NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dark Romance / Angst
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.

Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.

Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.

Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.

Kini, nasib Jessica berada di tangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Sejenak suasana ruang sidang dipenuhi bisikan.

Namun tiba-tiba—

“Yang Mulia, izinkan saya berbicara.”

Seorang pria berdiri dari kursi pengacara.

Dialah pengacara pembela Jeff Zhou.

Adrian menatapnya singkat.

“Silakan.”

Pengacara itu melangkah maju dengan tenang, namun penuh keyakinan.

“Yang Mulia, tuduhan yang diarahkan kepada klien saya terlalu terburu-buru.”

Ia menoleh ke arah Jeff sekilas, lalu kembali menghadap hakim.

“Pada saat kejadian berlangsung… klien saya sama sekali tidak berada di lokasi.”

Ruangan kembali gaduh.

Pengacara itu melanjutkan tanpa ragu.

“Klien saya berada di rumah sakit.”

Ia menekankan setiap kata.

“Menemani putranya yang sedang dalam kondisi koma.”

Pengacara itu membuka map yang dibawanya.

“Kami memiliki bukti berupa rekaman CCTV rumah sakit, data kunjungan pasien, serta catatan medis yang menunjukkan kehadiran klien saya di sana.”

Ia mengangkat berkas tersebut sedikit.

“Semua bukti ini menunjukkan bahwa selama rentang waktu kejadian… klien saya tidak pernah meninggalkan rumah sakit.”

Jeff langsung mengangkat wajahnya.

“Itu benar, Yang Mulia! Saya tidak pergi ke mana pun!”

Suaranya penuh harap.

Pengacara itu melanjutkan dengan nada lebih tajam. “Jika klien saya berada di rumah sakit…”

Ia berhenti sejenak, lalu menatap ke arah Jaksa Wu.

“Lalu bagaimana mungkin ia berada di lokasi pembunuhan… dan meninggalkan sidik jari pada senjata tersebut?”

Jaksa Wu berdiri kembali.

“Sidik jari milik Jeff Zhou ditemukan pada senjata pembunuhan…dalam kondisi terbaru, yang berarti kontak terjadi mendekati waktu kejadian.”

Jeff langsung berdiri.

“Tidak! Saya tidak menyentuh senjata itu pada malam itu!”

Suaranya mulai kehilangan kendali.

Pengacaranya ikut menimpali.

“Yang Mulia, bukti ini masih bisa diperdebatkan. Klien saya berada di rumah sakit, dan kami memiliki rekaman yang jelas.”

Jaksa Wu menoleh.

“Rekaman menunjukkan keberadaan, bukan setiap detik pergerakan.”

Kalimat itu langsung membuat suasana kembali menegang.

“Dalam rentang waktu tertentu… selalu ada celah.”

Jeff terdiam.

Tangannya mulai gemetar.

Jessica menatapnya, penuh kebingungan.

Adrian yang sejak tadi tampak tenang… perlahan kembali membuka berkas di hadapannya.

“Jaksa Wu.”

Suaranya rendah, namun jelas.

Jaksa Wu langsung menoleh

“Yang Mulia.”

“Ajukan bukti tambahan.”

Seorang petugas segera membawa sebuah map baru.

Jaksa Wu menerima berkas tersebut, lalu membukanya perlahan.

“Yang Mulia, ini adalah laporan forensik terbaru yang baru saja kami terima.”

Jaksa Wu melangkah satu langkah ke depan.

Wajahnya serius.

Tatapannya menyapu seluruh ruang sidang.

“Yang Mulia, izinkan saya menjelaskan kondisi terdakwa berdasarkan laporan medis dan forensik.”

Adrian mengangguk.

“Silakan.”

Jaksa Wu membuka berkas di tangannya.

“Dalam tubuh Jessica Zhou ditemukan dua zat sekaligus—Midazolam dan narkotika jenis sedatif. Midazolam dikenal sebagai obat penenang yang dapat menyebabkan hilangnya ingatan sementara.”

“Sedangkan zat narkotika yang ditemukan… memiliki efek yang jauh lebih kuat terhadap sistem saraf pusat.”

Jaksa Wu menatap ke arah Hakim

“Jika kedua zat ini masuk ke dalam tubuh secara bersamaan… efeknya bukan hanya mengantuk. Melainkan penurunan kesadaran secara drastis.”

Ruangan semakin sunyi.

“Korban akan mengalami kebingungan, kehilangan orientasi, bahkan tidak mampu mengontrol tindakan sendiri.”

Ia menutup berkasnya perlahan.

“Dalam kondisi tersebut… seseorang masih bisa bergerak… masih bisa berdiri… bahkan terlihat seperti melakukan sesuatu…”

Ia menatap langsung ke arah Jessica.

“Namun sebenarnya… ia tidak sepenuhnya sadar.”

Jessica mengangkat wajahnya perlahan.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Lebih jauh lagi,” lanjut Jaksa Wu, “zat ini juga menyebabkan amnesia ... yang berarti terdakwa tidak akan mengingat apa pun yang terjadi selama efek obat berlangsung.”

Nico mengepalkan tangan.

“Jadi… dia bahkan tidak tahu apa yang terjadi malam itu…”

Catty menutup mulutnya.

Air matanya mulai jatuh.

Jaksa Wu kembali menatap ke depan.

“Dengan kondisi seperti itu… terdakwa tidak berada dalam keadaan normal. Tidak memiliki kesadaran penuh. Dan tidak memiliki kendali atas dirinya sendiri. Sehingga sangat kecil kemungkinan— ia dapat melakukan tindakan pembunuhan secara sadar.”

Suasana ruang sidang masih terasa berat setelah penjelasan Jaksa Wu. Dalam keheningan itu, Adrian perlahan bangkit dari kursinya. Gerakannya tenang, tapi penuh tekanan yang langsung terasa memenuhi ruangan. Ia melangkah maju sedikit, membuat perhatian semua orang tertuju padanya.

Tatapannya lurus mengarah pada Jeff Zhou.

“Jeff Zhou,” ucapnya dengan suara rendah dan dingin.

Jeff menelan ludah. “Y-Ya, Yang Mulia…”

Adrian tidak memberi jeda. “Sidik jarimu ditemukan pada senjata pembunuhan. Waktu kematian korban berdekatan dengan saat Jessica disuntik obat. Dan hanya orang dalam keluarga yang bisa keluar masuk rumah tanpa menimbulkan kecurigaan.” Ia melangkah satu langkah lagi, membuat tekanan itu semakin nyata. “Semua itu mengarah padamu.”

Wajah Jeff langsung berubah pucat. “Tidak! Saya tidak melakukan itu!” bantahnya spontan, suaranya mulai bergetar.

Adrian menatapnya tanpa ekspresi. “Lalu jelaskan. Bagaimana sidik jarimu bisa berada di senjata dalam kondisi terbaru?”

Jeff terdiam. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada jawaban yang keluar. “Aku… aku tidak tahu…” katanya akhirnya, suara itu terdengar lemah bahkan bagi dirinya sendiri.

“Tidak tahu?” ulang Adrian dengan nada menekan. “Dua orang meninggal, dan bukti mengarah langsung kepadamu.”

Jeff menggeleng keras. “Ini tidak masuk akal! Saya ada di rumah sakit!” serunya, mencoba bertahan.

Pengacaranya ikut berdiri, “Yang Mulia, klien saya memiliki alibi yang jelas.”

“Alibi tidak menghapus bukti,” potong Adrian tajam. “Sidik jari tidak bisa berbohong.”

Kalimat itu seperti palu yang menghantam keras. Jeff mulai kehilangan kendali. Napasnya tidak teratur, tangannya mencengkeram kursi di depannya.

“Saya tidak menyentuh senjata itu malam itu! Saya bahkan tidak tahu apa yang terjadi di rumah! Kenapa semua mengarah ke saya?!” suaranya meninggi, penuh frustasi.

Di sisi lain ruang sidang, JJ duduk kaku di antara para pengunjung. Wajahnya cemas, matanya tidak lepas dari ayahnya.

“Jeff Zhou, semua perbuatan Anda telah terbukti. Membunuh kakak sendiri demi harta warisan.” Suara Adrian terdengar tegas dan dingin, sengaja ditekan agar setiap kata menghantam tanpa ampun. Ia menatap lurus ke arah Jeff, tidak memberi ruang sedikit pun untuk menghindar. “Bukti sudah lengkap. Penyuntikan obat dan narkoba adalah kesalahan besar. Ditambah pembunuhan. Dua nyawa melayang begitu saja.”

Jeff langsung membeku di tempatnya. Wajahnya semakin pucat, napasnya tersengal, seolah udara di ruangan itu tiba-tiba menipis.

Adrian melanjutkan, langkahnya maju sedikit lagi, mempersempit jarak dan memperberat tekanan. “Apakah Anda sadar… Anda akan dijatuhi hukuman mati?”

Suasana ruang sidang langsung berubah mencekam.

“Tidak… tidak… saya tidak membunuh siapa pun…” Jeff menggeleng berulang kali, suaranya mulai pecah. Tangannya gemetar, tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. “Saya tidak melakukan itu… kalian salah…”

Jessica menatapnya dengan mata berkaca-kaca, sementara Nico dan Catty saling berpandangan, tidak tahu harus percaya pada siapa.

1
Maria Mariati
hehhhhh
Raine
nah sesuai dugaan sebelumnya, kalau jj dalangnya dan cuman pura pura koma
erviana erastus
ya jj itu pura2 koma 🤭🤭🤭
Nadila Fathania Alfi
makin seru 😍😍
Melinda Cen
seruu lanjutkan lg
Nadila Fathania Alfi
min bikin cerita jangan pendek", panjang panjang aja 😄😄
erviana erastus
apakah dalangx JJ pura² koma🤔🤔🤔
Anonymous
Seru2…. Up yg bnyk Thor 💪💪💪
Melinda Cen
lanjut bykkan eps nya
Dian Fitriana
update
Melinda Cen
perbyk dong eps nya kk lg seru nih
Dian Fitriana
update
erviana erastus
selamat hakim chen kamu bakalan habis sama Adrian Li 🤭
Maria Mariati
kapokkk hadapin tuh hakin neraka ,main2 sama nyawa orang,siap2 hadapin hakim neraka
Dian Fitriana
update
erviana erastus
habis hidup mu chen ckckck keluar kadang harimau masuk ke kandang macan 🤣
Melinda Cen
lanjut kan kk, perbyk eps nya biar ga penasaran😄
Dian Fitriana
update
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
seru kayaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!