Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.
Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.
Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.
Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDM|10|Tangisan Ditengah Hujan
Semua mata menatap Aruna, gadis itu hanya percaya kepada Andre, namun kali ini Andre hanya diam, Ia nampak tak bisa berbuat apapun didepan Alana, perempuan yang Aruna yakini adalah kekasih dari Devara, lelaki dingin yang sering dirumorkan tidak menyukai perempuan ternyata mempunyai kekasih.
"Cepat pergi, sebelum saya seret keluar" Satpam menegurnya kembali.
Alana tersenyum sinis, "Siapa dia Ndre.." pertanyaan yang terus dilayangkan kepada Andre, namun tatapan Alana tak teralihkan dari Aruna.
"Sa-saya tidak tau Bu.., tadi saya salah bicara" Jawab Andre dengan gugup, Ia menunduk takut tak berani menatap kedua perempuan yang ada dihadapannya.
Aruna tersenyum pahit, lagi-lagi Ia hanya dianggap sebagai semut kecil di sana. Bahkan terinjak-injak pun orang tidak akan tau kalau itu adalah Aruna, Istri CEO dari Mahesa Group. Istri yang hanya tercantum dalam selembar kontrak nikah.
Aruna berjalan menjauh, mereka berdua sudah lebih dulu meninggalkan lobby. Sekarang nasipnya kembali seperti seminggu yang lalu, berjalan tak tentu arah di pinggir trotoar. Gaun yang Aruna kenakan tak memancarkan aura apapun, Ia hanya terlihat sama dimata semua orang hanya Aruna yang bekerja di sebuah restoran Ayam goreng, bukan Aruna seorang istri dari Devara Mahendra.
Titik air membahasi pipinya, bukan air mata namun air yang turun dari langit yang menjadi saksi bisu kesedihannya hari itu. Semakin melangkah jauh semakin deras titik hujan itu. Aruna melihat kedepan, bahkan dirinya belum jauh dari gedung tinggi Mahesa Group.
Aruna kembali melihat plester yang ada di kakinya, sehari yang lalu Ia ingin melarikan diri dari dermaga. Saat ini langkahnya sudah tidak mampu lagi untuk berlari dari tempat itu, dan tujuannya kabur juga untuk menemui ayahnya. Namun, ayahnya dirawat di rumah sakit Devara, Aruna tak bisa kemana-mana lagi. Ia benar-benar sudah terjerat dalam rantai yang Devara buat.
"Begini ya rasanya menangis ditengah deras-nya hujan" ucap Aruna serak, tangisannya yang ke sekian kalinya, ditengah hujan, dipinggir trotoar dan didepan gedung tinggi Mahesa Group.
Hujan lebat disertai petir melanda Skyline City, semua orang berlarian menghindari hujan dan mencari tempat berteduh, namun Aruna hanya diam berdiri menatap bangunan tinggi itu, tujuannya agar Devara puas melihat anjing peliharaannya tersiksa ditengah badai.
Didalam gedung itu, lantai 25 Mahesa Group.
Devara yang memimpin rapat pada hari itu sedang sibuk presentasi didepan client penting yang sangat Ia tunggu-tunggu. Matanya menatap semua client-nya. Namun saat suara petir yang sangat nyaring itu terdengar, mata Devara spontan melihat kearah jendela kaca.
Matanya langsung tersorot kearah orang yang berdiri ditengah hujan lebat itu, fokusnya terganggu. "Ada apa Pak?" tanya salah satu client.
Rahang Devara mengeras satu detik, lalu melirik Andre yang ada di belakang, mengisyaratkan dengan matanya untuk melihat kearah jendela.
"Tidak apa, saya akan lanjut menjelaskan" Ucap Devara kemudian, sambil mengganti slide selanjutnya dan menatap layar proyektor.
Andre melihat keluar jendela, Matanya membulat terkejut, Ia hafal dengan baju yang Aruna kenakan, jelas perempuan yang ada diluar itu adalah Aruna. Dengan perlahan Andre keluar terlebih dahulu dari ruang rapat. Ia berlari secepat mungkin untuk keluar Gedung itu.
Namun, secepat apa Ia berlari tetap saja akan terlambat, Aruna sudah memegangi perutnya sedari tadi, berdiri ditengah badai tanpa mengisi perutnya yang kosong, jelas itu cara bunuh diri paling gampang yang akan Aruna lakukan. Tatapannya nanar, Aruna sempat mengelap matanya sebelum pandangannya tiba-tiba menjadi gelap, dan keseimbangannya semakin buruk, Aruna terjatuh dan tak sadarkan diri.
Saat Andre sampai, Aruna sudah di kelilingi orang-orang, Ia semakin panik dan berlari menerjang hujan yang cukup lebat itu. "Bu Aruna, mata Andre tak kuasa menahan kesedihan, jelas Ia tak bisa melihat keadaan Aruna sekarang, karena Andre juga mempunyai adik seumuran dengan Aruna.
Saat Andre menggendong Aruna, di antara orang-orang itu ternyata ada salah satu wartawan yang datang dan memotret mereka. Wajah Andre pucat, lagi-lagi Ia keceplosan memanggil Aruna dengan sebutan 'ibu' Andre menggigit bibir bawahnya. Ia tak perduli dengan wartawan yang mengejar.
"Siapa dia Pak Andre?, kenapa anda memanggilnya dengan ibu?, apa ada hubungan dengan Pak Devara?" Salah satu wartawan mencegat Andre, Andre tak menjawab. Ia langsung menuju mobil.
Didalam gedung Mahesa Group, lantai 25.
"Rapat selesai, nanti kita bahas kembali persoalan dana lanjutan program kesehatan Mahesa Hospital" Ujar Devara sambil mematikan layar Monitor tersebut, semua client nya bersalaman dengan Devara lalu keluar.
Sedari tadi sekertaris kedua Devara sudah menunjukan wajah paniknya kepada Devara, pria itu sengaja percepat rapat.
"Pak, saya dapat notifikasi dari Skyline Daily telah meliput berita tentang perempuan pingsan didepan gedung kita, diduga perempuan simpanan CEO Mahesa" ujar seketarisnya dengan nada panik.
Devara bersandar diujung meja dengan tangan menyilang, pandangannya lurus kearah jendela kaca yang terlihat keadaan ramai diluar. Devara diam sejenak, ruangan itu tampak senyap sesaat hanya ada suara hembusan nafas yang tidak terkontrol dari sekertarisnya.
Rahang Devara mengeras satu detik, lalu menghembuskan nafas dengan kasar, Ia merogoh saku nya berjalan kearah jendela dan membuka sedikit jendela dilantai 25 itu dengan santai. Devara mengambil rokoknya dari kotak. Lalu menyalakan lighter berlogo naga emas miliknya.
Rokok pertama di pagi hari yang menurutnya sangat diluar dugaan. "Beri tau Andre untuk tunggu didalam mobil" titah Devara, masih dalam posisi sama, menghembuskan asap rokoknya keluar jendela sembari menikmati suguhan para wartawan yang terus datang. Tak lama Devara menutup jendela kembali.
Devara mematikan rokoknya dan berjalan cepat keluar. "Tinggal dikantor, saya akan hadapi wartawan itu" Ujar Devara datar, sambil terus berjalan menuju lift.
Ting... Lift terbuka, didepannya sudah ada pengawal dan satpam berjejer untuk melindungi Devara, dengan santai pria itu berjalan menuju mobil Andre. Namun, segerombolan wartawan menyerbu Devara, pria itu tak bisa bergerak.
"Pak apa benar perempuan yang pingsan itu simpanan Anda?" tanya wartawan.
Devara tak menjawab, dan Ia tak akan mau menjawab, dikeadaan yang bisa menjatuhkan harga diri seorang Devara, Dengan tatapan tenang, kedua tangannya Ia masukan keladam saku celana. Pandangannya lurus, tanpa malu, tanpa menunduk, tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Saya akan adakan konferensi pers besok pagi di Mahesa Group" ucapnya dingin, dengan santai dan lantang. Devara berhasil lolos dan memasuki mobil.
Lirikan matanya sudah berbeda kepada Andre. Didalam mobil itu, Antara hidup dan mati Andre dipertaruhkan. "Siapkan konferensi pers besok" ucapnya kepada Andre. Kali ini, untuk kesekian kalinya Andre selamat dari Devara.
Devara melirik kearah Aruna yang ada disebelahnya, wajahnya pucat, sangat pucat. Devara mendekatkan jemarinya kearah hidung Aruna. Dingin, tetapi masih ada uap tipis, bibir Aruna membiru.
"Masih hidup Pak, tenang aja" Andre kembali berbicara dengan spontan.
Devara segera menyingkirkan tangannya. "Saya cuma pastikan dia tidak mati ditangan orang lain" ucapnya sambil melirik keluar mobil.