NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Paling Panjang

BAB 25 — Malam Paling Panjang

Malam itu, langit di atas London mendung gelap, seakan mencerminkan suasana hati Alena yang sedang kelabu dan penuh badai.

Tanpa memberitahu, tanpa mengirim pesan, Alena datang langsung ke apartemen Adrian. Pikirannya kacau, kata-kata Sophia terus bergaung di telinga, dan tatapan kemenangan wanita itu seakan terus membayangi.

Hatinya sakit. Sangat sakit. Dan dia butuh jawaban. Dia butuh kepastian. Sekarang juga.

Tok! Tok tok tok!

Pintu dibuka dengan terburu-buru. Adrian muncul di balik pintu, wajahnya tampak kaget melihat Alena berdiri di sana dengan mata merah, napas memburu, dan aura marah yang begitu kuat.

"Len? Kenapa datang begini malam? Kenapa wajahmu..."

"JANGAN BASA-BASI!" potong Alena keras, mendorong tubuh Adrian sedikit agar dia bisa masuk. Dia melempar tasnya ke sofa dengan kasar, lalu berbalik menatap pria itu tajam-tajam.

"Jelaskan padaku, Adrian! Jelaskan semua ini!" teriak Alena, suaranya pecah menahan tangis yang siap meledak.

 

🗣️ Ledakan Emosi

Adrian mengerutkan kening, bingung namun mulai mengerti arahnya. "Soal apa? Soal Sophia?"

"YA! SOAL SOPHIA!" Alena melangkah maju, menatap mata pria itu tak gentar. "Dia datang padaku! Dia bicara padaku dengan nada merendahkan! Dia bilang aku tidak setara! Dia bilang kau akan kembali padanya! Dan kau... kau membiarkannya berjalan-jalan di sekitarmu seolah tidak terjadi apa-apa! Kau membiarkannya mengajakmu makan, menyentuhmu, dan tertawa bersamamu!"

Air mata Alena jatuh deras.

"Apa yang harus aku pikirkan, Adrian?! Apa posisiku sebenarnya?! Apa aku cuma pelarian sementara sampai kau siap kembali ke 'dunia asalmu' bersamanya?!"

"ALENA, DENGAR AKU!" Adrian mencoba memegang bahu gadis itu, tapi Alena menepisnya kasar.

"AKU SUDAH CAPEK DENGAR! CAPEK DENGAN ALASAN! CAPEK DENGAN RAHASIA! CAPEK MERASA KECIL DAN TIDAK BERHARGA!" Alena menangis histeris, tangannya memukul dada Adrian berulang kali dengan kepalan tangannya yang kecil. "KENAPA KAU BAWA AKU MASUK KE HIDUPMU KALAU AKHIRNYA AKU HARUS DISAKITI BEGINI?! KENAPA BILANG CINTA KALAU MASIH ADA TEMPAT UNTUK DIA?!"

Adrian tidak menangkis, dia membiarkan gadis itu meluapkan amarahnya, membiarkan pukulan-pukulan kecil itu mendarat di dadanya. Wajahnya tampak gelap, rahangnya mengeras, matanya menyala menahan emosi yang sama besarnya.

"BERHENTI!" bentak Adrian akhirnya, mencengkeram kedua pergelangan tangan Alena kuat-kuat agar gadis itu berhenti memukul.

"AKU TIDAK PUNYA APA-APA DENGAN DIA! SUDAH BERAKHIR ITU DULU!" teriak Adrian, suaranya menggelegar memecah keheningan malam. "DIA YANG MENGGODA, DIA YANG MENGINCAR, TAPI AKU TIDAK PERNAH MEMBERI HARAPAN! TIDAK PERNAH!"

"TERUS KENAPA KAU TIDAK MENOLONGKU?! KENAPA KAU TIDAK BILANG PADANYA BAHWA KAU PUNYA AKU?!" isak Alena keras, tubuhnya gemetar hebat. "KARENA DALAM DASARNYA KAU MALU! KAU MALU PUNYA PACAR SEPERTI AKU YANG MASIH MAHASISWI! KAU MALU KARENA AKU TIDAK SECANTIK DAN SEHEBAT SOPHIA!"

 

🛑 Kata-kata yang Menusuk

Kalimat itu sepertinya memukul Adrian lebih keras dari pukulan manapun.

Wajah pria itu berubah kaget, lalu berubah menjadi sangat sedih dan kecewa pada dirinya sendiri. Dia melepaskan cengkeramannya, lalu mundur selangkah, memegang kepalanya frustrasi.

"Kau... kau benar-benar berpikir begitu tentangku?" gumam Adrian parau, suaranya terdengar hancur. "Kau pikir aku bersamamu karena iseng? Kau pikir aku malu padamu?"

Dia mendekat lagi, wajahnya sangat dekat dengan wajah Alena.

"ALENA! BUKA MATA KAU LEBAR-LEBAR! WANITA SEBANYAK APA YANG BISA MEMBUAT PRIA SEPERTI AKU BERKELANA KEMANA-MANA CUMA BUAT MENCARI KOPI YANG KAU SUKA?! WANITA SEBANYAK APA YANG BISA MEMBUATKU LUPA SEGALA ATURAN DAN EGO KU HANYA BUAT BISA PELUK KAU SEPERTI INI?!"

Adrian menarik napas panjang, matanya mulai tampak basah.

"AKU TIDAK PERNAH MALU! YANG ADA AKU MALAH BANGGA! BANGGA BANGET PUNYA KAU! TAPI AKU TAKUT! AKU TAKUT KAU TERLUKA! AKU TAKUT DUNIA YANG KERAS INI AKAN MEROMPAK KETULUSANMU! AKU TAKUT SOPHIA ATAU SIAPAPUN ITU AKAN BISA MENYAKITI KAU SEPERTI YANG DIA LAKUKAN TADI!"

Suara Adrian pecah. Untuk pertama kalinya, Alena melihat sisi rapuh yang begitu nyata dari pria yang selalu terlihat kuat itu.

 

🤝 Malam Kejujuran

Hening sejenak. Hanya suara isak tangis mereka yang terdengar.

Alena menatap mata Adrian yang juga berkaca-kaca. Kemarahan di dadanya perlahan berganti menjadi rasa sakit yang mendalam.

"Kenapa... kenapa harus sesakit ini?" bisik Alena lemah, bahunya turun naik. "Aku takut, Adrian... Aku sangat takut."

Adrian menatapnya dalam, tangannya perlahan terulur lagi, kali ini tidak ditolak. Dia memegang wajah gadis itu lembut, menghapus air mata dengan ibu jarinya.

"Takut apa, Sayang? Cerita padaku..."

"Aku takut..." Alena memejamkan mata, air mata terus mengalir. "Aku takut suatu hari nanti kau sadar bahwa Sophia benar. Bahwa kita memang beda dunia. Aku takut kau bosan. Aku takut kau lelah dan akhirnya memilih jalan yang lebih mudah... jalan yang ada Sophia di sana. Aku takut kehilangan kau, Adrian. Aku takut banget... rasanya kalau hidup tanpa kau, aku hancur."

Pengakuan itu keluar begitu saja. Murni. Jujur. Tanpa topeng.

Mendengar itu, hati Adrian seakan diremas sampai sakit sekali. Dia menarik tubuh Alena dan memeluknya sangat erat, seolah ingin menyatukan kedua tubuh itu menjadi satu agar tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi ketakutan.

"Shhh... jangan bilang begitu. Kumohon..." bisik Adrian di telinga gadis itu, suaranya bergetar hebat.

Dia mengusap punggung Alena berulang kali, menenangkan, mencoba menyalurkan kekuatan.

"Dan kau tahu apa ketakutan terbesarku?" lanjut Adrian pelan.

Alena menggeleng pelan di dadanya.

"Aku takut... aku takut aku tidak cukup baik buatmu. Aku takut caraku mencinta itu salah dan malah bikin kau menangis setiap hari. Aku takut masa laluku, masalahku, dan bebanku akan menyeretmu ke dalam lubang hitam dan menghancurkan masa depanmu yang cerah."

Adrian menundukkan wajahnya di ceruk leher Alena, menghirup aroma gadis itu dalam-dalam, mencari kekuatan.

"Aku takut... aku takut aku akan menyakiti kau lebih dalam lagi. Karena aku tahu, mencintaiku itu tidak mudah. Menjadi bagian dari hidupku itu penuh risiko dan air mata."

 

🔄 Titik Balik

Malam itu, di tengah kegelapan dan dinginnya udara London, dinding penghalang di antara mereka runtuh total.

Tidak ada lagi dosen dan mahasiswi.

Tidak ada lagi gengsi dan ego.

Hanya ada dua manusia yang saling mencinta, saling takut kehilangan, dan saling mengakui ketidaksempurnaan mereka.

Mereka sadar, selama ini mereka bertengkar bukan karena kurang cinta, tapi karena terlalu takut kehilangan.

Alena mengeratkan pelukannya di pinggang Adrian, menempelkan telinganya tepat di dada pria itu, mendengarkan detak jantung yang berirama kencang dan sama paniknya dengan jantungnya sendiri.

"Jangan biarkan aku merasa sendirian lagi..." bisik Alena lemah. "Apapun yang terjadi, hadapi bareng-bareng ya?"

Adrian mengangguk cepat, mencium puncak kepala gadis itu berkali-kali penuh rasa syukur.

"Iya... iya Sayang. Maafkan aku. Maafkan aku yang selama ini bodoh dan keras kepala. Kita hadapi bareng. Apapun resikonya, apapun rintangannya, kita hadapi sama-sama."

Mereka diam berpelukan lama sekali, seolah ingin menghangatkan hati satu sama lain yang sudah terlalu lama kedinginan karena rasa takut.

 

❤️ Janji di Tengah Malam

Akhirnya, Adrian perlahan melepaskan pelukannya sedikit, hanya untuk bisa menatap wajah gadis itu. Matanya menatap Alena dengan tatapan yang begitu dalam, begitu serius, dan penuh cinta yang tak terhingga.

Dengan jari-jarinya yang gemetar sedikit, dia menyisir helai rambut Alena ke belakang telinga.

Dengan suara sangat pelan, bergetar, namun tegas dan penuh keyakinan, Adrian berbisik tepat di bibir gadis itu.

"Aku tidak tahu akhir cerita ini…"

"Entah bagaimana nanti jalannya. Entah kita akan bahagia selamanya atau justru harus melewati badai yang lebih besar lagi. Aku tidak bisa menjanjikan dunia, aku tidak bisa menjanjikan segalanya akan mudah."

Dia menggenggam tangan Alena, menaruhnya tepat di atas jantungnya sendiri.

"Tapi aku tahu aku tidak ingin kehilanganmu."

"Apapun yang terjadi, siapapun yang menghalang, selama kau masih mau berdiri di sisiku... aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu. Selamanya."

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!