Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Tanpa Arkan dan Devano ketahui, Bayu sudah menyelinap masuk ke dalam ruangan itu. Situasi yang terjadi di luar hanyalah sebuah pengalihan semata.
Bayu melangkah dengan sangat hati-hati, gerakan tubuhnya sangat terlatih seolah ia sudah menghafal setiap sudut ruangan NICU tersebut. Di tengah kekacauan dan suara baku hantam yang terjadi di koridor antara Devano, Arkan, dan para preman bayaran, suasana di dalam ruangan ini justru terasa hening yang mematikan. Hanya ada bunyi pip dari monitor jantung bayi yang beraturan.
Ia berhenti tepat di depan sebuah inkubator. Di dalamnya, seorang bayi mungil yang masih sangat merah tampak tertidur lelap, sama sekali tidak menyadari bahwa maut sedang menatapnya melalui sepasang mata penuh dendam.
"Kini kau akan merasakan apa yang sudah orang tuamu lakukan padaku. Sekarang kau yang harus membayar semuanya," ucap Bayu dengan suara yang sangat rendah, namun penuh dengan kebencian mendalam. Sebuah senyum miring tersungging di wajahnya yang masih memar bekas pukulan Devano.
Bagi Bayu, bayi ini bukan sekadar anak kecil, melainkan simbol kehancurannya. Bayi ini adalah bukti nyata bahwa Sheila lebih memilih menyerahkan diri pada "kegelapan" Devano daripada menerima cintanya yang tulus. Dengan tangan yang masih gemetar, Bayu perlahan membuka pintu kecil pada inkubator tersebut. Udara hangat dari dalam mesin itu menerpa wajahnya. Ia tidak merasa iba sedikit pun saat melihat jemari mungil sang bayi bergerak pelan.
"Jangan salahkan aku, bayi kecil. Salahkan Ayahmu yang terlalu serakah, dan Ibumu yang terlalu buta," desisnya lagi.
Ia meraih bayi itu. "Halo, sudah beres, Om. Semuanya sesuai rencana," desis Bayu melalui sambungan telepon sambil melirik bayi mungil yang kini berada dalam dekapannya, terbungkus selimut rumah sakit seadanya. Ia melangkah cepat menuruni tangga darurat yang gelap, menghindari lift dan kamera pengawas yang sudah disabotase oleh anak buah Tuan Narendra.
"Saya akan membawa anak ini ke lokasi yang kita sepakati. Saya hanya mau Om memastikan bahwa saya akan baik-baik saja setelah ini. Tidak ada polisi, tidak ada jejak, dan pastikan Devano tidak akan pernah menemukan saya," lanjut Bayu, suaranya terdengar dingin tanpa penyesalan.
Di seberang sana, Tuan Narendra tersenyum puas di dalam mobilnya yang terparkir jauh dari gedung rumah sakit. "Jangan khawatir, Bayu. Keselamatanmu adalah jaminanku, asalkan darah daging Narendra itu sampai ke tanganku malam ini juga. Setelah itu, kamu bebas pergi ke mana pun kamu mau dengan identitas baru."
Bayu menutup teleponnya tepat saat ia mencapai pintu keluar belakang. Sebuah mobil hitam sudah menunggu dengan mesin yang menyala. Di dalam NICU, monitor jantung yang tadinya berbunyi teratur kini mengeluarkan bunyi melengking panjang—tanda bahwa sensor tidak lagi mendeteksi keberadaan pasien di dalamnya.
Di koridor rumah sakit...
Devano berhasil menjatuhkan preman terakhir dengan satu tendangan telak. Napasnya memburu, ia menatap Arkan yang juga terluka di bagian pelipis. Namun, kelegaan itu hanya bertahan satu detik.
"Vano! Alarm NICU!" teriak Arkan sambil menunjuk ke arah pintu ruang bayi yang sedikit terbuka.
Jantung Devano seakan berhenti berdetak. Ia berlari masuk, namun yang ia temukan hanyalah inkubator yang kosong dan pintu yang terbuka lebar. Di lantai, ia melihat sebuah foto kecil milik Sheila yang terjatuh—foto USG pertama yang selalu Sheila simpan.
"TIDAK! ANAKKU!" raung Devano. Suaranya mengguncang seisi ruangan, namun yang menjawab hanyalah kesunyian malam yang mencekam.
Di saat yang sama, di kamar 302, Sheila terbangun secara mendadak. Suara alarm yang melengking membuat jantungnya berdegup liar. "Bunda! Ris! Ada apa? Kenapa alarmnya bunyi?!" teriak Sheila sambil mencoba turun dari tempat tidurnya, mengabaikan rasa perih di perutnya bekas operasi.
"Sheila! Jangan bangun dulu!" Bunda Rini mencoba menahan, namun Sheila sudah terlanjur ketakutan. "Bayiku, Bun! Bayiku di sana! Sesuatu terjadi di ruang bayi!"
Sheila berlari tertatih. Sesampainya di depan pintu NICU dengan bantuan Risma, ia jatuh terduduk. Ia melihat inkubator yang kosong itu. Dunianya seketika menjadi gelap gulita. Harapan terakhirnya untuk bertemu putranya telah direnggut paksa bahkan sebelum ia sempat menyentuh kulit mungilnya.
Suara tangisan Sheila pecah, membelah kesunyian koridor. Ia bersimpuh di lantai yang dingin, kedua tangannya mencengkeram erat pinggiran inkubator yang sudah kosong. Darah mulai merembes lebih banyak dari balik baju rumah sakitnya, namun rasa sakit di perutnya tak sebanding dengan hancurnya jiwa seorang ibu.
"Anakku! Hiks... hiks! Kenapa kalian begitu tega padaku dan anakku!" ratap Sheila. Matanya yang sembab menatap nanar ke arah selang-selang medis yang menjuntai tak bertuan.
Devano, yang berdiri hanya beberapa langkah di belakangnya, merasa dunia seolah runtuh menimpanya. Ia ingin mendekat, ingin mendekap Sheila, namun ia sadar bahwa dialah alasan di balik semua air mata ini.
Arkan segera berlutut di samping Sheila, mencoba menahan pendarahannya. "Sheila, dengarkan saya! Kamu harus kuat. Kita akan temukan bayimu, saya janji! Tapi tolong, jangan biarkan kondisimu semakin kritis!"
Namun Sheila seolah kehilangan kesadaran akan sekitarnya. Ia menoleh perlahan ke arah Devano, menatap pria itu dengan tatapan benci yang begitu dalam.
"Ini semua karena kamu, Devano..." suara Sheila parau, bergetar karena amarah. "Seharusnya aku tidak pernah mengenalmu! Seharusnya aku tidak pernah membiarkanmu masuk ke dalam hidupku! Sekarang lihat... anakku hilang karena kesalahanmu yang selalu berada di dekatku! Aku sangat membencimu, Devano!" teriak Sheila.
Tubuh Sheila luruh begitu saja. Suara napasnya yang memburu seketika terhenti, tergantikan oleh keheningan yang mencekam saat kesadarannya hilang sepenuhnya. Kalimat terakhirnya—aku sangat membencimu—terus bergema di koridor, menghujam jantung Devano jauh lebih dalam daripada peluru mana pun.
"Sheila!" Arkan dengan sigap menangkap tubuh Sheila sebelum menghantam lantai. Ia segera memeriksa denyut nadi di lehernya. "Pendarahannya semakin hebat! Suster, siapkan ruang operasi sekarang! Tekanan darahnya turun drastis!"
Devano terpaku. Ia melihat tangan Arkan yang kini berlumuran darah Sheila—wanita yang ia cintai, yang kini sekarat. Teriakan histeris Bunda Rini seolah menjadi latar belakang dari kehancuran total hidupnya.
Bunda Rini berteriak dengan suara yang pecah oleh tangis, matanya menatap Devano dengan kebencian murni. "Sudah puas kamu melihat putriku menderita? Sebaiknya sekarang kamu pergi sejauh mungkin dari kehidupan putriku! Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di hadapan kami!"
Kata-kata itu bagaikan vonis mati bagi Devano. Ia melihat tubuh Sheila yang pucat dilarikan ke ruang operasi oleh Arkan dan tim medis. Lantai koridor yang tadinya bersih kini ternoda oleh tetesan darah Sheila, sebuah jejak kepedihan yang ia ciptakan sendiri.
"Pergi, Devano! Pergi!" usir Bunda Rini sekali lagi sambil terisak di pelukan Risma.
Vano : Ogah. Bidadari surga jauh LBH cantik darimu.
Diriku: Justice Prevail... 😅😅😅🤣🤣🤣
Melepas LBH baik drpd terluka dlm diam.
Kadang kesel sama keBegoan karakternya.
Kadang benci sama egoisnya pra karakternya.
Tapi kembali LG, semoga kisah sprti ini gak ada didunia nyata.
Semangat terus menulisnyaaaaa...
penasaran saya🤭