Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Akhirnya Berakhir
Pertemuan itu… akhirnya selesai juga. Tidak ada lagi kata tambahan. Tidak ada lagi tekanan yang perlu disampaikan. Semua yang ingin dikatakan sudah jelas tersirat di antara mereka.
Shao Dong berdiri, diikuti oleh An Ran. Keduanya kembali memberi hormat. Lan Suya hanya mengangguk ringan. Gao Rui pun ikut berdiri, meski pikirannya masih memproses banyak hal dari percakapan barusan.
Pintu ruangan dibuka kembali. Lan Suya dan Gao Rui akhirnya berjalan keluar dari kediaman keluarga Shao.
Udara malam langsung menyambut mereka. Suasana di luar jauh lebih lega dibandingkan tekanan di dalam ruangan tadi. Shao Dong dan An Ran bahkan menyempatkan diri mengantarkan mereka sampai ke bagian luar.
“Perjalanan pulang semoga lancar,” ucap Shao Dong dengan sopan.
Lan Suya hanya tersenyum tipis.
“Jaga keputusanmu.”
Kalimat itu ringan… tapi cukup membuat Shao Dong menegakkan punggungnya tanpa sadar.
Di luar kediaman, dua kereta kuda milik Harta Langit sudah terparkir rapi. Di sampingnya, dua pendekar telah menunggu sejak tadi, Bai Kai dan Rou Xi. Begitu melihat Lan Suya dan Gao Rui keluar, keduanya langsung memberi hormat.
Lan Suya dan Gao Rui tidak berlama-lama. Mereka berpamitan singkat. Lan Suya berjalan menuju kereta pertama, diikuti Rou Xi. Sementara itu, Gao Rui naik ke kereta kedua bersama Bai Kai. Tak lama kemudian… kedua kereta itu mulai bergerak, meninggalkan kediaman keluarga Shao yang perlahan menjauh di belakang mereka.
Di dalam kereta… suasana sempat hening beberapa saat. Hingga akhirnya Bai Kai melirik ke arah Gao Rui.
“Bagaimana perasaanmu setelah mengikuti pesta barusan, Tuan Muda?”
Gao Rui terdiam sejenak. Pandangannya jatuh ke lantai kereta.
“…Entahlah,” jawabnya pelan. “Aku justru merasa malu.”
Bai Kai sedikit mengangkat alis. Lalu… ia tertawa kecil.
“Hehehe… itu hal yang wajar.”
Gao Rui tidak menjawab lagi. Ia hanya menyandarkan punggungnya, menatap ke luar jendela.
Lampu-lampu malam ibukota berlalu perlahan. Perjalanan terus berlanjut. Namun tidak lama kemudian, kereta tiba-tiba melambat… lalu berhenti.
Gao Rui mengernyit.
“Sudah sampai?” tanyanya, sedikit heran. “Cepat sekali…”
Bai Kai tidak langsung menjawab. Ia melirik keluar jendela. Beberapa detik kemudian, ia menggeleng pelan.
“Belum.”
“Eh?”
Gao Rui ikut menoleh keluar. Yang terlihat bukan penginapan mereka, melainkan sebuah kedai makan yang masih ramai oleh pengunjung malam. Lampu-lampu hangat, aroma masakan, dan suara percakapan ringan memenuhi area itu.
Bai Kai mengangguk-angguk pelan. Dalam hatinya, ia merasa paham. Nyonya Lan SuYa benar-benar perhatian. Ia dan Rou Xi telah menunggu cukup lama di luar selama acara berlangsung. Wajar jika setelah semuanya selesai… mereka diajak makan.
Tanpa berkata banyak, Bai Kai membuka pintu kereta. Gao Rui ikut turun.
Di luar, Lan Suya sudah berdiri dengan santai. Rou Xi berada di sampingnya. Gao Rui berjalan mendekat.
“Bi… kenapa kita tidak langsung kembali ke penginapan?”
Lan Suya menoleh, lalu tertawa kecil.
“Di pesta tadi… kau bahkan tidak sempat makan, kan?”
Gao Rui terdiam.
“…ya.”
“Ayo,” lanjut Lan Suya santai, “aku akan mentraktirmu.”
Di sisi lain, Wajah Bai Kai dan Rou Xi… langsung membeku. Beberapa detik… mereka hanya berdiri diam. Seketika mereka sadar. Alasan berhenti di kedai makan ini… bukan karena mereka. Tapi karena Gao Rui.
Suasana menjadi sedikit canggung. Namun Lan Suya, yang menangkap perubahan ekspresi kedua bawahannya, hanya tertawa kecil.
“Aku tahu kalian juga belum makan,” katanya ringan. “Ayo… makan bersama.”
Bai Kai dan Rou Xi langsung tersadar. Wajah mereka sedikit gugup.
“Ya, Nyonya!”
Keduanya segera mengikuti. Mereka berempat pun berjalan masuk ke dalam kedai makan.
Di dalam suasana hangat langsung menyelimuti mereka. Berbeda dengan pesta mewah sebelumnya, tempat ini terasa lebih hidup. Lebih santai. Lebih… nyata.
Pelayan segera menyambut mereka dan mempersilakan duduk. Sementara itu, kusir kereta juga tidak dilupakan. Ia diarahkan ke bagian lain untuk mendapatkan makan malamnya sendiri.
Gao Rui duduk perlahan. Kali ini tidak ada tamu yang datang menyapanya. Tidak ada basa-basi. Tidak ada tekanan. Hanya makanan… dan orang-orang yang ia kenal.
Ia menatap meja kosong di depannya. Untuk pertama kalinya malam itu… perutnya benar-benar terasa lapar. Dan entah kenapa, ia merasa… ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan pesta tadi.
Sambil menunggu makanan siap dihidangkan, minuman lebih dulu datang memenuhi meja mereka. Cangkir-cangkir kecil berisi teh hangat mengeluarkan uap tipis yang menenangkan. Aroma harumnya perlahan mengusir sisa ketegangan dari acara sebelumnya.
Lan Suya mengangkat cangkirnya, menyeruput perlahan, lalu melirik ke arah Gao Rui.
“Kau tahu,” ucapnya santai, “apa yang kau lakukan di acara ulang tahun keluarga Shou tadi… cukup bagus.”
Gao Rui yang sedang memegang cangkirnya langsung terdiam. Ia menoleh, sedikit terkejut.
“Bagus untuk Harta Langit,” lanjut Lan Suya, suaranya tetap ringan namun penuh makna. “Kau tidak hanya memberi hadiah. Kau juga menunjukkan posisi kita.”
Mendengar itu, Gao Rui justru menundukkan kepala. Wajahnya sedikit memerah.
“A-aku… tidak memikirkan sejauh itu,” katanya pelan. “Apa yang kulakukan… hanya reaksi spontan saja.”
Di sisi lain meja, Rou Xi dan Bai Kai yang sejak tadi mendengarkan akhirnya saling pandang. Mereka kembali menatap Gao Rui dengan ekspresi berbeda dari sebelumnya. Kagum.
“Meski begitu,” ujar Bai Kai sambil tersenyum tipis, “tidak semua orang punya keberanian untuk bertindak spontan di situasi seperti itu, Tuan Muda.”
Rou Xi mengangguk setuju.
“Benar. Apalagi di depan begitu banyak orang penting.”
Gao Rui jadi semakin tidak enak hati. Ia hanya bisa menggaruk pipinya pelan, tidak tahu harus menjawab apa.
Namun saat suasana mulai hangat oleh pujian, Lan Suya tiba-tiba meletakkan cangkirnya.
“Ada satu hal yang perlu kau ingat.”
Nada suaranya tidak berubah keras… tapi cukup membuat Gao Rui langsung menegakkan punggungnya.
“Ke depannya,” lanjutnya, “kau tidak perlu menyebutkan harta lain yang kau miliki di depan umum.”
Gao Rui mengangkat kepala, sedikit bingung.
Lan Suya menatapnya lurus.
“Dunia ini tidak hanya berisi orang-orang seperti yang kau temui tadi. Jika ada pendekar dari aliran hitam yang mendengar, itu bisa memancing hal-hal buruk.”
Suasana meja sedikit hening. Gao Rui terdiam beberapa saat… lalu perlahan mengangguk.
“…aku mengerti.” Ia menarik napas pendek. “Aku akan mengingatnya.”
Lan Suya tersenyum tipis, kali ini benar-benar terlihat puas.
Tidak lama kemudian, pelayan datang membawa hidangan satu per satu. Aroma makanan hangat langsung memenuhi meja. Daging panggang, sup panas, sayuran tumis, dan nasi hangat tersaji dengan menggoda.
Mata Gao Rui langsung berbinar. Tanpa banyak bicara lagi… ia mulai makan. Dan kali ini, benar-benar makan.
Suapan demi suapan masuk dengan cepat. Tidak ada lagi sikap canggung seperti di pesta tadi. Tidak ada lagi beban untuk menjaga sikap. Ia makan dengan lahap, seolah baru sadar betapa laparnya dirinya sejak tadi.
Entah mengapa… berbicara dengan begitu banyak orang di acara pesta ternyata melelahkannya. Bukan fisik. Tapi mentalnya.
Lan Suya yang melihat itu hanya tertawa kecil.
“Pelan-pelan,” katanya santai. “Tidak ada yang akan merebut makananmu di sini.”
Bai Kai ikut tersenyum, sementara Rou Xi menutup mulutnya, menahan tawa.
Gao Rui berhenti sejenak, lalu ikut tersenyum kikuk… sebelum kembali makan, kali ini sedikit lebih pelan.
Di meja itu… tidak ada lagi tekanan, tidak ada lagi formalitas. Hanya tawa ringan, percakapan santai, dan kehangatan yang sederhana. Untuk pertama kalinya malam itu… mereka benar-benar menikmati waktu bersama.
keyakinan
kekuatan
kekayaan
populeritas...
sampai saat ini masih pemegang rangking pertama.
tanda hadir aja keanya...
wkwkwkwkkkk