Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.
Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.
Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.
Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul
Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bingung
Pagi itu langit Jakarta cerah banget. Terlalu cerah kayak lagi nipu. Padahal Rania rasanya ingin hujan deres biar suasana hati yang sendu ini terwakili. Tapi langit tetap biru polos tanpa awan. Matahari menyengat kayak setrika uap yang lupa dimatiin.
Rania masuk ke lobi gedung dengan langkah gontai. Kayak zombie kayak orang yang baru sadar kalau hidupnya mulai rumit lagi. Padahal baru kemarin dia memutuskan untuk fokus magang, fokus move on, fokus jadi perempuan karier yang mandiri. Eh, sekarang kepikiran pria berusia 33 tahun yang tiba-tiba duduk di teras rumahnya.
"Hidup itu memang suka ngancurin rencana, ya," gumamnya sambil nunggu lift.
Pling. Pintu lift terbuka dia masu, di dalam ada kaca besar Rania lihat bayangannya sendiri. Matanya sedikit sayu. Rambutnya diikat asal-asalan. Baju kerjanya kusut dikit. Wajahnya sembab kayak abis nangis semalaman, padahal cuma guling-guling galau mikirin Alfino.
"Ya ampun, Rania, lo kasihan banget lihatnya."
Tapi gak ada waktu buat bersolek. Bel sudah berbunyi. Pintu lift terbuka. Lantai 7 divisi Marketing. Mila sudah duduk di meja, nyeruput kopi sambil scroll HP.
Mila langsung menatap Rania matanya tajam kayak detektif di film kriminal.
"Ran, lo kenapa?"
"Gak kenapa-kenapa."
"Wajah lo kayak habis ketabrak truk kontainer yang lagi muat batu bara."
"Kiasan banget, sih."
"Serius, Ran. Lo pucat kayak tembok, mata lo sembab kayak habis nonton drakor sepanjang 20 episode tanpa tidur, dan rambut lo... astaga, ini gaya rambut apa lagi? Sarang tawon yang dihajar angin?"
Rania nyengir kecut. "Abis kurang tidur, Mi."
"Kurang tidur karena apa?"
"Karena... galau."
Mila meletakkan kopinya. Mukanya berubah serius-setengah panik.
"GALAU LAGI? Jangan-jangan lo nemu status WA Rangga yang foto sama cewek baru? Jangan-jangan lo chatting dia tengah malam? Jangan-jangan..."
"Bukan, Mi. Bukan Rangga."
Mila mengerjapkan mata.
"Lalu siapa?"
Rania menarik napas panjang. Paru-parunya rasanya penuh udara campur deg-degan.
"Mi... gue dideketin om-om."
"OM-OM?!"
Mila nyeletak keras sampai karyawan satu ruangan pada nengok. Bang Didi yang lagi ngopi di meja dekat jendela ikut melirik.
"Mi, jangan keras-keras, malu!"
"Maaf, maaf," Mila merendah. Tapi matanya tetap berbinar kayak lampu disco.
"Om-om? Maksud lo bapak-bapak yang udah punya anak dua? Yang perutnya buncit kayak bonsai? Yang rambutnya udah mulai mundur ke belakang?"
"Bukan! Gak kayak gitu!"
"Lah terus gimana?"
Rania mengusap wajah. Dia nyeruput air mineral dulu. Biar tenggorokannya gak kering lalu dia mulai cerita.
"Jadi... ada pria namanya Alfino usianya 33 tahun."
"33? Itu belum om-om, Ran. Itu kaka-kaka, kalo lo bilang om-om, berarti usia 40 ke atas. Lo lebay banget sih."
"Ya udah, kaka-kaka. Tapi gue panggil om-om karena... dia sudah pernah nikah."
Mila melongo.
"Janda? Maksudnya duda?"
"Iya duda tapi keren, ganteng, tinggi, kekar, wangi, sopan, matanya teduh kayak langit bulan puasa."
Mila nyengir. "Wah, ini udah jatuh cinta curhatnya, bukan cerita biasa."
"BELUM jatuh cinta! Gue cuma cerita!"
"Ya udah, lanjut."
Rania melanjutkan. Cerita soal Alfino datang ke rumah diundang Naufal, soal duduk di teras ngobrol sama bapak, soal dia syok sampai gigit kulit durian, dan soal rahasia paling mengerikan Alfino tahu kriteria 18 cm itu.
Mila diam mukanya berubah tiga kali, kaget, ngakak lalu penasaran.
"Jadi... pria tampan, tinggi, kekar, wangi, duda keren, umurnya 33, dan dia tahu lo minta 18 cm... terus kenapa lo masih bingung?"
"Karena... gue belum move on, Mi hati gue masih sakit."
"Move on tuh gak harus jadi biarawan, Ran. Move on tuh gak harus nutup pintu rapat-rapat terus kuncinya dibuang ke laut. Move on tuh..." Mila berpikir.
"Kayak lo ganti baju, baju lama kotor, yaudah buang ganti yang baru. Gak perlu tidur telanjang menunggu baju lama bersih dengan sendirinya."
"Kiasan lo aneh."
"Tapi nyata."
Belum selesai Rania jawab, Bang Didi muncul dari samping tiba-tiba kayak hantu.
"Nak Rania ada yang nembak?" tanyanya sambil nyeruput kopi pahit.
"Bukan nembak, Bang. Masih sebatas main ke rumah."
"Yaelah, main ke rumah tuh udah sinyal bagus. Jangan sampe sinyalnya hilang karena lo gak mau terima." Bang Didi duduk di samping Mila. Wajahnya serius mendadak.
"Tau gak, dulu saya juga deketin istri saya dengan cara main ke rumah dulu. Waktu itu saya bilang'cari temen ngopi, padahal targetnya ya dia. Cuma butuh waktu tiga bulan buat berani bilang cinta."
"Lama amat, Bang."
"Ya sabar, Ran. Yang penting niatnya jelas. Lo cari tahu dulu orangnya gimana. Asal jangan keburu diambil orang lain. Nanti lo nyesel seumur hidup."
Mila nyeletuk. "Iya, Ran. Orang ganteng, duda keren, wangi, punya usaha, tahu kriteriamu... itu udah kayak paket komplit. Kaya beli nasi padang plus rendang plus ayam pop plus kerupuk plus es jeruk jangan disia-siakan."
Rania menghela napas, panjang banget sampai rambutnya ikut bergoyang.
"Iya, ya. Mungkin gue harus buka hati."
"Baru juga sekarang sadar?" Mila ketawa.
Sore harinya Rania pulang dengan perasaan campur aduk. Sepanjang jalan, pikirannya melayang ke mana-mana. Saat naik motor dia mikirin Alfino. Saat beli gorengan di pinggir jalan, dia juga mikirin Alfino.
Pedagang gorengan sampai bengong melihat Rania berdiri lima menit sambil megang uang di tangan.
"Mbak, mau beli atau mau ngelamun?"
"Oh, iya, iya beli pisang goreng dua."
"Sudah dari tadi mbak berdiri? Ada masalah? Kayak orang lagi galau?"
Rania nyengir. "Galau, Bang. Galau karena deket sama om-om."
Pedagang gorengan mengangkat alis. "Ya ampun, mbak. Mending beli pisang goreng dua dulu. Itu obat paling mujarab buat galau."
Rania tertawa kecil.
Setibanya di rumah, Rania langsung disambut aroma masakan yang lebih spesial dari biasanya.
Ibu lagi sibuk di dapur. Bapak rapih pakai kemeja batik. Naufal sudah duduk di ruang tamu sambil main HP, tapi setelan bajunya lebih rapi dari biasanya celana bahan, kaos polos, rambut disisir.
Rania curiga.
"Bu, ada apa sih? Hari ini ada yang datang?"
Ibu muncul dari dapur dengan wajah sumringah kayak abis dapet undian berhadiah.
"Iya, Ran. Mas Alfino bilang mau main lagi. Katanya mau ngobrol-ngobrol santai. Bapak udah siap-siap."
Jantung Rania berdebar keras. Kayak band drum lagi latihan di dadanya.
"Sekarang? Jam segini?"
"Iya katanya jam 5 sore kamu cepet ganti baju yang rapih."
Rania melesat ke kamar begitu pintu tertutup, dia sandarkan punggung di pintu, napasnya terengah-engah.
"Ini dia. Dia datang lagi."
Dia buka lemari, isinya berantakan. Ada baju yang udah seminggu dilipat rapih, ada yang mau dicuci, ada yang cuma digantung asal-asalan.
Rania kebingungan tangan kanannya megang kemeja putih. Tangan kirinya megang kaos oblong polos. Dua-duanya dibolak-balik.
"Kenapa sih gue harus ribut begini?" bisiknya pada diri sendiri.
Dulu, saat masih pacaran dengan Rangga, dia gak pernah repot mikirin baju kalau Rangga mau datang. Rangga cuma berkunjung ke rumah pake kaos dan sandal. Rangga gak pernah komplain. Rangga...
"Stop. Jangan bandingkan."
Rania memejamkan mata. Dia buang jauh-jauh bayangan Rangga. Dia buang ke belakang lemari. Dia kunci rapat-rapat.
Lalu dia pilih kemeja putih, dia berdiri di depan kaca. Cermin kecil di atas meja rias yang sudah berdebu.
Rania menatap bayangannya. Bibirnya kering. Tangan sedikit gemetar.
"Kenapa deg-degan? Dia cuma orang biasa," pikirnya. Tapi hatinya berkata lain.
Dia ingat pesan Mila. "Pria tampan, tinggi, kekar, wangi, duda keren, tahu kriteriamu, dan dia masih mau main ke rumah."
Dia ingat pesan Bang Didi. "Jangan sampai keburu diambil orang."
Dia ingat senyum kecil Alfino. Matanya yang teduh. Suaranya yang pelan. Rania menghela napas. Lalu dia mendengar suara dari luar.
Brap! Brap! Brap!
Suara motor.
Naufal berteriak dari ruang tamu. "Mbak! Mas Alfino datang!"
Jantung Rania nyaris copot. Dia lihat cermin sekali lagi.
"Ya sudah. Mau gak mau. Lo harus keluar, Rania."