Laura, seorang gadis kota yang mandiri, menemukan belahan jiwanya pada Arka ketika mereka bekerja di tempat yang sama. Cinta mereka yang kuat membawa keduanya ke jenjang pernikahan. Namun, kebahagiaan itu mulai terkikis saat Laura setuju untuk ikut Arka pindah dan tinggal di kampung halamannya.Sejak hari pertama, kehidupan Laura berubah menjadi penuh air mata. Ibu mertuanya, Rohaya, tidak pernah menyukainya. Rohaya selalu mencari-cari kesalahan Laura, mulai dari cara memasak, mengurus rumah, hingga hal-hal kecil lainnya. Laura tidak pernah tahu alasan di balik kebencian mendalam ibu mertuanya tersebut. Di sisi lain, Arka adalah suami yang setia. Arka selalu pasang badan dan mati-matian membela Laura setiap kali Rohaya menyudutkan istrinya.Di balik sifat ketat dan kejamnya, Rohaya menyimpan trauma dan dendam masa lalu yang kelam terhadap "orang kota". Saat Rohaya sedang hamil dulu, suaminya yang bernama Arman berselingkuh dengan seorang wanita kota bernama Sinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellin Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembelaan Arka
Arka berdiri di ambang ruang makan dengan napas yang masih belum teratur setelah perjalanan panjang. Matanya langsung tertuju pada Laura yang berdiri kaku di dekat meja, wajahnya pucat, matanya sembab, dan jemarinya gemetar.
Suasana rumah terasa sangat berat.
Semua keluarga besar diam, seolah menunggu ledakan berikutnya.
Rohaya melipat tangan di dada, wajahnya penuh kemarahan.
“Tanyakan sendiri pada istrimu. Masakan yang dia buat asin seperti air laut. Di depan semua keluarga, dia mempermalukan Ibu.”
Arka menatap meja makan, lalu melihat panci sayur yang masih terbuka.
Ia menoleh pada Laura.
“Kamu yang masak?”
Laura menunduk pelan.
“Iya…”
Suaranya hampir tidak terdengar.
Arka mengenal istrinya. Ia tahu Laura bukan orang yang ceroboh sampai separah itu.
Ia berjalan mendekat.
“Kamu sudah coba sebelum disajikan?”
Laura mengangguk cepat, air matanya kembali jatuh.
“Sudah, Ka… tadi rasanya normal. Aku tidak tahu kenapa bisa jadi seperti itu…”
Rohaya langsung menyela.
“Tentu saja dia akan mencari alasan!”
Arka menatap ibunya.
“Bu, Laura bilang dia sudah mencobanya.”
“Jadi sekarang kamu lebih percaya istrimu daripada ibumu sendiri?”
Pertanyaan itu membuat suasana semakin menegang.
Beberapa bibi mulai saling pandang.
Bella yang duduk di sudut ruangan hanya diam sambil memperhatikan, bibirnya membentuk senyum kecil yang nyaris tak terlihat.
Arka menarik napas panjang.
“Saya tidak bilang begitu. Tapi saya juga tahu Laura tidak mungkin sengaja melakukan ini.”
Rohaya tertawa sinis.
“Tidak mungkin? Kamu baru menikah beberapa bulan dan merasa sudah mengenalnya sepenuhnya?”
Arka menjawab tegas.
“Karena saya suaminya.”
Kalimat itu membuat ruangan seketika sunyi.
Laura menatap Arka dengan mata penuh haru.
Rohaya semakin marah.
“Luar biasa. Sekarang di depan keluarga besar, kamu berani membela istrimu dan mempermalukan ibumu sendiri?”
“Bukan mempermalukan, Bu. Saya hanya ingin adil.”
“Adil?” suara Rohaya meninggi. “Sejak perempuan itu datang, rumah ini tidak pernah tenang!”
Laura menahan tangisnya semakin kuat.
Ia tidak tahan melihat Arka dan ibunya terus bertengkar karena dirinya.
Dengan suara pelan ia berkata,
“Sudah, Ka… jangan…”
Namun Arka tidak mundur.
“Kalau memang ada kesalahan, kita selesaikan baik-baik. Tapi jangan mempermalukan Laura di depan semua orang seperti ini.”
Rohaya menatap Laura penuh kebencian.
“Nah, lihat? Bahkan sekarang anakku melawan ibunya sendiri karena perempuan kota ini.”
Kata-kata itu menusuk Laura lebih dalam.
Ia merasa seperti penyebab semua kehancuran.
Tanpa sanggup berkata apa-apa lagi, Laura menunduk dan berlari menuju kamar.
“Laura!” Arka memanggil.
Namun Laura sudah pergi.
---
Di kamar, Laura menutup pintu dan bersandar lemah.
Air matanya pecah tanpa bisa ditahan lagi.
Dadanya terasa sesak.
Ia melihat dirinya sendiri di cermin—wajah lelah, mata bengkak, dan senyum yang sudah lama hilang.
Ia berbisik pelan,
“Apa aku benar-benar salah datang ke rumah ini…?”
Suara ketukan terdengar.
“Laura, buka pintunya. Ini aku.”
Suara Arka.
Laura menghapus air mata dan membuka pintu perlahan.
Arka langsung masuk dan menatap istrinya dengan khawatir.
“Kamu kenapa harus lari seperti itu?”
Laura tertawa kecil, pahit.
“Karena aku malu, Ka. Semua orang melihatku seperti orang bodoh.”
Arka memegang bahunya.
“Kamu tidak bodoh.”
“Aku selalu membuat masalah. Ibumu membenciku, keluargamu membicarakanku, dan sekarang kamu bertengkar dengan Ibu karena aku.”
“Bukan karena kamu. Karena keadaan ini memang salah.”
Laura menggeleng.
“Kadang aku berpikir… mungkin Ibumu benar. Mungkin aku memang tidak pantas ada di sini.”
Arka menatapnya serius.
“Jangan pernah bilang begitu.”
Laura menunduk.
“Tapi aku capek…”
Suara itu lirih sekali.
Arka memeluknya erat.
“Aku tahu. Aku tahu kamu capek. Tapi jangan menyerah sekarang. Aku ada di sini.”
Laura menangis di pelukan suaminya.
Namun jauh di dalam hatinya, luka itu terus bertambah.
---
Di ruang tengah, keluarga besar perlahan mulai pulang.
Bisik-bisik masih terdengar.
“Kasihan menantu baru itu…”
“Tapi Rohaya memang dari dulu keras.”
“Entahlah, rumah itu sepertinya akan makin panas.”
Bella berdiri di dekat jendela sambil melihat mereka pergi.
Rohaya datang menghampiri.
“Kamu lihat sendiri? Perempuan itu membawa masalah.”
Bella pura-pura menghela napas.
“Mungkin Laura memang belum siap jadi bagian keluarga ini.”
Rohaya mengangguk.
“Ibu sudah bilang dari awal.”
Bella melanjutkan dengan nada halus,
“Tapi yang lebih berbahaya bukan Laura, Bu.”
Rohaya menoleh.
“Maksudmu?”
Bella menatap ke arah kamar Arka dan Laura.
“Arka. Dia terlalu membela istrinya. Kalau dibiarkan, lama-lama dia akan benar-benar menjauh dari Ibu.”
Kalimat itu sengaja dilempar seperti api kecil.
Dan Bella tahu, api kecil itu akan membesar sendiri.
Wajah Rohaya berubah.
Ia terdiam.
Bella mendekat sedikit.
“Dulu Arka selalu mendengarkan Ibu. Sekarang? Semua keputusan seolah harus lewat Laura.”
“Itu tidak akan terjadi,” kata Rohaya dingin.
Bella menatap ibunya.
“Kalau begitu… Ibu harus membuat Arka sadar sebelum semuanya terlambat.”
Setelah mengatakan itu, Bella pergi meninggalkan ruang tengah.
Senyumnya perlahan muncul.
Ia tidak perlu berteriak.
Cukup menaruh racun kecil di pikiran ibunya.
Sisanya, Rohaya akan melakukannya sendiri.
---
Malam semakin larut.
Di kamarnya, Rohaya duduk sendirian.
Tatapannya kosong menatap foto keluarga lama.
Arman.
Bella kecil.
Arka kecil.
Dulu, ia pernah percaya keluarga ini akan sempurna.
Sampai pengkhianatan itu datang.
Dan sekarang, ia merasa sejarah itu akan terulang.
Perempuan kota datang lagi.
Mengambil laki-laki dalam hidupnya.
Dulu suaminya.
Sekarang anaknya.
Tangannya mengepal.
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.”
Sementara di kamar sebelah, Laura masih terjaga.
Ia menatap langit-langit kamar dengan pikiran penuh.
Hari itu, sesuatu dalam dirinya mulai retak.
Bukan hanya soal mertua.
Tapi soal keyakinannya…
apakah cinta benar-benar cukup untuk bertahan?
Dan tanpa ia sadari—
ini baru permulaan.
Karena setelah penghinaan hari ini,
akan datang luka yang jauh lebih besar.
(Bersambung Episode 6)