Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang steril dan dinginya es batu
Aula Universitas Negeri yang menjadi lokasi Olimpiade Fisika tingkat provinsi hari ini terasa sangat dingin. Bukan hanya karena pendingin ruangannya yang bekerja maksimal, tetapi juga karena aura kompetisi yang mencekam. Ratusan siswa terpilih dari berbagai daerah berkumpul, menciptakan atmosfer yang steril dan penuh tekanan.
Alisha duduk di salah satu kursi baris tengah, meremas pulpennya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya terus bergerak, mengitari ruangan.
Tiba-tiba, pandangannya terkunci pada perwakilan dari SMA elit kota besar yang duduk di baris depan. Dua siswi di sana tampak sangat menonjol. Mereka tidak hanya terlihat siap tempur dengan buku-buku tebal, tetapi juga memiliki paras yang sangat cantik, kulit putih bersih yang terawat, dan rambut yang tertata rapi. Mereka terlihat begitu percaya diri, luwes, dan memancarkan aura "anak kota" yang sempurna—persis seperti kekhawatiran yang diucapkan Ibunya malam itu.
Alisha menunduk, menatap punggung tangannya yang berwarna sawo matang. Rasa insecure yang selama ini ia kunci rapat-rapat di dalam otak mendadak jebol. Di Cikajang, ia mungkin bisa bersinar karena otaknya. Tapi di sini, di tengah kerumunan orang-orang hebat dan sempurna ini, Alisha mendadak merasa sangat kecil, asing, dan... berbeda.
Plak!
Sebuah botol air mineral yang sangat dingin tiba-tiba ditempelkan ke pipi Alisha, membuat gadis itu tersentak kaget dan refleks mendongak.
Shaka berdiri di samping kursinya, menatap Alisha dengan kedua alis bertaut. Cowok itu kemudian duduk di kursi sebelah Alisha, lalu menyodorkan botol air mineral dingin tersebut.
"Minum. Tangan lo gemetaran sampai kedengeran ke kursi gue," ucap Shaka datar.
Alisha menerima botol itu dengan canggung, merasakan sensasi dingin yang menjalar di telapak tangannya. "Gue... gue cuma agak kedinginan karena AC."
"Alasan," cibir Shaka pendek. Mata tajam Shaka tidak bodoh. Ia memperhatikan arah pandang Alisha sejak tadi. Shaka menyandarkan punggungnya, bersedekap, lalu melirik sekilas ke arah siswi-siswi kota besar di baris depan sebelum kembali menatap Alisha.
"Lo lagi minder?" tebak Shaka tanpa tedeng aling-aling.
Wajah Alisha memerah. Ia memalingkan wajah, enggan menatap Shaka. "Enggak. Siapa yang minder."
Shaka mendengus pelan, sebuah kekehan sarkas yang khas keluar dari bilik hidungnya. "Alisha, dengerin gue. Kita ke sini buat adu otak di lembar jawaban fisika, bukan buat daftar jadi model majalah remaja."
Kalimat maut pertama mendarat telak. Alisha menoleh, menatap Shaka dengan kesal.
"Mereka boleh aja punya kulit seputih porselen atau bedak semahal apa pun," lanjut Shaka, suaranya merendah, hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Pandangannya mengunci manik mata Alisha dengan begitu intens. "Tapi di mata gue, kerutan di dahi lo pas lagi mikirin rumus mekanika itu jauh lebih menarik daripada muka mereka yang gak ada ekspresinya."
Deg. Jantung Alisha berdesir hebat.
"Gue gak butuh partner yang cantik menawan tapi otaknya kosong pas nyelesaiin soal hukum Lorentz," cetus Shaka lagi, kembali ke mode ketusnya yang biasa, walau ujung matanya tetap menatap Alisha lekat-lekat. "Gue butuh Alisha yang tangguh, yang sawo matang eksotis, yang semalem nantangin gue buat dapet nilai teori lebih tinggi. Mana Alisha yang itu? Masa ciut cuma gara-gara liat saingan yang dandanannya menor?"
Alisha terpaku. Kata-kata Shaka memang pedas dan blak-blakan, tapi entah mengapa, itu adalah obat paling mujarab yang langsung menghancurkan seluruh rasa rendah diri di dalam dadanya. Shaka tidak memuji fisiknya dengan kata-kata manis yang palsu, tapi Shaka menghargai seluruh eksistensi diri Alisha apa adanya.
Alisha mengembuskan napas panjang, lalu membuka tutup botol air mineralnya dan meminumnya beberapa teguk. Rasa dinginnya menjalar, menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Ketika ia meletakkan botol itu kembali, senyuman percaya diri yang sempat hilang kini telah kembali menghiasi bibir penuhnya.
"Makasih celotehannya, Tuan Pembuat Teori," ucap Alisha, matanya kini berkilat penuh ambisi, siap bertempur. "Siap-siap aja lo kalah taruhan sama gue."
Shaka tersenyum miring, puas melihat singa betina partnernya telah bangun kembali. "Gue tunggu pembuktian lo di dalam ruangan, Alisha."
Saat pengawas mulai memasuki aula dan membagikan lembar soal, Alisha tidak lagi menunduk. Ia menegakkan bahunya, siap membuktikan pada dunia—dan pada dirinya sendiri—bahwa cantik tak harus putih, dan kecerdasan adalah kilau terbaik yang ia miliki.