hari itu ketika aku berjalan pandangan ku tertuju pada gadis yang merupakan pacar ku tapi dia berjalan dengan pria yang tidak ku kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hitomaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi ke sekolah
Pov aidan
Malam hari, aku sedang sendiri memandangi langit malam, aku masih berada di rumah nenekku sementara keluarga ku sudah terlebih dahulu pulang. Suara jangkrik menemaniku di malam yang sunyi ini, tanpa ada lampu jalan dan suara berisik dari kendaraan yang berlalu-lalang aku menikmati suasana ini.
" Aidan sini masuk, makan malam dulu " suara milik nenekku dari dalam sana.
Aku masuk kedalam, nenekku sudah Duduk di kursi meja makan, ikan goreng dan sambal adalah menu makan malam hari ini.
" selamat makan "
Aku mulai memakan ikan itu, ikannya sedikit terlalu asin tapi kalau memakannya bareng dengan nasi panas dan sambal akan menjadi rasa yang sempurna.
Setelah selesai makan aku membantu nenekku mencuci piring yang kotor, selesai mencuci piring aku masuk ke kamar kosong yang sudah di rapihkan tadi.
Di dalam kamar aku membuka handphone ku, aku kemudian mengirim pesan kepada Imel.
Aidan : ( udah tidur? )
Imel. : ( belum nih, lagi ngerjain tugas )
Imel membalas pesan sambil mengirimkan foto tugas sekolah.
Aidan : ( uwah... banyak banget, semangat. ngerjain nya )
Imel : ( haha makasih, bentar lagi juga ini selesai )
Imel. : ( oh ya... kamu sudah pulang? )
Aidan : ( belum aku masih di rumah nenekku, aku lagi nemenin nenekku kasihan sendirian )
Imel : ( begitu kah, jadi kapan kamu berencana pulang? )
Aidan : ( hm.... Entahlah mungkin hari Rabu )
aku menghabiskan waktu banyak dengan bertukar pesan bersama Imel, sampai tak sadar sudah jam setengah sebelas.
Aidan : ( udah dulu ya, mataku mulai mengantuk kita lanjut besok )
Imel. : ( sama, yaudah selamat malam )
Aidan : ( selamat malam juga, semoga tidurmu nyenyak )
Aku mematikan handphone milikku, mulai menutup mata bersiap menghadapi hari esok dengan penuh energi.
Pagi hari, Aku bangun dari tempat tidurnya berjalan santai di sekitar rumah sambil menikmati segarnya suasana pedesaan di pagi hari, sampai akhirnya aku bertemu Risma yang sedang berangkat sekolah, dia mengendarai sepeda. Dia berhenti di depan ku dan menyapa.
" pagi, Aidan lagi mau kemana? " dia turun dari sepeda miliknya, dan bertanya kepada ku.
" lagi jalan-jalan santai aja, sambil menikmati suasana pagi hari "
" jadi gak ada tujuan ya "
" benar tanpa tujuan "
Risma tertawa sedikit kemudian tiba-tiba diam.
" hm... Gimana kalau kamu anterin aku pergi ke sekolah, tentu saja aku yang di bonceng "
Risma tersenyum, aku ragu tidak langsung menjawab.
" jauh? "
" engak terlalu jauh kok "
" yaudah sini sepedanya " aku mengambil sepeda dari Risma dan kemudian menaikinya.
" yeay.. Kamu jalannya pelan pelan saja "
Risma naik dan berpegang di punggungku. Di sepanjang perjalan kami bertemu murid-murid lain termasuk masuk temannya Risma, aku menyapa mereka sebelum melanjutkan mengantar Risma pergi sekolah.
" mau gantian? " Risma menawarkan untuk bergantian, mungkin dia mendengar nafasku yang hampir habis.
" hah...hah.... Gak usah " nafasku terdengar berat
" kamu yakin? "
" iya, aku masih sanggup "
Aku terus mengayuh sepeda, sampai akhirnya Risma melompat turun dari sepeda. Aku sedikit terkejut dengan tindakan berbahaya yang di lakukan Risma.
" apa? "
" kamu turun Aidan, biar kamu yang aku bonceng " Risma berbicara menyuruhku turun
Aku kemudian turun sambil terus mengatur nafasku.
" nih minum " Risma memberiku botol minum miliknya.
" terima kasih " aku meminum hampir setengah air yang ada di botol.
" udah minumnya? cepetan naik " Risma menyuruhku naik ke sepeda.
Naik? Memikirkan aku di bonceng oleh perempuan itu hal yang memalukan.
" kamu mikirin apa? Sampai melamun lama gitu "
" tidak, hanya saja memikirkan laki-laki di bonceng oleh perempuan membuatku malu "
" gak usah terlalu dipikirkan, kamu naik aja "
Aku naik dibelakang, sepeda bergerak dengan cepat memikirkan betapa kuatnya Risma harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk bersekolah.
Kami akhirnya sampai, sekolah tidak terlalu besar dan terlihat sederhana, banyak murid yang melihat ke arah kami, mungkin karena wajah asing yaitu aku.
" kamu beristirahat dulu di warung sana, kamu bawa pulang sepedanya dan nanti jemput aku lagi jam 1 siang "
" baiklah "
Risma meninggalkan aku dan mulai berbaur dengan teman-temannya sementara aku melihat semua itu dari kejauhan.
...****************...
Luna sedang menerima kunjungan di tahanan, seorang pria yang merupakan kekasihnya. Mereka membicarakan sesuatu dengan suara pelan, Luna tampak menangis sementara pria itu mengkerut dahinya.
" kamu gak usah khawatir aku berjanji pasti akan membuat hidup mereka sengsara" ucap pria itu pelan tapi penuh dengan emosi.