Ada nama yang tak pernah disebut.
Ada kebenaran yang selalu disembunyikan di balik senyuman.
Dan ada cinta yang tumbuh… tanpa benar-benar tahu siapa yang dicintai.
Dhea hanya ingin mencintai dengan sederhana.
Namun semakin dekat, ia justru menyadari—
tidak semua yang terlihat, adalah yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikmati Waktu Berdua
“Makannya pelan-pelan,” ucap Aren sambil mengelap pinggir bibir Dhea yang terkena kuah bakso.
Dhea langsung menatap Aren sebentar sebelum kembali mengunyah makanannya.
“Sudah pelan-pelan ini,” jawabnya dengan mulut yang masih penuh sedikit.
“Tadi kuahnya kena mata sedikit. Makanya jadi belepotan.”
Mendengar jawaban itu, Aren langsung terkekeh kecil.
“Kamu ini benar-benar ya.”
Dhea hanya nyengir kecil tanpa merasa malu. Saat ini mereka sedang duduk berhadapan di warung bakso pinggir jalan yang cukup ramai.
Meski tempatnya sederhana, namun suasana di antara mereka terasa sangat nyaman.
“Enak?” tanya Aren sambil memperhatikan Dhea yang makan dengan lahap.
Dhea langsung mengangguk cepat.
“Banget!”
“Pelan-pelan nanti tersedak.”
“Iya cerewet.”
Aren langsung tertawa kecil mendengar balasan cepat Dhea.
Sudah lama sekali rasanya ia tidak menikmati waktu sesantai ini bersama seseorang.
Tanpa berpura-pura. Tanpa merasa takut. Dan semua itu, karena gadis yang saat ini duduk di depannya.
“Habis ini mau beli apa lagi kamu?” tanya Aren membuat Dhea langsung terkejut.
“Loh, memang boleh?” tanya Dhea memastikan lagi.
Aren langsung mengernyit heran.
“Kenapa nggak boleh coba?”
“Iya karena sudah makan bakso. Masa iya minta lagi gitu,” jawab Dhea polos.
Mendengar itu, Aren langsung tersenyum kecil.
“Kamu lucu ya.”
“Loh, memangnya salah?”
“Bukan salah,” jawab Aren sambil terkekeh pelan. “Cuma jarang ada orang yang mikir seperti kamu.”
Dhea langsung memainkan sendoknya pelan.
“Dhea nggak enak saja kalau terlalu banyak minta.”
Deg.
Ucapan sederhana itu justru membuat hati Aren terasa hangat.
Karena selama ini.
Dhea selalu lebih memikirkan orang lain dibanding dirinya sendiri.
“Sekali-sekali manja nggak apa-apa,” ucap Aren lembut.
“Tapi Dhea memang nggak terbiasa.”
Aren menatap Dhea beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.
“Kalau begitu sekarang biasakan.”
“Hm?”
“Selama sama aku, kamu nggak perlu sungkan seperti itu.”
Seketika Dhea langsung terdiam. Entah kenapa, ucapan Aren tadi membuat wajahnya perlahan berubah memerah kecil.
"Emang tidak apa-apa kalau Dhea minta terus? Mas Aren gak takut uangnya nanti habis?"
Aren terkekeh kecil, lalu mengusap pelan kepala Dhea dengan penuh sabar.
“Kenapa kamu malah mikirnya jauh banget, Dhea?” ulangnya, suaranya lebih lembut. “Uang itu bisa dicari lagi. Yang penting kamu jangan sampai nahan apa yang kamu butuhin.”
Dhea mengerutkan bibir, masih terlihat ragu.
“Tapi kalau nanti Mas Aren capek kerja terus cuma buat aku gimana?”
Aren menghela napas pelan, lalu menatapnya lebih serius tapi tetap hangat.
“Kalau buat kamu, itu bukan capek yang sia-sia.”
Dhea terdiam, matanya berkedip pelan, seolah masih mencoba memahami jawaban itu.
"Tapi, Dhea tidak mau dibilang matre, apalagi hanya sebatas teman Mas Aren saja."
Aren menatap Dhea lebih lama kali ini, tidak langsung menjawab. Ada jeda singkat yang membuat suasana menjadi sedikit hening.
“Siapa yang bilang kamu matre?” tanyanya akhirnya, suaranya tenang tetapi tegas.
Dhea menunduk, memainkan jari-jarinya sendiri.
“Kan, kalau sering minta, orang bisa berpikir begitu.”
Aren menghela napas pelan, lalu sedikit mendekat, cukup agar suaranya terdengar jelas tanpa membuat Dhea merasa terpojok.
“Dhea,” ucapnya lembut, “meminta sesuatu itu bukan berarti matre. Apalagi kalau kamu memang butuh atau aku yang menawarkannya.”
Dhea masih diam, ragu terlihat jelas di wajahnya. Aren melanjutkan, lebih pelan lagi.
“Dan soal ‘hanya teman’ itu, bukan berarti kamu harus menahan diri sampai takut dianggap salah. Teman juga bisa peduli, kan?”
Dhea mengangkat wajahnya sedikit, tetapi masih ada kebingungan di matanya.
Aren tersenyum tipis.
“Jadi, kamu tidak perlu takut dicap apa-apa hanya karena aku memperlakukan kamu dengan baik.”
"Tapi, apa kamu memang menganggapku hanya sebatas teman saja?"
“Hah, maksud Mas Aren?” tanya Dhea bingung, menatap Aren dengan raut tidak mengerti.
Aren terdiam sejenak, pandangannya tak lepas dari wajah Dhea. Ada sesuatu yang sulit ia jelaskan begitu saja, namun juga tidak ingin ia sembunyikan terlalu lama.
“Maksudku…” Aren menarik napas pelan, “kalau memang cuma teman, kenapa kamu selalu khawatir soal penilaian orang tentang kita?”
Dhea terdiam, bibirnya sedikit terbuka tapi tidak langsung menjawab.
Aren melanjutkan dengan suara lebih tenang,
“Teman biasanya tidak sampai sejauh ini memikirkan bagaimana perasaan orang lain terhadap hubungan mereka.”
Dhea menunduk, jari-jarinya kembali saling bertaut.
“I-itu" suaranya pelan, hampir tidak terdengar.
"Boleh aku berbicara dengan jujur?" tanya Aren kepada Dhea.
Dhea mengangkat wajahnya, lalu menatap Aren dan menganggukkan kepalanya.
"Dhea, sebenarnya aku menyukaimu," ucap Aren pelan, tetapi jelas.
Dhea terdiam. Matanya membesar sedikit, seolah tidak menyangka dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Maksud Mas Aren… menyukai seperti apa?” tanyanya hati-hati, suaranya hampir bergetar.
Aren tidak langsung menjawab. Ia menatap Dhea dengan serius, namun tetap lembut.
“Menyukai dalam arti yang lebih dari sekadar teman,” jawabnya akhirnya.
"Sekadar teman, maksudnya bagaimana?" tanya Dhea yang benar-benar polos.
"Kamu benar-benar tidak mengerti yang aku maksud?" tanya Aren pelan.
Dhea menggelengkan kepalanya. Aren menghela napas, lalu menatap Dhea lebih dalam dengan sorot yang serius namun tetap lembut.
"Aku menyukaimu karena aku terlalu nyaman denganmu. Aku ingin kamu menjadi pasangan hidupku, Dhea. Tapi, aku tidak memaksamu untuk menjawabnya sekarang, karena aku tahu ini sangat tiba-tiba untuk kamu," ucapnya pelan.
Aren berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih pelan lagi,
"Aku hanya takut, kalau aku terlalu lama diam, aku justru terlambat menyatakan perasaanku yang sebenarnya kepadamu."
Dhea membeku, dia benar-benar mencerna semuanya yang diucapkan Aren.
"Dhea?" panggil Aren pelan, melihat reaksi Dhea yang hanya diam tanpa bergerak.
Dhea perlahan mengangkat wajahnya. Matanya terlihat masih kosong, seperti masih mencoba memastikan bahwa semua ini benar-benar terjadi.
“Mas Aren… serius?” tanyanya pelan, suaranya hampir berbisik.
Aren mengangguk pelan tanpa ragu.
“Serius.”
Suasana kembali hening. Dhea menatapnya lama, seolah mencari kepastian lain selain dari kata-kata itu sendiri.
"T-tapi Mas tahu kan, Dhea bukan gadis yang sempurna," ucap Dhea pelan, suaranya bergetar.
Aren langsung menggeleng kecil, tanpa ragu sedikit pun.
“Siapa yang bilang kamu harus sempurna?” tanyanya lembut, namun tegas.
Dhea menunduk, menggigit bibirnya.
“Tapi… Dhea banyak kekurangan. Dhea juga sering merepotkan Mas Aren.”
Aren menghela napas pelan, lalu menatapnya lebih dalam.
“Dhea,” ucapnya perlahan, “aku tidak sedang mencari orang yang sempurna.”
Ia berhenti sejenak, memastikan Dhea mendengarkan.
“Aku hanya mencari kamu.”
"T-tapi, Dhea miskin, Mas. Dhea tidak setara dengan Mas," ucap Dhea pelan, suaranya penuh ragu.
“Dhea,” panggil Aren dengan nada sedikit dingin, tetapi tetap terkontrol, “aku tidak pernah memandang kekayaanmu.”
Dhea menatapnya sekilas, masih tidak percaya.
"L-lalu apa yang Mas sukai dari Dhea?" tanyanya hati-hati.
Aren terdiam sejenak, lalu menjawab dengan tenang,
“Karena kamu berbeda dari yang lainnya.”
“Maksudnya berbeda bagaimana?”
Aren menatap Dhea lebih dalam, suaranya melembut.
“Kamu tidak pernah memandangku dengan jijik. Kamu justru merangkulku saat semua orang menghindariku. Terutama saat kemarin aku menghilang, aku tidak menyangka kamu benar-benar menungguku untuk datang kepadamu.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan lebih pelan,
“Dalam keadaan seperti apa pun aku, kamu tetap menungguku sampai aku kembali.”