Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Baru saja suapan bubur terakhir berpindah ke dalam mulut Gayuh, terdengar ketukan pelan dan sangat teratur dari luar kamar.
Tok... tok... tok.
"Masuk," titah Jati tanpa mengalihkan pandangannya dari Gayuh.
Pintu besar itu terbuka, menampilkan sosok Pak Gunawan yang melangkah masuk dengan setelan formalnya yang selalu rapi.
Pria paruh baya itu membungkuk sopan, membawa sebuah map kulit berwarna hitam di tangannya.
"Selamat pagi, Tuan Jati, Nona Gayuh. Maaf mengganggu waktu sarapan Anda," ucap Pak Gunawan dengan nada takzim.
"Saya datang untuk melaporkan bahwa semua perintah yang Tuan berikan semalam telah dilaksanakan tanpa ada satu pun yang terlewat. Pihak yang Anda minta sudah siap di luar."
Jati mengangguk puas.
"Suruh mereka masuk, Pak Gunawan."
Pak Gunawan kembali membungkuk, lalu berbalik dan membuka pintu kamar lebih lebar.
Tak lama kemudian, beberapa staf wanita dari Wedding Organizer (WO) papan atas masuk ke dalam kamar atas izin Jati.
Mereka bergerak dengan sangat anggun dan senyap, membawa beberapa manekin yang memajang pilihan gaun pengantin eksklusif, serta beberapa pasang setelan jas pria yang tampak sangat mewah dan elegan di dalam pelindung pakaian.
Gayuh yang menyaksikan pemandangan itu seketika tersedak air putih yang baru saja diteguknya.
Matanya membelalak sempurna, menatap deretan gaun putih berbahan brokat premium dan sutra yang berkilauan di depan matanya.
Ia benar-benar terkejut dan syok. Seluruh tubuhnya mendadak kaku.
Ia mengira ucapan Jati tentang "menikah besok" saat di dalam mobil dan di atas ranjang semalam hanya bualan atau candaan untuk menenangkan hatinya yang sedang terguncang.
"J-Jati... apa-apaan ini?" bisik Gayuh dengan suara bergetar, menatap Jati dengan tatapan tidak percaya.
"Menikah besok? Kamu tidak bercanda?"
Gayuh mencengkeram selimutnya, perasaannya berkecamuk.
Ia sempat ragu dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Jati, kondisiku bahkan belum pulih total, punggungku masih diperban. Kita juga tidak ada persiapan besar-besaran. Bagaimana bisa kita menikah secepat ini tanpa memberi tahu siapa pun?"
Melihat kepanikan yang mendalam di wajah wanita yang dicintainya, Jati segera meletakkan mangkuk kosong ke atas nakas.
Ia menggeser duduknya menjadi lebih dekat, lalu menggenggam kedua tangan Gayuh yang terasa dingin, mencoba menyalurkan kehangatan dan ketenangan.
"Gayuh, dengarkan aku," ucap Jati dengan suara baritonnya yang terdengar begitu lembut namun sarat akan ketegasan yang menenangkan.
Jati meyakinkan Gayuh, menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu yang sedang diliputi keraguan.
"Aku tidak butuh pesta mewah yang melelahkan untuk saat ini, Sayang. Aku tidak butuh ribuan tamu undangan yang hanya akan membuatmu stres dan kelelahan di masa pemulihan ini," lanjut Jati, ibu jarinya mengusap punggung tangan Gayuh dengan lembut.
"Yang aku butuhkan sekarang adalah status hukum dan agama yang sah. Aku ingin kamu menjadi istriku yang legal, agar aku bisa melindungimu sepenuhnya dari gangguan keluarga Adiguna, dari kejaran media, atau dari siapa pun yang berniat jahat padamu. Secara hukum, tidak akan ada yang bisa menyentuhmu jika kamu sudah menjadi Nyonya Aditama."
Gayuh tertegun, amarah dan kepanikannya perlahan mereda mendengar penjelasan pria di depannya.
Jati tersenyum tipis, lalu mengelus pipi Gayuh yang perlahan mulai kembali merona.
"Pernikahan kita akan digelar secara tertutup—sebuah private akad di dalam mansion ini besok pagi. Hanya akan ada penghulu, beberapa saksi terdekat, dan Pak Gunawan. Tidak akan ada keramaian yang mengganggu istirahatmu. Setelah kamu sembuh total, baru kita pikirkan resepsi yang kamu impikan. Bagaimana?"
Gayuh menatap lekat ke dalam sepasang mata Jati.
Di sana, ia tidak menemukan egoisme seorang CEO kaya raya, melainkan binar mata yang begitu tulus, penuh cinta, dan teramat protektif.
Pria ini hanya ingin menjaganya dengan cara yang paling aman.
Perlahan, dinding keraguan di dalam hati Gayuh runtuh tanpa sisa. Gayuh akhirnya luluh.
Sebuah anggukan kecil dan senyuman manis terukir di bibirnya, menandakan bahwa ia siap menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke dalam penjagaan pria yang teramat dicintainya itu besok pagi.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Gayuh, Jati memberikan isyarat kepada tim Wedding Organizer untuk mulai bekerja.
Dua orang desainer wanita yang mengenakan sarung tangan putih melangkah maju dengan sangat sopan dan penuh hormat mendekati ranjang.
Mereka membawa pita pengukur dan contoh bahan brokat tercantik yang telah disiapkan.
"Permisi, Nona Gayuh. Kami akan mengukur lingkar tubuh Anda untuk penyesuaian gaun besok pagi," ucap desainer utama dengan suara yang sangat lembut.
Proses pengukuran pun dimulai. Para desainer WO itu mulai mengukur gaun pengantin dengan sangat hati-hati, memastikan setiap gerakan mereka seminimal mungkin agar tidak menyentuh atau menekan luka perban yang masih tertutup rapat di punggung Gayuh.
Mereka memperlakukan Gayuh layaknya porselen yang paling rapuh dan berharga di dunia.
Di sudut ruangan, Jati berdiri tegak dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Pria itu mengawasi proses pengukuran dengan tatapan posesif yang begitu pekat.
Sepasang matanya yang tajam mengunci setiap pergerakan tangan sang desainer, memastikan tidak ada satu pun kesalahan yang bisa membuat wanitanya merasa tidak nyaman atau kesakitan.
Aura pelindung yang pekat begitu kentara melingkupi tubuh tegap sang CEO.
Sementara itu, di tempat lain yang terpisah jauh dari kedamaian mansion, sebuah badai besar sedang menghantam kediaman keluarga Adiguna.
Lewat perintah mutlak yang diberikan Jati sebelumnya, Pak Gunawan memastikan bahwa Yudha telah menerima pemberitahuan resmi mengenai pernikahan yang akan digelar esok pagi.
Pemberitahuan itu sengaja dikirimkan Jati bukan sebagai undangan, melainkan sebagai tamparan keras yang menghancurkan sisa-sisa harga diri keluarga Adiguna.
Jati ingin Yudha dan seluruh keluarganya tahu, bahwa posisi istri CEO J-Corp yang dulu dihina dan dibuang mentah-mentah oleh Tryas karena mengira Jati hanya seorang tukang ojek online miskin, kini justru diisi oleh wanita yang jauh lebih mulia dan terhormat: Gayuh. Kehancuran nama baik dan jatuhnya aset keluarga Adiguna menjadi pelengkap atas penyesalan terdalam mereka.
Kembali ke dalam kamar utama, proses pengukuran gaun akhirnya selesai dengan sempurna tanpa hambatan.
Para staf WO dan desainer berpamitan mundur dengan takzim, menyisakan Jati dan Gayuh kembali dalam keheningan yang intim.
Jati berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. Ia menangkup wajah Gayuh dengan kedua tangannya yang hangat, menatap lekat manik mata wanita yang sebentar lagi akan menjadi pelabuhan terakhir hidupnya.
Jati mencondongkan tubuh, lalu mengecup dahi Gayuh dengan begitu lama dan penuh perasaan, menyalurkan seluruh rasa cinta dan janji setianya yang mutlak.
Sebelum keluar kamar sejenak untuk mengurus beberapa dokumen akhir pernikahan bersama Pak Gunawan, Jati mendekatkan bibirnya ke telinga Gayuh.
Dengan suara bariton yang rendah, berat, dan penuh penekanan, ia membisikkan kalimat penutup yang mengunci takdir mereka.
"Besok, tidak akan ada lagi yang berani memanggilmu pelayan atau orang asing, Sayang. Kamu adalah Nyonya Jati Aditama yang sah, pemilik tunggal dari seluruh hidup dan duniaku."