"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.16 Luka Yang Menolak Sembuh
Pukul satu dini hari, Aksara baru saja tiba di apartemen. Begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti. Aylin tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala.
“Apa dia… menungguku?” gumamnya pelan.
Aksara melangkah hati-hati, takut membangunkan Aylin. Tangannya meraih remote dan mematikan televisi. Saat hendak mengangkat tubuh Aylin, pintu kamar bawah terbuka. Rosalind muncul dengan langkah pelan.
“Mama, aku ganggu ya? Maaf,” ucap Aksara lirih.
“Tidak,” Rosalind menggeleng. “Kamu baru pulang, Nak?”
“Iya, Ma. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan.” Bohong Aksara.
Rosalind mengangguk pelan lalu berjalan menuju dapur. Aksara mengikutinya, khawatir mertuanya jatuh.
“Nak…” Rosalind berhenti, suaranya melemah.
“Jangan pernah sakiti Aylin, ya. Kamu tidak tahu apa saja yang sudah dia lalui.”
Rosalind menunduk.
“Kalau suatu hari kamu tidak lagi mencintainya, kembalikan dia pada Mama… dengan baik.”
Hati Aksara mencelos. Ia segera menggeleng dan menggenggam tangan sang mertua.
“Jangan bicara begitu, Ma. Aku janji… aku akan membahagiakan Aylin.”
Janji itu keluar begitu saja, entah seperti apa kelanjutannya nanti. Tapi Aksara tahu, ia ingin menepatinya—untuk Aylin, dan untuk Rosalind.
“Terima kasih,” bisik Rosalind lirih.
Aksara mengantar Rosalind ke kamar, lalu kembali ke ruang tengah. Dengan hati-hati ia menggendong Aylin dan membawanya ke kamar mereka. Dalam temaram lampu, Aksara menatap wajah Aylin—tenang, polos, dan cantik meski tanpa riasan.
Untuk sesaat, dadanya terasa hangat.
*
*
Sementara itu, di rumah keluarga Reynan, suasana masih tegang. Mereka baru saja pulang dari kantor polisi. Azkia akhirnya bebas berkat Abidzar.
Kini tinggal Reynan dan Lusi di ruang tamu.
“Kenapa kamu tidak mau membebaskan Azkia, Mas?” ketus Lusi. “Dia itu anakmu.”
“Bukan tidak mau,” balas Reynan dingin. “Dia harus belajar dari pilihan hidupnya. Kalau dia memilih bergaul dengan orang-orang seperti itu, maka dia harus siap dengan konsekuensinya.”
Reynan mengepalkan tangan. Selama ini ia merasa sudah memberikan segalanya—uang, fasilitas, perhatian—hingga lupa ada satu anak yang ia tinggalkan begitu saja.
“Huh, sudahlah,” Lusi mendengus. “Sekarang yang penting, bagaimana caranya kita bertemu Aylin?”
“Besok,” jawab Reynan mantap. “Aku akan menemuinya. Di kafe.”
Wajah Lusi langsung berbinar.
“Bagus. Kalau perlu, dekati saja menantu kita, Aksara,” ucapnya penuh antusias tidak tahu malu.
Keesokan harinya, Reynan sudah siap dengan setelan kemeja navy dan celana bahan berwarna gelap. Penampilannya rapi, nyaris terlalu rapi untuk sekadar urusan kantor. Hari ini, ada sesuatu yang jauh lebih penting—dia akan menemui anaknya yang lain. Anak yang selama ini dia abaikan dan dia tinggalkan bersama Ibunya.
Di meja makan, Azkia dan Abidzar menyadari perubahan itu.
“Papa mau ke mana?” tanya Abid sambil menyeruput kopinya.
“Ke suatu tempat,” jawab Reynan singkat. “Untuk kelangsungan perusahaan kita.”
Lusi tersenyum samar, pikirannya melayang pada satu nama—Aksara.
“Kemana? Aku ikut?” Abid kembali bertanya.
“Tidak usah,” potong Reynan cepat. “Biar Papa saja.”
“Ya sudah.” Abid mengangkat bahu, kembali fokus pada sarapannya tanpa curiga apa pun.
Berbeda dengan Reynan. Dadanya terasa sesak, jantungnya berdebar tidak karuan. Selama ini dia berani menghadapi investor, rapat besar, bahkan ancaman kebangkrutan. Tapi hari ini… hanya untuk bertemu anak kandungnya sendiri, tangannya terasa dingin.
* * *
Sementara itu, di apartemen, pagi Aylin selalu dimulai dengan dapur.
Seperti biasa, dia sudah sibuk sejak subuh. Tangannya cekatan menyiapkan sarapan untuk Aksara dan sang Ibu. Masakannya sederhana—tidak mewah, tidak rumit—hanya saja membutuhkan waktu dan ketelatenan.
Bubur ayam.
Makanan kesukaan Aylin sejak kecil.
Dia menatap hasil masakannya dengan senyum kecil, lalu menuangkan bubur ke dalam mangkuk. Suwir ayam ditata rapi, taburan daun bawang, seledri, bawang goreng, dan kerupuk disusun dengan penuh perhatian. Tak lupa kecap dan sambal di sisi mangkuk.
Bagi Aylin, memasak bukan sekadar tugas. Itu caranya merasa dibutuhkan… dan berguna.
Tanpa ia sadari, pagi itu akan menjadi awal dari pertemuan yang bisa mengubah hidupnya selamanya.
Setelah selesai sarapan dan mengantar Aksara sampai depan pintu, Aylin bersiap pergi ke kafe. Dia berpamitan pada Rosalind yang sedang asyik menonton acara masak di televisi.
“Hati-hati di jalan,” pesan Rosalind lembut.
“Iya, Ma,” jawab Aylin sambil tersenyum, lalu melangkah keluar.
Di lobi apartemen, ojek online yang dipesannya sudah menunggu. Dari kejauhan, sepasang mata memperhatikan setiap geraknya.
Reynan.
Pria itu berdiri terpaku di balik kemudi mobilnya. Dadanya terasa sesak saat melihat perempuan yang dulu ia tinggalkan di usia empat tahun itu kini telah tumbuh dewasa. Cantik. Tegap. Wajahnya—terlalu familiar.
Kopian dirinya.
“Aylin…” lirih Reynan hampir tak bersuara.
Tanpa sopir, Reynan menyetir sendiri. Mobilnya mengikuti ojek Aylin dari jarak aman, seolah takut jika terlalu dekat, keberaniannya akan runtuh lebih dulu.
Puluhan menit kemudian, Aylin tiba di kafe. Jam menunjukkan pukul delapan pagi—seperti biasa, dia datang lebih awal untuk ikut Renata berbelanja. Di tangannya, ada kotak makanan berisi bubur ayam buatannya sendiri.
“Wah… Aylin, ini wanginya enak banget!” seru Renata begitu tutup kotak dibuka. Aroma bawang goreng dan seledri langsung memenuhi ruangan.
“Kalau kita masukin ke menu, laku nggak ya?” tanyanya antusias.
“Laku lah, Mbak. Apalagi pagi-pagi,” jawab Aylin terkekeh.
Renata menambahkan sambal buatan Aylin, lalu mencicipinya. Gurih, hangat, dan pas.
Saat mereka masih asyik berbincang, terdengar ketukan di pintu.
“Siapa ya? Masih pagi juga,” gumam Renata.
“Biar aku aja, Mbak,” ujar Aylin cepat.
Renata mengangguk, kembali fokus pada makanannya.
Aylin membuka pintu.
Senyumnya langsung lenyap.
Tatapan matanya yang biasanya teduh berubah tajam—penuh kebencian dan luka lama.
“Kamu,” desis Aylin lirih namun beracun. Tangannya mengerat di gagang pintu.
Reynan tercekat.
“Ngapain kamu ke sini?” suara Aylin dingin, nyaris bergetar.
“Aylin, nak—”
“Jangan panggil aku begitu,” potong Aylin keras. “Aku bukan anakmu.”
Dadanya sesak. Napasnya memburu.
Ingatan itu kembali.
Aylin kecil yang menangis di sudut kamar.
Aylin kecil yang menunggu ayahnya pulang.
Aylin yang disebut anak haram.
Aylin yang dilecehkan… dan tak pernah dilindungi.
Tubuhnya mundur tanpa sadar.
“Aylin, tunggu. Papa hanya ingin bertemu,” ujar Reynan sambil menahan pintu.
“Jangan sentuh aku!” teriak Aylin. Tubuhnya gemetar hebat, hingga tanpa sengaja barang di belakangnya terjatuh dan pecah.
“Aylin?” Renata tersentak, bergegas menghampiri.
Aylin menatap Renata dengan mata berkaca-kaca. Ketakutan. Panik. Hancur.
“Suruh dia pergi, Mbak,” ucapnya terisak. “Aku nggak mau dia di sini. Usir dia… tolong.”
Renata langsung berdiri di depan Aylin.
“Maaf, Pak,” katanya tegas. “Silakan pergi sekarang.”
“Tapi saya hanya ingin bertemu anak saya,” Reynan mencoba bertahan. “Apa itu salah?”
“Aku bukan anakmu!” jerit Aylin. Tangannya meraih piring di dekat meja dan membantingnya ke arah Reynan.
Prang! Piring itu pecah berkeping-keping di lantai.
“Aylin!” bentak Reynan, emosinya tersulut. “Aku ini ayahmu. Jangan jadi anak durhaka!”
Kata itu—durhaka—membuat Aylin tertawa pendek yang getir. “Durhaka? Kamu yang durhaka, sialan! Pergi! Pergi dari hidupku! Aku nggak mau lihat kamu lagi!”
Dia menunjuk pintu.
“Pergi! Pergi dari hidupku! Aku nggak mau lihat kamu lagi!”
Renata terpaku melihat Aylin yang biasanya lembut kini runtuh sepenuhnya. Dan di sana, Reynan baru menyadari satu hal pahit: luka yang ia tinggalkan bertahun-tahun lalu, ternyata tak pernah sembuh.
Bersambung ....
😄😄
🤣
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣