yang mulai mengejar hak adaptasi. Nilai kontraknya fantastis, bisa mencapai angka miliaran. Mereka ingin Aksara muncul, tapi saya bilang hanya melalui perantara kamu."

​Siham terdiam. Uang miliaran, pengakuan nasional, jabatan tinggi. Segalanya ada di genggamannya sekarang. Namun, ia merasa seolah sedang menggenggam pasir semakin erat ia menggenggamnya, semakin banyak yang luruh melalui sela jarinya seiring dengan memburuknya kesehatannya.

​"Pak Hendra," suara Siham mendadak serius. "Bisakah kita tetap menjaga kerahasiaan Aksara Renjana? Bahkan jika saya tidak ada nanti... saya ingin sosoknya tetap menjadi rahasia selamanya."

​Pak Hendra tertawa kecil, tidak menangkap nada kelam di balik kalimat Siham. "Tentu saja. Itu nilai jual utamanya. Tapi kenapa bicara kalau tidak ada? Kamu masih muda, kariermu baru saja lepas landas!"

​Siham hanya tersenyum tipis. Ia pamit keluar dari ruangan Pak Hendra dengan map biru di pelukannya. Di koridor, ia melihat pantulan dirinya di dinding kaca. Ia tampak sukses, berdaya, dan terhormat. Tidak ada yang akan menyangka bahwa editor hebat yang baru saja memecahkan rekor penjualan buku nasional ini sedang menghitung sisa napasnya.

​Sore harinya, Jakarta kembali diguyur hujan tipis. Siham pulang ke rumah membawa map penghargaan dan kabar tentang kesuksesan ratusan ribu buku yang laku terjual. Di dalam hatinya, ada keinginan kecil untuk menunjukkan ini pada Dewangga. Bukan untuk pamer, tapi untuk membuktikan bahwa sampah yang dia maksud adalah sesuatu yang sangat berharga bagi dunia luar.

​Namun, begitu ia sampai di rumah, Dewangga sedang duduk di ruang kerja pribadinya dengan pintu terbuka. Ia sedang bicara di telepon dengan suara keras.

​"Ya, cari tahu siapa pemilik akun Aksara Renjana itu! Saya mau tahu siapa orang di balik tulisan sampah yang berani menyindir kehidupan pribadi saya. Saya akan bayar berapa pun untuk identitasnya!" bentak Dewangga di telepon.

​Siham berhenti di depan pintu. Niatnya untuk menunjukkan penghargaan itu langsung sirna. Ia meremas map biru di tangannya hingga sedikit lecek.

​Dewangga menoleh dan melihat Siham berdiri di sana. Ia langsung mematikan teleponnya dengan kasar. "Baru pulang? Hebat sekali editor senior jam segini baru sampai rumah. Apa naskah sampah itu membuatmu lupa punya rumah?"

​Siham menatap Dewangga dengan mata yang dingin, jauh lebih dingin dari hujan di luar. "Naskah yang kamu sebut sampah itu baru saja terjual setengah juta eksemplar pagi ini, Mas. Dan buku selanjutnya sudah diinden seratus ribu orang dalam satu jam."

​Dewangga tertegun sejenak, namun egonya dengan cepat menutupi rasa terkejutnya. Ia tertawa meremehkan. "Setengah juta orang bodoh yang suka mengonsumsi drama. Itu tidak membuktikan apa-apa, Siham. Itu hanya membuktikan bahwa dunia ini penuh dengan orang-orang lemah yang suka mengasihani diri sendiri, persis seperti penulisnya."

​Siham mendekat, ia meletakkan map penghargaan itu di atas meja Dewangga dengan tenang. "Ini penghargaan untukku hari ini. Bonusnya cukup untuk membiayai operasional panti asuhan yang biasa didatangi almarhum Ayah selama sepuluh tahun ke depan. Jadi, silakan terus panggil ini sampah, Mas. Tapi sampah ini memberikan kehidupan bagi orang lain, sementara kemewahanmu... hanya memberikan kesunyian bagi rumah ini."

​Siham berbalik dan masuk ke kamar, meninggalkan Dewangga yang terdiam menatap map biru itu. Dewangga ingin marah, ingin membanting map itu, tapi ada rasa perih yang aneh di ulu hatinya. Ia benci karena istrinya sukses. Ia benci karena sampah itu ternyata diakui dunia. Dan yang paling ia benci adalah, ia mulai merasa bahwa Aksara Renjana dan Siham memiliki keberanian yang sama untuk menatapnya seolah ia adalah debu yang tidak berarti.

​Di dalam kamar, Siham kembali batuk. Kali ini ia membiarkan darah itu menetes di atas map penghargaannya.

​"Selamat, Siham," bisiknya pada diri sendiri di depan cermin. "Kamu sudah menang di mata dunia, tinggal menunggu waktu untuk menang dari rasa sakit ini."

1
falea sezi
bertele tele cerai sat set 😒
falea sezi
cerai trs pergi sembuhin diri 😒 ngapain meratapi nasib 😒
Lee Mba Young
laki blm move on di paksa nikah ya bgini hasil nya.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
sukensri hardiati
ya Allah ....sihaaam....kuat yaa...
Lee Mba Young
Sdh tau laki gk Cinta, ngapain bertahan smp 5 th.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
lulu oey
AAHH TERLALU LAMA THOR PELAN TAPI PASTI
stela aza
kelamaan Thor ,,, q udh gemes bgt sama si dewangga pingin getok kepalanya biar otaknya balik ketempatnya ,,, 🤦
falea sezi
knp mesti dk kasih skit Thor jd males😕 harusnya abis ne pergi jauh males bgt liat lu nulis scene menderita buat siham 😒
falea sezi
sakit bgt jd siham😕
falea sezi
laki kayak gini harus di buang di laut😕
Lee Mba Young
bner juga sih, mnujual kesedihan sdng penulis alias siham sendiri gk berusaha bangkit. cm jual kesedihan tok tp gk nglawan. coba kl berani main terbuka 🤣. gk akn berani siham. ya cm bisa mnujual tulisan kesedihan itu smp mati. nnti sekarat berharap belas kasian.
Lee Mba Young
ibu meninggal bpk mninggal bukan ninggalin warisan mlh ninggalin penderitaan buat anak. yg mati enak gk ngrasain apapun. yg hidup hrs bertahan dng penderitaan. dosa ortu banget itu.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
Haryati Atie
ka cerita nya bagus banget😍 .
Bunga
buat sigam bahagia dong Thor...jangan bikin tragis banget hidupnya
stela aza
lanjut thor up-nya double donk ❤️❤️❤️
blcak areng: udah up ya kak tiap hari 2 bab kakak 🙏
total 1 replies
stela aza
next thor ❤️❤️❤️
Nurlaila Ikbal
ya Allah sedih sekali thor baca bab ini..semangat thor upnya 🙏🙏🙏🙏
Bunga
sigam perjalanan hidup mu begitu menyakitkan...adakah kebahagian menemui mu....
Bunga
kasian sekali hidupmu shiham.
kenapa di buat semenderita itu thor
stela aza
kelamaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!