Squel novel lanjutan dari BUDAK CINTA.
Bagi yang belum membaca di karya ku sebelumnya silahkan mampir dulu ya !!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MICHELLA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Dan akhirnya, pesta pernikahan ini berakhir dengan kesan yang ku yakin membekas dengan indah bagi para tamu undangan, begitu pula di hati kami saat ini. Setelah berjam-jam aku melayani para tamu undangan beserta Irgy, melakukan banyak sesi foto pernikahan, foto keluarga, dan banyak lagi yang kami lakukan malam ini.
" Kalian menginaplah dulu di hotel ini, papa sudah memesan satu kamar VIP khusus untuk kalian melepas lelah malam ini. " Ucap papa Irgy kemudian menghampiri kami setelah para tamu undangan pulang.
" Eh, tapi om. Upz, papa. Bagaimana dengan ibu ku? " Tanya ku panik.
" Nak Fanny, tenang lah. Nikmati saja malam ini dengan tenang bersama suamimu ya, ibu mu beserta keluarga yang lain akan bermalam dirumah kami dulu. Ok, "
" Te,terimakasih banyak pa. Maaf merepotkan, " Jawab ku canggung.
" Hey, apa ini? kenapa berterimakasih? kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami, begitu juga dengan keluarga besarmu. Mereka bagian dari kami juga tentunya. "
Aku hanya tersenyum menanggapinya, betapa aku ssngat bahagia memiliki mertua seperti nya. Tiada henti-hentinya aku mengucap syukur dalam hati.
" Ya sudah papa pulang dulu ya, kalian pergilah segera menuju kamar. Semua sudah kami siapkan perlengkapan kalian disana. "
" Baik pa, terimakasih sekali lagi. " Jawab ku bersamaan dengan Irgy.
" Dan satu lagi, Irgy. Kau, jangan menundanya lagi. Lakukan segera yang papa ajarkan dari kemarin, ok. " Ucap papa Irgy dengan senyuman nakal memberikan isyarat pada Irgy dengan kedipan mata. Seketika wajah Irgy merona mengalihkan pandangannya ketika aku menatapnya penuh tanda tanya.
Kemudian papa pergi berlalu begitu cepat, lalu aku dan Irgy menuju kamar yang sudah di sediakan untuk kami. Saat memasuki ruang kamar yang begitu mewah, megah, luas namun sedikit gelap dengan berbagai hiasan melambangkan bahwa sebuah pernikahan telah berlangsung saat ini. Hanya tinggal menikmati proses dan kewajiban kami sebagai suami istri.
Oh astaga, sepertinya mereka semua lebih cerdik dalam hal ini. Atau memang sudah di rencakan? Aku jadi canggung menyaksikan ranjang di dalam ruangan ini bertaburkan begitu banyak kelopak bungan mawar merah di hiasi lilin-lilin dengan aroma yang sangat manis dan menenangkan.
Sadar akan keberadaan kami yang kini hanya tinggal berdua saja di dalam satu kamar, kami saling memandang satu sama lain sesaat. Namun seketika pula kami saling memalingkan wajah dengan salah tingkah.
" Ka,kau mau mandi duluan? " Tanya ku dengan gugup.
" Baik lah, aku mandi duluan. Kau rebahannya sejenak, memakai hight heel berjam-jam seperti tadi pasti sangat melelahkan. " Jawab Irgy dengan santai. Sebenarnya dia juga gugup, ku perhatikan dari bibirny yang sedikit gemetaran. Namun entah bagaimana dia mampu menyembunyikan itu semua.
Kemudian dia meletakkan ponselnya dahulu di atas meja, dekat ranjang. Lalu segera melangkah menuju kamar mandi dengan sebuah handuk di pundaknya.
Dasar bocah, caranya membawa handuk berjalan menuju kamar mandi pun terlihat masih kekanakan. Oh ya ampun, aku ingin menertawainya saja. Ku lihat sekeliling kamar hotel ini. Aku tersenyum menikmati aroma dan riasannya yang terkesan sangat romantis.
Dengan memejamkan mata ku hirup aroma bunga-bunga disini yang begitu wangi, Hah. . . Inikah kamar pengantin yang selalu di impikan setiap orang? Terkhususnya bagi seorang wanita. Tapi kenapa begitu membuatku merinding hingga lagi-lagi aku seperti terkena setrum.
Andai, aku masih suci ketika sudah menjadi istrimu saat ini Irgy. . .
Kebahagiaan itu pasti semakin terasa bermakna dan lengkap untuk mu, untuk ku juga. Maafkan aku, maafkan aku. Kembali aku merasakan sesak di dada, tiada henti mengucap maaf dalam hati yang belum mampu ku ucapkan pada Irgy secara langsung.
Sementara di kamar mandi, Irgy sengaja berlama-lama menikmati hangatnya air di dalam bethup. Dengan taburan kelopak bunga mawar dimana-mana, semakin membuat Irgy gugup dan gusar.
" Oh ya ampun, apa yang harus ku lakukan setelah ini? Aku sangat gugup. Ini pertama kalinya aku berada dalam satu kamar dengan wanita, meski sudah menjadi istriku. Tapi ini masih terasa asing bagiku. "
Dia berbicara sendiri sambil menggosok-gosok seluruh badannya dengan sabun. Membasahi rambutnya dan memakaikannya shampoo berulang kali untuk meredakan rasa gugupnya.
" Apa semua pria akan merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan saat ini? tapi papa bilang, malam pertama setelah pernikahan adalah sesuatu yang sangat di nantikan oleh kaum pria. Dan harus membuat sesuatu terjadi dengan indah, aah tapi bagaimana bisa? sedangkan aku tidak pernah memiliki pacar apalagi bersentuhan lebih dengan seorang wanita sebelumnya. " Kembali dia berbicara pada dirinya sendiri.
" Tu,tunggu. Bukan kah disini Fanny lebih berpengalaman dalam hal ini? Eh ta,tapi aku pasti akan menynggungnya jika membicarakan hal ini padanya. Aaah, lalu aku harus bagaimana dong? Papa, bantu putera mu ini. " Lagi dan lagi dia berbicara pada dirinya sendiri seperti orang gila.
Ponsel Irgy terus saja berdegetar begitu banyak berkali-kali, sesekali berdering yang entah siapa itu. Aku merasa belum berani dan berhak membuka nya meski saat ini aku sudah menjadi istrinya. Kemudian terdengar suara pintu kamar mandi seperti terbuka, aku menoleh seketika saat tercium wangi sabun yang begitu menyegarkan merasuki kedua lubang hidungku.
Kini Irgy berdiri di depan sana, dengan handuk yang hanya menutupi bagian bawahnya saja. Dada bidangnya, postur tubuh nya yang tinggi semakin membuatnya terlihat kekar dan sedikit menggoda. Aku terperangah sejenak melihat nya demikian di depan ku, menelan ludah saja rasanya susah.
Glek !!!
Tubuh yang sempurna. Gumam ku spontan,
" Ya, aku memang sempurna. Banyak yang bilang begitu, semua orang yang melihat tubuh ku ini tidak akan pernah mengataiku bocah yang menyebalkan. "
Aku terkejut mendengar ucapan nya itu sehingga membuatku sadar yang terhanyut akan keindahan tubuh kekarnya itu, seketika berubah menjadi kesal.
" kau terlalu percaya diri. Bagiku kau tetap bocah, selamanya tetap bocah. " Jawab ku sembari meraih handuk piyama kemudian melewatinya.
" Tunggu, " Ucapnya meraih lengan ku, membuatku terkejut dan kembali merasakan bulu kudukku merinding hebat. Ada apa dengan ku ini?
Kemudian dengan spontan aku melepaskan tangan Irgy dari lengan ku.
" Upz, sory Fan. Aku gak bermaksud untuk. . . "
" Eh tidak, aku yang seharusnya minta maaf. Maafkan sikap ku barusan, aku. . . aku hanya reflek. " Jawab ku kikuk dengan menundukkan wajah.
" Hahaha, ternyata kau bisa juga bicara gugup saat di depan ku seperti ini. Hahahaha, aku masih bocah kok. Gak akan macam-macam duluan, " Jawab nya kemudian meledekku.
Dasar menyebalkan sekali dia ini, apa saat ini dia menantang ku untuk duel? hah? dia sedang mengejekku saat ini. Tapi entah sejak kapan, rasa gugup ku ini membuat ku tak berdaya melawannya.
" Kau, dasar bocah. Kau memang bocah, aku mau mandi dulu. Terserah kau mau apa setelah ini, " Jawab ku asal bicara.
" Hemm, apa kau sungguh mengijinkan ku berbuat apa saja? " jawab nya kembali meledekku.
" Irgyyy, kau bocah menyebalkan. " Jawab ku meneriakinya. Kemudian melangkah setengah berlari menuju kamar mandi.
Dan wow !!!
Ini kamar mandi, atau kamar tidur? Sangat luas, elegant, mewah dan megah. Dengan bethub dan juga taburan kelopak bunga mawar berserakan dimana-mana. Menambah sensasi yang luar biasa ku rasakan, begitu juga dengan segala sabun dan shampoo beserta perawatan lainnya.
Ah, bahagianya jika setiap hari bisa mandi di kamar mandi semewah ini. Tapi sayang, ini hanya hotel. Mungkin ini lah salah satu kemewahan hotel berbintang, bikin betah di kamar mandi. Bukan hanya di kamar nya saja.
Aku akan menikmati nya selagi masih disini, biarlah Irgy melakukan apa sesukanya diluar sana. Aku akan menikmati dan bermain-main dengan segala fasilitas menggairahkan di hotel ini. Hihihi
Tapi aku salut dengan cinta kalian yang abadi meski hingga akhir tetap tak bisa bersatu.
Aku rindu dengan cerita ini, aku datang lagi.
Masih, sama, aku selalu terbawa suasana.
Sedih, Kevin, Irgi, Amar, aku merindukan kalian.