transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.
#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
surat untuk bidadari yang salah.
Seminggu kemudian, semuanya berjalan jauh lebih baik.
Rumah Wijaya gak lagi kayak kuburan. Ada suara ketawa Cika pas nonton drakor, ada Bu Ratna yang mulai nyanyi-nyanyi kecil nyiram anggrek, bahkan Chindy—Chindy yang biasanya ketus ngomel tiap pagi karena kopi kurang pahit—sekarang lebih bergairah. Gak sering datar kayak mayat hidup. Tapi malah makin hidup. Pipinya ada merahnya, matanya ada cahayanya.
Malam ini Chindy tampil cantik. Benar-benar cantik. Dress merah muda selutut, bahannya _satin_ jatuh, bikin kulitnya keliatan makin putih. Rambutnya yang biasa diikat sangar, cepol ketat kayak ibu tiri di sinetron, sekarang digerai indah. Bergelombang, sepinggang. Bertolak belakang dengan kepribadiannya yang galak.
Langkahnya lembut biarpun aura CEO tak bisa disimpan di lemari. Nempel seperti jadi wajah ke-2. _Click, click_. _Heels_-nya 5 cm, baru beli, khusus malam ini.
Malam ini malam pelunasan _voucher dinner_ hadiah dansa minggu lalu. Akhirnya bisa dipakai.
Andre sibuk menghadapi ujian muridnya, bolak-balik rapat kurikulum. Chindy mengurusi butiknya yang sedang kebanjiran _orderan_ gaun _bridesmaid_. Baru nemu waktu malam ini.
Malam di mana bulan bulet sempurna. Gede, kuning, kayak ngeledek. Senyum dari jauh lihat Chindy yang kaku pakai rok.
Restoran _fine dining_ lantai 20. _View_ kota. Lilin, biola, _table for two_.
"Maaf sudah membuat Anda menunggu lama," ucap Chindy. Begitu duduk, nada CEO gak bisa dibilangin. Tegak, datar, formal. Padahal tangannya dingin di bawah meja.
"Tidak masalah, Nona," sahut Andre. Senyumnya hangat. Dia berdiri, narikin kursi buat Chindy kayak _gentleman_ di film. "Silakan duduk. Anda... luar biasa malam ini."
Beberapa saat hanya ada keheningan. Ruangan yang seharusnya bikin suasana romantis, malah berubah canggung. Sendok garpu belum disentuh. _Wine_ belum dituang.
Terlalu canggung untuk Chindy yang baru pertama kali makan malam lagi. Apalagi dengan laki-laki. Terakhir _dinner_ sama cowok kapan? SMA? Itupun study tour.
"Nona, kamu terlihat sangat cantik," ucap Andre membuka pembicaraan. Matanya tulus. Gak jelalatan, gak genit. _Genuine_.
Chindy nunduk malu-malu. Jari-jarinya ngeremas ujung _napkin_. "Terima kasih," sahutnya. Suaranya lebih pelan 2 oktaf dari biasanya.
Andre _humble_. Gampang akrab. Tampan dan sopan. Idaman murid-murid di sekolahan, idaman emak-emak wali murid pas _parenting day_.
"Apa genetik keluarga Wijaya memang sebagus ini?" Ucap Andre lagi. Sambil motong _steak_, tapi matanya ke Chindy. "Adikmu Cika imut, anggun. Terus yang satu lagi..."
Chindy mengerutkan keningnya. Yang satu lagi? Adiknya cuman Cika, tak ada yang lain. Anak Bu Ratna cuma 3: Eric, dia, Cika. _Batin-nya beradu._
"Cika cantik, imut, anggun," Andre lanjut, gak sadar ranjau di depan. "Kalau dilihat sekilas mirip sekali denganmu. Hidungnya, tatapannya. Tapi wanita yang satu lagi... yang berdansa dengan Pak Eric waktu pesta itu. Matanya indah. Suaranya bikin candu. Auranya... beda. Anggun sekali."
_KLEK_.
Garpu Chindy jatoh ke piring. _Prang_.
"Maksudmu?" Sahut Chindy. Suaranya naik satu tangga. Dingin. "Adikku cuman Cika. Tak ada yang lain."
Andre akhirnya ngeh. Dia angkat kepala. "Wanita yang pakai gaun _dusty blue_ malam itu, yang berdansa dengan Pak Eric. Bukankah itu adikmu juga? Siapa namanya? Aku belum sempat kenalan resmi." Tanyanya lagi. Polos. Lugu. Maut.
Chindy mengepalkan tangannya di bawah meja. Kukunya nancep ke telapak. "Namanya Vivian," sahut Chindy tegas. Tiap kata kayak piso. "Dia bukan adikku. Dia kakak iparku. Istri dari Kak Eric Wijaya."
Hening.
Biola di restoran masih main. Tapi di meja mereka, udah kayak Antartika.
Gadis itu segera bangkit dari kursinya. _Sret_. Kursinya bunyi. "Saya kenyang," katanya. Padahal makanan belum datang.
Andre makan malam dengannya tapi memikirkan wanita lain. Ditambah itu kakak iparnya sendiri. Orang yang paling ia benci di dunia—Vivian. Yang dulu selalu bikin Cika nangis, kata Cika waktu curhat di sekolah.
Kemarahan Chindy rasanya sudah sampai ubun-ubun. Ubun-ubun sampe berasap.
Andre tak sempat menghentikan Chindy. Gadis itu sudah berjalan dengan marah, _heels_-nya ngehentak lantai, meninggalkan ruangan. Meninggalkan Andre yang masih terduduk kebingungan, garpu di tangan. "Lho... salah ngomong apa saya? Bukannya Nona Chindy punya dua adik?"
...
Sementara itu, di rumah Wijaya, suasananya 180 derajat beda.
Vivian sedang selonjoran di sofa ruang tengah, kaki naik ke meja, piring buah ia simpan di pangkuan. Anggur, apel, pir. Nyemil sambil ketawa-ketawa.
Masih tertawa-tawa dengan Cika, memikirkan Chindy yang kaku _date_ untuk pertama kali dengan laki-laki _soft spoken_.
"Pasti Kak Chindy cuman jawab 'iya', 'tidak', 'iya', 'tidak'," ucap Cika sambil memperagakan gaya kakaknya yang kaku. Badan tegak, muka datar, ngangguk kayak robot. "Terus Pak Andre bingung, ini _date_ apa interogasi."
Vivian cuman tertawa girang, sambil sesekali pukul meja. _Bug! Bug!_ "Bener! Terus Chindy pulang-pulang ngomel, 'Laki-laki lemah! Gak tegas!'"
Tak lama Eric turun dari tangga. Kaos _polos_ + celana _training_. Abis mandi. Matanya masih natap layar HP. Grup saham.
"Awas mejanya pecah," ucapnya singkat, tanpa nengok. Terus duduk di kursi _single_ agak jauh dari 2 wanita yang sedang sibuk menggosip. Jaga jarak aman.
"Tapi tadi Pak Andre titip surat ini di sekolah," ucap Cika. Tiba-tiba inget. Dia lari ke tas sekolahnya, ngeluarin amplop merah muda. Wangi. Ada _wax seal_ bunga. "Katanya, 'nanti kasih kalau Kak Chindy pulang'. Tapi Kak Chindy kan belum pulang."
Vivian langsung duduk tegak. Mata berbinar. _Gosip level dewa_. "Cik, mumpung dia belum pulang, kita baca duluan! Kalau udah di tangan Chindy kita gak bakal tau. Dia pasti bakar."
Cika nyengir. Adiknya menurut. _Partner in crime_.
Cika berdiri di tengah ruangan, amplop dibuka pelan-pelan. Kertasnya tebal, _art paper_. Dia berdeham, kayak seorang penyair yang mau baca puisi di atas panggung.
_"Untukmu, Pemilik Senyum yang Singgah di Ingatanku,"_
_"Gaun dusty pink, berkibar indah disapu angin halaman sekolah.
Waktu pertama kali aku melihatmu, kau melambai tinggi—
bukan ke arahku, tapi ke langit,
seolah membangunkan diriku dari tidur panjang.
Dari mimpi yang katanya penuh bidadari, namun hampa, nihil.
Sampai sosok bidadari itu aku temukan pada dirimu.
Nyata. Di depan gerbang. Dengan tawa yang memantul ke koridor,
dan mata yang menyala seperti bintang kejora di siang hari._
_Malam itu, di taman Wijaya, gaun biru muda berkibar diterpa angin.
Hanya beberapa detik kita bertaut dalam waltz yang canggung.
Namun tanganku bersumpah, ia tak pernah menggenggam sehangat itu.
Aroma melati darimu, masih tertinggal di jemariku sampai pagi.
Aku senang pernah memegang tanganmu,
meski kau cepat menghilang, kembali ke sisi sang pemilikmu.
Entah kau merasa begitu?
Namun yakinlah, bahwa kau berhasil memegang hatiku.
Yang dulu beku, kini berdetak hanya karena bayangmu._
_Jika rindu adalah hujan, maka aku tenggelam setiap malam.
Bolehkah aku tahu siapa namamu, wahai bidadari tanpa sayap?
Agar doa yang kukirim tiap malam punya alamat yang jelas,
tidak lagi nyasar ke langit yang kosong."_
Cika selesai baca. Hening.
Vivian terperangah. Apel di tangannya jatoh ke piring. _Pluk_.
Itu terlalu mirip dengan deskripsi dirinya. _Dusty pink_ di sekolah \= pas dia jemput Cika pakai dress pink. Gaun biru muda \= gaun dansa. Memegang tangan \= pas rotasi _waltz_. "Sang pemilikmu" \= Eric. Aroma melati \= parfum Vivian.
"Kak... ini bukannya kamu?" Tanya Cika. Dia ngeh. Dia gak bego. "Gaun biru muda, dansa sama Kak Eric... Ini Kak Vivian, kan? Pak Andre gak tau Kakak siapa?"
Eric yang duduk agak jauh, HP-nya udah turun. Diam-diam memperhatikan dari tadi. Alisnya nyatu.
"Dari siapa surat itu? Untuk siapa?" Tanyanya. Suaranya datar. Tapi ada getar janggal di hati. Atau cemburu karena istrinya diperhatikan orang lain? Entah. Yang jelas, rahangnya keras.
"Pak Andre," sahut Cika polos. "Dia bilang untuk Kak Chindy. Tapi kalo aku baca ini... ini bukan buat Kak Chindy. Ini buat Kak Vivian. Semua deskripsinya Kak Vivian!"
Sementara itu Vivian membeku. Darahnya berdesir dingin. _Ini gak ada di novel._
Di novel asli, Andre bukan pemeran penting. Dia cuman ada di beberapa bab adegan sekolah. Guru wali kelas Cika. Figuran. Gak pernah kenal Vivian, gak pernah ngobrol, gak pernah ada _love line_. Vivian jahat ke Cika, Andre benci Vivian, titik.
Kenapa bisa melenceng sejauh ini? Kenapa Andre nulis puisi buat dia? Kenapa Andre bilang dia "bidadari"?
_Apakah karena aku mengubah alur... dunia ini juga ikut berubah? Butterfly effect?_
Eric berdiri. Pelan. "Andre," ulang dia. Nama itu kayak batu di mulutnya. "Guru Cika?"
Vivian nelen ludah. Gak berani nengok.
Di luar, suara mobil Chindy masuk garasi. _Brummm_.
Badai baru aja mau mulai.
bab ini nagih gak?, kasih reting 10-11 seberapa bagus bab ini di komentar😘