karena ambisi untuk menjadi kaya, seseorang rela menukar bayinya dengan bayi dari pria masa lalunya....
yuk ikuti kisah nasib bayi yang di tukar...
akankah berakhir bahagia atau semakin menderita....
Assalamualaikum....
masih biasa, bertemu lagi dengan Author receh... yang masih asal njeplak kalau bikin cerita... tanpa memikirkan plot dan twist...asal ngalir saja di pikiran...
yang masih setia dengan cerita-cerita author,mohon dukungannya... yang tidak suka , bisa di skip tanpa meninggalkan bintang satu....
dukungan kalian, adalah motivasi author...
terimakasih...
salam sehat selalu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Seina duduk dengan tenang, namun matanya tidak berhenti bergerak. Ia memperhatikan setiap sudut ruangan, setiap pelayan yang lewat, dan betapa mewahnya fasilitas di rumah ini. Sambil menyuapi Saka, ia melirik Maudi yang ada di pangkuannya.
Maudi kecil tetap tenang, mata bulatnya yang jernih menatap ke arah lampu kristal yang menggantung di plafon. Seina mendengus dalam hati. "Nikmatilah pemandangan ini, Maudi. Karena di rumah ini, kau hanya akan menjadi bayangan bagi anakku, Eliza.'
Doni memperhatikan dari kejauhan, berdiri di balik pilar ruang tengah. Ia melihat betapa telatennya Seina mengurus kedua anaknya sambil bersedia membagi ASI-nya untuk Eliza. Sebuah pemikiran mulai muncul di kepala Doni, pemikiran yang memang sudah diharapkan oleh Seina sejak awal.
_____
Beberapa minggu telah berlalu sejak Seina dan anak-anaknya pindah ke paviliun belakang kediaman Daneswara. Doni, yang masih dalam duka yang mendalam, jarang mengunjungi paviliun. Apalagi kesibukannya yang benar-benar menyita waktu, Doni yang kini menjabat sebagai CEO perusahaan Daneswara, membuat dirinya tidak ada waktu selain memikirkan kesehatan sang putri, bahkan Doni tidak pernah melihat wajah Maudi , dan Ia hanya memanggil Seina ke rumah utama jika Eliza, yang kini tumbuh menjadi bayi yang cengeng dan rewel, menolak susu formula.
Siang itu, Doni sedang pergi ke kantor. Seina memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelinap masuk ke rumah utama, dengan alasan ingin mengambil beberapa perlengkapan bayi yang tertinggal. Ia menggendong Maudi menggunakan kain jarik, sementara Saka sibuk bermain dengan mainan bekas di paviliun.
Saat melewati ruang keluarga yang megah, langkah Seina terhenti. Di atas perapian besar, tergantung sebuah foto pernikahan berukuran raksasa. Doni tersenyum lembut sementara wanita di sampingnya, Ambar, tersenyum sangat manis dan elegan.
Seina menatap foto Ambar dengan rasa iri yang membakar hati. "Harusnya aku yang ada di posisi itu, Ambar. Kalau saja dulu aku tidak egois meninggalkan Doni yang miskin" batinnya tajam.
"eh, tapi Doni juga miskin, hanya beruntung saja dia bisa menikahimu... Untung saja kamu mati, aku pasti akan akan mengganti posisimu " gumamnya tersenyum penuh arti.
Tiba-tiba, Maudi yang ada di gendongngannya menggeliat dan merintih pelan. Seina melepaskan gendongan dan mendudukkan Maudi di salah satu sofa mewah di ruang tamu.
Saat Seina menatap wajah Maudi, jantungnya serasa berhenti berdetak.
Mata bulat Maudi yang jernih, bentuk hidungnya yang bangir, bahkan lekukan bibir tipisnya saat sedang diam... semuanya sangat mirip dengan wajah Ambar di foto itu. Sangat identik. Seina menoleh ke foto, lalu kembali ke Maudi. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Tidak... ini tidak mungkin. Darah Ambar terlalu kuat di wajah anak ini,"' gumam Seina panik.
Ia membayangkan jika Bik Sum, perawat Eliza, atau bahkan Doni sendiri menyadari kemiripan ini. Kebohongannya akan terbongkar, dan ia akan diusir dari surga yang baru saja ia cicipi. Ia akan kembali melarat.
"Tidak akan kubiarkan! Kau tidak boleh mirip dengan wanita sialan itu!" bisik Seina tajam, matanya menyalang menatap Maudi yang polos.
Dengan panik, Seina berlari kembali ke paviliun, membiarkan Maudi sendirian di ruang tamu selama beberapa menit. Ia mencari tas kosmetiknya yang ia bawa dari kontrakan lamanya. Tangannya bergetar, ia mengambil sebuah botol fondasion cair dengan warna yang jauh lebih gelap dari kulit asli Maudi, dan yang paling mengerikan, fondasion itu sudah kedaluwarsa.
Seina kembali ke rumah utama dengan langkah terburu-buru. Ia mendekati Maudi yang mulai gelisah. Tanpa ragu, Seina menuangkan cairan kental berbau kimia itu ke tangannya dan mulai mengoleskannya secara kasar ke seluruh wajah Maudi.
"Ini demi kebaikan kita, Maudi. Jangan salahkan Mama," gumamnya, terus menggosok kulit bayi yang lembut itu agar warna kulitnya terlihat kusam dan tidak lagi putih cerah seperti kulit Ambar.
Saking kasarnya Seina menggosok, Maudi mulai menangis kesakitan. Kulitnya yang sensitif langsung bereaksi terhadap bahan kimia keras dan kedaluwarsa itu.
"Diam! Jangan menangis!" bentak Seina pelan, terus mengoleskan fondasion hingga menutupi setiap inci wajah Maudi, menjadikannya terlihat kusam, kotor, dan berbeda.
Maudi tetap menangis, namun seina yang kejam mencubit tangan Maudi , bukannya diam, Maudi yang belum tahu apa-apa malah menangis semakin kencang. Akhirnya dengan terpaksa,Seina menyusui Maudi di ruang tamu.
Setelah selesai, dan Maudi terdiam, Seina buru-buru menggendong Maudi kembali ke paviliun.
Keesokan harinya, rencana keji Seina membuahkan hasil yang lain. Kulit wajah Maudi yang terkena fondasion kedaluwarsa itu mengalami iritasi hebat. Timbul ruam merah, bruntusan, dan bahkan beberapa bagian terlihat melepuh halus. Wajah Maudi yang tadinya cantik dan mirip Ambar kini terlihat mengerikan, kusam, dan berpenyakit.
"Kenapa dengan wajah anak ini, Seina?" tanya Bik Sum saat melihat Seina menggendong Maudi di dapur belakang.
Seina memasang wajah sedih yang dibuat-buat. "Saya juga bingung, Bik. Mungkin karena susu saya tidak cocok untuk dia, atau dia alergi udara paviliun. Kulitnya memang sangat sensitif sejak lahir."
Bik Sum menatap Maudi dengan tatapan kasihan, namun di dalam hati, ia merasa aneh. Ia belum pernah melihat ruam alergi separah itu pada bayi sekecil Maudi. "Kasihan anak ini, sudah hidup susah, wajahnya pun hancur seperti ini," batin Bik Sum, tanpa menyadari bahwa itu adalah cara Seina untuk menyembunyikan kebenaran.
"Sebentar ya Seina, aku akan mengambilkan obat untuk putrimu " ucap bik sumi dengan langkah terburu-buru karena tidak tega melihat ruang yang sangat menyakitkan itu di wajah Maudi... ia berjalan menuju kamar Eliza yang dijaga oleh perawat..
"sus...boleh minta salep iritasi untuk bayi tidak, kasihan... Putri Seina wajahnya merah-merah..." ucap bik Sumi dengan pelan, karena melihat Eliza yang tertidur lelap di box bayinya.
" Ini ada banyak, daripada kadaluarsa tidak terpakai" balas perawat dengan memberikan tiga salep kepada bik Sumi.
Dengan langkah cepat Bik sumi kembali lagi ke dapur untuk memberikan salap tersebut pada Seina." ini Seina, kau bisa memakaikan salep ini pada wajah Maudi, kasihan itu sepertinya tidak nyaman " ucap bik Sumi dengan wajah meringis , kasihan melihat wajah Maudi yang memerah.
"Terimakasih bik sum, saya kembali ke paviliun dulu ya, kasihan juga saka sendirian disana" balas Seina dengan lembut.
"iya Seina, kau bisa kemari saat jam makan saja, tugasmu disini hanya menyusui Nona kecil, jadi tidak usah membantu pekerjaan rumah, di sini sudah ada banyak pelayan" ucap Bik sum dengan tegas namun lembut.
Seina berlalu pergi, meninggalkan bik Sum yang sibuk dengan pemikiran nya sendiri " kasian sekali, padahal kemarin wajahnya tidak apa-apa saat tidur, ".
Seina tersenyum penuh arti"sudah repot-repot membuat wajah Maudi jelek masa harus di obati"
Eliza bakalan jadi musuh lagi buat Maudi, bakalan mengira kalau Maudi merebut Rasya darinya 🤣🤣🤣🤣 padahal Rasya menyelamatkan Eliza karena Maudi 😂 ahh elahhj Elizaaaa jangan jadi kacang lupa kulit kau, atau kami piteeeessss palamu yaaa 😏
Kata Rasya si Maudi orang asing ehh kata Hans, maudi datang bersama suaminya 🤣🤣🤣🤣🤣 ucapnmu bagian dari doa yg ku aamiin kann hans 🤣🤣
Tahan napas pas Maudi lompat dari pintu Helikopter untuk misi penyelamatan Eliza, smg setelah ini Eliza tidak akan melupakan jasa Maudi yg bertaruh nyawa untuk menyelamatkan dirinya dari racun Ibu kandungnya sendiri 🙄
Seina Seina.... bisa²nyaa seorang ibu tapi tak memiliki jiwa keibuan sama sekali bahkan dengan anak yg dilahirkan dari rahimnya sendiri, benar² wanita gila yg haus dan serakah akan harta.