NovelToon NovelToon
Sistem Pilihan Takdir

Sistem Pilihan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Sinopsis
​Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
​Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18 ujian tirai ruang dan kerasnya tanah keabadian

Angin malam berhembus membawa kabut tebal menyusuri celah-celah tebing Lembah Awan Putih. Tempat ini terletak ribuan mil dari pusat Sekte Pedang Awan, tersembunyi di balik barisan pegunungan yang nyaris tidak pernah diinjak oleh manusia biasa. Udara di sini terasa sangat tipis, dipenuhi oleh keheningan purba yang membekukan darah. Di ujung lembah tersebut, dua pilar batu raksasa yang permukaannya dipenuhi ukiran aksara kuno menjulang tinggi menembus langit malam. Di antara kedua pilar itu, sebuah pusaran energi berwarna perak berputar lambat, memancarkan distorsi ruang yang membuat pandangan mata menjadi kabur.

Itulah Gerbang Ascensi. Jalur rahasia yang terukir di dalam Fragmen Peta Dunia Tengah milik Lin Chen.

Berdiri sepuluh langkah di depan pusaran perak tersebut, Lin Chen menatap pusaran energi itu dengan mata menyipit. Hawa keberadaannya sangat tenang, tubuh fisiknya yang telah ditempa oleh lava vulkanik beresonansi pelan dengan getaran energi di sekitarnya.

Hukum alam menetapkan bahwa hanya kultivator yang telah mencapai puncak Tahap Transformasi Fana—mereka yang telah mengubah tulang dan darah fana mereka menjadi wadah semi-abadi—yang diizinkan melintasi batas menuju Dunia Tengah. Seorang praktisi di Tahap Kondensasi Qi Tingkat Lima Puncak seperti Lin Chen seharusnya meledak menjadi kabut darah begitu menyentuh pinggiran pusaran tersebut. Tekanan ruang antar dimensi bukanlah sesuatu yang bisa ditahan oleh daging manusia biasa.

Layar cahaya holografik berwarna biru berpendar seketika, memecah fokus pandangannya.

**[Zona Transisi Dimensi Terdeteksi: Gerbang Ascensi Lembah Awan Putih.]**

**[Kondisi Pengguna: Tahap Kondensasi Qi Tingkat 5. Jauh di bawah standar batas aman (Tahap Transformasi Fana).]**

**[Silakan tentukan metode pelintasan Anda:]**

**[Pilihan 1: Mundur. Berkultivasi di Alam Fana selama seratus tahun ke depan hingga mencapai Tahap Transformasi Fana, lalu kembali ke tempat ini.

Hadiah: Keselamatan mutlak. Anda kehilangan momentum takdir. Sisa umur Anda akan habis sebelum Anda sempat menyentuh puncak Dunia Tengah.]**

**[Pilihan 2: Menggunakan seluruh Batu Roh di kantong Anda untuk membentuk formasi pelindung sementara, lalu melompat masuk.

Hadiah: Formasi akan hancur di tengah terowongan dimensi. Setengah tubuh Anda akan terpotong oleh badai ruang. Anda tiba di Dunia Tengah sebagai manusia cacat permanen tanpa kemampuan bertarung.]**

**[Pilihan 3: Lepaskan seluruh pertahanan Qi Anda. Aktifkan 'Akar Tanah Besi' secara pasif. Biarkan badai ruang menguliti lapisan fana tubuh Anda, menggunakan tekanan dimensi sebagai palu tempa raksasa untuk memampatkan energi api bumi di tulang Anda menjadi fondasi pseudo-abadi.

Hadiah: Anda tiba dengan tubuh utuh. Proses ini memberikan rasa sakit setara dengan kematian seratus kali lipat. Membuka adaptasi awal terhadap Qi Abadi Dunia Tengah.]**

Membaca rentetan kalimat tanpa emosi tersebut, sudut bibir Lin Chen melengkung membentuk senyuman keras. Sistem Pilihan Takdir tidak pernah mengubah polanya. Keselamatan selalu dibayar dengan masa depan, jalan menuju kekuasaan selalu diaspal dengan penderitaan yang melampaui batas nalar.

"Rasa sakit hanyalah ilusi bagi mereka yang menolak untuk mati," bisik Lin Chen pada angin yang berhembus.

Ia membiarkan layar biru itu memudar. Pemuda itu menghembuskan napas panjang, menekan seluruh Qi di dalam Dantiannya hingga tidak ada setetes pun energi yang merembes keluar untuk membentuk perisai. Kulit perunggu keabu-abuannya menegang. Mengandalkan murni ketahanan fisik 'Akar Tanah Besi', Lin Chen mengambil langkah maju, membiarkan tubuhnya tertelan oleh pusaran perak raksasa tersebut.

*ZRAASH!*

Begitu tubuhnya melewati tirai cahaya, dunia di sekitarnya menghilang. Tidak ada suara, tidak ada gravitasi, tidak ada cahaya selain kilatan badai energi berwarna ungu dan hitam yang menyambar-nyambar di dalam terowongan dimensi.

Detik berikutnya, siksaan itu dimulai.

Badai ruang bertindak layaknya jutaan bilah pisau transparan yang tak kasat mata. Bilah-bilah itu menyayat pakaian Lin Chen menjadi debu dalam sekejap. Sayatan tersebut melanjut ke kulitnya. Tubuh fisiknya yang kebal terhadap tebasan pedang spiritual kelas menengah di Alam Fana kini teriris dengan sangat mudah. Darah segar menyembur, langsung menguap ditelan oleh hampa udara dimensi.

"ARGHH!" Lin Chen menggeram, suaranya tertahan di tenggorokan yang serasa diisi oleh serpihan kaca.

Rasa sakitnya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Dagingnya dikuliti lapis demi lapis. Otot-ototnya terkoyak. Saat badai ruang mencoba menghancurkan tulang-tulangnya, energi api bumi yang ia peroleh dari Kawah Vulkanik bangkit merespons. Panas magma meledak dari dalam sumsum tulangnya, berbenturan keras dengan tekanan dimensi yang membekukan.

Kedua energi ekstrem itu menjadikan tubuh Lin Chen sebagai medan pertempuran. Kepadatan tulangnya dipaksa memampat jutaan kali lipat. Kotoran fana yang masih tersisa di dalam aliran darahnya dibakar habis, digantikan oleh struktur yang jauh lebih murni. Ia menolak kehilangan kesadaran. Ia membelalakkan matanya yang dipenuhi urat merah, terus menatap ke depan menyusuri lorong dimensi yang terasa tidak berujung.

Satu jam. Satu hari. Satu tahun. Konsep waktu hancur berantakan di tempat ini.

Tepat saat kesadaran Lin Chen berada di ambang kehancuran absolut, sebuah retakan cahaya keemasan muncul di ujung lorong badai. Daya hisap yang luar biasa kuat menarik tubuhnya yang berlumuran darah keluar dari terowongan spasial.

*BRUK!*

Lin Chen terhempas dengan sangat keras, menghantam permukaan tanah yang terasa jauh lebih padat daripada baja. Suara derak tulang rusuk terdengar jelas. Tubuhnya terseret beberapa meter, meninggalkan jejak darah panjang di atas tanah berwarna abu-abu gelap.

Ia mencoba mengambil napas.

*Uhuk!*

Darah hitam langsung terbatuk keluar dari mulutnya. Udara di tempat ini luar biasa berat. Begitu oksigen masuk ke paru-parunya, rasanya seperti ia menghirup timah cair. Ini bukan udara biasa; ini adalah udara yang telah tercampur dengan Qi Abadi tingkat rendah. Bagi tubuh fana yang belum sepenuhnya bertransformasi, energi sekuat ini bertindak sebagai racun yang meremukkan organ dalam.

Bukan hanya udaranya, gravitasi di tempat ini sepuluh kali lipat lebih mematikan daripada Alam Fana. Mengangkat satu jari saja membutuhkan tenaga setara dengan mengangkat batu besar. Beban Baja Hitam yang pernah ia pakai terasa seperti mainan anak-anak dibandingkan dengan tekanan alamiah dunia ini.

Dengan sisa kekuatan tekadnya, Lin Chen memutar tubuhnya hingga telentang. Matanya yang kabur menatap langit. Tidak ada awan biru atau matahari yang menyilaukan. Langit di atasnya berwarna merah karat yang redup, dihiasi oleh pusaran debu bintang dan dua buah bulan raksasa berwarna keunguan yang saling tumpang tindih.

Ini adalah Gurun Debu Bintang, zona terluar dan paling kumuh di batas pinggiran Dunia Tengah. Tempat berkumpulnya para buangan, penjahat, dan pemburu budak.

Lin Chen memutar *Napas Karang Esensi* secara sangat lambat. Memaksa menarik Qi Abadi ini dengan cepat hanya akan meledakkan Dantiannya. Ia membiarkan tubuhnya beradaptasi seinci demi seinci, merajut kembali serat ototnya yang terkoyak oleh badai dimensi. Kulitnya yang penuh luka secara perlahan mulai menutup, membentuk tekstur yang sedikit lebih halus berkilau layaknya logam mulia yang baru ditempa.

Sekitar satu jam kemudian, getaran kasar merambat melalui tanah abu-abu di bawahnya.

Pendengaran Lin Chen yang tajam menangkap suara derap langkah kaki hewan berkuku belah, disertai suara tawa kasar. Mengabaikan rasa sakit yang meremukkan seluruh persendiannya, pemuda itu memaksakan diri bangkit menjadi posisi berlutut. Ia menekan hawa keberadaannya sekeras mungkin, bersembunyi di balik bongkahan batu kristal hitam yang mencuat dari tanah.

Dari balik bukit pasir berwarna abu-abu, muncullah tiga sosok yang menunggangi makhluk mengerikan. Makhluk itu menyerupai serigala raksasa, tubuhnya ditutupi oleh sisik tebal berwarna hijau lumut, matanya memancarkan kebuasan yang jauh melampaui Serigala Angin di Alam Fana.

Ketiga penunggangnya mengenakan zirah kulit yang kotor dan compang-camping. Fluktuasi energi yang memancar dari tubuh mereka membuat napas Lin Chen tertahan. Energi mereka kasar dan tidak beraturan, kepadatan Qi di dalam tubuh ketiga orang itu setara dengan Tahap Transformasi Fana puncak jika diukur dengan standar alam asalnya. Di Dunia Tengah ini, mereka hanyalah preman jalanan tingkat paling dasar—para Pemulung Gurun.

Di depan ketiga pemulung itu, seorang gadis muda sedang berlari terseok-seok menembus badai debu. Gadis itu mengenakan gaun sutra biru muda yang telah robek di banyak tempat. Wajahnya dipenuhi noda tanah, rambut panjangnya berantakan. Tangan kanannya menggenggam erat sebatang seruling giok putih yang telah retak di bagian ujungnya.

"Lari terus, Kelinci Kecil!" tawa pria botak yang memimpin kelompok pemulung tersebut. Ia mengayunkan cambuk berduri di tangannya. Cambuk itu melecut udara, menciptakan bunyi ledakan sonik yang memekakkan telinga. "Majikan kami di Kota Batu Hitam bersedia membayar sepuluh keping Kristal Abadi untuk pelayan wanita sepertimu. Kau tidak memiliki tempat untuk bersembunyi di Gurun Debu Bintang ini!"

Gadis itu, yang bernama Shen Yu, menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Ia adalah kultivator pribumi kelas bawah yang terpisah dari karavannya akibat badai pasir. Staminanya telah mencapai batas akhir. Ia berbalik secara mendadak, mengangkat seruling gioknya ke depan bibir.

Sebuah nada melengking yang mengandung gelombang energi spiritual ditembakkan dari ujung seruling tersebut. Gelombang suara itu membentuk bilah angin tak kasat mata yang melesat ke arah pria botak.

Pemimpin pemulung itu bahkan tidak repot-repot menghindar. Ia menyalurkan energi Qi cokelat kotor ke telapak tangan kirinya dan menepis bilah suara itu dengan santai.

*Prang!*

Bilah energi Shen Yu hancur berkeping-keping layaknya kaca rapuh. Pantulan energinya membuat seruling giok di tangan gadis itu hancur seutuhnya. Shen Yu terpelanting ke belakang, menghantam tanah keras, memuntahkan darah segar dari mulutnya.

Ketiga pemulung itu menghentikan tunggangan mereka, mengepung gadis yang kini tidak berdaya tersebut. Mereka tertawa penuh kemenangan.

Dari balik batu kristal hitam tempatnya bersembunyi, mata Lin Chen mengamati situasi tersebut dengan dingin. Ia tidak memiliki dorongan heroik untuk menyelamatkan orang asing. Menyerang tiga entitas yang kekuatan dasarnya jauh melampaui Zhao Tian dalam kondisi fisiknya yang hancur lebur adalah definisi dari kebodohan absolut. Ia berniat mundur diam-diam dan membiarkan takdir gadis itu berada di tangan para pemulung.

Sayangnya, takdir memiliki selera humor yang kejam.

Seekor tunggangan serigala bersisik itu tiba-tiba menoleh ke arah batu persembunyian Lin Chen. Hewan buas itu mengendus udara, mencium bau darah asing yang masih segar akibat luka dimensi Lin Chen. Makhluk itu menggeram rendah.

Pemimpin botak itu mengikuti arah pandangan tunggangannya. Alisnya terangkat. Ia menjentikkan jarinya, mengirimkan sebuah embusan energi angin yang menghancurkan batu kristal hitam itu menjadi debu.

Sosok Lin Chen yang setengah telanjang, berlumuran darah, dan sedang berlutut kini terekspos jelas di depan mereka.

Ketiga pemulung itu terdiam sesaat, sebelum akhirnya meledak dalam tawa yang jauh lebih keras dari sebelumnya.

"Lihat apa yang kita temukan di sini," kekeh si pria botak, matanya memindai fluktuasi Qi di tubuh Lin Chen. "Seorang Ascender. Seekor tikus dari alam bawah yang entah bagaimana berhasil merangkak melewati gerbang dimensi tanpa hancur. Kultivasinya bahkan belum mencapai batas wajar! Ini benar-benar keajaiban sampah."

"Biasanya tikus-tikus yang baru naik ini membawa banyak cincin penyimpanan yang berisi harta karun fana," sahut pemulung lain yang memiliki bekas luka bakar di wajahnya. "Kita potong saja tangannya, ambil barang-barangnya, lalu tinggalkan mayatnya di sini untuk dimakan serigala pasir."

Shen Yu yang terbaring lemah di tanah menatap Lin Chen dengan tatapan putus asa. Ia mengira bala bantuan telah tiba, melihat kondisi Lin Chen yang menyedihkan dan fluktuasi energinya yang sangat rendah, harapan gadis itu kembali hancur. Pemuda ini hanyalah korban tambahan yang salah tempat dan salah waktu.

Di tengah kepungan tersebut, layar biru menyala di depan retina Lin Chen. Rasa sakit di sekujur tubuhnya seakan diabaikan oleh sistem yang menuntut keputusan instan.

**[Situasi Konflik Ekstrem: Penyambutan Dunia Tengah.]**

**[Musuh: Tiga Pemulung Gurun (Setara Transformasi Fana Awal). Kondisi Tubuh Anda: Kritis. Oksigen beracun menurunkan stamina hingga 10%.]**

**[Silakan tentukan jalan pertahanan Anda:]**

**[Pilihan 1: Lemparkan seluruh harta karun Anda (Batu Urat Roh, Pil, Kantong Mo Jue) ke arah berlawanan untuk mengalihkan perhatian mereka, lalu gunakan sisa tenaga untuk melarikan diri sejauh mungkin.

Hadiah: Anda kehilangan seluruh fondasi awal Anda di dunia ini. Anda mati perlahan karena keracunan lingkungan tanpa alat bantu bertahan hidup.]**

**[Pilihan 2: Berlutut, serahkan harta Anda, dan tawarkan diri menjadi budak rendahan bagi mereka.

Hadiah: Anda dijual ke Tambang Batu Hitam. Menghabiskan sisa hidup memecah batu dalam rantai perbudakan hingga jiwa Anda membusuk.]**

**[Pilihan 3: Tolak tunduk. Paksa sirkulasi 'Akar Tanah Besi' untuk menyerap paksa Qi Abadi liar di udara ke dalam kepalan tangan Anda, gabungkan dengan sisa energi vulkanik. Luncurkan serangan bunuh diri secara frontal terhadap pemimpin mereka.

Hadiah: Serangan balik meridian akan menghancurkan tangan kanan Anda untuk sementara. Keberhasilan 40%. Menyelesaikan fusi awal dengan hukum alam Dunia Tengah. Membuka jalur interaksi dengan NPC lokal (Shen Yu).]**

Pilihan pertama dan kedua selalu menawarkan penundaan rasa sakit dengan bayaran kehormatan dan kebebasan. Di Alam Fana maupun di Dunia Tengah, hukum rimba tetap tidak berubah; yang kuat memakan yang lemah. Tunduk pada predator hanya akan mempercepat proses kematian.

"Di mana pun aku berpijak," gumam Lin Chen perlahan, suaranya berat dan serak, "Aku tidak pernah belajar cara untuk menundukkan kepala."

Ia membiarkan layar biru itu menghilang. Perlahan, sangat perlahan, Lin Chen berdiri tegak. Otot-ototnya merintih, tulang punggungnya berderit keras melawan gravitasi sepuluh kali lipat. Darah segar kembali menetes dari luka-luka barunya, sorot matanya setajam pedang yang baru diasah. Tidak ada ketakutan, hanya niat membunuh yang sangat dingin.

Melihat pemuda berlumuran darah itu berani berdiri tegak menatap mereka, pria botak itu mendengus kesal. Ia merasa dihinakan oleh sampah dari alam bawah.

"Potong kakinya. Biarkan dia merangkak seperti anjing," perintah si pria botak pada anak buahnya yang berwajah luka bakar.

Pemulung berwajah luka bakar itu menyeringai. Ia melompat turun dari tunggangan serigalanya, mencabut sebuah golok melengkung berukuran besar. Senjata itu memancarkan aura Qi kelas dunia tengah yang tajam. Ia melangkah santai ke arah Lin Chen, tidak melihat pemuda itu sebagai ancaman nyata.

"Tahan rasa sakitnya, Tikus Kecil. Aku jamin potonganku sangat cepat," ejek pemulung itu seraya mengayunkan goloknya secara horizontal mengincar lutut Lin Chen.

Kecepatan ayunan itu sangat luar biasa, jauh melampaui kemampuan praktisi manapun yang pernah Lin Chen hadapi di Alam Fana. Gravitasi yang berat tidak memengaruhi pergerakan penduduk asli ini.

Lin Chen tidak bisa menghindar. Ruang geraknya terkunci oleh tekanan gravitasi dan kelelahan fisiknya. Ia tidak berusaha menghindar.

Pemuda itu mengatupkan rahangnya. Mengikuti instruksi Sistem, ia membuka pori-pori lengan kanannya secara paksa. Ia menyedot udara beracun yang dipenuhi Qi Abadi liar langsung ke dalam meridian lengannya.

*BZZZTT!*

Pembuluh darah di lengan kanan Lin Chen meledak seketika, menyemburkan kabut darah. Rasa sakitnya seolah lengannya dimasukkan ke dalam mesin penggiling. Energi abadi liar itu berbenturan keras dengan sisa energi vulkanik di dalam sumsum tulangnya, menciptakan sebuah fusi energi sesaat yang sangat tidak stabil dan sangat merusak.

Golok musuh menyentuh kulit lututnya. Tepat pada sepersekian milidetik sebelum tulang lututnya terpotong, Lin Chen melontarkan tinju kanannya ke depan.

Ia tidak menargetkan kepala atau dada, melainkan mengincar langsung ke tengah bilah golok yang sedang melaju.

*TRANG! KRAAAAAK!*

Sebuah suara ledakan logam yang memekakkan telinga bergema di tengah gurun.

Tinju Lin Chen yang telah dimodifikasi menjadi 'artefak hidup' menggunakan Sarung Tangan Sisik Baja dan 'Akar Tanah Besi', kini dilapisi oleh ledakan kompresi energi abadi sesaat.

Golok melengkung itu—senjata yang ditempa menggunakan baja dari Dunia Tengah—hancur berkeping-keping saat berbenturan dengan kepalan tangan Lin Chen. Serpihan logamnya melesat ke segala arah layaknya peluru nyasar.

Pemulung berwajah luka bakar itu membelalakkan matanya, tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ia tidak sempat menarik tangannya. Daya hancur dari pukulan Lin Chen terus melaju, menghancurkan gagang golok, dan menghantam lurus ke dada pemulung tersebut.

*BAM!*

Tulang rusuk pemulung itu remuk seketika. Tubuhnya terpelanting ke belakang sejauh belasan meter, memuntahkan air mancur darah beserta serpihan organ dalamnya. Ia jatuh bergulingan di atas pasir kelabu dan berhenti dalam keadaan tak bernyawa. Mati hanya dengan satu pukulan balik dari seorang Ascender tingkat bawah.

Keheningan absolut menyelimuti Gurun Debu Bintang.

Bahkan angin yang membawa debu seakan berhenti berhembus. Shen Yu menutupi mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak lebar. Pria botak dan pemulung ketiga membeku di atas tunggangan mereka. Logika mereka menolak mencerna pemandangan ini. Seorang manusia dari alam bawah baru saja menghancurkan penduduk asli hanya dengan tinju fisik.

Lin Chen berdiri di tempatnya. Harga dari satu serangan itu harus ia bayar mahal. Lengan kanannya terkulai lemas, dipenuhi luka robek hingga memperlihatkan tulang, darah segar mengalir deras hingga ke ujung jarinya. Ia kehilangan kendali atas saraf lengan kanannya untuk sementara waktu akibat ledakan meridian, persis seperti peringatan Sistem.

Meski demikian, pemuda itu tidak menunjukkan kelemahan. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah pria botak yang masih duduk di atas serigalanya.

"Siapa selanjutnya?" suara Lin Chen serak, setiap patah kata diwarnai oleh hawa kematian yang murni. Hawa membunuh yang ia kumpulkan dari ribuan pertarungan di Hutan Ilusi dan Puncak Pedang Terkutuk kini memancar keluar, tidak memedulikan batas dimensi. Iblis Pelataran Luar menolak takluk di tanah yang baru.

Pria botak itu menelan ludah. Rasa takut, sebuah emosi yang jarang ia rasakan saat berhadapan dengan mangsa lemah, tiba-tiba merayapi tulang punggungnya. Ia tidak tahu rahasia apa yang disembunyikan oleh pemuda berdarah ini. Menghadapi anomali yang bisa menghancurkan rekannya dalam satu pukulan frontal adalah risiko yang tidak ingin ia ambil demi beberapa keping Kristal Abadi.

"Mundur!" teriak si pria botak panik pada rekannya yang tersisa. "Anak ini dirasuki oleh siluman kuno! Kita tinggalkan tempat ini!"

Tanpa membuang waktu mengambil mayat rekannya, kedua pemulung itu memacu tunggangan serigala mereka. Makhluk-makhluk buas itu juga merasakan bahaya naluriah dari aura Lin Chen, berlari secepat kilat meninggalkan area tersebut dan menghilang di balik badai debu.

Begitu siluet para pemulung itu hilang dari pandangan, pertahanan mental Lin Chen akhirnya runtuh.

Ia kehilangan keseimbangan, jatuh bertumpu pada kedua lututnya. Penglihatannya mulai menggelap. Gravitasi raksasa di tempat ini akhirnya berhasil menundukkan tubuh fisiknya yang telah mencapai batas kehancuran ekstrem. Pemuda itu terkapar telungkup di atas pasir kasar, kesadarannya perlahan tenggelam ke dalam kegelapan mutlak.

Entah berapa lama waktu telah berlalu, Lin Chen merasakan tetesan cairan dingin menyentuh bibirnya yang pecah-pecah. Rasa cairan itu manis, mengandung sedikit energi penyembuh yang menyejukkan tenggorokannya yang melepuh.

Ia perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur sesaat sebelum fokus kembali.

Ia mendapati dirinya berada di dalam sebuah gua batu yang diterangi oleh nyala api kecil dari kayu kering. Langit di luar gua telah berubah gelap gulita, menandakan malam telah menyelimuti Gurun Debu Bintang.

Di sisinya, duduk seorang gadis bergaun biru kotor. Shen Yu. Gadis itu sedang memegang kantong air kulit, dengan hati-hati meneteskan air ke dalam mulut Lin Chen. Di pangkuan gadis itu, lengan kanan Lin Chen yang hancur telah dibalut dengan rapi menggunakan sobekan kain bersih dan dilapisi salep herbal berwarna hijau tua yang memancarkan aroma mint yang kuat.

Menyadari pemuda itu telah sadar, Shen Yu segera menarik tangannya sedikit menjauh. Ada rasa hormat bercampur ketakutan di mata bulatnya. Ia telah memeriksa tubuh Lin Chen saat merawat lukanya, menyadari bahwa pemuda ini benar-benar manusia murni dari alam bawah, bukan siluman atau entitas kuat yang menyamar. Keberaniannya melawan pemulung gurun adalah murni kebrutalan fisik.

"K-kau sudah sadar," ucap Shen Yu pelan, suaranya jernih layaknya lonceng kaca. "Jangan bergerak terlalu banyak. Tulang tangan kananmu retak di banyak tempat, meridianmu nyaris hangus total. Jika aku tidak memiliki Salep Akar Giok peninggalan karavanku, lenganmu sudah harus diamputasi."

Lin Chen tidak segera merespons. Ia mengatur ritme napasnya, merasakan efek salep tersebut bekerja memperbaiki jaringan sarafnya. Ia kemudian menatap gadis itu lekat-lekat.

"Kau menyelamatkanku, aku membunuh musuhmu. Anggap saja hutang nyawa kita impas," suara Lin Chen parau. Ia menggunakan tangan kirinya untuk menopang tubuh, berusaha duduk bersandar pada dinding gua yang dingin.

Shen Yu mengangguk pelan. "Namaku Shen Yu. Aku berasal dari Kota Batu Hitam, pinggiran Domain Debu Bintang. Kau... kau sungguh luar biasa. Sangat jarang ada Ascender yang bisa selamat dari pelintasan gerbang tanpa pelindung khusus, apalagi bisa membunuh seorang Pemulung Gurun dengan satu pukulan."

"Aku tidak berencana mati di tumpukan pasir," jawab Lin Chen datar. Ia melirik keluar gua. Udara malam membawa hawa dingin yang menusuk tulang, perpaduan energi mematikan yang tidak ramah bagi kultivator lemah. "Tempat apa ini? Kekuatanku seolah ditekan hingga batas terendah."

Shen Yu menghela napas panjang, tatapannya menyiratkan simpati. "Selamat datang di dasar neraka Dunia Tengah, Saudara. Kau telah meninggalkan Alam Fana tempat kau mungkin menjadi seorang raja. Di sini, di Gurun Debu Bintang, hukum dunia telah berubah. Gravitasi, kerapatan udara, dan ketangguhan material di sini puluhan kali lipat lebih berat dan kuat. Qi yang kau kumpulkan dari alam fana tidak berguna di sini."

Gadis itu mengambil sepotong kayu dan mulai menggambar peta sederhana di atas tanah berdebu.

"Alam ini bernapas menggunakan Qi Abadi (Immortal Qi). Jika kau tidak segera mengubah fondasi pernapasanmu untuk menyaring dan menyerap Qi Abadi, tubuh fana milikmu perlahan akan hancur dari dalam, tercekik oleh energi yang tidak bisa ditampung. Di mata penduduk asli, kau dan Ascender lainnya tak lebih dari mangsa empuk yang buta."

Shen Yu merogoh saku gaunnya yang kotor, mengeluarkan sebuah gulungan kulit hewan yang sangat usang, lalu meletakkannya di samping Lin Chen.

"Ini adalah 'Metode Pernapasan Bintang Pudar'. Teknik penyaringan energi paling dasar yang diwajibkan bagi seluruh anak-anak di Kota Batu Hitam sebelum mereka mulai berkultivasi," jelas Shen Yu sungguh-sungguh. "Kau telah menyelamatkan nyawaku, menganggap hutang kita lunas, aku tidak bisa membiarkanmu mati tanpa daya di sini. Pelajari teknik ini. Setidaknya kau bisa berjalan normal dan bernapas tanpa membakar paru-parumu."

Lin Chen menatap gulungan usang tersebut. Di Alam Fana, ia harus memeras darah dan mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan fragmen teknik beladiri rendahan. Di sini, sebuah teknik pernapasan dasar diserahkan kepadanya begitu saja oleh seorang gadis pelarian. Hal ini mempertegas fakta yang kejam: ia kembali memulai perjalanannya dari titik nol.

Dari puncak hierarki sebuah sekte raksasa, kini ia kembali terjerembab menjadi semut paling bawah di tanah para dewa. Tidak ada kekecewaan di wajahnya, sudut bibirnya justru kembali melengkungkan senyuman tipis yang tajam.

"Siklus yang baru," gumam Lin Chen. Ia mengambil gulungan kulit tersebut menggunakan tangan kirinya. Matanya yang dingin menatap kobaran api unggun kecil di depan mereka.

Dunia Tengah mungkin mengira bisa meremukkannya dengan tekanan gravitasi dan kekejaman hukum rimbanya. Mereka belum tahu, Iblis yang baru saja melangkah keluar dari terowongan dimensi ini menjadikan penderitaan sebagai guru terbaiknya. Di atas pasir kelabu Gurun Debu Bintang, proses pendakian kembali menuju takhta Tiga Alam resmi dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!