Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.
Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.
Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.
Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lucunya Anjingku!
Gwen memiringkan kepala, menatap kanvas besar di depannya. Terlalu terang.
Dia meraih palet, mencampurkan lebih banyak hitam ke dalam abu-abu muda, lalu mulai menambahkan bayangan yang lebih tegas dengan kuasnya.
Empat lukisan sudah selesai dan siap dikirim ke galeri. Jadi totalnya sepuluh, kalau digabung dengan enam yang sudah dia kirim sebelum hidupnya berubah drastis. Masih ada lima lagi yang harus diselesaikan sebelum akhir minggu depan untuk memenuhi tenggat pameran.
Tapi itu harus menunggu. Dia memutuskan untuk mengerjakan lukisan besar itu sekarang.
Biasanya, Gwen menyelesaikan semua karya standar lebih dulu dan menyimpan karya utama untuk terakhir.
Tidak kali ini.
Sepertinya Raymon bukan hanya berhasil mengacaukan pikirannya, tapi juga proses kreatifnya.
Selama dua minggu terakhir, dia jarang bertemu Raymon. Biasanya hanya pagi hari, sebelum pria itu turun ke kantor untuk melakukan apa pun yang dilakukan bos mafia, dan malam saat dia kembali untuk makan malam.
Gwen sengaja melewati kantor Raymon setidaknya dua kali sehari, selalu di waktu yang paling tidak tepat. Sering kali, ada orang lain di dalam bersama Raymon.
Di sela-sela itu, dia berkeliling rumah, memindahkan vas tanaman, menggeser lukisan, atau melakukan hal-hal sepele lainnya.
Selebihnya, dia menghabiskan sebagian besar waktunya di suite. Dan itu berarti banyak waktu untuk melukis.
Kemarin, Troy datang untuk memberinya pelatihan singkat tentang cara memasang alat sadap. Gwen sempat membayangkan akan ada kabel, obeng, membuka ventilasi, dan menyelipkan mikrofon kecil di dalamnya.
Ternyata tidak.
Troy hanya memberinya beberapa benda plastik hitam yang bentuknya mirip charger ponsel, tapi tanpa kabel.
Yang harus dia lakukan cuma masuk ke ruangan dan mencolokkannya ke stopkontak yang tidak terlalu terlihat.
Menyeramkan.
Begitu Troy pergi, Gwen berkeliling suite dua kali, memeriksa setiap stopkontak.
Bahkan hari ini pun, dia masih melawan dorongan untuk memperhatikan setiap colokan yang dia lewati.
Dia menurunkan kuas, melangkah mundur beberapa langkah, lalu menatap lukisan besarnya dengan senyum lebar.
Ya. Ini sempurna.
Dengan hati-hati, dia memutar kanvas itu menghadap ke dinding, menjauhi pintu, kalau-kalau Raymon masuk. Pria itu memang tidak pernah masuk ke kamarnya, tapi tetap lebih aman untuk berjaga-jaga.
Dia tidak ingin Raymon melihat lukisan ini sebelum pameran. Karena itu dia memilih mengerjakannya di kamar, bukan di dekat rak besar tempat dia biasa bekerja.
Gwen melirik jam di meja samping tempat tidur, lalu melihat bayangannya di cermin. Tangannya penuh cat hitam dan merah sampai ke siku. Kaosnya dipenuhi noda abu-abu dan merah. Bahkan wajahnya juga kena.
Pesanannya akan segera datang. Sepertinya dia harus ganti baju dan mencuci wajah serta tangan sebelum turun untuk menunggu paketnya.
...***...
Di tempat lain.
Raymon sedang menelepon Jamerson yang melaporkan pengiriman terakhir, saat terdengar ketukan di pintu dan Grimm masuk ke kantor.
“Nanti aku telepon lagi,” kata Raymon, lalu memutus panggilan.
“Ada beberapa barang datang buat Gweneverre Frost,” ujar Grimm sambil menatapnya tajam.
“Terus? Suruh anak-anak bawa ke sayap timur.”
“Lampunya mau diapain?”
“Lampu apa?” tanya Raymon, lalu dia teringat. “Sial.”
Dia menumpukan siku di meja dan menekan telapak tangan ke matanya.
“Besar? Emas sama hitam?”
“Iya.”
“Ada berapa?”
“Empat belas,” jawab Grimm datar.
“Empat belas lampu…” Raymon menghela napas. “Taruh di perpustakaan dulu.”
“Oke. Terus hewannya?”
Raymon langsung mengangkat kepala. “Hewan apa?”
“Kecil. Hitam. Ada di dalam kandang, jadi aku gak yakin itu apa. Kayak anjing, tapi… aneh.”
Raymon langsung meraih ponselnya dan menelepon Gwen. “Kamu beneran beli hewan online?”
“Hah?”
“Grimm bilang ada anjing ikut barengan barang dekorasi kamu.”
“Oh, itu Bilbo. Aku turun sekarang.”
Raymon menatap ponsel di tangannya. "Bilbo. Aku bakal bunuh dia."
Di pintu depan, Raymon memarkir kursi rodanya di atas tangga dan menatap tumpukan kotak berbagai ukuran yang menutupi setengah area masuk.
Di sisi lain, ada empat belas kotak transparan berbentuk persegi panjang berjajar rapi, masing-masing diikat pita emas lebar. Semuanya berisi lampu yang sama.
Lampu paling jelek yang pernah dia lihat.
Gwen berlari keluar rumah, menuruni tangga dengan cepat, lalu berhenti di depan kandang yang diletakkan di atas salah satu kotak.
Dia membuka kandang itu, mengeluarkan seekor anjing kurus seukuran kucing kecil, lalu mulai mengelus dan mengajaknya bicara dengan suara lembut.
“Itu apaan?” tanya Grimm.
“Chihuahua.”
Mereka memperhatikan Gwen membongkar beberapa kotak, anjing itu tetap diselipkan di lipatan lengan kirinya.
Dia mengambil sebuah kalung dari salah satu kotak, memasangkannya, lalu menurunkan anjing itu ke tanah.
Anjing kecil itu langsung berlari mengelilingi kakinya sambil mengeluarkan suara gonggongan aneh, lebih mirip hamster.
“Kasih tahu Carolina soal anjing itu. Dia pasti bakal… senang banget. Suruh orang beli makanan anjing,” kata Raymon sambil berbalik, kembali menuju kantornya.
...***...
Gwen menghabiskan satu jam berjalan-jalan bersama Bilbo di dalam rumah dan taman, membiarkannya mengenali lingkungan. Anjing kecil itu sempat gelisah karena banyak orang baru, tapi akhirnya meringkuk di tempat tidurnya di sudut kamar Gwen dan tertidur.
Saat melewati dapur, Gwen mengambil sebuah apel dari mangkuk, lalu menuju ruang kerjanya di perpustakaan.
Masih ada beberapa jam, dan dia berniat memanfaatkannya untuk mengerjakan lima lukisan terakhir untuk pamerannya.
Sepertinya dia juga harus menelepon manajernya, menyuruhnya mengirim kurir untuk mengambil lukisan yang sudah selesai.
Carmeen selalu suka mengumpulkan sebanyak mungkin karya beberapa hari sebelum acara, supaya dia bisa mengatur pemotretan dan pencetakan katalog.
Gwen mengambil ponsel dari saku belakang jeans-nya dan menelepon Carmeen sambil merapikan lukisan yang sudah jadi di sepanjang jendela.
Begitu panggilan tersambung, dia langsung berkata dengan nada manja, “Hai, Baby.”
“Aku kenal nada itu,” keluh Carmeen. “Kamu telat lagi, ya?”
“Enggak lah. Aku gak mungkin ngelakuin itu ke kamu.”
“Shitt Gwen. Telatnya separah apa?”
“Cuma beberapa hari. Tapi lukisan besar aku udah selesai. Tinggal lima lagi. kamu bisa kirim orang buat ambil yang lain? Nanti aku kirim alamatnya.”
“Kamu pindah?”
“Iya. Ceritanya panjang.”
“Kamu yakin bisa selesai tepat waktu?”
“Aku bakal coba semaksimal mungkin, Babby.”
Terdengar gumaman di ujung sana, lalu helaan napas.
“Kirim aku foto lukisan besarnya.”
“Gak mau. kamu tunggu aja lihat langsung, Carmeen. Bye.”
Gwen memasukkan ponsel kembali ke saku, lalu mengambil salah satu kanvas kosong.
“Siapa Carmeen?”
Gwen langsung tersentak dan berbalik. Raymon berdiri di sana, menatapnya.
“Kenapa kamu manggil dia baby?” tuntutnya. “Dan foto apa yang mau kamu kirim ke dia?”
Gwen berkedip, lalu menggigit apel di tangannya. “Germo aku. Semua cewek panggil dia baby. Dan aku mau kirim foto dada aku.”
Raymon menyipitkan mata, tapi tidak langsung bicara.