NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MISTERI DI BALIK PAGAR

Suasana di ruang tengah itu mencekam sekali. Hening. Sangat hening, hanya terdengar suara napas memburu dari kedua insan yang saling tatap itu.

Keisha berdiri mematung, matanya masih terbelalak tak percaya mendengar pengakuan gila Arsen barusan.

"Kau... kau gila ya, Arsen?" suara Keisha bergetar, campuran antara marah dan takut. "Kevin itu teman baikku! Dia orang baik! Dia yang bantuin aku waktu aku susah payah bekerja sambil mengurus Leo di Kanada dulu! Dia yang bahkan pernah menawarkan diri mau menikahi Keisha supaya Leo punya ayah resmi saat itu! Masa dia musuhmu? Masa dia mau balas dendam? Alasan apa coba?"

Arsen mengusap wajahnya kasar, rambutnya tampak berantakan karena dia menarik-nariknya frustrasi. Dia tahu ini terdengar tidak masuk akal, tapi bukti di ponselnya dan firasat tajamnya sebagai pengusaha bilang ini semua benar.

"Dengar aku, Sha! Aku tahu ini susah dipercaya, tapi itu kenyataan!" Arsen mencoba mendekat ingin menggenggam tangan istrinya, tapi Keisha mundur selangkah dengan wajah waspada. Gerakan itu membuat hati Arsen makin perih.

"Kevin itu anak dari Jonathan, pemilik perusahaan yang dulu bersaing ketat dengan perusahaan keluargaku. Perusahaan mereka bangkrut total sekitar 5 tahun lalu karena kasus korupsi dan kecurangan. Ayahnya masuk penjara, dan mereka hilang entah ke mana. Ternyata... dia lari ke Kanada dan diam-diam memantaimu!"

"Terus apa hubungannya sama aku?!" potong Keisha keras. "Kenapa dia harus repot-repot dekatin aku kalau tujuannya mau musuhan sama kamu?"

"Karena dia tahu kamu adalah kelemahanku! Kamu adalah segalanya bagiku! Cara paling mudah menghancurkanku adalah dengan mengambil apa yang paling aku cintai! Dia mau lukai aku lewat kamu, Sha! Bodohnya kamu malah masuk perangkap dia dengan senang hati!"

Arsen menunjukkan ponselnya lagi, menunjuk pesan anonim itu. "Lihat ini! Orang baik mana yang sengaja foto-foto kita terus kirim buat bikin ribut? Orang baik mana yang datang ke rumah terus cerita soal tawaran pernikahan cuma buat bikin aku cemburu buta?!"

Keisha menatap layar ponsel itu, lalu menatap wajah Arsen yang terlihat sangat serius dan ketakutan. Perlahan, bayangan masa lalu mulai bermain di kepalanya.

Betul juga... Kenapa kebetulan banget Kevin ada di kota yang sama denganku di Kanada? Kenapa dia tiba-tiba muncul pas hidupnya lagi bahagia? Kenapa dia selalu ada pas dia lagi butuh bantuan?

Tapi tidak... tidak mungkin. Kevin begitu baik, begitu lembut. Dia bahkan pernah mau menikahi Keisha tanpa memandang dia punya anak luar nikah. Itu tindakan mulia, kan?

"Kau... kau cuma mencari alasan buat memisahkan aku sama dia karena kau cemburu buta kan?" bisik Keisha, air matanya jatuh lagi membasahi pipi. "Kau bilang dia mau balas dendam, tapi buktinya apa? Selama ini dia cuma baik sama aku dan Leo."

"Kebaikan itu palsu, Keisha! Itu topeng! Di balik senyum manis itu dia menyimpan kebencian yang besar!"

"Aku tidak percaya!" Keisha menggeleng kuat-kuat, menutup telinganya seolah tidak mau mendengar lagi. "Kau jahat! Kau yang raguin anakmu sendiri! Sekarang kau fitnah teman aku pula! Pergilah! Aku tidak mau bicara sama kau lagi!"

Keisha berbalik cepat, menggendong Leo yang sudah tertidur di sofa karena kelelahan menangis, lalu berlari masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.

BRAKK!

Arsen terdiam sendirian di ruang tengah yang sepi. Kepalanya pusing sekali. Dia tahu dia salah. Dia tahu dia sudah menyakiti hati Keisha dengan tuduhan tes DNA itu. Karena kesalahannya itu, sekarang Keisha tidak percaya lagi padanya. Keisha malah menganggap Kevin sebagai pahlawan yang melindunginya dari suami yang "kejam".

"Kevin... kau brengsek," desis Arsen pelan, matanya memancarkan aura mematikan. "Kau mau main game? Oke. Kita lihat siapa yang menang. Kalau kau berani menyentuh satu rambut saja di kepala mereka... aku pastikan kau menyesal pernah dilahirkan ke dunia ini."

 

Keesokan harinya...

Seperti prediksi Arsen, pagi-pagi sekali mobil Kevin sudah terparkir manis di depan pagar rumah mereka. Pria itu turun dengan membawa kotak bekal makanan dan mainan baru untuk Leo.

Wajahnya cerah, senyumnya ramah, seolah tidak ada apa-apa terjadi kemarin.

Keisha keluar rumah dengan wajah lesu tapi sedikit lebih tenang. Bertemu Kevin rasanya seperti obat penenang baginya saat ini, meskipun kata-kata Arsen semalam masih terngiang di telinganya.

"Pagi, Sha! Wah, ceria dikit dong mukanya," sapa Kevin sambil meletakkan barang-barang di kap mobil. "Ini aku bawa bekal sarapan spesial. Masakan tangan aku sendiri lho. Ayo masuk, aku temani kamu sarapan."

Keisha tersenyum tipis, tapi tidak bergerak maju. "Vin... aku mau tanya sesuatu yang serius boleh nggak?"

Kevin mengerutkan kening, lalu tersenyum lembut. "Boleh dong. Tanya apa aja."

"Kamu... kamu kenapa bisa baik banget sama aku? Sampai segitunya? Apa... apa kamu punya maksud lain sama aku dan keluarga aku?" tanya Keisha hati-hati, matanya menatap tajam mencoba mencari kebohongan.

Wajah Kevin tidak berubah sedikitpun. Dia justru tertawa kecil dan mendekat perlahan, membuat jarak mereka sangat dekat.

"Kamu dibilangin sama suami galakmu itu ya?" tanya Kevin pelan, suaranya rendah dan lembut. "Dia cemburu buta makanya dia fitnah aku seenaknya. Dia takut kamu sadar kalau ada laki-laki lain yang jauh lebih bisa menghargai kamu daripada dia."

Kevin mengangkat tangannya perlahan, ingin menyentuh pipi Keisha. "Jawabannya sederhana, Sha. Aku baik sama kamu... karena aku sayang kamu. Dari dulu. Bahkan sebelum suamimu itu sadar kalau kamu berharga."

Tangan itu hampir menyentuh wajah Keisha, tapi tiba-tiba...

BRAKK!

Pintu depan rumah terbuka keras. Arsen berdiri di ambang pintu dengan wajah hitam legam, kemeja kerjanya belum dikancingkan sempurna, dan aura marah yang menguar sangat kuat.

"JANGAN BERANI SENTUH ISTRIKU!" teriak Arsen, suaranya menggelegar membuat burung-burung di pohon terbang berantakan.

Arsen berlari turun tangga dan langsung menarik tubuh Keisha ke belakang punggungnya, melindunginya, sambil menatap Kevin dengan tatapan membunuh.

"Kau masih berani datang lagi?! Apa kau tidak takut aku hancurkan hidupmu di sini sekarang juga?!" desis Arsen.

Kevin justru tidak mundur. Dia malah tersenyum mengejek, menatap Arsen dengan pandangan merendahkan.

"Wah, galak sekali. Masih pagi buta sudah marah-marah. Nanti hipertensi lho, Tuan Arsen," goda Kevin santai. "Aku cuma datang mau antar sarapan buat Keisha dan Leo. Lagian... kan mereka lebih senang makan masakanku daripada makan dirimu yang kasar dan dingin itu."

"LEDAKAN MULUTMU!" Arsen ingin menerjang, tapi Keisha dari belakang memegang erat bajunya.

"Arsen, jangan! Jangan bikin keributan!" seru Keisha panik.

"Lihat, Sha? Dia kasar kan? Dia preman kan?" Kevin menunjuk Arsen. "Dia tidak pantas pegang kamu. Dia cuma tahu kasar dan posesif. Beda sama aku, Sha. Aku bisa bikin kamu tenang, aku bisa bikin kamu bahagia tanpa teriakan-teriakan gila."

Kevin lalu menatap Arsen lagi, kali ini senyumnya hilang berganti dengan tatapan tajam dan dingin yang sangat berbeda dari biasanya.

"Dengar ya, Arsen. Aku tidak mau ribut. Aku di sini karena aku mau melindungi mereka dari kamu. Kalau kamu tidak bisa jadi suami yang baik, minggir. Biar aku yang ganti posisi kamu."

"KAU ANJING!" Arsen melepaskan pegangan Keisha dan siap menghajar wajah sombong itu.

Tapi Kevin dengan sigap mundur dan masuk ke dalam mobilnya. Dia menurunkan kaca jendelanya dan berteriak,

"Pikirkan baik-baik tawaranku, Keisha! Aku tunggu jawabanmu! Ingat, aku selalu ada buat kalian!"

Mobil itu melaju pergi meninggalkan debu.

Arsen berdiri gemetar di tempatnya, napasnya memburu. Dia menoleh ke belakang menatap istrinya.

"Kau dengar kan?! Dengar apa yang dia bilang?! Dia mau gantiin posisi aku! Dia terang-terangan ngaku mau ambil kamu!" teriak Arsen.

Keisha menunduk, bingung setengah mati. Hatinya berkata Arsen benar soal Kevin yang berani dan lancang, tapi hatinya juga berkata Kevin hanya peduli.

"Kenapa kamu harus kasar terus sih, Arsen?! Kalau kamu lembut dikit aja pasti nggak bakal kayak gini!" balas Keisha.

"AKU KASAR KARENA AKU CEMBURU! AKU TAKUT KEHILANGAN KAMU!"

"Kalau takut kehilangan, jangan sakiti hati aku dulu dong!"

Keisha berbalik masuk ke dalam rumah, meninggalkan Arsen yang benar-benar merasa hancur. Dia terjebak. Dia tahu bahaya mengintai, tapi orang yang dia cintai justru berpihak pada musuhnya.

 

Sore harinya, di sebuah kafe tersembunyi...

Kevin duduk sendirian di sudut paling gelap. Wajahnya tidak lagi ramah dan hangat. Matanya tajam, dingin, dan penuh dendam. Dia menyesap kopinya pelan sambil menatap foto keluarga Arsen dan Keisha di layar ponselnya.

"Arsen... kau pikir kau sudah menang? Kau pikir kau sudah bahagia?" bisik Kevin pelan, suaranya serak dan menakutkan.

"Keluargamu yang indah ini... yang akan aku hancurkan pelan-pelan. Aku akan ambil istrimu. Aku akan buat dia benci kamu. Aku akan buat dia mencintaiku. Dan saat kau sudah hancur lebur, baru aku akan buang mereka seperti sampah."

Tiba-tiba ponselnya berdering. Nomor dari luar negeri.

"Halo, Pak..." jawab Kevin dengan nada hormat dan rendah.

"Bagaimana progresmu, Nak? Apakah sudah mulai menyakiti hati si brengsek itu?" suara berat dan tua terdengar dari seberang sana.

"Sudah, Pak. Sekarang mereka sedang bertengkar hebat. Si Arsen sudah mulai kehilangan akal sehatnya. Wanita itu juga mulai ragu sama suaminya sendiri."

"Bagus. Lanjutkan. Jangan biarkan mereka damai. Hancurkan segalanya sampai tidak ada yang tersisa. Balaskan dendam kita atas kehancuran keluarga kita."

"Siap, Pak. Janji. Aku tidak akan berhenti sampai Arsen menangis memohon padaku."

Telepon dimatikan.

Kevin tersenyum lebar, senyum yang sangat jahat dan menyeramkan.

"Tunggu aku, Keisha cantik. Permainan baru saja dimulai. Dan kali ini... kau tidak akan bisa lari dariku."

1
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!