"Dua sisi kegelapan, satu raga, dan satu candu yang mematikan: diriku."
Zaviar, penguasa dingin yang sebelumnya mati rasa, mendadak meledak gairahnya saat Arumi—sang macan bar-bar yang bertransmigrasi ke tubuh istrinya antagonis—menghapus riasan badutnya.
Perubahan drastis ini tak hanya membangkitkan Zaviar, tapi juga monster di dalamnya: Varian.
Varian, alter ego gelap, obsesif, dan haus gairah, bangkit tanpa kendali, matanya memancarkan kedalaman yang menakutkan dengan mata merahnya.
Terkunci di dalam sangkar emas kamar utama, Arumi terjebak dalam kecemburuan Calista istri kedua sekaligus pemeran utama wanita dan pusaran hukuman ganda: kelembutan menuntut Zaviar, dan keganasan tanpa lelah Varian. Keduanya menginginkannya dengan cara yang paling mengerikan.
Varian menyeringai gelap, manik merahnya mengunci pergerakan arumi. "Kau membuat monster dalam diriku terbangun, Sayang. Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan besok pagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Amarah Arumi kepada Gavin
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Arumi melangkah menuju walk-in closet. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Leher jenjangnya tidak lagi bersih; ada jejak kepemilikan yang sangat kentara, sebuah deklarasi posesif yang sengaja ditinggalkan pria itu. Untuk menyiasatinya agar tetap terlihat profesional saat bekerja, Arumi memilih pakaian dengan cermat. Ia menarik sebuah turtleneck ketat berwarna hitam pekat dari gantungan, memadukannya dengan blazer formal berwarna putih tulang untuk memberikan potongan silat tegas pada bahunya. Tak lupa, sehelai syal sutra bermotif abstrak bernuansa gelap dililitkan dengan rapi di lehernya, memberikan lapisan perlindungan ekstra sekaligus menambah kesan modis yang sensual.
Begitu keluar dari kamar, langkah Arumi yang masih menyisakan sedikit rasa kaku menuntunnya menuruni tangga melingkar mansion menuju ruang makan utama. Bau harum mentega yang meleleh, roti panggang yang garing, dan aroma kopi hitam yang kuat segera menyergap indra penciumannya. Perutnya langsung berbunyi protes, mengingatkannya bahwa energinya telah terkuras habis sejak semalam.
Di ujung meja makan panjang berbahan kayu mahoni, sosok Tuan Besar Ravindra sudah duduk dengan tegap. Namun, ada yang berbeda. Garis wajah yang kaku, mata obsidian yang dingin, serta setelan jas tiga lapis yang rapi dan terkancing sempurna tanpa cela menandakan bahwa sosok di hadapannya saat ini murni adalah Zaviar Sang Pemimpin Utama, bukan alter ego liar atau rapuh yang kerap muncul di malam hari. Ia sedang menatap layar tabletnya, membaca laporan bisnis harian dengan kening yang sedikit berkerut.
"Duduklah, Sayang. Kau butuh mengisi energimu," suara bariton Zaviar memecah keheningan ruang makan bahkan sebelum Arumi sempat menarik kursi. Pria itu meletakkan tabletnya, mengalihkan fokus penuhnya kepada sang istri yang baru saja duduk di hadapannya.
Arumi mendengus, menarik piring berisi roti panggang, telur mata sapi, dan potongan daging asap dengan gerakan kasar. "Lu masih punya muka buat nyapa gue dengan santai setelah bikin badan gue mau copot begini, hah?" ketusnya tanpa saringan.
Zaviar tidak tampak terganggu oleh semprotan ketus istrinya. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk seringai kecil yang sangat langka. Mata obsidiannya bergerak turun, menatap syal sutra yang melilit erat leher Arumi. "Aku hanya memastikan milikku tidak pergi ke mana pun dalam kondisi tidak aman. Dan syal itu... pilihan yang bagus untuk menyembunyikan sisa pekerjaan kita semalam."
"Pekerjaan dengkulmu!" Arumi menusuk daging asap di piringnya dengan garpu seolah benda itu adalah wajah Zaviar. "Oia, jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan. Gimana interogasi semalam di bawah tanah? Lu pergi pas gue tidur, kan? Si Danu ngomong apa aja?"
Ekspresi Zaviar seketika berubah. Seringai tipisnya lenyap, digantikan oleh ketegasan yang dingin dan pekat yang biasa ia gunakan di ruang rapat direksi. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Arumi dengan intensitas yang serius. "Danu bernyanyi setelah Mahendra memberikan sedikit simulasi fisik. Dia tidak punya pilihan lain jika masih ingin melihat matahari pagi. Sesuai dugaan kita, Calista hanyalah pion yang bodoh. Uang suapan untuk merusak sistem keamanan mansion dan membeli bahan peledak itu dikirim melalui beberapa lapis rekening cangkang di Swiss."
"Terus? Siapa nama bajingan di balik rekening itu?" cecar Arumi penasaran, menghentikan aktivitas mengunyahnya.
"Nama perusahaan cangkang itu mengarah pada satu konsorsium besar yang berbasis di London," jawab Zaviar, suaranya merendah bagai desisan angin malam yang dingin. "Dan salah satu pemegang saham utama yang menandatangani aliran dana darurat itu adalah nama yang sangat tidak asing bagi masa lalumu, Arumi. Gavin Pradipta."
Mendengar nama itu disebut dalam konteks percobaan pembunuhan dan konspirasi bisnis, Arumi hampir saja tersedak air putih yang baru direguknya. Ia meletakkan gelasnya dengan dentingan keras di atas meja marmer. "Gavin? Lu serius si menye-menye itu ikut mendanai bom buat ngebunuh gue? Kagak salah liat tim IT lu?"
"Tim IT dan agen hukumku tidak pernah salah, Arumi. Gavin menggunakan kedok investasi luar negeri untuk menyuntikkan dana segar ke kaki tangan Calista. Motifnya ganda: dia ingin melenyapkan posisimu saat ini karena menganggapmu telah mengkhianati masa lalu kalian, sekaligus ingin menghancurkan stabilitas Ravindra Group dengan mengeksploitasi catatan medis DID milikku ke publik jika aksi pengeboman itu gagal," jelas Zaviar, rahangnya mengetat, menampilkan kilatan amarah yang diredam dengan paksa.
Arumi terdiam sejenak, mencerna informasi tersebut. Jiwa bertarung Macan Kemayorannya mendadak membubung tinggi, mengalahkan rasa lelah di sekujur tubuhnya. "Bagus. Berarti targetnya udah jelas. Si lampir udah di sel isolasi, si pelayan udah dikandangin, sekarang tinggal si pengecut dari London itu yang harus gue beresin. Gue mau ke kantor sekarang. Ada beberapa dokumen Ravindra Group yang perlu gue tanda tangani sebagai Nyonya Besar buat blokir semua akses bisnis dia di Jakarta."
Zaviar menatap Arumi selama beberapa detik, mengukur keseriusan di mata istrinya. Biasanya, ia akan melarang keras wanita itu keluar rumah dalam kondisi pemulihan, namun ia tahu menahan Arumi yang sedang tersulut emosi sama saja dengan memicu ledakan baru di dalam rumah. "Aku sudah menyiapkan pengawalan berlapis untukmu ke kantor. Mahendra dan timnya akan berada di bayanganmu sepanjang hari. Jangan lepaskan syal itu, dan jangan membuat keputusan impulsif tanpa tanda tanganku."
"Iya, iya, bawel amat lu kayak aki-aki," gerutu Arumi sembari menghabiskan potongan terakhir rotinya. Ia berdiri dari kursi, membetulkan posisi blazernya, lalu melangkah meninggalkan ruang makan dengan gaya angkuh yang sengaja dibuat-buat untuk menutupi rasa linu di pahanya.
Perjalanan menuju Ravindra Tower ditempuh dengan pengamanan yang luar biasa ketat. Tiga mobil SUV hitam antipeluru mengapit sedan mewah yang membawa Arumi. Di dalam mobil, Arumi hanya menatap keluar jendela dengan pandangan kosong, memikirkan bagaimana takdir membawanya dari seorang gadis jalanan Kemayoran menjadi wanita yang berada di pusaran perebutan kekuasaan korporasi raksasa.
Begitu mobil berhenti di lobi utama, beberapa pengawal langsung membuat barikade steril. Arumi melangkah masuk dengan dagu terangkat, mengabaikan bisikan-bisikan hormat dari para karyawan yang berpapasan dengannya. Ia menaiki lift khusus eksekutif yang langsung menuju lantai tertinggi gedung tersebut.
Arumi melangkah keluar dari lift lantai 45 dengan gaya jalan yang sedikit kaku. Tubuhnya terasa remuk, tulang-tulangnya seolah lepas setelah "sarapan gairah" yang dipaksakan Varian—atau tepatnya perpaduan intensitas para alter ego suaminya—pagi tadi. Ia mengenakan turtleneck hitam ketat untuk menyembunyikan mahakarya tanda merah di lehernya, dibalut blazer putih tulang yang memberikan kesan tegas. Namun, syal sutra yang melilit lehernya tak mampu menutupi aura kelelahan yang sensual di wajah cantiknya.
"Nyonya Besar, akhirnya Anda sampai," Sekretaris Leo menyambut dengan wajah cemas yang tidak bisa disembunyikan. Tubuh pria paruh baya itu tampak tegang saat berdiri di depan meja resepsionis lantai eksekutif. "Tuan Gavin... dia memaksa menunggu di depan ruangan Anda sejak dua jam yang lalu. Kami sudah mencoba melarangnya sesuai perintah Tuan Besar, tapi dia membawa dokumen kemitraan lama yang sah, sehingga tim keamanan tidak bisa menyeretnya keluar tanpa keributan di area publik."
🤭🤭🤭🤭
lanjut kak...
ada judul baru kak???
hihihu