NovelToon NovelToon
Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Duda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: RJ Moms

“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CMK#25

“Mas, jangan diem aja. Ngomong sih.”

“Kan nanti kalau libur aku bisa pulang ke rumah, bisa juga mas yang ke aku. Masih di satu kota ini.”

“Terserah kamu aja deh.”

Ayunda tahu jika Elang tidak setuju dia tinggal di asrama.

“Mas, tapi dari rumah ke kampus itu jauh jaraknya. Aku gak kuat kalau pulang pergi tiap hari. Lagi pula kalau semisal nanti mas punya cewek, dia pasti keberatan aku tinggal di rumah.”

“Tinggal cari cewek yang gak keberatan.”

“Ih, Mas.”

Alex memijat keningnya yang terasa nyut-nyutan menyaksikan pertengkaran kedua manusia yang ada di hadapannya ini.

“Mas, aku—“

“Mas elang?”

Suara seseorang yang baru saja datang membuat ayunda dan Elang terkejut. Jantung Ayunda seperti terhenti untuk sesaat, lalu kemudian berdegup dengan kencang.

Dia terlihat begitu gelisah.

“Zayan? Ngapain di sini?” Tanya Elang yang tak kalah terkejutnya dengan Ayunda.

“Aku kan emang kuliah di kota ini, Mas.”

“Oh, begitu. Apa kabar? Lama gak ketemu ya. Hebat, dokter muda yang sebentar lagi jadi spesialis.”

“Masih lama, Mas. Baru juga mulai.”

“Udah makan? Mau pesen gak? Sekalian aja gabung sama kita.”

Apa? Gabung? Mas elang gila apa gimana sih?

“Gak apa-apa kan, Dek?”

“Hmm. Terserah mas aja.”

“Dek?” Tanya Zayan heran.

“Ah bener, kamu gak tau ya? Kami resmi jadi adik kakak. Orang tua pun setuju bahkan kami tinggal serumah sekarang.”

“Setuju untuk apa?”

“Ayunda dipungut sama orang tuaku buat dijadikan adek. Soalnya mau dijadiin menantu udah gak ada harapan.”

Mata Zayan melebar sedikit. Dia berpikir bahwa Ayunda memang masih setia padanya.

“Gak jelas!” Ketus Ayunda.

“Ke sini sendiri apa mau ketemu temen?”

“Ada janji sama temen, cuma gak tau kenapa belum datang-datang.”

“Ya udah di sini aja dulu sampai temen kamu datang. Kita ngobrol-ngobrol dulu, udah lama juga gak ketemu.”

Ayunda semakin tidak nyaman berada di sana. Elang memang sengaja melakukan hal itu karena dia kesal ayunda mau pindah ke asrama.

“Kamu bilang mau beli sepatu, mau pergi sekarang aja?” Tanya Alex pada ayunda. Pria itu tahu jika ayunda sudah sangat tidak nyaman berada di sana.

Apanya ayunda ingin mengiyakan, tapi kemudian dia memilih untuk tetap diam.

Hati kecil nya masih ingin melihat dan bersama Zayan meski untuk sejenak.

Tidak ada yang gadis itu ucapkan selama mereka di sana. Namun, matanya sesekali mencuri pandang pada Zayan. Beberapa kali alex memergoki tingkah ayunda itu.

Entah memang janjian sama teman, atau itu hanyalah sebuah alasan yang dipakai Zayan. Nyatanya sudah beberapa menit berlalu, teman yang dia maksud tidak kunjung datang. Bahkan sampai makanan mereka habis pun, zayan masih duduk bersama mereka.

“Hai.” Tiba-tiba Zayan menyapa setelah sekian lama mereka duduk bersama.

Ayunda membalas nya dengan senyuman hambar.

“Kuliah di mana jadinya?”

Ayunda menjawab singkat.

“Ambil jurusan apa?”

“Pertanian.”

“Bagus, biar nanti bisa mengembangkan pertanian desa kita. Tanahnya subur, potensinya bagus cuma gak ada yang mengembangkan aja.”

“Hmmm.”

Zayan menunjukkan layar ponselnya. Ada barcode WhatsApp di sana. Ayunda tahu apa yang Zayan maksud. Meski hatinya ingin bertukar nomor, tapi logikanya menolak.

Diamnya ayunda menandakan bahwa dia tidak ingin bertukar nomor. Zayan menarik kembali ponselnya dan memasukkan nya ke dalam saku.

Reaksi Alex

Ayunda mengerutkan kening saat Alex menatap dengan senyuman tipisnya.

“Mas, udah malem. Pulang yuk.”

“Bentar lagi, mas masih mau ngobrol sama Zayan.”

“Ya udah, mas ngobrol aja di sini. Aku pulang naik angkot.”

“Angkot?”

Ayunda berdiri lalu pergi meninggalkan meja. Alex segera menyusul tanpa mengatakan apapun.

“Ngambekan banget sih dia,” dumel Elang.

“Pria tadi temen Mas elang?”

“Alex? Iya, dia sahabat aku.”

“Kayaknya dia suka sama Ayunda ya, Mas.”

“Banyak yang suka sama dia, kamu aja yang enggak.”

“Bukan gitu, Mas. Aku suka dan sayang sama Ayunda, tapi ya mas tau sendiri lah. Aku sengaja melanjutkan kuliah biar ayunda bisa melanjutkan keinginannya. Aku seneng dia akhirnya kuliah.”

“Gak ada yang salah sebenernya sama tujuan kamu. Tapi kekurangan kamu itu gak bisa memposisikan diri di tempat orang. Pernah gak kamu berpikir dampak dari penolakan kamu itu untuk ayunda dan keluarganya? Padaha kalau kalian menikah, kamu bawa dia ke kota dan membiarkan dia kuliah pun bisa.”

“Gak semudah itu, Mas.”

“Tidak ada hal yang sulit di dunia ini selain pikiran kita sendiri, Zay.”

Zayan hanya bisa diam.

“Jika kamu berpikir masih ingin balikan sama ayunda, hapus saja. Masalah antara kalian bukan lagi percintaan, tapi bisnis keluarga. Harapan kamu sudah sirna. Pak Mul sudah sangat tidak ingin berhubungan dengan keluarga kamu lagi.”

“Aku juga bingung apa yang dilakukan orang tuaku. Kenapa mereka membuat usaha Pak Mul sulit.”

“Masa gak tau?”

Zayan menggelengkan kepala.

“Zay, tau gak kenapa orang tua kamu setuju ayunda menjadi menantu keluarga kalian? Karena Pak Herman tidak ingin ada anak yang menonjol di keluarga Pak Mul. Tau alasan mereka membuat usaha Pak Mul dalam keadaan krisis? Karena tidak ingin Inggit masuk Akmil. Kita tahu lah biaya masuk Akmil berapa.”

“Mas, maaf nih, ya. Kayaknya ucapan mas udah keterlaluan.”

Elang menghela nafas. Dia menepuk pundak Zayan sambil berdiri.

“Bayar bill nya ya, Zay. Aku harus menyusul adik baru ku yang ngambek.”

Zayan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia tidak percaya bahwa orang tuanya bisa melakukan hal setega itu pada teman nya sendiri.

“Teman? Benarkah mereka berteman?” Zayan bertanya pada dirinya sendiri.

Tangan nya mengepal karena menahan amarah, entah marah pada siapa. Pada elang yang telah mengatakan hal-hal tidak baik tentang orang tuanya, atau pada orang tua yang ternyata begitu kejam pada keluarga ayunda.

Herman memang selalu nampak baik di depan anak dan istrinya. Dia menjadi ayah teladan untuk keluarganya. Namun, hati manusia siapa yang tahu.

Bukankah diri sendiri pun kadang tidak pernah tahu apa yang sebenarnya ada dalam hati kita.

1
Sit Tiii
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!