NovelToon NovelToon
Beyond The Sidelines

Beyond The Sidelines

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:708
Nilai: 5
Nama Author: Mega L

Vilov tidak pernah berniat jatuh cinta dua kali.
Awalnya, ia yakin Putra adalah sosok yang tepat—hadir, hangat, dan selalu ada di sisinya.
Namun satu tatapan pada Tora mengubah segalanya.
Tora bukan siapa-siapa bagi Vilov. Ia dingin, pendiam, dan bahkan tak pernah menyadari keberadaannya.
Tapi sejak saat itu, hati Vilov berhenti mendengarkan logika.
Banyak yang mendekat. Banyak yang ingin memiliki Vilov.
Namun di antara tawa palsu dan hubungan yang tak pernah benar-benar ia rasakan, satu nama selalu tinggal di hatinya.
Tora.
Di usia remaja, Vilov belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Akankah ia bertahan pada perasaan sepihak yang perlahan melukainya?
Ataukah ia akan memilih cinta baru—yang hadir, nyata, dan benar-benar menginginkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dukungan di Balik Gawang

Hari-hari berlalu, atmosfer kompetisi mulai terasa. Semua pemain yang akan mengikuti perlombaan berlatih dengan semangat yang membara, tak terkecuali Vilov. Gadis itu mulai mencoba fokus mempersiapkan diri menghadapi pertandingan perdana. Namun, jauh di lubuk hatinya, rasa takut masih sering menghantui.

​Vilov ngeri membayangkan harus berhadapan dengan bola hockey yang melesat cepat ke arahnya. Ia takut jika bola kecil namun padat itu mengenai tubuhnya dan membuatnya terluka parah. Ketakutan itu ia tumpahkan saat sedang berkumpul bersama Tije dan teman-teman hockey lainnya di dalam kelas.

​"Gue takut, asli! Kalian tahu kan bola itu emang kecil tapi padat banget. Bayangin kalau kena badan gue, bisa bonyok ini semua," keluh Vilov dengan wajah cemas.

​Teman-temannya mencoba menenangkan kegelisahan Vilov. "Ya lu jangan mikirnya gitu. Kan ada kita-kita sebagai pemain yang bakal jagain supaya lawan nggak bisa nembus ke arah gawang lu," ucap Tika meyakinkan.

​Tije menyahut, "Iya, lu nggak usah takut. Lagian pelindung kiper itu sudah besar dan tebal banget, Vil. Nggak bakal kena badan lu langsung kok."

​Vilov mulai membayangkan kata-kata Tika dan Tije. Ia mencoba memproses bahwa ia akan baik-baik saja di bawah mistar gawang nanti. "Bener ya lu pada? Gue takut banget nih," ucap Vilov memastikan sekali lagi.

​"Iya, iya... tenang aja!" jawab mereka serempak. Perlahan, kepercayaan diri Vilov mulai tumbuh.

​Pulang sekolah tiba, dan hari ini jadwal mereka latihan di sekolah sendiri. Vilov yang sudah bersiap langsung berjalan menuju area lapangan. Sebelum yang lain datang, ia menyempatkan diri berdiri di depan gawang, memegangi tiangnya sambil berbicara pada diri sendiri.

​"Bisa, bisa... Lu pasti bisa, Vilov. Masa cewek se-petantang-petenteng ini takut sih?" bisiknya menyemangati diri sendiri.

​Ayu yang baru sampai melihat tingkah Vilov dan segera menghampirinya. "Woy, kenapa? Lu masih takut?"

​"Enggak, Yu," jawab Vilov berusaha tegar. Tika dan Tije pun menyusul ke area lapangan. "Yuk, pemanasan dulu sambil nunggu yang lain datang," ajak Tije.

​Tak lama kemudian, Pelatih dan pemain lainnya mulai berdatangan. Melihat sosok Pelatih, Vilov kembali merasa butuh penguatan. Ia menghampiri sang Pelatih dengan wajah serius. "Kak, Vilov bisa nggak ya jadi kiper?"

​Pelatih menoleh dan tersenyum. "Bisa, bisa. Kenapa mikirin gitu?"

​"Vilov takut luka karena kena bola. Terus Vilov kepikiran kalau nanti kebobolan dan kalah, Vilov bakal disalahin sama teman-teman yang lain," ungkap Vilov jujur.

​"Namanya juga permainan, pasti ada kalah dan menang. Yang penting sekarang latihan yang fokus, siapin mental kalau Vilov itu bisa," jawab Pelatih bijak.

​"Iya sih Kak, cuma kalau kalah gimana?"

​"Udah, nggak usah mikir yang buruk-buruk. Vilov nggak usah takut. Kalau Vilov takut mereka kecewa, ya Vilov harus belajar gimana caranya menghalau bola agar nggak masuk ke gawang. Oke?" ucap Pelatih sambil menepuk pundak Vilov, meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

​Vilov mengangguk, lalu melanjutkan latihan. Ia belajar untuk menjadi kiper yang berani, menatap bola yang datang tanpa harus memejamkan mata.

​Saat jam istirahat latihan, Vilov terduduk lemas di dekat gawang. Keringat membasahi wajahnya, dan ia terlihat sangat lelah. Saat ia sedang bersandar sambil menundukkan kepala, tiba-tiba sebuah bayangan muncul di depannya. Vilov mendongak dan jantungnya nyaris melompat saat melihat sosok itu adalah Putra.

​Putra menyodorkan sebuah botol minum ke arahnya. Vilov terkejut bukan main melihat perhatian kecil dari Putra. Ia menerimanya dengan tangan sedikit gemetar. "Makasih, Put," ucap Vilov pelan.

​Putra ikut duduk di sampingnya. "Iya, sama-sama."

​Vilov melirik ke arah Putra yang duduk begitu dekat. Ia refleks agak bergeser menjauh karena merasa malu dengan kondisinya yang berantakan. "Put, jangan dekat-dekat. Gue takut bau," ucap Vilov jujur.

​Putra justru tertawa mendengar itu. "Haha, Vilov... gue juga kan habis latihan. Ya sudah, sama-sama bau kita."

​Tawa Vilov pecah mendengar respon santai Putra. "Serius gue!"

​"Gue juga serius. Lagian lu nggak bau kok," ucap Putra sambil melirik Vilov sekilas.

​Vilov terdiam, lidahnya mendadak kelu. Sebelum suasana menjadi terlalu sunyi, Putra berbicara lagi, "Oh ya, lu nggak usah takut kena bola. Alat pelindung lu aman kok. Dan kalau kalah, ya namanya juga pertandingan."

​Putra berdiri, bersiap kembali ke tengah lapangan untuk lanjut latihan. Vilov hanya bisa tersenyum lebar melihat punggung Putra. Perasaannya sangat bahagia. Ia merasa bersyukur berada di tengah orang-orang baik yang sangat perhatian padanya.

​Selesai latihan, semua pemain membereskan alat-alat. Tika datang membantu Vilov melepas perlengkapan kipernya yang berat. "Tik, tadi si Putra perhatian tahu sama gue," bisik Vilov dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.

​"Tahu... gue lihat tadi," jawab Tika yang ternyata sejak tadi memantau mereka.

​"Umm, malu gue. Duh, nggak bisa tidur gue ini nanti! Hahaha!" Vilov tertawa malu-malu karena aksinya diperhatikan sahabatnya.

​"Hahaha, udah sih. Makin lama makin gila lu. Jangan ketawa-ketawa sendiri, nanti dikira orang gila sama Putra!" ledek Tika.

​Vilov memperhatikan Putra yang sedang sibuk merapikan stik hockey di seberang sana. "Putraaaaa, hati-hati ya beresinnya, jangan sampai terluka!" teriak Vilov sangat pelan, yang ia pikir hanya didengar oleh Tika.

​Namun, Tika yang memang usil langsung berteriak kencang, mengulangi ucapan Vilov agar didengar seisi lapangan. "PUTRAAAA! Kata Vilov, hati-hati ya beresinnya nanti terluka!"

​Sontak, Putra menoleh ke arah mereka dan tertawa. Vilov langsung mematung, wajahnya merah padam. Ia benar-benar tidak menyangka Tika akan senekat itu meneriakkan rahasianya di depan semua orang.

​"Tik, bener-bener ya lu... malu gue!" ucap Vilov sambil menatap tajam wajah Tika yang masih tertawa puas setelah meneriakkan perhatiannya pada Putra tadi.

​Tika yang masih terpingkal-pingkal pun menjawab santai, "Hahaha! Lagian lu kalau perhatian ngomong langsung aja kali di depan orangnya, nggak usah bisik-bisik."

​"Malu lah gue, hahah!" sahut Vilov, meski dalam hati ia merasa senang karena perhatiannya sampai ke telinga Putra.

​Tika menoleh, menatap Vilov dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik. "Memangnya lu punya malu?" tanya Tika menggoda, mengingat Vilov hampir selalu melakukan hal-hal konyol tanpa beban di mana pun ia berada.

​Vilov pun terbahak. "Hahaha, enggak sih!" sahutnya jujur, membuat keduanya semakin tertawa lepas.

​Setelah semua alat latihan selesai dirapikan, suasana lapangan menjadi lebih santai. Beberapa pemain tampak duduk-duduk di rumput sambil melepas lelah, termasuk Putra. Dari kejauhan, Vilov merasa ada sepasang mata yang terus mengikutinya. Benar saja, saat ia melirik, Putra sedang duduk di lapangan sambil memandangi Vilov dengan tatapan yang sulit diartikan.

​Vilov yang merasa diperhatikan mencoba untuk tetap tenang, meski jantungnya mulai berdebar kencang. Dengan gaya santai andalannya, ia memberanikan diri untuk menggoda. "Put, ngapain lu lihat-lihat gue? Nanti suka lagi..."

​Namun, bukannya mengelak, Putra justru memberikan jawaban yang membuat dunia Vilov seakan berhenti berputar.

​"Kalau lu yang suka sama gue gimana?" tanya Putra tenang, matanya masih menatap lurus ke arah Vilov.

​Vilov tersentak. Ia benar-benar terkejut mendengar balasan Putra yang begitu tak terduga. Untuk menutupi rasa gugupnya yang luar biasa, Vilov hanya melirik Putra sambil menjulurkan lidah. "Dih, pede banget lu!" ucap Vilov sambil tertawa, meski sebenarnya hatinya sedang meledak karena senang. Mereka pun saling melempar tawa di tengah sisa-sisa waktu setelah latihan selesai.

​Saat matahari mulai meredup, semua orang di lapangan bersiap untuk pulang. Mereka berjalan menuju parkiran untuk mengambil kendaraan masing-masing. Tije, yang hari ini membawa motor sendiri, menghampiri Vilov dan menawarkan tumpangan.

​"Vilov, mau bareng gue nggak?" ajak Tije tulus.

​Vilov yang merasa terbantu pun langsung memasang wajah manis. "Ya ampun, bidadari gue baik banget! Mau dong!" jawab Vilov penuh rayuan sambil segera menaiki jok belakang motor Tije.

​Namun, baru saja Tije hendak menjalankan motornya, Putra menghampiri mereka berdua. Ia berdiri tepat di samping motor dan berbicara pada Tije dengan nada yang cukup serius namun hangat.

​"Tije, hati-hati ya bawa Vilov-nya," ucap Putra. Setelah mengatakan pesan singkat itu, Putra langsung berbalik dan pergi begitu saja.

​Tije langsung terdiam sejenak, lalu melirik Vilov lewat spion motornya dengan senyum penuh arti. "Behhh... ada yang mulai dapat perhatian nih!" goda Tije.

​Vilov tak bisa menahan senyumnya lagi. Ia memeluk tasnya erat-erat di belakang Tije. "Tuh orang bikin gue baper asli!" serunya senang.

​Motor pun mulai melaju, meninggalkan lapangan yang penuh kenangan manis hari itu. Vilov pulang dengan perasaan melayang, menyadari bahwa radar cintanya sepertinya sudah mulai ditangkap oleh Putra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!