NovelToon NovelToon
Tahta Darah Sembilan Cakrawala 2

Tahta Darah Sembilan Cakrawala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2)

Dengan Inti Emas Iblis di Dantian-nya, Shen Yuan kini meninggalkan benua kelahirannya. Ia melangkah menembus Gerbang Lintas Benua menuju jantung peradaban Sembilan Cakrawala, siap membawa badai darah mematikan bagi para dewa palsu yang pernah merenggut segalanya darinya. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedai Tengkorak

Kota Gerbang Langit benar-benar sebuah kota raksasa dari batu dan pualam yang menelan segala bentuk keangkuhan pendatang baru. Di sepanjang jalanan batu giok yang lebarnya sanggup dilalui oleh sepuluh kereta kuda berjajar, Shen Yuan berjalan dengan kepala sedikit tertunduk. Jubah abu-abunya yang kusam membuatnya tampak seperti bayangan tak berarti di tengah lautan pendekar berpakaian mewah.

Setiap napas yang ia tarik terasa berat, memaksa Inti Emas Iblis di dalam Dantian-nya untuk berputar terus-menerus guna menahan kepadatan hukum alam Benua Pusat.

"Tekanan ini... jika aku berada di Ranah Pembukaan Nadi, organ dalamku pasti sudah retak hanya dengan berjalan sejauh satu li," batin Shen Yuan.

Meski begitu, ia mulai menyadari keuntungan tersembunyi dari lingkungan mematikan ini. Penempaan secara alami yang terus-menerus terjadi akibat tekanan ini membuat hawa murninya semakin murni, perlahan membuang ampas-ampas sisa dari penyerapan paksa Inti Emas Jian Wushuang sebelumnya.

Tatapannya menyapu toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan utama. Ada paviliun peramu pil yang memajang pil-pil tingkat Inti Emas di rak pajangan depan seolah-olah itu adalah permen fana. Ada toko pandai besi yang menjual pedang terbang dengan riak hawa murni yang mampu membelah gunung. Benua Awan Gelap tak lebih dari sekadar desa terpencil jika dibandingkan dengan kemakmuran ini.

Namun, Shen Yuan tidak tertarik pada kemewahan jalan utama. Ia membelokkan langkahnya ke sebuah gang sempit yang gelap dan lembap, menjauhi area pusat.

Di setiap benua, di setiap kota, aturan dunia hitam selalu sama. Jika kau ingin mencari rahasia yang paling kelam atau menanyakan nama yang tabu untuk diucapkan di bawah sinar matahari, kau harus pergi ke tempat di mana cahaya enggan menyentuh.

Setengah jam kemudian, ia tiba di depan sebuah bangunan bawah tanah yang dindingnya terbuat dari batu karang merah. Papan kayunya yang sudah separuh membusuk bertuliskan: Kedai Tengkorak Naga.

Begitu Shen Yuan menyingkap tirai kulit binatang tebal dan melangkah masuk, aroma arak yang sangat menyengat, asap tembakau roh, dan bau amis darah menyergap indera penciumannya. Kedai itu sangat luas dan remang-remang, diterangi oleh obor-obor api hijau. Ratusan pria dan wanita berwajah beringas duduk di meja-meja bundar.

Yang membuat kewaspadaan Shen Yuan meningkat hingga ke puncaknya adalah... rata-rata dari mereka memancarkan riak Ranah Pengumpulan Lautan Qi! Bahkan pelayan yang membawa nampan berisi daging panggang pun berada di Ranah Pembukaan Nadi Lapisan Puncak!

"Jika aku mengamuk di sini seperti di Benteng Pasir Berdarah, aku akan mati sebelum sempat mencabut pedang," gumam Shen Yuan dalam hatinya. Ia harus bermain dengan cerdas.

Ia berjalan menuju meja bar kayu yang panjang dan duduk di salah satu kursi sudut yang kosong. Seorang pria tua bungkuk dengan satu mata buta, yang sedang mengelap gelas kayu, meliriknya sekilas. Pria tua itu memancarkan aura Awal Ranah Pembentukan Inti Emas! Seorang ahli Inti Emas menjadi penjaga kedai!

"Satu kendi Arak Api Hitam," ucap Shen Yuan datar. Ia meletakkan sebutir Batu Roh Tingkat Menengah di atas meja kayu yang basah.

Mata pria tua itu sedikit berbinar melihat Batu Roh Tingkat Menengah, namun ia segera menyembunyikannya. Ia mengambil batu itu, meletakkan sekendi arak dan sebuah cangkir kayu di depan Shen Yuan.

"Kembaliannya," pria tua itu melempar lima puluh butir Batu Roh Tingkat Rendah.

Satu kendi arak di tempat kumuh ini setara dengan setengah Batu Roh Tingkat Menengah, yang berarti lima puluh Batu Roh Tingkat Rendah! Harga yang bisa membuat penguasa Kota Debu Merah bangkrut dalam semalam.

Shen Yuan tidak menyentuh arak tersebut maupun kembaliannya. Ia mendekatkan wajahnya sedikit ke arah pria tua itu.

"Aku tidak butuh kembalian. Aku butuh telinga yang bisa mendengar, dan lidah yang bisa menjual rahasia."

Pria tua bermata satu itu menghentikan gerakannya. Ia memindai Shen Yuan dari balik tudungnya. Menyadari bahwa pemuda ini juga berada di Ranah Pembentukan Inti Emas, sikap pria tua itu menjadi sedikit lebih waspada. Di Benua Pusat, ahli Inti Emas memang banyak, tetapi yang menyembunyikan wajahnya di tempat seperti ini biasanya adalah penjahat kejam atau buronan berbahaya.

"Rahasia apa yang kau cari, Pengelana?" bisik pria tua itu, suaranya serak seperti kayu kering yang patah. "Di Kedai Tengkorak Naga, kami menjual segalanya. Dari kelemahan putri Tuan Kota, hingga peta rute perampokan siluman. Tentu saja, harganya bervariasi."

Shen Yuan menyingkirkan kelima puluh Batu Roh Tingkat Rendah itu. Sebagai gantinya, ia mengeluarkan kantong kecil dan menumpahkan dua puluh butir Batu Roh Tingkat Menengah ke atas meja.

Cahaya putih susu yang murni dan menyilaukan seketika membuat beberapa pelanggan di meja terdekat menoleh dengan tatapan penuh keserakahan. Namun, pria tua itu dengan cepat menyapu batu-batu kristal itu dengan lengan jubahnya, menyembunyikannya sebelum memancing masalah.

"Ikut aku ke ruang belakang," gumam pria tua itu, memberi isyarat dengan kepalanya.

Shen Yuan bangkit dan mengikuti pria tua itu melewati sebuah lorong gelap, hingga tiba di sebuah ruang kecil yang dijaga oleh susunan aksara pengedap suara tingkat tinggi. Begitu pintu ditutup, pria tua itu duduk dan menatap Shen Yuan lekat-lekat.

"Dua puluh Batu Roh Tingkat Menengah... kau pastilah menanyakan rahasia yang bisa membuat kepalamu terpisah dari badan. Katakan."

Shen Yuan duduk bersandar. Matanya yang segelap malam menatap lurus ke arah pria tua tersebut.

"Aku mencari keterangan tentang Kuil Dewa Perak. Tepatnya, tentang seorang Pelindung Bintang Tujuh bernama Bai Luo."

Mendengar dua nama tersebut, wajah keriput pria tua itu mendadak membeku. Gelas kayu yang sedang dipegangnya jatuh berderak ke lantai. Jika ia memiliki dua mata, keduanya pasti sudah membelalak dalam kengerian mutlak.

"K-Kau... dari mana kau mendengar nama itu?!" Pria tua itu melompat berdiri, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia bahkan berjalan mundur hingga punggungnya menabrak dinding batu. "Ambil kembali Batu Roh-mu! Aku tidak menjual keterangan tentang kematian!"

Shen Yuan tetap duduk dengan tenang. Ia tidak mengambil kembali Batu Roh-nya. "Dua puluh Batu Roh Tingkat Menengah. Hanya untuk memberi tahuku di mana letak Kuil Dewa Perak dan seberapa kuat Bai Luo. Kau tidak perlu membantuku membunuhnya."

"Membunuhnya?!" Suara pria tua itu melengking tertahan. Ia menatap Shen Yuan seolah sedang melihat orang gila yang baru lepas dari pasungannya. "Bocah! Kau baru berada di Tahap Awal Inti Emas! Tahukah kau apa itu Kuil Dewa Perak?! Mereka adalah satu dari Tiga Sekte Penguasa Tertinggi di Benua Pusat! Kekuasaan mereka tidak berada di kota perbatasan kotor ini, melainkan di Wilayah Inti Benua, tepat di bawah Gunung Pilar Langit!"

Pria tua itu menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya.

"Dengar, Nak. Aku tidak tahu dendam apa yang kau miliki, tapi kuburkan saja dalam-dalam. Kuil Dewa Perak bukanlah sesuatu yang bisa disentuh oleh manusia fana. Pemimpin Sekte mereka konon telah lama membelah kehampaan dan naik ke Alam Spiritual. Penatua luar mereka saja rata-rata berada di Ranah Peleburan Jiwa!"

"Dan Bai Luo?" tuntut Shen Yuan, suaranya tidak goyah sedikit pun meski mendengar nama Ranah Peleburan Jiwa.

"Bai Luo... Sang Pelindung Bintang Tujuh," pria tua itu menelan ludah. "Dia adalah salah satu algojo paling menakutkan di sekte itu. Sepuluh tahun yang lalu, ia berada di Puncak Ranah Pembentukan Inti Emas. Sekarang? Hanya langit yang tahu apakah ia sudah melangkah ke Ranah Peleburan Jiwa. Jika kau mencarinya, kau hanya akan mengantarkan nyawamu seperti laron yang masuk ke dalam api."

Mata Shen Yuan menyipit. Sepuluh tahun yang lalu berada di Puncak Inti Emas. Pantas saja saat turun ke Benua Awan Gelap, tekanan Bai Luo sanggup membuat utusan seperti Gu Xing bersujud menyembah, dan memenggal ayah Shen Yuan hanya dengan satu Niat Pedang.

"Wilayah Inti Benua," gumam Shen Yuan perlahan. "Bagaimana cara aku ke sana?"

Pria tua itu memandang Shen Yuan dengan tatapan kasihan. "Wilayah Inti tidak bisa dicapai dengan terbang atau berjalan kaki. Jaraknya puluhan juta li, melewati lautan badai ruang dan wilayah kekuasaan siluman purba. Satu-satunya jalan masuk yang aman adalah menggunakan Susunan Aksara Pemindah Wilayah Dalam yang berada di pusat Kota Gerbang Langit ini."

"Berapa biayanya?"

"Ini bukan soal Batu Roh, Bocah!" pria tua itu menggeleng kasar. "Susunan itu dikendalikan oleh Tuan Kota, seorang ahli di Puncak Peleburan Jiwa. Hanya mereka yang memiliki 'Plakat Emas Abadi' yang diizinkan menggunakannya. Plakat itu adalah tanda kehormatan tingkat tertinggi."

"Bagaimana cara mendapatkan Plakat Emas Abadi itu?" desak Shen Yuan.

Pria tua itu menghela napas panjang. Ia kembali duduk dan menatap Batu Roh di atas meja, akhirnya menyerah pada keserakahan.

"Ada tiga cara," jelasnya. "Pertama, kau harus lahir dari salah satu keluarga bangsawan kuno. Mengingat kau baru saja tiba di kota ini tanpa tahu arah, cara ini mustahil. Kedua, kau mendapat undangan langsung dari salah satu Tiga Sekte Penguasa Tertinggi."

Pria tua itu tersenyum sinis. "Cara ketiga, yang paling brutal dan sering kali berujung kematian. Kau harus mendaftar di Balai Pemburu Bayaran Pusat kota ini, dan bertarung di 'Arena Seribu Darah'. Jika kau berhasil memenangkan seratus pertarungan hidup mati tanpa terkalahkan secara berturut-turut, atau menyelesaikan misi tingkat Surga, Tuan Kota sendiri yang akan menganugerahkan Plakat Emas Abadi itu kepadamu."

"Arena Seribu Darah," Shen Yuan mengeja nama itu. Sebuah senyum yang sangat menakutkan perlahan mekar di wajahnya.

Pria tua itu bergidik. "Jangan bodoh. Mereka yang bertarung di sana bukanlah petarung biasa. Kebanyakan dari mereka adalah makhluk mengerikan di Ranah Inti Emas, buronan dari alam luar, atau siluman buas yang menyamar menjadi manusia. Kau hanya akan menjadi daging cincang."

Shen Yuan bangkit berdiri. Ia tidak menanggapi peringatan pria tua itu.

"Kau telah memberikan apa yang kubutuhkan. Ambil Batu Roh itu," ucap Shen Yuan, lalu melangkah menuju pintu keluar.

"Bocah," panggil pria tua itu sebelum Shen Yuan membuka pintu. "Namamu. Siapa namamu? Karena jika kau benar-benar mendaftar di arena itu, aku ingin tahu nisan siapa yang harus kucari."

Shen Yuan berhenti sejenak. Ia tidak menoleh ke belakang. Di Benua Pusat ini, menyembunyikan nama lamanya mungkin adalah pilihan cerdas untuk menghindari kejaran Sekte Pedang Langit, yang pasti telah mengirimkan pemberitahuan ke cabang sekte mereka di sini.

"Namaku..." Shen Yuan menyeringai buas dari balik tudungnya. "Mo Yuan."

Pintu tertutup kembali.

Shen Yuan melangkah keluar dari kedai yang remang-remang itu. Matahari Benua Pusat bersinar dengan sangat terik, namun darah di dalam tubuh Shen Yuan terasa mendidih dengan rasa lapar yang jauh lebih panas.

Kuil Dewa Perak. Ranah Peleburan Jiwa. Plakat Emas Abadi.

Tidak peduli seberapa tinggi langit di Benua Pusat ini, Iblis Penelan Surga telah tiba. Dan ia akan memanjatnya dengan menggunakan tulang-tulang musuhnya, dimulai dari Arena Seribu Darah.

1
black swan
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!