Note: alur nya gak terlalu cepat, jadi buat yg enjoy ama alur yang meningkat sedikit demi sedikit aja ya guys
Hidup sebatang kara semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah membuat Alvaro mau tak mau harus bisa terbiasa dengan yang namanya usaha dan kerja keras walaupun sering mengalami kegagalan.
karena ia tahu jika ia menyerah untuk berjuang maka itu berarti mengucapkan selamat tinggal bagi masa depannya dan berakhir hidup di bawah bayang bayang jembatan.
satu hal yang menjadi alasan mengapa dia tetap tak menyerah adalah karena ucapan almarhum ibunya ketika di ujung maut dahulu bahwa dirinya harus tetap berusaha dan tidak menyerah.
namun entah takdir mempermainkan dirinya atau apa, ia harus mengalami kejadian tragis ketika dalam perjalanan pulang selepas kerja..
bagaimana kelanjutan nya?, tetap ikuti cerita nya tak lain dan tak bukan hanya di novel saya "Sistem Kekayaan dan Kekuasaan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpion's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Rina dan Leon
"Kau benar benar pemalas ya Leon" Ucap seorang pemuda yang tak lain adalah Alvaro kepada temannya Leon.
Keduanya kini sedang menikmati sarapan yang memang di sediakan oleh pihak Velaris.
"Hei ayolah, kau fikir aku akan bisa bangun pagi ketika kasur di kamar ini begitu nyaman?" Tanya Leon tak terima.
Alvaro yang mendengar itu nampak tersenyum. "Jadi agar bangun pagi kau mulai besok tidur di sofa saja" Ucapnya sambil tersenyum jahil.
"Hei, itu mah bukan biar aku bangun pagi. Tapi biar aku kena asam urat namanya." Protes Leon, sedangkan Alvaro hanya tertawa ringan.
Keduanya pun segera menyelesaikan sarapan nya, niatnya hari ini keduanya akan menuju kontrakan milik Alvaro untuk mengemasi beberapa barang. Lalu berlanjut ke rumah Leon karena Leon memutuskan untuk menetap di apartemen milik Alvaro tersebut.
Keduanya kini nampak berkendara santai di jalanan kota Astra, hingga keduanya pun mulai memasuki kawasan pinggiran kota.
Wilayah ini biasanya dihuni oleh kelas menengah kebawah, berbeda dengan kawasan kota, ataupun kawasan elit. Tempat ini kebanyakan berisi antara pemukiman penduduk, hingga kos kosan sederhana.
"Akhirnya sampai" Ucap Leon setelah keduanya sampai di depan gerbang pagar yang mengelilingi halaman serta kos kosan yang di tinggali oleh Alvaro.
Setelah sampai, keduanya pun segera masuk untuk mengemasi barang-barang milik Alvaro. Alvaro yang notabenya memang miskin pun akhirnya hanya membawa beberapa barang serta alat alat sekolah yang tidak terlalu banyak.
Setelah di masukkan ke dalam koper yang memang sengaja dibawa oleh Alvaro dari apartemen nya, ia bersama Leon pun menuju rumah pemilik kos untuk berpamitan.
"Tok... Tokk... Tok..."
"Permisi.. Tante Rina..." Panggil Alvaro sambil mengetuk pintu rumah Tante Rina.
"Iya sebentar.." Ucap seseorang dari dalam rumah, lalu pintu pun terbuka menampilkan seorang wanita yang cukup cantik dengan pakaian santai.
"Eh Alvaro." Ucap Tante Rina setelah melihat yang mengetuk pintunya adalah Alvaro "Ayo sini duduk dulu" Ucapnya lagi mempersilahkan.
"Jadi ada keperluan apa?" Tanya Tante Rina ke arah Alvaro.
Alvaro pun mulai menjelaskan maksud kedatangannya. " Saya mau pamit Ingin pindah Tan, soalnya saya mau cari yang lokasinya dekat sama tempat kuliah saya yang saya tuju nanti." Jelas Alvaro panjang lebar.
"Loh, Kok tiba tiba?" Tanya Tante Rina terkejut "Dan lagi kenapa kok manggil aku tante mulu sih?" Tambahnya lagi.
"Eh anu- itu. Sebelumnya minta maaf kalau mendadak, soalnya saya juga masih mempertimbangkan nya." Ucap Alvaro agak tergagap.
"Jadi gitu ya?" Gumam Tante Rina nampak sedikit lesu, namun tiba tiba ia bertemu pandang dengan Leon yang ternyata juga sedang memandangnya. Namun cukup berbeda menurutnya.
"Kalau ini siapanya kamu Al?" Tanya Tante Rina sambil menunjuk Leon.
Leon yang mendengar itu tiba tiba nampak mengalihkan pandangannya, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Hei.." senggol Alvaro pada Leon. "Di ajak ngomong tuh" Ucapnya lagi.
"Ekhem.. Aku Leon, teman Alvaro. Salam kenal." Ucap Leon sambil mengulurkan tangannya perlahan, tak sesuai dengan ketegasannya barusan saat berbicara.
"pfftt.." Tante Rina yang melihat itu hampir tak bisa menahan tawanya, namun ia tetap mengulurkan tangannya membalas jabat tangan Leon.
"Aku Rina, aku pemilik kost di sini. Sekaligus kakak angkat Alvaro." Ucapnya ringan, sedangkan Alvaro yang mendengar itu nampak terkejut sambil memandang wajah Rina.
"maksudnya gimana?" fikir Alvaro, namun ia tahan ketika melihat lirikan mata Rina.
"Lama nih jabat tangan nya." celetuk Alvaro yang membuat Leon langsung menarik tangannya, sedangkan Rina hanya tersenyum.
"Yaudah Tan- ee kak Rina, ini aku mau bayar tunggakan kos" Ucap Alvaro sambil mengeluarkan beberapa lembar uang.
"Lah, ngapain?" Tanya Rina heran. "Aku aja selalu nolak loh, masak masih ngeyel mau bayar aja?" Tanya Rina menolak uang yang di sodorkan Alvaro.
"Enggak tan, aku di sini itu nge kos, bukan numpang" Ucap Alvaro tetap menyodorkan uangnya.
"tan?" Tanya Rina sambil menatap Alvaro tajam.
"Kak maksudku, salah ngomong" ralat Alvaro sedikit merinding melihat tatapan Rina.
"Kamu ini.." desah Rina akhirnya. "Tapi ini terlalu banyak loh, gak salah hitung kamu?" Tanya Rina sambil memperlihatkan lembaran uang yang berjumlah puluhan.
"Enggak ta- eh kak, itu selain buat kos itu termasuk tagihan listrik, air, bahkan hutangku dulu juga." Ucap Alvaro menjelaskan.
"Haduhh ngapain sih, terus gimana sama kamu sekarang?" Tanya Rina lagi khawatir.
"Aman kok kak, setelah ini aku mau ke kota dengan temanku ini." Ucap Alvaro sambil menunjuk Leon.
"Dan lagi sebenarnya aku mendapatkan rezeki yang besar, dimana dari rezeki itu bahkan aku bisa mendapatkan motor sport juga." Ucap Alvaro menjelaskan secara samar.
"motor sport?" Tanya Rina bingung.
"Iya, tuh motor sport yang warna hitam punya Alvaro." Celetuk Leon sambil menunjuk ke arah halaman depan kos.
"Wahh bagus banget tuh." Ucap Rina lalu ia pun berjalan menuju motor sport itu diikuti oleh Alvaro dan Leon.
"Terus yang merah ini?" Tanya Rina sambil menunjuk motor sport di sampingnya.

"Itu punyaku" jawab Leon santai.
Mendengar itu Rina nampak sedikit terkesima. "Ini menurutku warnanya cantik." Ucapnya.
"Apalagi warna merah juga warna kesukaan ku." Tambah nya lagi.
"Ah gak juga, motor milik Alvaro malah lebih keren dan mahal itu" Ucapnya merendah, walaupun ia merasa senang ketika Rina mengatakan motor miliknya disukai Rina.
Alvaro yang melihat interaksi keduanya pun sadar sesuatu hal.
"Kenapa gak coba naik aja kak sama Leon, sekalian kita jalan jalan gitu?" Celetuk Alvaro tiba tiba yang membuat keduanya langsung melihat ke arahnya.
"Maksudnya?" Tanya Rini sedikit tidak faham.
"Tadi kan katanya kakak suka tuh, coba aja dibonceng sama Leon. Soalnya aku juga masih belum terlalu lancar mengendarai motor sport." Jelas Alvaro mengusulkan.
Leon yang mendengar itu nampak salah tingkah, namun ia berusaha bersikap tenang.
"Ya-yah kalau kamu gak keberatan sih, kalau aku oke oke aja." Ucap Leon berusaha tenang, walaupun jantungnya benar benar seperti di aduk aduk sekarang.
mendengar itu Rina nampak berfikir, sedangkan Leon yang melihat Rina yang terdiam membuatnya antara cemas dan bingung karena masih belum di jawab.
"Kayaknya enggak bisa deh"
Seolah olah ada sesuatu pecah di dadanya ketika Leon mendengar ucapan Rina, ia pun langsung nampak lemas. Ia merasakan antara kecewa dan yah...
"Yaa baiklah kalau begitu." Ucap Leon cukup lirih.
"Emm maaf ya, soalnya aku lagi ada acara saat ini. Bagaimana kalau lain kali saja?" Tanya Rina yang membuat hati Leon sedikit merasa tenang.
Menurutnya sebelumnya itu bukan penolakan kepada dirinya, dan mungkin masih ada kesempatan untuknya.
"Jadi begitu ya, baiklah kalau begitu. Saya pamit dulu ya kak." Ucap Alvaro pada akhirnya berpamitan bersama Leon yang mengikuti di belakangnya.
"Apakah pilihanku benar?" lirih Rina sambil melihat Alvaro dan Leon mulai menjauh, ia menggenggam Kakung yang ada di lehernya.
Sebuah kalung yang memiliki banyak kenangan untuknya....
kritik dan saran boleh kokk