NovelToon NovelToon
JODOH, YANG DIJODOHKAN

JODOH, YANG DIJODOHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna ceriya

Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.

Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____

Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32.

Kembali di ruang perayaan, setelah Aslan pergi ke toilet, Alana berdiri menunggu di tempat yang ditentukan. Tak lama kemudian, beberapa teman dekatnya termasuk Keanu berjalan mendekat, mengajaknya bergabung kembali dalam obrolan. Awalnya Alana ragu, takut Aslan tidak menemukannya, namun ia berpikir bahwa berbicara sebentar saja tidak akan menjadi masalah.

"Jadi, Alana, rencana selanjutnya apa? Apa kau akan langsung pulang ke Indonesia atau ada rencana magang lanjutan di sini?" tanya salah satu teman mereka, membuka topik.

"Aku masih berdiskusi dengan keluarga dan juga dengan Aslan," jawab Alana ramah, matanya sesekali melirik ke pintu masuk. "Kemungkinan besar aku akan kembali ke Yogyakarta dulu, tapi belum tahu pasti detailnya."

Keanu yang duduk di sampingnya ikut bersuara, nadanya tetap santai dan ramah seperti biasa. "Kalau menurutku, dengan nilai dan kemampuanmu, kau bisa diterima di mana saja. Bahkan rumah sakit tempat kita magang tadi sempat membicarakan ingin merekrut mu kembali, kan?" ucapnya, lalu tertawa ringan. "Sayang sekali kalau bakatmu tidak dimanfaatkan di sini, tapi aku tahu prioritasmu sekarang sudah berbeda."

Ia berbicara dengan nada persahabatan yang murni, tidak melampaui batas, dan sesekali menyelipkan candaan ringan yang membuat teman-teman lain tertawa. Namun, di balik sikapnya yang tenang itu, ia tetap menjaga jarak fisik, tidak pernah menyentuh atau berdiri terlalu dekat, seolah menghormati batas yang sudah ditetapkan oleh kehadiran Aslan.

Tepat saat itu, pintu terbuka dan Aslan muncul kembali. Wajahnya sudah tidak lagi masam, kemarahannya sudah ia kendalikan sepenuhnya di balik pintu kamar mandi. Saat ia berjalan mendekat, aura yang dipancarkannya justru berubah menjadi sangat tenang, hangat, dan berwibawa—seolah ledakan emosi tadi hanyalah imajinasi belaka. Ia tersenyum sopan kepada semua orang, namun matanya dengan cepat memindai situasi. melihat Keanu berbicara dengan Alana, melihat cara mereka tertawa bersama.

Alih-alih meledak atau menarik Alana pergi dengan kasar, Aslan justru berjalan mendekat dengan langkah santai. Ia berdiri di samping Alana, lalu dengan alami melingkarkan lengannya di bahu gadis itu, menariknya sedikit ke dalam pelukan seolah itu adalah kebiasaan yang tak terpisahkan.

"Sedang membicarakan apa yang begitu seru sampai-sampai aku tidak diajak?" tanya Aslan dengan nada bercanda, namun suaranya cukup dalam dan jelas. Tatapannya bertemu dengan mata Keanu, dan kali ini Aslan tidak menampilkan kemarahan, melainkan sebuah senyum puas dan percaya diri—sebuah pesan tanpa kata bahwa apa pun yang dibicarakan, hasil akhirnya tetap sama. Alana ada di sisinya.

Keanu menahan tatapan itu sebentar, lalu tersenyum balik dan mengangkat bahu. "Hanya membahas rencana masa depan, Tuan Lenoir. Kami hanya berharap Alana bisa terus berkembang, di mana pun dia berada."

"Dan dia akan berkembang, itu pasti," jawab Aslan lembut namun tegas, menatap Alana dengan kasih sayang. "Karena aku akan memastikan dia mendapatkan semua kesempatan terbaik di dunia."

Suasana menjadi sedikit hening, namun tidak tegang. Aura alami Aslan yang kini terlihat begitu sempurna dalam mengendalikan situasi justru membuat posisi Keanu perlahan tergeser ke pinggir. Alana yang merasakan perubahan suasana dan juga mulai merasa lelah setelah seharian penuh aktivitas, pun mengusapkan kepalanya pelan ke bahu Aslan.

"Aku sudah mulai lelah, Aslan," bisik Alana, lalu ia menoleh kepada teman-temannya. "Maaf ya, sepertinya aku dan Aslan harus pamit lebih awal. Hari ini memang melelahkan tapi sangat berkesan. Terima kasih semuanya."

Teman-teman tentu saja mengerti dan memberikan izin dengan penuh suka cita. Setelah saling berpamitan dan berfoto singkat, akhirnya Aslan dan Alana meninggalkan kafe itu menuju mobil mereka.

Di dalam mobil, perjalanan dimulai. Namun, setelah mobil melaju beberapa saat, Alana menyadari bahwa rute yang diambil bukanlah arah menuju stasiun atau jalan tol menuju Lyon.

"Aslan, ini jalan ke mana?" tanya Alana bingung, menatap peta di dasbor. "Bukankah kita harus kembali ke Lyon? Ayah dan Ibu pasti sudah menunggu."

Aslan menoleh sekilas, tersenyum tenang sambil tetap memegang setir. "Kita tidak akan ke Lyon malam ini, Sayang."

"Apa? Kenapa?" Alana semakin bingung. "Tapi kita sudah berjanji..."

"Dengar aku dulu," potong Aslan lembut namun meyakinkan. "Jarak dari Lausanne ke Lyon itu cukup jauh, butuh waktu berjam-jam perjalanan. Lihatlah jam sekarang, sudah lewat tengah malam. Kau sudah lelah seharian berdiri dan berjalan, kalau kita memaksakan diri berkendara jauh di malam hari, itu berbahaya dan juga tidak baik untuk kesehatanmu. Aku tidak tega membiarkanmu terjaga lagi hanya demi sampai di sana larut malam. Lagipula, Ayah dan Ibumu sudah aku kabari lewat pesan singkat tadi saat kau sedang berbincang dengan teman-teman. Aku bilang kita akan menginap di tempat terdekat dan baru berangkat besok pagi atau lusa. Mereka mengerti dan setuju."

Alana tertegun, menyadari bahwa alasan yang diberikan Aslan sangat masuk akal dan penuh perhatian. Ia memang sudah merasa matanya berat dan tubuhnya lelah. "Jadi... ke mana kita akan pergi?"

"Ada tempat yang aku tahu," jawab Aslan sambil tersenyum misterius.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di sebuah area dekat tepi pantai yang tenang. Angin laut berhembus sejuk, dan suara ombak terdengar menenangkan di kegelapan malam. Aslan mengajak Alana turun, berjalan beriringan di sepanjang dermaga kecil yang diterangi lampu jalan yang remang-remang. Pemandangan laut luas di bawah langit berbintang itu begitu indah dan romantis, seolah dunia ini hanya milik mereka berdua. Mereka berdiri di sana beberapa saat, menikmati keheningan dan kehangatan tangan yang saling menggenggam, membiarkan segala ketegangan dan kecemburuan tadi hanyut terbawa angin laut.

Setelah cukup lama menikmati suasana itu, Aslan pun membawa Alana menuju sebuah hotel mewah yang tidak jauh dari lokasi tersebut. Bangunannya tampak megah namun tenang. Saat mereka sampai di lobi, Alana tiba-tiba berhenti melangkah, wajahnya kembali memerah karena rasa malu dan waspada.

"Aslan..." tarik Alana pelan pada lengan jas pria itu. "Aku... aku tidak masuk ke sana."

Aslan menoleh, menatapnya bingung namun tetap sabar. "Kenapa, Sayang? Kau lelah, kan? Di sana ada kamar yang nyaman untukmu beristirahat."

"Bukan begitu," Alana menunduk, jarinya memilin ujung gaunnya. "Ini hotel... dan kita belum menikah. Bagaimana kalau orang tahu? Atau bagaimana kalau staf hotel mengira... hal-hal yang bukan-bukan? Aku mau kita memesan dua kamar yang terpisah saja, atau lebih baik lagi, aku bisa menunggu di mobil saja sampai kita berangkat lagi."

Aslan tertawa pelan, merasa gemas dengan kekhawatiran gadis itu. Ia melangkah maju, menangkup wajah Alana dengan kedua tangannya agar gadis itu menatapnya.

"Dengar aku, Sayang," ucapnya lembut dan penuh bujukan. "Pertama, ini adalah hotel milik jaringan bisnis keluargaku, jadi privasi kita adalah prioritas utama dan tidak ada orang yang akan berani berbicara sembarangan. Kedua, aku sudah memesan kamar, tapi tenang saja... aku bisa tidur di sofa atau di ruang tamu jika itu yang kau khawatirkan. Aku hanya tidak ingin kau tidur di mobil atau berpisah kamar di mana aku tidak bisa memastikan kau aman. Lagipula, bukankah kita sudah bertunangan? Secara adat dan hukum, kau sudah calon istiku. Aku tidak akan melakukan apa pun yang tidak kau inginkan atau yang melampaui batas kesanggupanmu. Aku hanya ingin kau beristirahat dengan layak."

Mata Alana menatap mata Aslan, mencari kebohongan, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan dan perhatian. Meski rasa malunya masih ada, ia tahu Aslan tidak akan memaksanya. Namun, keteguhan pria itu dan cara ia membujuk dengan kata-kata yang begitu masuk akal dan lembut perlahan membuat pertahanan Alana runtuh.

"Tapi... janji ya, kau tidak akan melakukan hal aneh-aneh?" tanya Alana pelan, masih ragu.

Aslan tersenyum lebar, mencium kening Alana sekali dengan lembut. "Aku janji. Sekarang ayo masuk, anginnya mulai dingin dan aku tidak mau kau sakit."

Dengan langkah masih ragu, Alana akhirnya membiarkan dirinya digiring oleh Aslan menuju resepsionis, lalu menaiki lift menuju lantai tempat kamar mereka berada, menyadari bahwa malam ini akan menjadi momen lain di mana batas di antara mereka semakin dekat, namun ia percaya sepenuhnya pada pria yang menggenggam tangannya itu.

1
Mia Camelia
lanjut thor👍
Anna ceriya: terimakasih atas support nya kaka🙏💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!