Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I. Dhira yang Ragu
Sore itu, langit terlihat berwarna jingga kemerahan. Matahari pun hampir tenggelam.
Dhira berdiri di depan gerbang sekolah, ia sedang menunggu Aruna. Dhira sudah mengirim pesan berkali-kali. Bahkan ia sudah menghubunginya lewat panggilan telepon, tapi Aruna sama sekali tidak menjawab panggilan dari Dhita.
Hingga akhirnya, Dhira memutuskan untuk pergi ke rumah Aruna. Tapi saat Dhira sampai, Arya lah yang membuka pintu.
"Aruna nggak ada, Dhir. Dia lagi butuh waktu untuk sendiri," kata Arya dengan nada yang protektif. Ada tatapan yang nggak suka di matanya. Tatapan yang seakan bilang.'Lo yang bikin adik gue kayak gini',
Dhira hanya mengangguk pelan, "Tolong sampikan ke dia, gue tunggu di taman belakang sekolah. Tempat yang biasa."
Arya menatap Dhira lama, lalu menutup pintu tanpa menjawabnya.
Satu jam kemudian, Dhira duduk di bangku kayu di taman belakang sekolah. Tempat yang penuh kenangan.
Tempat dimana Dhira pertama kali ngobrol serius sama Aruna. Dimana saat, ia melihat Aruna tersenyum untuk pertama kalinya.
Tempat yang membuatnya jatuh cinta. Dhira melihat jam di ponselnya, sudah setengah jam ia menunggu.
*Dia bakal dateng nggak ya.*
Dan sepuluh menit kemudian, terdengar suara langkah kaki yang begitu pelan.
Dhira menoleh, dan terlihat Aruna sedang berjalan ke arahnya. Gadis itu berjalan pelan, dengan kepala menunduk, jilbab putih, dan mata yang sembab yang sudah pasti habis menangis.
Dhira berdiri, "Run."
Aruna berhenti, sekitar berjarak lima meter dari Dhira. Nggak dekat kayak biasanya. Jarak yang belum pernah ada sebelumnya.
Dhira merasakan dadanya sesak saat melihat jarak itu.
"Run, duduk dulu yuk," kata Dhira pelan, sambil menunjuk bangku.
Aruna terlihat ragu, tapi akhirnya ia berjalan pelan dan duduk di ujung bangku.
Dhira duduk di ujung yang satunya lagi, jarak di antara mereka cukup lebar.
Seketika suasana menjadi canggung, mereka diam cukup lama. Cuma suara angin yang menyahuti dedaunan. Suara burung yang mulai balik ke sarang.
Dhira melihat Aruna dari samping, gadis itu melihat ke depan dengan tatapan yang kosong.
*Gue harus ngomong. Gue harus nanya. Gue harus tau.*
Dhira menghela nafas pelan, "Run, gue harus tanya satu hal."
Aruna nggak menoleh, ia hanya diam.
"Itu bener kakak lo, kan?"
Deg.
Aruna langsung menatap Dhira, kini mata Aruna mulai berkaca-kaca. Dengan tatapan yang nggak percaya.
"Kamu…" suaranya pelan. "Apa kamu juga nggak percaya?"
Dhira terdiam, dadanya terasa sesak.
"Bukan gitu, gue cuma…"
"Kamu cuma ragu," ucap Aruna yang langsung memotong ucapan Dhira. "Kamu ragu sama aku, sama seperti yang lain," lanjutnya.
"Run, dengerin gue dulu."
"Nggak." Aruna menggeleng. Air matanya mulai jatuh. "Nggak usah jelasin. Aku udah tau."
Dhira frustasi. Tangannya meremas rambutnya sendiri. "Run, gue nggak ragu sama lo! Gue cuma butuh denger dari lo langsung. Gue cuma butuh kepastian."
"Kalau kamu percaya," Aruna menatap Dhira dengan mata penuh air mata. "Kalau kamu percaya sama aku, kamu nggak akan bertanya."
Dhira diam, ia nggak bisa berkata apa-apa lagi. Karena Dhira tau, apa yang di katakan Aruna ada benarnya.
"Kalau kamu percaya," lanjut Aruna, suaranya makin bergetar. "Kamu akan langsung tau itu kakakku. Kamu akan langsung bela aku dari awal."
Aruna berdiri, lalu menatap Dhira dari atas. "Tapi kamu nggak membela, kamu hanya diem, dan sekarang kamu malah ragu."
Dhira juga berdiri, "Run, gue nggak ragu! Gue cuma bingung! Semua orang bilang kali itu…"
"Dan kamu percaya sama mereka?!" Aruna nyaris berteriak. "Kamu lebih percaya sama orang lain dari pada aku?!"
"Bukan begitu!"
"Terus gitu gimana?!" Aruna menangis sekarang. Keras. "Kamu yang selalu bilang aku berharga. Kamu yang selalu bilang aku nggak sendirian. Tapi pas aku beneran butuh kamu, pas aku beneran butuh seseorang yang percaya sama aku, kamu malah ragu dengan semuanya."
Dhira kembali terdiam, Aruna menggeleng pelan, sambil mengelap air matanya.
"Cukup, Dhir," ucap Aruna yang terdengar begitu dingin.
"Terima kasih udah menunjukkan siapa kamu sebenarnya. Terima kasih udah menunjukkan kalau kepercayaan kamu cuma sebatas itu."
"Run, jangan…"
"Aku capek, Dhir," Aruna menatap Dhira dengan mata yang lelah. "Aku capek membuktikan diri terus. Aku capek dihakimi terus. Aku capek jika terus di curigai. Bahkan sama orang yang aku..."
Suaranya putus. Nggak sanggup lanjut.
*Sama orang yang aku cintai.*
Tapi kata-kata itu nggak keluar.
Aruna berbalik, lalu pergi dengan langkah yang terlihat goyah.
"Run, tunggu."
Dhira berdiri, ia ingin mengejar Aruna. Tapi Aruna langsung berlari. Berlari meninggalkan Dhira yang terpaku.
Dhira masih berdiri, sendirian. Ia melihat punggung Aruna yang semakin menjauh dan semakin tak terlihat.
Dhira jatuh terduduk di bangku itu lagi, tangannya memegang kepalanya erat, napasnya terasa begitu sesak.
"Gue bodoh," gumamnya pelan. "Gue bego banget. Kenapa gue nanya hal bodoh kayak gitu? Kenapa gue nggak langsung percaya dan malah terlihat ragu."
Dhira memukul kepalanya sendiri.
"Bodoh! Bodoh! BODOH!"
Tapi semuanya sudah terlambat. Aruna sudah pergi. Dan mungkin nggak akan balik lagi.
Dari balik pohon mangga yang besar, Elang berdiri dan melihat semuanya. Bahkan Elang melihat saat Aruna tengah menangis. Tangannya terlihat mengepal erat.
*Dhira.*
*Lo punya segalanya.*
*Lo punya kesempatan yang gue nggak punya.*
*Lo deket sama dia, lo bisa ngomong sama dia, lo bisa bikin dia senyum.*
*Tapi lo sia-siakan itu semua.*
*Lo nyakitin dia.*
*Lo nggak pantas.*
Elang ingin berlari, ia ingin menampar Dhira. Pengen teriak.
*LO NGGAK PANTAS DAPET DIA! LO NGGAK MENGHARGAI DIA!*
Tapi kakinya nggak bergerak, karena Dhira masih sahabatnya. Meskipun sekarang dia benci sahabatnya itu.
Elang berbalik, berjalan ke arah pohon yang tak jauh darinya. Elang langsung memukul batang pohon itu dengan keras. Sampai tangannya bengkak. Sampai tangannya berdarah, dan kulitnya mengelupas.
Tapi dia nggak merasakan sakit, karena sakit di luar nggak ada apa-apanya dibanding sakit di dalam. Sakit melihat orang yang dia cintai disakiti oleh orang lain.
Elang berhenti memukul, ia bersandar di pohon itu. Napasnya ngos-ngosan. Tangannya gemetar dan terlihat berdarah.
Sedangkan Dhira, ia masih duduk sendirian di bangku itu. Matahari sudah tenggelam sepenuhnya, langit mulai gelap. Tapi Dhira nggak bergerak sama sekali.
Dhira cuma duduk sambil melihat tempat Aruna duduk tadi. Dan untuk pertama kalinya. Dhira menangis dalam diam. Karena ia sadar, ia telah melukai Aruna, gadis yang ia cintai.
"Maafkan gue, Run," bisiknya pelan ke angin malam yang dingin. "Maafkan gue, karena gue terlalu lemah. Gue pengecut dan nggak pantas."
Tapi maaf itu nggak akan sampai ke Aruna. Karena Aruna sudah pergi dan mungkin nggak akan kembali lagi. Itulah saat pertama Dhira menyadari, bahwa ia sudah melukai Aruna. Dan mungkin sudah terlambat untuk memperbaikinya.
Sementara Elang, ia menyimpan amarah yang semakin membara. Amarah pada sahabat yang tidak bisa melindungi orang yang ia sayang.
___
...——…★…——...
...Keraguan terhadap orang yang tulus adalah pengkhianatan terindah yang dibungkus dengan kata 'aku hanya butuh kepastian'. Padahal kalau kamu benar-benar cinta, kamu akan percaya bahkan saat dunia berkata bohong....
...——…★Mentari Senja★…——...
So, be happy on your days 🤝😇