NovelToon NovelToon
Our Hurt Story

Our Hurt Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: zaniera99

Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie

Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.

Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.

Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?

Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"

Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24:Kukira tiada dia

Minggu pertama di universitas negeri impianku,yang terletak di pinggiran kota ini terasa sangat menenangkan, seolah semesta sedang berusaha membayar segala derita dan segala kepedihan masa lalu yang telah ku lalui dulu. Aku menyukai suasananya.Udara pagi berembun, deretan pohon mahoni yang rimbun tersusun indah, dan yang paling berharga bagi jiwaku.Ketenangan.Di kampus ini, tidak ada yang mengenal siapa Nur Hanie. Tiada siapa yang mengenali ku.Aku disini bersama jiwaku dan diriku yang baru.Di sini, aku hanyalah satu dari ribuan mahasiswa baru yang datang dengan mimpi besar. Aku memilih menjadi diriku sendiri, yang hanya ingin fokus pada pelajaranku untuk masa depan, tanpa perlu terdistraksi oleh drama manusia yang ada di sekeliling.

Aku berjalan menyusuri gedung gedung yang dekat di universitas.Berjalan tenang menuju gedung kuliah dengan tas ransel yang terasa berat, penuh dengan buku rujukan tebal yang baru kubeli kemarin di toko buku kampus. Kulit kuning langsatku bersinar kerana pancaran matahari pagi yang segar.Sebelum masuk ke ruang kuliah, aku sempat berhenti sejenak di depan pantulan cermin besar di lobi fakultas. Aku merapikan sedikit kerudungku yang sedikit berantakan karena helem dan terpaan angin saat naik ojek online untuk ke universitas.

" Hanie, hari ini kelas pertamamu. Fokus,dan jadilah dirimu sendiri.Abaikan segala perkara negatif yang membawa dampak bagimu okey" bisikku pada pantulan diriku. Ada binar harapan yang sempat padam kini mulai menyala kembali di mataku.

Baru saja aku hendak melangkah masuk ke dalam ruang auditorium yang luas itu, telingaku menangkap suara bisik-bisik dari sekelompok mahasiswi di dekat pintu.Mulanya aku hanya mengabaikan namun lama kelamaan suara mereka semakin terusik ditelinga ku.

"Eh, lihat deh cowok itu. Ganteng banget, ya? Anak Teknik, ya?" "Iya, kudengar dia salah satu peraih skor UTBK tertinggi di fakultasnya. Tapi dia pendiam sekali, auranya agak dingin tapi justru itu yang bikin penasaran."kata cewek cewek yang melihat lelaki yang berjalan ke fakultas yang sama dengan mereka.

Aku tidak peduli. Bagiku,itu juga bukan urusan ku.Tidak terlalu penting juga.Seharusnya aku fokus belajar dan menggapai mimpi-mimpi ku.

Aku terus berjalan masuk, mencari kursi di barisan paling depan. Aku ingin memastikan setiap kata dari dosen terserap sempurna. Aku juga murid yang selalu susah fokus jika duduk di barisan belakang jadi ya aku harus mengubah caraku yang salah .Namun, tepat setelah aku meletakkan tasku di atas meja kayu yang dingin, dan duduk dengan aman,sebuah aroma parfum maskulin yang harum menusuk aroma penciummanku.Aroma citrus bercampur wood yang pernah kuhirup bertahun-tahun lalu...bau yang familliar dan membuat aku terpaku sejenak.

Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Ada rasa degdegan yang membuat bulu kudukku meremang.Kayak jumpa hantu aja.

"Boleh saya duduk di sini?Di sebelah kamu. Tempat lain sepertinya sudah penuh."kata lelaki itu tenang..

Suara itu,suara yang pernah jadi suara yang kubenci.Kutakuti dan aku sudah lama tidak mendengar suara yang pernah menjadi mimpi negeriku dulu.Namun ada yang sedikit berbeda dengan nadanya..rendah, berat, dan sangat tertib. Itu bukan gaya bicara anak nakal yang dulu kukenal. Aku memutar kepalaku perlahan, seolah-olah leherku sudah berkarat.

Duniaku rasanya berhenti berputar saat itu juga.

"Oh tuhan, mengapa harus lelaki brengsek ini lagi."bisikku di dalam hati.

Lelaki itu berdiri tepat di samping kursi kosong sebelahku. Dia mengenakan kemeja hitam yang lengannya dilipat rapi hingga ke siku, memamerkan lengan bawah yang nampak kokoh dengan jam tangan kulit yang melingkar elegan.Aku yang malas peduli hanya membiarkannya duduk di sebelahku.Wajahnya sekarang memiliki garis rahang yang tegas, lebih matang, dan sangat maskulin. Mungkin kerana faktor umur juga.Dan penampilan nya juga berubah.Pakaian yang matang.Hanya matanya yang sentiasa sama.Bukan pandangan yang melihat ku dengan kebencian seperti dulu.Tapi mata yang sayu dan tulus melihatku tanpa meledekku.

"Azka?" Suaraku nyaris tak terdengar, terjepit di antara rasa tidak percaya dan sedikit shock dengan kehadirannya.

Dia tidak tersenyum.Aku malah mengganggap riak wajah itu aneh.Apa dia gila tersenyum padaku.Mungiin aku yang salah lihat. Dia tidak membuat wajah menyebalkan. Sebaliknya, dia menundukkan kepalanya sedikit, sebuah gerakan hormat yang sangat manusiawi, seolah dia sedang menghadap seseorang yang pernah ia sakiti sedemikian rupa.

" Hanie. Kamu... apa kabarmu? Kamu sehat?" tanya Azka dengan nada yang begitu tulus.

Aku segera memalingkan wajah ke depan, kembali menatap papan tulis putih yang masih kosong. Tanganku di bawah meja menggigil hebat, aku harus meremas kain rokku agar getarannya tidak terlihat. Kenapa dia ada di sini? Kenapa dari sekian banyak universitas di Indonesia, dia harus muncul di hadapanku lagi? Sungguh hari yang sial buatku.Aku bahkan baru dapat bernafas lega namun kehadirannya seperti tamu yang tak diundang menghancurkan segala kegembiraan ku.Aku hanya menatapnya sinis dan penuh benci.

"Kamu buat apa di sini? Pergi cari kursi lain. Jangan duduk di sebelahku,aku risih" kataku dingin. Suaraku terdengar kaku, tanpa menyisakan sedikit pun keramahan untuk Devian Azka.

"Maaf kalau kehadiran saya mengganggu ketenanganmu. Kerusi lain penuh diduduki orang lain.Maaf.Untuk pengetahuan mu.Saya... saya juga diterima di fakultas ini, Hanie," balasnya lembut, hampir seperti bisikan yang penuh penyesalan. Dia akhirnya duduk di sebelahku, namun dia memberikan jarak yang cukup lebar. Dia meletakkan tasnya dengan hati-hati agar tidak sedikit pun menyentuh barang-barangku, seolah-olah aku adalah sesuatu yang sangat berharga namun rapuh yang tidak berani ia sentuh lagi.

Sepanjang kuliah dua jam itu, konsentrasiku hancur berantakan. Aku bisa merasakan keberadaannya di sampingku seperti medan magnet yang mengganggu. Sesekali, aku menangkap gerakan matanya yang melirik ke arahku bukan lirikan menggoda, mungkin cewek lain akan kesenangan jika ditatap begitu tapi untuk aku yang sudah terlanjur membencinya itu risih.Aku bahkan susah untuk melihat ke arah lain takut membalas tatapannya yang menyeramkan bagiku.

Begitu dosen menutup kelas, semua siswa siswi berdiri untuk berterima kasih dengan dosen.Sehabis berbuat semua itu,aku terus menyambar tasku. Aku harus pulang ke hostel untuk beristirehat.

"Hanie, tunggu sebentar! Tolong, dengarkan aku sebentar!" Azka memanggil dari belakang, langkah kakinya terdengar terburu-buru mengejarku di koridor kampus yang mulai ramai.

Aku berhenti mendengar panggilan itu, namun aku tetap tidak ingin menatap wajahnya. "Jangan panggil aku Hanie. Kita tidak saling kenal. Anggap saja kita dua orang asing yang kebetulan berada di satu kelas yang sama.Dan aku tidak mahu lagi terlibat denganmu."jawabku lantang.

"Aku tahu kamu masih marah. Dan demi Tuhan, kamu juga punya setiap hak di dunia ini untuk membenciku atas segala perbuatan jahatku. Tapi aku bukan lagi Azka yang dulu, yang hanya bisa diam saat kamu terluka. Dan menjadi sebab terbesar kau menderita.Aku berada di kampus ini, di fakultas ini... karena aku ingin menjagamu. Meski dari jauh, meski kamu akan tetap membenciku sampai kapan pun, aku hanya ingin memastikan tiada orang yang akan menyakitimu lagi,cukuplah dulu aku sudah sangat kejam dan bodoh memperlakukanmu sebegitu dulu" kata Azka dengan nada suara yang bergetar hebat.Jelas tanpa paksaan.Hanya Azka dan luahannya.

Aku memalingkan diriku darinya.Menatap tepat ke dalam manik mata hazelnya yang kini tampak berkaca-kaca.Kemarahan bahkan menguasai ku.Benci?Padanya ?Oh itu sungguh.Aku membencinya.Namun entah mengapa mataku yang sudah lama tidak menitiskan air mata mulai berkaca.

"Menjagaku? Kamu itu lucu sekali, Azka! Pembohong! Kamu adalah alasan utama kenapa aku menderita selama bertahun-tahun di sekolah! Kamu dan Arif dan mereka semua.Kamu adalah orang yang memicu mereka untuk membenciku dengan candaan bodohmu! Sekarang, setelah aku bersusah payah membangun hidup baru, kamu muncul dan ingin jadi pahlawan?What a bullshit that I heard!? Kamu terlambat, Azka! Sangat terlambat! Luka yang kamu telah torehkan padaku bahkan aku sendiri tak tahu bagaimana merawatnya!Aku bahkan tak percaya kata maaf bisa menyembuhkannya!"

Aku melihat Azka tersentak, seolah kata-kataku sedang menghunus nya seperti pisau.Dia nampak sangat terluka, bahunya layu, dan wajahnya memucat pasi.Matanya mulai merah menahan air mata.Namun, dia tidak membela diri. Dia tidak mendebatku. Dia hanya berdiri kaku di sana, menyadari semua kebodohan yang telah ia buat di zaman SMA dulu.

Aku membiarkan dia yang terpaku.Berjalan cepat meninggalkan dia yang sendirian di tengah koridor dengan penyesalan yang tiada penghujung.

Hatiku terasa sangat sakit, berdenyut-denyut dengan amarah yang bercampur dengan rasa iba yang sama sekali tidak kuinginkan. Aku marah ,sedih ,kecewa dan masih hilang dalam perasaanku.Namun di tengah gejolak itu, aku merasa heran. Ke mana perginya Azka yang sombong dan arogan itu? Yang kulihat hanyalah seorang pemuda yang membawa beban penyesalan yang sangat besar di pundaknya.Apa dia benar-benar menyesal?Atau hanya ingin berakting lagi untuk menghancurkan ku lebih dalam.

Aku berjalan menjauh, namun bayangan mata hazel yang redup itu seolah terus mengikutiku di setiap langkah. Bayangan itu seolah membisikkan bahwa penebusan ini barulah dimulai, dan luka yang selama ini kututup rapat-rapat, kini mulai berdarah kembali.

Setelah kejadian di koridor itu, aku mengurung diri di antara rak-rak buku perpustakaan pusat yang menjulang tinggi.Kebetulan perpustakaan di universitas ini memang dibuka dan dijaga 24 jam dengan siswa siswi yang berbeda beda.Khusus untuk siswa siswi yang tinggal di hostel bagi memudahkan mencari bahan skripsi.

Bau kertas tua dan keheningan di sini biasanya menjadi obat penenang bagiku, namun hari ini, pikiranku justru berisik.Aku menyentuh wajahku lembut.Bertanya pada diriku sendiri, apakah aku terlalu kejam?Apakah dia masih bisa diberikan kesempatan?

Namun, sisi lain dari diriku mengingatkan tentang setiap malam aku menangis sendirian. Aku bukan malaikat.Aku juga pemaaf yang cepat.Bagiku menjadi manusia berarti mengakui bahwa jika kita terluka ,kita juga butuh waktu untuk sembuh.Dan waktu itu tidak secepat itu.

Aku melihat dari jendela perpustakaan, Azka masih berdiri di bawah pohon besar di luar gedung fakultas. Apa dia gila.Membuang masanya sendiri.Dia tidak pergi,berdiri di sana, menatap kosong ke arah jalanan, membiarkan dirinya terpapar panas matahari. Ternyata, rasa bersalah bisa mengubah seseorang menjadi sosok yang sama sekali berbeda. Dulu dia bahkan tidak bisa bersendirian,selalu ada masa untuk melukai orang lain di setiap waktu nya.Sekarang malah seperti belajar arti dari sebuah konsekuensi, dan aku sedang belajar arti dari sebuah ketegasan.

Luka-luka ini mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang, tapi melihat Azka yang sekarang, aku sadar bahwa manusia memang memiliki waktunya sendiri untuk berubah. Pertanyaannya sekarang, apakah dia benar-benar tulus?

1
gempi
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!