NovelToon NovelToon
Pembalasan Sempurna Kirana

Pembalasan Sempurna Kirana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Sinkronisasi Dua Detak Jantung

Bab 28: Sinkronisasi Dua Detak Jantung

​Pagi di Jakarta biasanya disambut dengan raungan klakson dan polusi yang menyesakkan, namun di lantai griya tawang Menara Nusantara, suasana terasa begitu hening hingga suara jatuhnya sehelai daun dari taman vertikal di balkon pun bisa terdengar. Kirana Larasati Surya terbangun bukan karena alarm dari ponselnya, melainkan karena sebuah sensasi aneh di dalam dadanya—sebuah tarikan emosional yang kuat, rasa haus yang tiba-tiba, dan kilasan gambaran tentang mimpi buruk yang bukan miliknya.

​Ia menoleh ke samping. Adyatma masih terlelap, namun napasnya berat. Keringat dingin membasahi kening pria itu. Kirana bisa merasakan ketakutan Adyatma di dalam mimpinya; ia melihat bayangan Naga Hitam yang meraung di tengah kehampaan. Tanpa sadar, Kirana mengulurkan tangan, menyentuh telapak tangan Adyatma.

​Seketika, sebuah riak energi perak mengalir dari ujung jari Kirana, masuk ke dalam nadi Adyatma. Ketegangan di wajah pria itu memudar. Napasnya menjadi teratur. Melalui protokol Penyatuan Jiwa yang mereka aktifkan semalam, Kirana baru saja bertindak sebagai "filter" emosional bagi Adyatma.

​"Selamat pagi, Penjangkar-ku," bisik Adyatma, perlahan membuka matanya. Matanya kini tidak lagi berwarna biru safir murni, melainkan memiliki bintik-berlian perak di sekitar pupilnya—tanda permanen bahwa sebagian jiwa Kirana kini bersemayam di sana.

​"Kau bermimpi tentang The Void lagi," ucap Kirana, suaranya lembut namun penuh kekhawatiran. "Aku bisa merasakannya. Dinginnya, kesepiannya. Adyatma, penyatuan ini... itu membuatku bisa merasakan setiap inci rasa sakitmu."

​Adyatma bangkit, menarik Kirana ke dalam pelukannya. "Itulah harga yang harus kita bayar untuk menjinakkan Naga Hitam. Aku menyesal harus membagikan beban ini padamu, Kirana. Kau seharusnya hanya fokus pada restorasi Nusantara, bukan menjadi wadah bagi kegelapanku."

​Kirana menggeleng tegas. "Kita sudah melewati titik itu. Sekarang, mari kita lihat apa yang terjadi dengan 'perkebunan' kita."

​Monitoring Organik: Dashboard Alam

​Kirana melangkah menuju jendela kaca besar. Ia tidak lagi menggunakan tablet fisik. Ia hanya melambaikan tangannya di depan udara kosong, dan sebuah antarmuka holografik muncul—ini adalah Cendana-OS v2.0, yang kini terintegrasi langsung dengan saraf pusatnya.

​"Reno, berikan laporan sinkronisasi Internet Organik di London dan Jakarta," perintah Kirana.

​Suara Reno terdengar melalui resonansi tulang telinga Kirana, tanpa perangkat tambahan. "Nyonya, bibit cendana di London telah tumbuh tiga inci dalam satu malam. Mereka telah membentuk 'Mesh Network' yang menutupi seluruh City of London. Sistem AI Sang Arsitek masih mencoba melakukan penetrasi, namun ia selalu terpental oleh frekuensi klorofil yang kita tanam. Di Jakarta, suhu ruang server kita kini stabil di angka 20 derajat Celsius. Seluruh residu 'Shadow Harvest' telah dibersihkan oleh algoritma pembersih perak."

​Kirana mengangguk puas. Namun, saat ia memeriksa Google Calendar spiritualnya, ia melihat sebuah blokir merah besar yang muncul secara otomatis di tanggal esok hari. Sistem prediksinya mendeteksi adanya anomali frekuensi dari arah Timur Laut.

​"Adyatma, lihat ini," Kirana menunjukkan grafik tersebut. "Ada gangguan statis. Bukan dari mesin, tapi dari alam. Seseorang di Jepang sedang mencoba melakukan 'panggilan balik' terhadap energi nagamu."

​Utusan dari Negeri Sakura

​Tepat pukul sepuluh pagi, sebuah insiden aneh terjadi di lobi Menara Nusantara. Seluruh sistem keamanan digital—dari pemindai retina hingga sensor gerak—tiba-tiba mati total. Bukan karena diretas, melainkan karena mereka "lupa" bagaimana caranya berfungsi. Seolah-olah waktu di sekitar perangkat tersebut membeku.

​Seorang pria muda mengenakan hakama tradisional berwarna hitam dengan motif Naga Emas di punggungnya berjalan masuk dengan tenang. Ia tidak membawa senjata, hanya sebuah gulungan perkamen tua yang dibungkus kain sutra biru. Para penjaga bersenjata mencoba mendekat, namun mereka merasa kaki mereka seberat timah, tak mampu melangkah maju.

​Kirana dan Adyatma turun ke lobi, didampingi oleh Reno yang tampak panik karena seluruh komputernya menjadi statis.

​"Siapa kau?" tanya Adyatma, auranya mulai memancar, menciptakan tekanan gravitasi yang membuat lantai marmer retak halus.

​Pria Jepang itu membungkuk hormat, gerakan yang sangat presisi dan penuh wibawa. "Nama saya adalah Kenjiro dari Klan Ryu-Zaki, Faksi Timur Dewan Tetua Langit. Saya datang bukan untuk berperang, melainkan untuk mengantarkan undangan dari Tetua Agung kami di Kyoto."

​Kenjiro menyodorkan gulungan perkamen tersebut. Begitu Kirana menyentuhnya, gulungan itu bereaksi. Ia tidak terbuka secara manual, melainkan mengeluarkan cahaya keemasan yang langsung mensinkronkan diri dengan Nusantara-Drive Kirana.

​PLOT HOLE CHECK: Mengapa Faksi Timur bisa menembus keamanan Kirana?

Penjelasan: Faksi Timur tidak menggunakan kode biner (0 dan 1), melainkan "Kode Kami" (energi alam). Karena Kirana sekarang menggunakan Internet Organik, ia secara tidak sengaja membuka pintu bagi frekuensi yang sejenis. Inilah alasan mengapa Kenjiro bisa masuk tanpa terdeteksi—ia menggunakan jalur "akar" yang sama dengan yang Kirana bangun.

​Isi Pesan: Kode Sakura

​Kirana memproyeksikan isi gulungan tersebut di tengah lobi. Di sana tidak ada teks, melainkan sebuah peta bintang dan koordinat Kuil Kinkaku-ji di Kyoto. Di tengah peta itu, terdapat simbol Naga Biru dan Naga Hitam yang saling melilit, membentuk lambang Ouroboros.

​"Kirana Larasati, Sang Penjangkar. Adyatma Surya, Sang Wadah. Kalian telah menghancurkan faksi Zurich dan London yang korup. Namun, kalian telah merusak keseimbangan langit dengan menyatukan dua jiwa yang seharusnya terpisah. Datanglah ke Kyoto dalam tiga hari. Jika tidak, Naga Hitam di dalam diri Adyatma akan mulai 'memakan' jiwa Kirana dari dalam. Penyatuan yang kalian lakukan adalah racun yang menyamar sebagai obat."

​Wajah Kirana memucat. Ia menoleh ke arah Adyatma, dan saat itu juga, ia merasakan rasa perih yang luar biasa di dadanya—sebuah pantulan dari rasa sakit Adyatma yang tiba-tiba muncul.

​"Apakah itu benar?" tanya Kirana pada Kenjiro.

​"Penyatuan jiwa manusia dengan naga adalah terlarang dalam kitab kami," jawab Kenjiro tenang. "Jiwa manusia terlalu rapuh untuk menahan radiasi energi Naga Hitam dalam jangka panjang. Tanpa 'Penyelarasan Timur', Nyonya Kirana akan kehilangan kesadarannya dalam waktu satu bulan, menjadi sekadar boneka bagi energi Adyatma."

​Adyatma menarik kerah baju Kenjiro, matanya berkilat penuh amarah. "Kau mengancam istriku?!"

​"Itu bukan ancaman, Tuan Surya. Itu adalah hukum alam," Kenjiro tidak gentar sedikit pun. "Tetua kami di Kyoto memegang 'Kunci Penyeimbang'. Pilihan ada di tangan kalian. Datanglah sebagai tamu, atau tunggu sampai maut menjemput cinta kalian."

​Kenjiro perlahan memudar, tubuhnya berubah menjadi kelopak bunga sakura yang tertiup angin meskipun ruangan itu tertutup rapat. Ia menghilang tanpa jejak, menyisakan aroma teh hijau dan kayu cendana yang tajam.

​Perdebatan di Ruang Kerja

​"Ini jebakan," geram Adyatma saat mereka kembali ke lantai atas. "Mereka ingin memisahkan kita. Mereka tahu bahwa dengan menyatukan jiwa, kita menjadi tak terkalahkan di London. Sekarang mereka mencoba menanamkan keraguan."

​Kirana duduk di depan komputernya, mencoba mengakses sisa-sisa jurnal ibunya melalui Google Cloud Search tingkat lanjut. Ia memasukkan kata kunci: "Penyatuan Jiwa - Efek Samping".

​Setelah beberapa menit melakukan pemindaian data terenkripsi, Kirana menemukan sebuah catatan kaki kecil yang ditulis tangan oleh ibunya dalam format gambar yang hampir terhapus.

​"Penyatuan adalah kunci, namun wadah manusia memiliki limitasi. Energi Naga Hitam bersifat korosif terhadap saraf pusat non-Surya. Diperlukan sinkronisasi elemen tanah dari Timur untuk menstabilkan struktur seluler."

​Kirana menghela napas panjang. "Ibuku sudah tahu, Adyatma. Kenjiro tidak berbohong sepenuhnya. Penyatuan kita memang memberikan kekuatan besar, tapi tubuhku mulai menolak frekuensi Naga Hitam-mu. Jika kita tidak ke Kyoto, aku mungkin akan... hancur secara biologis."

​Adyatma jatuh terduduk, memegangi kepalanya. "Lagi-lagi... kekuatanku mencelakaimu. Kenapa aku tidak bisa hanya menjadi manusia biasa yang mencintaimu tanpa membahayakan nyawamu?"

​Kirana berlutut di depan Adyatma, menggenggam tangannya yang gemetar. "Karena kau adalah nagaku, dan aku adalah ratumu. Kita tidak akan lari dari ini. Kita akan ke Jepang. Tapi kita tidak akan datang sebagai peminta-minta. Kita akan datang sebagai penguasa Nusantara yang membawa pasukan digital-organik kita."

​Operasi Sakura: Persiapan Perang dan Diplomasi

​Kirana memanggil Reno. "Reno, siapkan Jet Surya-01. Tapi kali ini, aku ingin kau memasang modul 'Batik-Encryption' tingkat tinggi. Kita akan menggunakan pola fraktal batik sebagai kode dasar jaringan kita selama di Jepang. Itu satu-satunya hal yang tidak akan dimengerti oleh Faksi Timur."

​"Siap, Nyonya," Reno menjawab dengan tegas. "Saya juga akan menyiapkan unit drone mikroskopis yang bisa menyamar sebagai serbuk sari. Kita akan menaburkan 'Server Organik' di sepanjang jalur dari bandara Kansai menuju Kyoto."

​Kirana kemudian membuka Google Sheets-nya, menyusun rencana perjalanan yang lebih mirip dengan strategi invasi.

​Titik Temu: Kuil Kinkaku-ji.

​Target: Tetua Agung Faksi Timur (Mencari Kunci Penyeimbang).

​Kontinjensi: Jika negosiasi gagal, aktifkan Protokol 'Lahar Cendana'—penghancuran total jaringan digital lawan menggunakan energi vulkanik yang disalurkan melalui Internet Organik.

​Keberangkatan: Pesan di Dalam Awan

​Malam sebelum keberangkatan, Kirana berdiri di balkon, menatap lampu-lampu Jakarta. Ia merasakan kehadiran yang asing di jaringan sensornya. Sebuah gangguan kecil di awan-awan di atas Menara Nusantara.

​Ia segera mengakses kamera satelit Surya Corp. Di sana, di antara gumpalan awan, ia melihat sebuah pola digital yang membentuk wajah. Bukan wajah kakeknya, melainkan sesuatu yang lebih abstrak.

​"Kirana..." sebuah suara berbisik di dalam benaknya melalui frekuensi Penyatuan Jiwa. "Jangan percaya pada apa yang kau lihat di Kyoto. Mereka bukan ingin menyelamatkanmu. Mereka ingin mengambil 'Pewaris' yang sedang tumbuh di dalam rahimmu."

​Kirana tersentak, tangannya secara refleks menyentuh perutnya. Pewaris? Apakah ia sedang hamil? Ia bahkan belum sempat melakukan tes medis apa pun. Namun, dalam kondisi Penyatuan Jiwa, sensor biologisnya jauh lebih tajam dari alat medis mana pun.

​Ia segera melakukan pemindaian mandiri menggunakan Google Health - Spiritual Sync. Di layar dalam pikirannya, muncul sebuah titik cahaya emas yang sangat kecil di dalam rahimnya. Sebuah janin yang memiliki frekuensi Naga Biru dan Cendana yaNg sempurna.

​"Adyatma!" seru Kirana.

​Adyatma muncul dari dalam kamar, wajahnya panik. "Ada apa? Apa kau merasa sakit?"

​Kirana menatap Adyatma dengan mata yang berkaca-kaca. "Bukan... bukan sakit. Adyatma, kita tidak berangkat berdua ke Jepang. Kita berangkat bertiga."

​Adyatma terpaku. Ia mendekati Kirana, meletakkan tangannya di perut istrinya. Ia bisa merasakan detak jantung ketiga—detak jantung yang sangat tenang, sangat kuat, dan sangat suci. Naga di dalam dirinya tiba-tiba mendengkur pelan, sebuah tanda perlindungan yang absolut.

​"Sekarang aku mengerti kenapa Faksi Timur begitu bernafsu mengundang kita," desis Adyatma, suaranya berubah menjadi sangat dingin dan mematikan. "Mereka bukan menginginkan nyawamu, Kirana. Mereka menginginkan anak kita. Anak yang akan menjadi penguasa sejati dari dua energi terbesar di dunia."

​Kirana mengeratkan pegangannya pada Adyatma. "Mereka ingin mengambil anakku? Maka mereka akan belajar apa artinya menghadapi kemarahan seorang ibu yang memiliki kekuatan dewa digital."

​Malam itu, Jakarta terasa lebih panas. Bukan karena suhu, tapi karena aura dua penguasa yang sedang bersiap untuk membakar siapa pun yang berani mengusik garis keturunan mereka. Perjalanan ke Jepang kini bukan lagi soal pengobatan, melainkan soal perlindungan terhadap masa depan Nusantara.

​*** [Bersambung ke Bab 29...]

1
Aisyah Suyuti
.menarik
Luzi
kerenn
Mifta Nurjanah
eps brpa pas dia udh jebol??😭😭
Emi Widyawati
baca awal, sudah jatuh cinta. bagus banget Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!