Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.
Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.
Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.
Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25.
Suasana di depan rumah Pak Sam semakin ramai. Warga masih semangat bermusyawarah, dan saling menawarkan bantuan.
"Bagaimana kalau nanti memasak di sini saja!"
"Oke, kita akan persiapkan semuanya dari pagi. Supaya nanti tidak terlalu kerepotan nantinya.
"Dan untuk anak-anak juga nanti mereka biasa bantu bersih-bersih!"
Tawa dan suara semangat bercampur menjadi satu.
Mereka juga tidak menyadari bahwa di balik semua itu, Zee telah melengkapi kekurangan yang mungkin belum mereka sempat pikirkan.
Zee kembali melangkah mendekati ke arah perkumpulan warga.
"Besok pagi kita mulai persiapkan semuanya, agar nanti acar syukuran dan makan bersamanya juga tidak kemalaman." ucap Pak Sam lantang, menarik perhatian semua warga.
"Iya Pak Kepala Desa!" jawab warga serempak.
Bu Yati menambahkan, "Kita harus buat yang terbaik!"
Sorak kecil kembali terdengar. Zee menatap mereka satu per satu, hatinya menghangat melihat semangat itu.
Sebuah Desa yang dulunya sederhana, cuman tahu melaut saja. Kini sudah mulai sedikit-sedikit mengetahui beberapa hal.
dan malam ini, di bawah langit yang tenang, suara ombak yang terdengar dari kejauhan. Sebuah rencana besar telah di sepakati.
Bukan sekedar syukuran dan makan bersama, melainkan ini juga perayaan kebersamaan yang akan di kenang oleh seluruh warga Desa.
Beberapa menit kemudian, suasana di halaman rumah Pak Sam mulai mereda. Percakapan yang tadi ramai perlahan berubah menjadi anggukan-anggukan penuh pengertian. Dan kesepakatan untuk acara esok hari telah tercapai.
Zee lalu melangkah sedikit ke depan, dengan sorot matanya yang lembut namun tegas.
"Bapak, Ibu, Kakak-kakak, dan adik-adik sekalian... Saya izin pamit dulu. Kalian juga sebaiknya kembali ke rumah masing-masing. Istirahat yang cukup, supaya besok kita semua bisa menjalankan acaranya dengan lancar." ucapnya dengan suara yang lantang.
Hening sejenak, lalu senyum mulai merekah di wajah warga.
"Iya, Neng Zee. Sampai jumpa besok ya, Neng," jawab mereka serempak, dengan penuh kehangatan.
Zee membalas dengan anggukan kecil. Hatinya terasa ringan melihat semangat dan kepercayaan yang diberikan warga kepadanya.
Tanpa berlama-lama, Dia berbalik dan melangkah menuju pelabuhan. Langit mulai meredup, angin laut berhembus lembut, menemani langkahnya hingga tiba-tiba di kapal pesiar miliknya yang bersandar tenang di pelabuhan.
Di sana, A1 dan A2 sudah menunggunya. Zee menghampiri mereka, tatapannya kembali serius.
"A1, A2. Aku titip warga desa ya. perhatikan mereka, dan bantu jika memang dibutuhkan," ujarnya singkat, tapi penuh makna.
"Siap, Nona," jawab A1 dan A2 bersamaan.
Zee mengangguk pelan, Dia memejamkan mata sejenak.
Seketika... Sling
Dalam satu kedipan, tubuhnya langsung menghilang dari dalam kapal, berpindah ke dunianya sendiri.
Saat membuka matanya kembali, Dia sudah berada di dalam kamarnya.
Tanpa membuang waktu, Zee berjalan menuju kamar mandi. Air mengalir membasahi tubuhnya, menghilangkan lelah setelah hari yang panjang. Setelah selesai, Dia mengenakan pakaian tidur dan merebahkan diri di atas tempat tidur.
Matanya perlahan terpejam. Malam itu, Zee tertidur lebih cepat dari biasanya. Dengan pikiran yang sudah tertata untuk hari esok yang akan menjadi awal dari sesuatu yang besar.
Keesokan harinya, mentari pagi menyelinap perlahan melalui celah jendela kamar Zee. Cahaya hangat itu jauh tepat di wajahnya, membangunkannya dari tidur lelapnya.
Zee membuka mata, menatap langit-langit sejenak, lalu tersenyum tipis. Hari ini adalah hari yang penting.
Dia segera bangkit, merapikan tempat tidur, lalu bersiap seperti biasanya. Setelah mandi dan mengenakan pakaian yang rapi namun sederhana, Zee turun ke bawah untuk sarapan.
Setelah selesai sarapan, Zee berjalan ke belakang rumahnya. Dan dari kejauhan, suara cangkul yang beradu dengan tanah sudah terdengar.
Para pekerja datang lebih pagi dari biasanya. Mereka juga mulai membersihkan lahan yang kemarin di penuhi semak. Rumah liar dipotong, tanah di cangkul, dan gumpalan-gumpalan keras mulai digemborkan agar siap di tanami.
Zee berdiri sejenak memperhatikan para pekerja. Angin pagi berhembus pelan, membawa aroma bunga dan aroma tanah yang baru di balik.
"Pagi, Neng Zee!" sapa salah satu pekerja sambil mengusap keringat di dahinya.
"Pagi, terima kasih Pak, sudah datang lebih awal." jawab Zee dengan senyum tulus.
Dia pun menyempatkan berjalan mengelilingi lahan, memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Namun, di dalam hatinya, ada sedikit rasa sayang yang harus Dia tahan.
Toko kecil di samping rumahnya itu. Rencananya, hari ini adalah hari pertama pembukaannya.
Tapi, keadaan berkata lain. Zee menghembuskan napasnya pelan. "Sepertinya harus di tunda dulu..." gumamnya lirih.
Dia tahu, acar di desa pesisir jauh lebih penting. Bukan hanya sekedar syukuran, tapi juga tentang kebersamaan, rasa syukur, dan harapan baru bagi warga di sana.
Zee kembali masuk ke dalam rumah. Dia mengambil beberapa barang yang sudah disiapkan sejak semalam. Daftar kebutuhan, catatan, dan memastikan semua pesanan untuk acara sudah siap dikirimkan.
Tak lupa, Dia membuka aplikasi AetherShop untuk mengecek kembali pesanan besar yang telah Dia lakukan: beras, perlengkapan makan, perlengkapan masak, tenda, kursi, meja dan kebutuhan lainnya.
Semuanya sudah dalam status siap. Zee mengangguk puas.
Setelah memastikan tidak ada yang terlewatkan, Dia melangkah keluar rumah lagi. pemandangan kembali tertuju pada para pekerja.
Dia pun masuk kembali ke rumahnya, dan meminta ijin ke Bu Maya bahwa Dia akan keluar. Dan mungkin kembalinya malam atau besok.
Zee berjalan menghampiri Bu Maya yang sedang memasak. "Bu Maya, saya akan keluar sebentar. Dan mungkin malam atau besok baru saya balik, jadi saya minta tolong nanti kalau Bu Maya mau pulang, lampu rumah di nyalakan dan pintu di kunci saja, saya sudah bawa kunci cadangan." jelas Zee
"Siap Neng, Ibu akan mengingat pesan Nona." jawab Bu Maya.
Setelah itu Zee ke atas kamarnya mengambil tas kecilnya, dompet, kunci mobil dan ponselnya.
Zee merasa semuanya sudah siap, Dia pun keluar dari kamarnya dan turun ke bawa.
Zee langsung menuju ke garasi mobilnya, masuk ke mobilnya dan langsung jalan. Sebelum itu Zee berhenti di samping rumahnya dan berjalan ke lahannya.
Dia pun menghampiri Pak Ali, "Pak Ali, tolong perhatikan para pekerja saya akan keluar sebentar, dan mungkin malam atau besok baru saya balik." ujar Zee
"Iya Neng Zee." jawab Pak Ali
"Oh iya Pak, tolong juga lanjutkan pekerjaannya seperti yang sudah kita rencanakan. Kalau ada yang kurang, catat saja. Nanti saya cek lagi." lanjut Zee
"Siap Neng, akan Bapak mengingatnya."
"Dan juga jangan khawatir tentang makan siang dan sorenya, karena sepuluh menit sebelum makan siang dan minum teh sore makanannya akan di kirimkan, saya sudah pesan semuanya, tinggal jamnya mereka akan mengantarkannya." tambah Zee lagi.
"Iya Neng, hati-hati di jalan Neng. Semoga urusan Neng berjalan dengan lancar." ujar Pak Ali.
"Iya Pak." jawab Zee singkat.
Zee pun tersenyum, lalu berbalik menuju ke mobilnya. Setelah merasa cukup jauh dari rumahnya dan berada di tempat sepi, Zee pun keluar dari mobilnya.
Dia pun memasukan mobilnya ke dalam ruangannya. Setelah itu Dia memejamkan matanya.
Dan... Sling!...
Dalam sekejap, tubuhnya menghilang. Detik berikutnya, Zee sudah berada dalam kamar kapal pesiarnya.
Zee pun keluar dan berjalan menuju ke desa pesisir. Suasana di sana jauh lebih ramai dari biasanya. Beberapa warga terlihat mulai berdatangan, membawa bahan makanan, sementara yang lain sibuk mendirikan tenda besar yang di bantu A1 dan A2.
Sebelum Zee datang semua pesanannya sudah di kirimkan ke A1 dan A2 untuk bawah ke desa pesisir. Takutnya Dia datang terlambat.
Zee juga memesan beberapa roti isi cokelat dan daging untuk melengkapi acaranya juga.
Dari kejauhan, Pak Sam dan beberapa warga langsung menyadari kehadiran Zee. Mereka segera mendekat ke Zee dan mengambil barang yang di bawah oleh Zee.
"Neng, sini biar Bapak yang bawa saja, kenapa bawah begitu banyak barang lagi. Tadi sudah ada banyak sekali barang di bawah oleh A1 dan A2." ujar Pak Sam
Zee tersenyum hangat. Hari ini akan menjadi hari yang panjang, dan penuh kebersamaan.
Warga yang melihat kedatangan Zee pun langsung menghampirinya dengan wajah cerah. Apalagi anak-anak kecil yang mengelilinginya dengan tawa kecil mereka.
"Anak-anak semuanya, main dulu disana ya." kata Pak Sam.
"Pak, bagaimana persiapannya?" tanya Zee sambil menatap sekeliling.
"Sudah hampir selesai, Neng. Tinggal sedikit lagi" jawab Pak Sam.
Zee mengangguk pelan, namun matanya jeli memperhatikan semuanya.
"A1, A2." panggilnya
"Iya Nona." jawab mereka serempak.
"Coba kalian periksa bagian dapur, pastikan semua peralatan sudah lengkap. Dan bantu warga kalau ada yang kesulitan." perintah Zee.
"Siap, Nona." jawab mereka, lalu segera bergerak
Zee kemudian melangkah ke arah para ibu-ibu yang sedang sibuk di bagian memasak. Dia ikut berjongkok, memperhatikan bahan-bahan yang sudah disiapkan.
"Ibu-ibu, berasnya nanti di masak bertahap saja ya, supaya tetap hangat," ucap Zee lembut.
"Iya, Neng." jawab salah satu Ibu-ibu dengan senyum.
Zee tidak hanya memberi arahan saja, Dia juga ikut membantu. Tangannya dengan cetakan menyusun piring, merapikan gelas, dan memastikan semuanya tertata dengan rapi.
Waktu berjalan semakin cepat. Matahari mulai naik tinggi, tenda kini sudah berdiri sempurna. Meja dan kursi tersusun rapi, dan aroma masakan mulai tercium menggoda.
Pak Sam kembali menghampiri Zee. "Neng... semua ini berkat Neng Zee, kami tidak tahu harus bagaimana membalasnya," ucapnya dengan suara sedikit bergetar.
Zee menggeleng pelan, di sertai senyum lembutnya. "Tidak perlu dibalas, Pak. Saya hanya ingin kita semua bisa makan bersama dengan tenang." jawabannya.
Dia menatap seluruh warga yang sibuk bekerja sama tanpa pamrih, dan membuat hatinya terasa hangat.
Namun, di balik semua itu, Zee tetap memastikan semuanya berjalan dengan baik.
Sesekali Dia berjalan mengelilingi area, mengecek tenda, memastikan kursi cukup, dan melihat apakah ada warga yang kelelahan.
Dan jika ada yang tampak lelah, Zee segera meminta A1 atau A2 untuk membantu.
Tak terasa, persiapan hampir selesai sepenuhnya.
Zee yang berdiri di tengah area, memandang hasil kerja keras mereka semua. Dari lapangan kosong yang sederhana, kini berubah menjadi tempat yang siap menampung seluruh warga desa untuk berkumpul.
Dia menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Hari ini... bukan hanya tentang syukuran, atau makan bersama saja. Tapi juga membangun kebersamaan yang mulai tumbuh dengan erat dan kuat di antara warga desa pesisir.