Sinopsis: The Broken Lens
Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.
Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.
Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28: Di Antara Manisnya Kopi dan Teror yang Mengintai
Aroma roasted beans yang hangat menguar dari mesin espresso di Thalassa Coffee, menyambut pagi yang cerah. Savya baru saja menyalakan mesin kasir ketika lonceng pintu berdenting lembut. Seorang kurir melangkah masuk membawa kantong kertas cokelat yang rapi.
"Dengan Mbak Savya? Ada titipan dari Pak Valerius," ucap kurir itu ramah.
"Ah, iya, saya sendiri. Terima kasih, Pak," jawab Savya sambil menandatangani resi.
Savya membawa kantong itu ke balik meja bar dengan rasa penasaran. Di dalamnya terdapat termos mini berisi cokelat hangat premium, roti croissant almond, dan secarik kertas kecil. Savya mengambil kertas itu, lalu membaca tulisan tangan yang tegas di atasnya:
‘Kopi hitam semalam sangat enak. Tapi pagi ini, kamu yang butuh sesuatu yang manis agar tidak tumbang. Jangan terlalu dipikirkan masalah kemarin. —Vale.’
"Aaaah! Vale, kamu benar-benar tidak sehat buat kesehatan jantungku!" pekik Savya tertahan.
Ia langsung menyembunyikan wajahnya di balik kantong kertas, menendang-nendang kan kakinya ke kolong meja karena salah tingkah yang luar biasa. Bagaimana bisa seorang pria sekaku dia menulis pesan semanis ini?! Hatiku benar-benar mau meledak, bergulir, dan salah tingkah tidak karuan hanya karena sebaris kalimat pendek! Dia benar-benar curang
Arka yang baru muncul dari ruang loker langsung menatap bosnya dengan pandangan meledek. "Waduh, Sila, Farel, Mika! Sini deh! Lihat Mbak Savya pagi-pagi udah dapet surat cinta dari Tuan Magang."
Sila ikut menongolkan kepalanya sambil terkekeh. "Pantesan kedainya mendadak bau gula aren, manis banget!"
"Arka, Sila, diam atau bonus kalian hangus!" ancam Savya dengan pipi yang sudah semerah stroberi.
Tawa riuh anak-anak kedai langsung pecah, mengawali shift pagi mereka dengan penuh kehangatan.
Namun, manisnya suasana di Thalassa Coffee menguap tanpa sisa saat siang merayap datang. Pintu kedai mendadak terbuka dengan sentakan kasar, memotong obrolan para pelanggan yang sedang ramai.
Dua orang pria bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam melangkah masuk tanpa permisi. Mereka berjalan keliling area meja pelanggan sambil sengaja menjatuhkan buku menu ke lantai.
Brak!
Salah satu dari mereka melempar sebuah amplop hitam tebal tepat ke atas meja bar di hadapan Savya.
"Pesan dari Tuan kami. Dia bilang, ini baru permulaan," ucap pria itu dengan suara berat yang mengintimidasi, lalu berbalik pergi begitu saja.
Suasana kedai seketika mencekam. Sila dengan sigap langsung bergerak menenangkan para pelanggan yang mulai panik, sementara Farel melangkah maju mendekati kasir dengan rahang mengeras.
"Mbak Savya, jangan dibuka. Biar saya yang buang amplop gila itu," ujar Farel penuh kegeraman.
"Tidak papa, Farel. Aku harus tahu," bisik Savya dengan tangan yang mulai gemetar.
Savya membuka amplop hitam itu perlahan. Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto kedai Thalassa Coffee yang diambil dari kejauhan pada malam hari—termasuk foto dirinya dan Valerius yang sedang mengobrol berdua semalam. Di balik foto tersebut, tertulis kalimat merah yang mencolok:
‘Setiap detik pergerakanmu ada di tanganku, Savya. Kamu dan orang-orang di sekitarmu tidak akan pernah aman. Penyesalanmu akan dimulai dari tempat sampah ini.’
Napas Savya seketika tercekat, wajahnya mendadak pucat pasi. Rasa aman yang baru ia bangun runtuh dalam sekejap karena teror nekat dari Katya
Ting!
Lonceng pintu kembali berbunyi nyaring. Sosok tegap Valerius muncul di ambang pintu dengan setelan kantor yang rapi, tampak sengaja mampir di jam istirahatnya. Begitu netra gelapnya menangkap raut ketakutan Savya dan amplop hitam di meja bar, aura di sekeliling Valerius langsung berubah menjadi teramat dingin dan kaku.
Valerius melangkah lebar, merebut lembaran foto itu dari tangan Savya, lalu membacanya sekilas. "Perempuan gila," desisnya rendah dengan mata berkilat penuh amarah
Valerius melangkah lebar, mendekat ke meja kasir tanpa menimbulkan suara gaduh yang bisa membuat pelanggan makin panik. Ia mengambil foto-foto tersebut dari tangan Savya,
Lalu membacanya sekilas. "Perempuan gila," desisnya rendah dengan mata berkilat penuh amarah. Lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop dengan gerakan yang tenang, menyembunyikannya dari pandangan pelanggan.
Ia mengikis jarak, lalu langsung menggenggam erat kedua telapak tangan Savya yang terasa sedingin es. Kehangatan tangannya mengalir, mencoba menyalurkan ketenangan yang ia miliki.
"Vale... foto ini... mereka mengintai kita semalam," suara Savya bergetar berbisik.
Valerius mempererat genggamannya, mengunci pandangan Savya sepenuhnya. Suara beratnya terdengar begitu tenang dan stabil, menjadi penenang instan yang meredam kepanikan di dada Savya.
"Aku ada di sini, Savya. Tarik napas mu perlahan," ucap Valerius dengan nada rendah yang sangat menyejukkan. "Jangan biarkan gertakan seperti ini merusak harimu. Kedai ini aman, dan kamu tidak sendirian."
Valerius kemudian mengeluarkan selembar kartu nama kerjanya yang biasa dari saku kemeja, lalu membaliknya dan menuliskan sebuah nomor di sana. "Ini nomor handphone-ku yang selalu aktif. Kalau ada hal mencurigakan lagi, atau kalau kamu tiba-tiba merasa cemas, hubungi aku saat itu juga. Mengerti?"
Savya menatap nomor yang ditulis tergesa namun rapi itu. "Tapi, Vale... bagaimana kalau orang-orang itu juga mengikuti mu? Mereka memotret kita berdua. Aku tidak mau kamu terseret masalah ini."
Valerius menggelengkan kepala pelan, ibu jarinya bergerak mengusap punggung tangan Savya dengan lembut untuk meredakan kekhawatiran wanita itu. "Fokus saja pada ketenanganmu di sini, Savya. Urusan di luar kedai ini, biar menjadi urusanku. Orang-orang seperti mereka hanya berani meneror dari tempat gelap karena mereka tahu mereka tidak punya kekuatan di tempat yang terang."
Savya mengangguk pelan, merasakan debaran cemasnya perlahan surut, tergantikan oleh rasa hangat yang mengalir dari jemari Valerius. Sikap tenang pria itu benar-benar menjadi obat penawar instan bagi ketakutannya.
"Terima kasih, Vale. Maaf selalu merepotkan mu," bisik Savya tulus.
"Kamu tidak pernah merepotkan ku," balas Valerius dengan senyuman tipis yang teramat jarang ia tunjukkan. Ia melepaskan genggamannya perlahan, lalu menoleh ke arah Farel dan Arka yang berdiri menjaga jarak aman. "Farel, Arka, tolong pastikan semua pintu belakang terkunci rapat siang ini. Jangan biarkan Mbak Savya kalian sendirian di area kasir."
"Siap, Mas Vale! Serahkan pada kami," sahut Arka dengan nada yang sengaja dibuat tegap seperti prajurit, berusaha mencairkan ketegangan.
Setelah memberikan satu tatapan menenangkan terakhir pada Savya, Valerius berpamitan dan melangkah keluar menuju mobilnya dengan tenang, kembali ke rutinitas kantornya seperti biasa seolah tidak ada hal besar yang terjadi.
Begitu pintu kedai tertutup, Sila langsung mendekati Savya dan mengintip kartu nama di tangan bosnya. "Mbak, meskipun situasi tadi bikin merinding, tapi harus aku akui... Mas Vale barusan keren banget. Tenang banget, kayak udah biasa ngadepin orang-orang begitu."
Savya menghela napas panjang, menaruh kartu nama itu ke dalam laci kasir dengan hati-hati. "Iya... sikap tenangnya benar-benar menyelamatkanku dari rasa panik."
Farel yang berdiri di dekat mesin espresso ikut menyahut sambil tersenyum tipis. "Pria yang bisa diandalkan, Mbak. Sekarang, mari kita rapikan lagi menu-menu ini dan lanjut bekerja. Kita tunjukkan pada orang-orang di luar sana kalau kedai ini tidak mudah digoyahkan."