NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

[14] Gadis bernama Hanum

"Dokter Albiru!"

Panggilan itu membuat pria berkemeja putih dengan jas dokter yang tersampir di lengan kanannya itu menoleh. Biru baru keluar dari ruang jaga para Dokter untuk mengambil tasnya. dia baru saja selesai dinas malam.

Seorang wanita manis berbalut hijab Blue Sky dengan pakaian ners-nya tersenyum manis seraya menyodorkan sebuah plastik.

"Saya lihat dari tadi Dokter sibuk mengurus pasien di IGD. Ini saya bawakan makan malam. Dokter pasti belum makan kan?"

Tatapan Albiru beralih pada makanan tersebut. "Tidak perlu repot. Saya bisa beli sendiri," jawabnya dengan raut dingin.

Memang karena malam ini banyak pasien, dia bahkan tidak sempat makan malam. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan saat ini.

saja." "Saya gak repot kok. Tadi sekalian pesan

"Untuk kamu saja." Albiru mengambil langkah ke kanan dan tidak memperdulikan dokter wanita yang juga satu berstatus magang dengannya itu. Wajah tampan dan sikap penutup Biru menjadi hal menarik bagi para dokter dan suster di sini. Mereka tidak sungkan menggodanya.

Albiru dia dengan sikap dinginnya dan tidak memperdulikan segala godaan. Hanya satu perempuan yang saat ini bisa bicara bebas dengannya dan akan dia tanggepi. Perempuan yang beberapa hari tempo lalu makan bersamanya. Wanita yang sempat ditanyai Langit. Itu siapa Albiru.

Kaki panjang yang dibalut jeans hitam itu kini melangkah melewati lorong rumah sakit menuju lift. Biru melirik jam tangannya sesaat. Dia akan mampir dulu makan sebelum pulang. Beberapa perawat dan dokter serta keluarga pasien yang lewat menyapanya.

Biru sekedar memberi anggukan. Ia terus melewati lorong di lantai 3 hingga berdiri di depan lift. Ia sentuh tombol lantai dasar. Parkiran.

"Biir!"

Teriakan perempuan disertai tangan yang tiba-tiba melingkar di lehernya membuat

Albiru sontak menoleh dan berdecak.

Perempuan dengan tinggi semampai dan hanya setinggi kupingnya itu tersenyum teramat lebar.

Dia memakai baju formal tanpa jas dokter yang biasa melekat. Hanum. Gadis yang baru saja ia maksud. Salah satu perempuan yang dekat dengannya. Malah kelewat batas dekatnya.

Hanum juga seorang dokter. Persis sepertinya. Mereka bukan pacar. Bukan juga tunangan. Melainkan Hanum adalah saudari sepersusuan dengannya. Makanya itu Hanum sebebas itu padanya.

Hanum hanya beda beberapa bulan dengannya. Gadis yang tampak anggun namun aslinya berisik seperti sekarang ini memiliki hobi menganggu Albiru. Mereka beda karakter. Yang satu dingin. Satu lagi humble. Jangan tanya kenapa keduanya bisa dekat, atau kenapa Hanum bisa dekat dengan batu es seperti Albiru. Itu karena mereka juga sering bareng sejak dahulu.

"Bir, aku nebeng ya?! Mau makan dulu kan? Aku ikut kalau gitu." Hanum menarik tangannya dan berjalan semangat memasuki lift. Hanum emang seenaknya.

"Gak!"

Wajah gadis itu memelas. Biru yakin sebentar lagi Hanum akan mengeluarkan ancamannya.

"Ayolah. Aku juga belum sempat makan. Kamu tega sama aku. Kalau ibu tahu, kamu akan diome-"

Benar kan? Biru memutar bola matanya malas.

"Ibu pasti menelfon sebentar lagi. Siap-siap saja kamu bakal-"

"Fine!" ujarnya tidak tulus lalu ikut masuk ke dalam lift. Wajah Hanum langsung sumringah. Ia memberikan anggukan lebar.

"Malam ini aku gak makan banyak-banyak. Aku lagi pengen ramen, miefu sama ice cream aja. Oh satu lagi kita pesan ayam bakar ya?"

Tubuh Hanum itu ramping. Badannya ideal. Kelihatannya anggun dan orang berpikir ia tidak banyak makan. Tapi nyatanya Hanum itu kerjannya makan. Lambungnya besar. Sekali makan langsung menguras dompet. Seperti sekarang, tidak makan banyak tapi apa yang dia pesan sudah seperti makan seharian.

"Lama-lama uang tabungan aku habis

kalau makan sama kamu terus Num,"

decaknya mendapat tawa renyah.

"Aku ini Dokter. Harus banyak makan dan sehat untuk pasienku Bir!"

"Berhenti memanggil aku Bir. Kamu pikir aku minuman Bir?"

"Kamu ini, itu aja dipermasalahkan.

Terserah aku. Aku nyamannya gitu."

Albiru tidak menanggapi lagi. Dia hanya menghela nafas lalu mengeluarkan ponselnya.

Saat menyalakan notifikasi banyak chat masuk terutama dari Langit.

Tetangga Bocil

[Assalamu'alaikum Kak Biru]

[Kak Biru udah makan belum?]

[Kak Biru pulang jam sembilan kan?]

[Langit taruh sesuatu di depan pintu, buat Kak Biru]

[Jangan marah lagi ya kak Biru]

[Langit gak semangat tahu kalau kak Biru diemin Langit:(]

[Kak Biru]

[Hari ini Langit udah mulai les loh. Langit mulai rajin belajar, biar nilainya bagus. Biar Langit bisa kuliah dan sukses. Langit mau banggain kak Biru]

[Selamat malam kak Biru. Jangan lupa istirahat dan jangan lupa lamar Langit suatu saat nanti]

[Dari Langit yang cantik:)]

Hanum melirik curiga karena Albiru tersenyum tipis. Walaupun teramat tipis menatap ponsel. Itu bukan ekspresi yang Biru keluarkan saat main ponsel. Biasanya datar kagak tembok.

Kaki Hanum begerak mendekat.

Kepalanya menjulur sedikit akibat kepo.

Netranya berusaha membaca chat masuk di

HP Albiru. Naas belum juga lima detik. Biru menarik ponselnya dan menjitak dahi Hanum.

"Diam. Gak usah kepo."

Hanum mengusap dahinya. Bukannya kesal dia menarik turunkan alisnya menggoda. "Cie yang senyam senyum dapat chat. Yang tadi siapa sih?"

"Manusia." Albiru menjawab seadanya dan menyimpan ponselnya.

"Manusia spesial?" Hanum tidak menyerah. Ia menatap Albiru yang mengalihkan pandang. "Iya kan? Cie Biru ciee..."

"Ck. Gak ada!"

"Kok pakai senyum segala. Doi ya?"

Albiru menatap datar Hanum yang semangat sekali menggodanya. "Bilang Ibu ah.

Udah ada calon menantu." Hanum mengambil ponselnya, berlagak akan menelfon hingga mencari nama ibu di kontak. Albiru sontak merebut benda itu.

"Hanum! Dia bukan siapa-siapa."

"Ah masa?"

"Ck. Pulang sendiri. Gak jadi aku traktir," ancamnya keluar setelah lift berdenting dan sampai di lantai dasar, parkiran.

Hanum panik. Ia sontak berlari menyusul dan menarik tas Albiru hingga pria itu berhenti. "Jangan dong Bir. Hanum laper."

"Urusanku?"

Hanum memberengut. "Iyaaa aku gak telfon Ibu. Bercanda lagi. Kamu panik benar. Iya nih calon mantu Ibu!"

Tidak akan bisa bicara dengan Hanum.

Albiru menutup mulut gadis itu lalu menariknya ke dalam mobil.

"Kenalin dong sama tetangga bocilnya."

Biru memakai Earpohone tidak minat meladeni. Sementara Hanum semakin semangat menggoda saudara sepersusuannya itu.

***

Langit mungkin kelihatannya tidak serius dengan ucapannya yang akan belajar dengan benar. Tapi nyatanya ia benar-benar berusaha dengan baik. Dia menyimak pelajaran, membuat tugas, belajar jika ada ulangan, tidak bolos lagi di jam kelas menahan kantuk saat guru menerangkan. Tapi dasar dirinya yang suka jahil memang tidak pernah hilang.

Itu bagaikan diri Langit. Jika tidak bisa berulah saat jam pelajaran, Langit masih bisa beraksi di luar jam kelas. Saat jam istirahat atau jam kosong misalnya. Ia berusaha diam saja. Tidak melakukan apapun, tapi hal itu malah terasa aneh. Ia jadi seperti orang gabut.

Kalau terlalu serius belajar, malah bikin pusing.

Contohnya saja hari ini. Di saat sholat

Zuhur tengah berlangsung. Langit yang sedang tidak sholat menatap jejeran sepatu teman sekolahnya di lantai maupun di rak sepatu terbuat dari besi.

Dia yang tadinya berjalan tidak semangat efek ngantuk abis menyimak pelajaran sejarah Indonesia, seketika berwajah bahagia mendapat ide cemerlang. Di kepalanya seakan ada lampu yang muncul. Tuing. Aha!

Langit melihat sekitar yang sepi. Ia lalu berjalan mendekat dan mengambil asal beberapa sepatu. Entah sepatu siapa. Ia ambil beberapa dan hanya sebelah. Selanjutnya Langit membawa kabur sepatu itu ke taman belakang sekolah.

Langit umpetin dulu di bawah pohon.

Baru abis itu ia ke kelas ambil tali rafia. Ada enam sepatu yang dia bawa. Langit mengikatnya berjejeran sudah seperti jualan.

Lalu ujung tali rafia ia ikat ke pohon sebelah kirinya dan ujung lain sebelah kanan.

Ia terkekeh melihat hasil karyanya. Langit menepuk tangan puas lalu berjalan pergi setelah mencuci tangan. Kebetulan ada kran untuk siram tanaman di sana.

Dia berjalan kembali ke lapangan seiring para siswa yang sudah kelar sholat jamaah.

Langit melirik lalu buru-buru ke kelas biar gak ketahuan.

"Kenapa lo buru-buru?" Suara Bumi. Langit menoleh dan menatap malas. Kenapa Bumi selalu ada saat dia lagi bersenang.

"Enggak ada. Gue gak buru-buru."

Langkahnya memelan. Rautnya telihat biasa saja. Langit melirik ke bawah. Sepatu Biru yang lengkap. Yah sayang sekali bukan sepatu cowok itu yang raib.

"Gak sholat?"

"Enggak."

"Astaghfirullah Langit."

Langit melirik sebal. "Gue lagi di sayang Tuhan. Absen dulu. Makanya jadi cewek."

Bumi membulatkan bibirnya. Mereka lalu berjalan berbarengan menuju kelas di lantai atas.

Bumi berjalan dengan kedua tangan yang menyelip di kantong celana. Rambut yang sedikit basah bekas air wudhu dan wajah yang tampak cerah usai sholat itu kian terlihat menawan di mata kaum hawa. Saat melewati beberapa siswi, mereka menyapa Bumi Terang-terangan dengan senyum malu.

"Hai Bumi."

"Aduh Bumi ganteng banget."

"Bumi, lo abis sholat makin ganteng deh."

Bumi menanggapi mereka dengan senyuman lebar. Ia juga sempat-sempatnya mmenyugar rambut dengan gerakan pelan.

Beberapa pekikan terdengar.

Langit mendengus. "Sok kecakepan lo!"

"Gue emang cakep. Makanya sekali lewat udah kayak artis papan atas."

"Huwek!" balas Langit berlagak mual. Bumi melirik sebal.

"Eh Bumi. Nanti hasil ulangan keluar."

"Terus?"

"Nilai gue pasti di atas KKM sekarang."

"Terus?"

"Kalau nilai gue tinggi. Lo traktir gue jajan pulang sekolah pokoknya."

Dua alis Bumi naik. Ia menunjuk dirinya. "Kenapa gue yang traktir?"

"Iyalah siapa lagi. Masa gue yang ngeluarin uang buat diri gue? Harus orang lain. Contohnya lo sebagai saingan gue."

Bumi memutar bola matanya malas.

"Mending gue beli jajan buat diri sendiri kalau gitu."

Langit mendengus. "Gak asik lo! Butuh dikasih reward nih kalau gue berhasil."

"Oke. Kalau nilai gue yang tinggi?"

"Gak ada. Nilai lo pasti tinggi. Gue kan bilangnya reward gue kalau nilai gue di atas KKM. Enggak remedial."

"Harus adil. Kalau nilai gue tinggi, temenin gue minggu jogging pagi."

"Gak ma-"

"Oke deal!" Bumi tersenyum dan mengedipkan matanya. Ia lalu berjalan duluan. Langit menghela nafas.

"Gue belum kelaar!!!"" teriaknya membuat perhatian beberapa siswa siswi teralih. Langit menyusul Bumi ke kelas.

"Langit!!"

Baru masuk sudah diteriaki sama Bina yang duduk sambil main HP di bangkunya. Gadis itu berjalan cepat ke arahnya.

"Pasti kerjaan lo nih."

"Hah?" Langit mengerjap tidak paham.

Bina memperlihatkan layar ponselnya di grup ada pengumuman kehilangan sepatu dengan ciri-cirinya.

"Wih sepatu hilang nih." Langit berlagak sok gak tahu. "Asiik. Kok bisa sih?"

Pletak!

Sentilan mendarat di dahinya. Langit mengerucutkan bibirnya kesal. Bumi yang tadi jalan duluan, berjalan mundur dan merebut ponsel Bina.

"Sepatu hilang," Ejanya lalu menatap Langit curiga.

"Apa lihat-lihat gue?" Ia berkacak dengan melotot. "Awas aja nuduh."

"Siapa yang nuduh?" Bumi mencibir dan memberikan ponsel milik Bina. Dia sendiri duduk di kursinya.

"Kalau gak lo siapa dong?" tanya Bina bingung.

Langit memutar bola matanya. Ia menatap langit-langit kelas. "Dibawa lari hantu gak si?"

"Ngelantur lo!"

Ia terkekeh. "Alden!" teriaknya melihat Alden yang baru masuk lewat pintu depan

Bersama Liam dan Hugo. Sepertinya ketiganya juga baru dari mushalla. Ia langsung mengikuti Alden yang duduk di bangkunya. Tepat di depan meja Bumi dan Liam. Langit mengambil duduk di kursi Hugo sebelum cowok itu.

"Alden nanti les kita duduk deketan ya, biar kalau gak paham. Gue bisa langsung tanya. " mintanya semangat.

"Oke!" Angguk cowok itu semangat.

"Gak sekalian bilang. Biar kalau gak nyimak terus kena tegur bisa langsung tanya Alden," ketus Bumi yang duduk di belakang.

lo!" Langit menoleh kesal. "Dih. Nyambung aja

"Mending jangan mau Bro. Malah gak fokus, Langit punya seribu cara gangguin lo kalau gabut." Bumi malah kompor.

"Apaan sih Biru. Gue udah insyaf tahu."

"Babang Bumi cemburu ya Langit dekat sama Alden?" Hugo yang duduk di atas mejanya menggoda.

"Cemburu nih. Ya gak?" Liam ikutan-ikutan. Dia menyenggol lengan Bumi. Cowok itu memutar bola matanya.

"Ya gaklah. Bumi itu kan emang gak senang kalau gue senang!" ujar Langit menatap sengit.

"Lagian siapa juga yang suka dia. Gak tipe gue," ucap Bumi menolak godaan Hugo dan Liam.

"Nelan omongan sendiri ribet loh Bang Bumi."

"Bicit!"

Alden menatap Bumi. "Selera Bumi bukan Langit," ucapnya tiba-tiba. Langit mengangguk setuju.

Bumi diam saja. Bel kemudian berbunyi nyaring Berapa siswa siswi dari luar seketika memasuki kelas.

"Oh iya Bumi, Langit. Lo minggu gak les kan. Kita belajar kelompok ya jam 2."

Langit mengacungkan jempolnya. Bumi memberi anggukan saja.

"Bilang Bina," pesan Liam saat Langit bangkit darin posisinya dan kembali ke bangkunya. Guru masuk beberapa saat kemudian.

"Anak-anak hari ini saya akan membagikan hasil ulangan. Dengar baik-

Baik." Guru berkaca mata bertingkat itu berdiri di depan dengan tumpukan kertas ulangan. Netranya menyapu kelas yang belum semuanya siswa kelas ips 3 masuk.

"Haikal Nadin mana?"

"Permisi Buk!" Sebuah suara disertai ketukan pintu mengalihkan atensi guru dan para siswa di kelas.

Haikal dan Nadin berdiri di ambang pintu. Dengan satu kaki tanpa sepatu. Melihat hal itu Langit menahan tawanya.

"Loh sepatu kalian mana?"

"Lagi sholat, sepatu kami hilang Buk. Maaf kami jadi terlambat Buk."

"Kenapa bisa hilang?

Tatapan keduanya beralih pada Langit.

Langit langsung mengalihkan fokus ke buku di atas meja. Pura-pura gak tahu aja.

"Ada yang jahil sepertinya Buk."

"Ya sudah. Cari lagi nanti ya. Kalian masuk dulu."

Keduannya mengangguk dan ikut duduk. Beberapa mata menatap Langit saat kata jahil disebutkan.

"Memang benar gak lo kan ngit?" Bina berbisik.

"Gak kok."

"Kok gue gak yakin ya lo jujur."

Langit melirik sebal. Apa segitunya ya orang gak percaya. Ya memang sih lagipula siapa yang akan percaya dia insyaf beneran.

"Qanita Langit Zoe?"

Panggilan untuknya sontak membuatnya berdiri tegak dan sedikit panik. "Iya Buk?" Was-was saja ditanya soal sepatu.

Buk Susi tersenyum. "Saya bangga sama kamu. Kali ini nilai kamu di atas KKM, 79." Kalimat itu membuat senyummya merekah lebar. Teman-temannya memberi tepuk tangan selamat dan mengacungkan jempol.

"Ciah Langit hebat!"

"Selamat Langit."

Ternyata kebahagian akan hasil yang didapatkan setelah berjuang itu sangat menyenangkan ya. Hatinya terasa lapang dan juga senang. Senyumnya merekah. Langit terharu walaupun nilainya gak tinggi amat. Tetap saja itu pencapaian hebat seorang langit.

"Pertahankan ya Langit. Pelan-pelan makin tinggi nilainya."

Dia mengangguk mantap. "Siap Buk!"

"Oke saya sebutkan dari lembar pertama ya." Tatapan Buk Susi menatap siswa-siswinya. "Silakan maju dan ambil kertas kalian. Bagi yang remedial Silakan menghilang ujian di ruangan guru. Besok jam istirahat."

"Ashilla Salsabila, 86."

Ashilla, siswi yang duduk di bangku kedua bagian tengah itu sontak berdiri. Sementara Langit menoleh pada Bumi yang menatapnya. Ia tersenyum bangga.

"Jajan," ejanya. Bumi menggeleng lalu menjulurkan lidah.

Langit memberengut.

Buk Susi terus memanggil setiap nama siswanya hingga sampai pada nama Mahendra Ghabumi Adelard dengan nilai 96, nilai paling tinggi setelah Alden.

Saat balik, Bumi malah sengaja melewati meja Langit dan memamerkan kertas itu ke depan wajah Langit langsung.

"Jangan lupa cil."

Langit menghela nafas. Nilai Bumi itu lumayan tinggi. Jauh sekali perbandingan nilai mereka.

***

"Langit, mau bareng ke tempat Les?"

Alden menghampiri meja Langit seusai bel pulang berbunyi.

Bumi yang tengah memasukkan bukunya sontak berdiri. Ia merebut tas Langit di atas meja dan berjalan dahulu.

"Buruan. Gue jajanin."

Langit yang tadinya menatap Alden akan menjawab pertanyaan cowok itu sontak berdiri semangat. Ia menatap Bumi yang duluan keluar kelas.

"Gak usah Alden. Gue mau dijajanin Bumi. Daah." Tangannya melambai senang. Langit melewati Alden dan lekas keluar kelas. Alis cowok itu menyatu.

"Ah ya Alden, duduknya sebelahan ya. Gue mungkin telat." Langit yang baru keluar ambang pintu menyembulkan kepalanya lagi. "Bina gue duluan. Byee!" Ia lalu kembali melambai sebelum benar-benar berlari kecil menyusul Bumi.

"Terserah gue juga."

"Ish. Gue gak janji loh ya. Minggu pagi itu waktunya bobok puas setelah wekkday bangun kesubuahan."

"Lo itu gemuk. Harus banyak olah raga."

"Enak aja. Gue gak gemuk. Ideal begini badan gue." Langit memeluk pinggangnya. Mengukur badannya sendiri.

"Kan menurut lo. Kalau menurut gue gemuk."

"Sembarangan lo. Bilang aja sengaja ledekin biar gue ikut jogging. Iya kan? Ayo ngaku!" kesalnya berkacak pinggang. Tidak ada cewek yang suka dibilang gemuk. Apalagi dibilang sama laki-laki.

"Gue ngomong benar."

"Lo sengaja."

"Lo gemuk."

"Berat badan gue ideal!"

"Lo gemuk, jelek, ngeselin."

Langit mengepalkan tangannya kesal. Dadanya kembang kempis jadi menahan emosi.

Bumi menjulurkan lidahnya. "Ayo muk. Ayo jajan muk. Yok jajan yok muk?" ledeknya.

Langit menghentakkan kakinya lalu berjalan duluan. Bumi menahan tawa dan menyusul.

"Jadi muk mau jajan apa Muk?" Bumi masih meledek kala mereka sudah di luar gebang sekolah. Dihadapkan dengan berbagai jenis jajanan yang berjejeran. Ada bakso bakar, bakso kuah, telur gulung, kebab, burger, sandwich, cimol, cilor, cilok, martabak mini, crapes, risol mayo dan lainnya.

Langit mendelik kesal. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, ia jajan tidak satu macam makanan. Sengaja mengerjai Bumi. Siapa suruh bikin kesal. Mengatasinya gemuk lagi.

"Mau cilok dong paman Bumi." Ia menunjuk jajanan cilok dengan ekspresi dibuat bagai anak kecil.

Bumi melotot. "Paman paman! Gue gak paman lo zainab!"

Langit tidak mendengarkan. Ia melangkah ke penjual cilok. Bumi lekas ikut. "Ciloknya 5000 ya Om. Paman Bumi yang bayar," Langit menunjuknya.

Bumi menghela nafas.

Setelah jajanan ciloknya selesai dan dibayar Bumi. Ia lalu melangkah ke penjual kebab. "Paman Bumi kebab isian daging. Pesanin dong." Langit mengerjapkan matanya.

Bumi mendengus tapi menurut. Langit tertawa.

"Tunggu di sini ya Paman Bumi. Langit ke sana dulu. Beli telur gulung." Belum di iyakan Langit sudah ngacir.

"Astaga itu anak."

Tidak hanya tiga macam. Ada lima macam jajanan yang Langit beli. Bumi saat ini bagai bapak ngikutin anaknya yang banyak jajan. Setelah selesai jajan, Langit duduk di bangku depan sekolah bawah pohon menatap semua jajannya dengan mata berbinar.

"Dasar bocil." Ia ikut duduk bergabung di samping Langit.

Langit hanya mencibir dan memakan jajanannya dimulai dari telur gulung dengan nikmat. Bumi memperhatikan gadis di sampingnya itu yang makan dengan mulut penuh. Pipi Langit jadi gembung dan berisi. Terlihat menggemaskan. Ia sampai tidak sadar memperhatikan Langit makan.

"Gue gak bakal nawarin lo ya!" Langit yang merasa dilihat Bumi mengamankan semua jajannya dan was-was kalau diminta.

"Lo selain nyeselin, gendut, pelit juga ya. Bilang makasih Bumi yang baik hati aja gak."

"Ngarep!"

Bumi mendengus. Ia kemudian berdiri.

"Lo udah mau pergi?"

"Kenapa? Takut gue tinggalin? Takut jauh-jauh dari gue?"

Langit nyesel bertanya. "Sana sana lo. Jauh-jauh gak usah balik," usirnya.

Bumi menarik kedua sudut bibirnya.

Tanpa bicara lagi, dia pergi begitu saja. Langit memperhatikan Bumi yang menjauh dan berakhir di indomaret sebelah sekolah.

Cowok itu beberapa saat berada di sana hingga ke luar membawa kresek putih bertuliskan indomaret. Bumi kembali duduk di sampingnya dan menyerahkan air mineral dingin.

"Nih biar gak seret."

Dua alis Langit naik. Ia menatap air itu lalu pada wajah Bumi. Cowok itu

Menggoyangkan botol mineral itu dengan decakan.

"Cepat muk. Pegal nih tangan."

Langit lekas menerimanya. Sedang Bumi kini bersandar seraya memainkan ponselnya. Di saat Bumi nunduk fokus main ponsel, Langit mencuri pandang.

"Baik banget si Bumi. Gue jajannya banyak kok gak protes ya? Malah dikasih minum."

Beberapa saat seperti itu, Langit kaget karena Bumi tiba-tiba mendongak dan menatap matanya. Ia merasa malu kepergok dan mengerjap.

"Langit?"

Langit sok sibuk buka tutup Lee mineral. Bumi yang melihat itu mengambil alih dan membukanya.

"Nih." Cowok itu menyerahkannya kembali. Langit menerimanya dengan perasaan aneh. Ia meneguk minumnya.

"Muk, ini kerjaan lo kan?"

"Hm?" Langit memutar bola matanya hingga melihat layar ponsel yang Biru tampakkan padanya. Foto sepatu yang berjejeran tergantung tampak di layar. Langit

Tersedak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!